Thursday, February 18, 2016

PADA PENDIDIKAN KARAKTER, MENURUT M.RAKIB JAMARI HARUS ADA 4 TOLONG…TOLONG…4 X

PADA PENDIDIKAN KARAKTER, MENURUT M.RAKIB JAMARI HARUS ADA 4 TOLONG…TOLONG…4 X
Selain dari mohon dan tolong kuatkan moral keagamaan pada generasi muda, ada 4 tolong pula yang harus diperhatikan:

1,Tolong perhatikan  tentang melemahnya daya serap tenaga kerja di beberapa sektor industri, membuat angka pengangguran bertambah. Badan Pusat Statistik (BPS). Dunia perdangangan harus dikuasai oleh bangsa pribumi asli yang tidak mau bersaing secara licik dan tidak mau menyogok dan…

2. Tolong  beri siswa keterampilan praktis, karena  jumlah pengangguran di Indonesia pada Agustus 2015 sebanyak 7,56 juta orang, bertambah 320 ribu orang dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 7,24 juta jiwa.

Pada Agustus 2015, tingkat pengangguran terbuka menurut pendidikan didominasi oleh Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 12,65 persen, disusul Sekolah Menengah Atas sebesar 10,32 persen, Diploma 7,54 persen, Sarjana 6,40 persen, Sekolah Menengah Pertama 6,22 persen, dan Sekolah Dasar ke bawah 2,74 persen.

3.Tolong berikan generasi muda mata pelajaran kemandirian dan pengembangan dayacipta.
Dikutip CNNIndonesia, Direktur Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan BPS Razali Ritonga mengatakan jumlah angkatan tenaga kerja meningkat sedangkan daya serap tenaga kerja dari beberapa industri melemah.

Jumlah angkatan kerja pada Agustus 2015 bertambah 510 ribu orang menjadi 122,38 juta, dibandingkan Agustus 2014 yang sebanyak 121,87 juta jiwa. "Ada PHK dan daya serap yang agak menurun, sehingga pengangguarn meningkat," kata Rizali di kantor pusat BPS, Jakarta, Kamis (5/11).

4. Tolong dirikan BLK (Balai latihan Kerja) pada semua sekolah, dari SD sampai Universitas.

Razali mengatakan sebagian industri yang melakukan PHK adalah industri yang memiliki ketergantungan terhadap bahan baku impor. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut menambah beban biaya produksi sektor industri tersebut.

Data angkatan kerja, penduduk bekerja dan pengangguran
Data angkatan kerja, penduduk bekerja dan pengangguran
© BPS /Beritagar.id
Perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional ditambah terseoknya nilai rupiah terhadap dolar memicu terjadinya gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di seluruh Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Tenaga Kerja, jumlah karyawan yang dirumahkan 26.506 orang sepanjang September 2015.

Pemerintah sudah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi yang diharapkan bisa menarik investasi dan membuka lapangan pekerjaan. Pemerintah memberi banyak insentif bagi penanaman modal, salah satunya kemudahan berinvestasi di kawasan industri.

Dari data BPS, selama setahun terakhir (Agustus 2014-Agustus 2015) kenaikan penyerapan tenaga kerja terjadi terutama di Sektor Konstruksi sebanyak 930 ribu orang (12,77 persen), Sektor Perdagangan sebanyak 850 ribu orang (3,42 persen), dan Sektor Keuangan sebanyak 240 ribu orang (7,92 persen).


Penyerapan tenaga kerja hingga Agustus 2015 masih didominasi oleh penduduk bekerja berpendidikan rendah, yaitu SD ke bawah 50,8 juta orang (44,27 persen) dan SMP 20,7 juta (18,03 persen). Penduduk bekerja berpendidikan tinggi hanya sebanyak 12,6 juta orang, mencakup 3,1 juta diploma dan 9,5 juta sarjana..

Wednesday, February 17, 2016

APAKAH HAK ASASI ANAK UNTUK TIDAK SHALAT? UNTUK PINDAH AGAMA?



APAKAH HAK ASASI ANAK UNTUK TIDAK SHALAT?
UNTUK PINDAH AGAMA?
DI SWEDIA ADA WARGA MALAYSIA YANG MEMEUKUL ANAKNYA TIDAK SALAT DIKENAKAN PENJARA 1 TAHUN 3 BULAN

DALAM ISLAM, ANAK TIDAK SALAT DAPAT DIKENAKAN HUKUMAN TA’ZIR

Menurut makalah fiqih Oka Bonanza, bahwa lafaz ta’zir berasal dari kata “azzara” yang berarti menolak dan mencegah, juga berarti mendidik, mengagungkan dan menghormati, membantunya, menguatkan, dan menolong.. Dari pengertian tersebut yang paling relevan adalah pengertian pertama yaitu mencegah dan menolak, dan pengertian kedua yaitu mendidik. Karena ia dapat mencegah pelaku agar tidak mengulangi lagi perbuatannya. Ta’zir diartikan mendidik, karena ta’zir dimaksudkan untuk mendidik dan memperbaiki pelaku agar ia menyadari perbuatan jarimahnya kemudian meninggalkan dan menghentikannya. Pengertian ini sesuai dengan apa yang di kemukakan oleh Abdul Qadir Audah  dan Wa dan Wahbah Zuhaili.
Menurut istilah, ta’zir didefinisikan oleh Al-Mawardi sebagai berikut :
والّتعزير تأ د ب على ذنوب لم تشرع فيها الحدود
“Ta’zir adalah hukuman yang bersifat pendidikan atas perbuatan dosa yang hukumannya belum ditetapkan oleh syara’.
Dari definisi yang dikemukakan diatas, jelaslah bahwa ta’zir adalah suatu istilah untuk hukuman atas jarimah-jarimah yang hukumannya belum ditetapkan oleh syara’. Dikalangan Fuqaha, jarimah-jarimah yang hukumannya belum ditetapkan oleh syara’ dinamakan jarimah ta’zir. Jadi, istilah ta’zir bisa digunakan untuk hukuman dan bisa juga untuk jarimah (tindak pidana).
Ta’zir sering juga dapat dipahami bahwa jarimah ta’zir terdiri atas perbuatan-perbuatan maksiat yang tidak dikenakan hukuman had atau kaffarat. Hukumannya diserahkan sepenuhnya kepada penguasa atau hakim. Hukuman dalam jarimah ta'zir tidak ditentukan ukurannya atau kadarnya, artinya untuk menentukan batas terendah dan tertinggi diserahkan sepenuhnya kepada hakim (penguasa). Dengan demikian, syari'ah mendelegasikan kepada hakim untuk menentukan bentuk-bentuk dan hukuman kepada pelaku jarimah.

  HUKUM DISYARI’ATKAN JARIMAH TA’ZIR
1.      Ta`zir adalah hukuman yang bersifat mendidik atas perbuatan dosa yang belum ditetapkan oleh syara` atau hukuman yang diserahkan kepada keputusan Hakim. Dasar hukum ta`zir adalah pertimbangan kemaslahatan dengan mengacu pada prinsip keadilan. Pelaksanaannya pun bisa berbeda, tergantung pada tiap keadaan. Karena sifatnya yang mendidik, maka bisa dikenakan pada anak kecil.
2.      Dalam menetapkan jarimah ta'zir, prinsip utama yang menjadi acuan penguasa adalah menjaga kepentingan umum dan melindungi setiap anggota masyarakat dari kemudharatan (bahaya). Di samping itu, penegakkan jarimah ta'zir harus sesuai dengan prinsip syar'i.
3.      Bentuk sanksi ta`zir bisa beragam, sesuai keputusan Hakim. Namun secara garis besar dapat dibedakan menjadi beberapa macam, diantaranya yaitu hukuman mati bisa dikenakan pada pelaku hukuman berat yang berulang-ulang. Hukuman cambuk, hukuman penjara, hukuman pengasingan, menyita harta pelaku, mengubah bentuk barang, hukuman denda, peringatan keras, hukuman nasihat, hukuman celaan, ancaman, pengucilan, pemecatan, dan publikasi.
4.      Lihat QS. Al-Maidah: 12, al-A’raf: 157.
  QS. Al-Maidah: 12 
Artinya: “Dan Sesungguhnya Allah telah mengambil Perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat diantara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: "Sesungguhnya aku beserta kamu, Sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik. Sesungguhnya aku akan menutupi dosa-dosamu. dan Sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. Maka Barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, Sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah: 12)
Ø  QS. Al-A’raf: 157
 
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung.”( QS. Al-A’raf: 157)

Disamping itu dilihat dari segi dasar hukum (penetapannya), ta’zir juga dapat dibagi kepada tiga bagian, yaitu sebagai berikut:
1.      Jarimah ta’zir yang berasal dari jarimah-jarimah hudud atau qishash, tetapi syarat-syaratnya tidak terpenuhi, atau ada syubhat, seperti pencurian yang tidak mencapai nisab, atau oleh keluarga sendiri.
2.      Jarimah ta’zir yang jenisnya disebutkan dalam nash syara’ tetapi hukumannya belum ditetapkan, seperti riba, suap dan mengurangi takaran dan timbangan.
3.      Jarimah ta’zir yang baik jenis maupun sanksinya belum ditentukan oleh syara’ jenis ketiga ini sepenuhnya diserahkan kepada ulil amri, seperti pelanggaran disiplin pegawai pemerintah, pelanggaran terhadap lingkungan hidup dan lalu lintas.[5]

 HADITS-HADITS YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM TA’ZIR
1.      Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Burdah :
عن ابي بردة الانصاري انه سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول :  لا يجلد احد فوق عشرة اسواط الا فى حد من حدود الله. (رواه مسلم )
Artinya: Dari Abu Burdah Al Anshari r.a., katanya dia mendengar Rasulullah saw bersabda : “Sesorang tidak boleh didera lebih dari sepuluh kali, melainkan hukuman yang telah nyata ditetapkan Allah, seperti hukuman bagi orang berzina dan sebagainya.” (Riwayat Muslim)[6]
Substansi:
a.      Untuk selain dosa-dosa yang sudah ditentukan pukulan 40, 80 dan 100, tidak boleh dihukum pukul lebih dari 10 dera (ta’zir).
b.      Ini berarti hukuman yang tidak lebih dari 10 dera itu di serahkan kepada pertimbangan hakim.
c.       Orang yang dikenakan hukum oleh hakim muslim sebanyak 10 kali cambuk berdasarkan hadis di atas dapat dimasukkan dalam hukuman ringan yang disebut dengan hukum ta’zir. Hukuman ta’zir ini dapat dilakukan menurut keputusan hakim muslim misalnya karena mengejek orang lain, menghina orang, menipu dan sebagainya. Dengan demikian hukuman ta’zir ini keadaannya lebih ringan dari 40 kali dera yang memang sudah ada dasarnya dari Nabi terhadap mereka yang minum minuman keras. Berarti dibawah 40 kali cambuk itu dinyatakan sebagai hukuman ta’zir (yaitu dipukul yang keras). Jadi orang yang melakukan peerbuatan-perbuatan yang melanggar hukum syariat yang telah jelas hukumannya misalnya gadis yang berzina dengan lelaki (yaitu dicambuk 100 kali), peminum minuman keras (sebanyak 40 kali) dan lainnya adalah termasuk melakukan pelanggaran syariat yang disebut dengan hudud (Hukum Allah). Adapun yang lebih ringan disebut ta’zir yang dilakukan menurut pertimbangan hakim muslim.
d.      Yang dimaksud had disini adalah had atas perbuatan maksiat, bukan hukum yang telah ditetapkan dalam syariah. Akan tetapi, yang dimaksud disini adalah semua bentuk perbuatan yang diharamkan. Semua hudud Allah adalah haram, maka pelakunya harus dita’zir sesuai dengan kadar pertimbangan maslahat dan kemaksiatan yang dilakukannya.





Tuesday, February 16, 2016

SEMUA KEBENARAN ITU ADA TINGKATANNYA


SEMUA  KEBENARAN ITU ADA  TINGKATANNYA
Analisis dangkal saja dari M.Rakib Jamari,S.H.

1.     Tingkat berfikir Salafi Wahabi, berkesimpulan “Allah itu di langit”
2.     Tingkat befikir Asy Ary, sebuatn di langit, hanya simbol ketinggian dan keagungan-Nya. Dia tidak terarahkan, tidak termaknakan oleh tempat
3.     Tingkat befikir Al-Hallaj, Dia mempunyai zat mahaberada, di manapun penjuru yang  disebut dan penjuru  yang tak mampu diucapakan, rahamatnya ada di sana.
KESIMPULAN M.Rakib Jamari, Salafi, Asy Ary dan Al-Halaj, semuanya benar, tidak ada yang bertentangan, hanya Stratanya saja berbeda. Misalnya tingkat berfikir S1  S2 Dan S3, anehnya, btingkatan ini boleh dibolak balik, namun itngkatan Asy Ary tetap di tengah.. Kebenaran sangat dipengaruhi oleh dari sisi mana anda memandang.Sisi 1,2 atau 3 yang penting jangan saling mengkafirkan, saling membid’ahkan.
        Selain daripada tingkatan berfikir di atas tentang theologi, ada lagi tentang kehidupan, maksudnyan kehidupan manusia. Dikutip dari Masithah Mahsa, bahwa  kebenaran adalah fungsi rohaniah. Manusia di dalam kepribadian dan kesadarannya tak mungkin tanpa kebenaran. Berdasarkan potensi subjek, maka susunan tingkatan kebenaran itu menjadi:

1.Tingkatan kebenaran indera adalah tingkatan yang paling sederhana dan pertama yang dialami manusia
2.Tingkatan ilmiah, pengalaman-pengalaman yang didasarkan disamping melalui indera, diolah pula dengan rasio
3.Tingkat filosofis, rasio dan pikiran murni, renungan yang mendalam mengolah kebenaran itu semakin tinggi nilainya
4.Tingkatan religius, kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa dan dihayati oleh kepribadian dengan integritas dengan iman dan kepercayaan.
Keempat tingkat kebenaran ini berbeda-beda wujud, sifat dan kualitasnya bahkan juga proses dan cara terjadinya, disamping potensi subyek yang menyadarinya. Potensi subyek yang dimaksud disini ialah aspek kepribadian yang menangkap kebenaran itu. Misalnya pada tingkat kebenaran indera, potensi subyek yang menangkapnya ialah panca indra. Kebenaran itu ialah fungsi kejiwaan, fungsi rohaniah. Manusia selalu mencari kebenaran itu, membina dan menyempurnakannya sejalan dengan kematangan kepribadiannya.
•Ukuran Kebenarannya :
– Berfikir merupakan suatu aktifitas manusia untuk menemukan kebenaran
– Apa yang disebut benar oleh seseorang belum tentu benar bagi orang lain
– Oleh karena itu diperlukan suatu ukuran atau kriteria kebenaran
•Jenis-jenis Kebenaran :
– Kebenaran Epistemologi (berkaitan dengan pengetahuan)
– Kebenaran Ontologis (berkaitan dengan sesuatu yang ada/diadakan)
– Kebenaran Semantis (berkaitan dengan bahasa dan tutur kata)

Teori-Teori Kebenaran Menurut Filsafat
1.Teori Corespondence
Masalah kebenaran menurut teori ini hanyalah perbandingan antara realita obyek (informasi, fakta, peristiwa, pendapat) dengan apa yang ditangkap oleh subjek (ide, kesan). Jika ide atau kesan yang dihayati subjek (pribadi) sesuai dengan kenyataan, realita, objek, maka sesuatu itu benar.

Teori korespondensi (corespondence theory of truth) menerangkan bahwa kebenaran atau sesuatu keadaan benar itu terbukti benar bila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud suatu pernyataan atau pendapat dengan objek yang dituju/dimaksud oleh pernyataan atau pendapat tersebut. Kebenaran adalah kesesuaian pernyataan dengan fakta, yang selaras dengan realitas yang serasi dengan situasi aktual. Dengan demikian ada lima unsur yang diperlukan yaitu :

1. Pernyataan (statement)
2. Persesuaian (agreemant)
3. Situasi (situation)
4. Kenyataan (realitas)
5. Putusan (judgements)

Kebenaran adalah fidelity to objektive reality (kesesuaian pikiran dengan kenyataan). Teori ini dianut oleh aliran realis. Pelopornya Plato, Aristoteles dan Moore dikembangkan lebih lanjut oleh Ibnu Sina, Thomas Aquinas di abad skolatik, serta oleh Berrand Russel pada abad modren.

Cara berfikir ilmiah yaitu logika induktif menggunakan teori korespodensi ini. Teori kebenaran meniru korespondensi ini sudah ada di dalam masyarakat sehingga pendidikan moral bagi anak-anak ialah pemahaman atas pengertian-pengertian moral yang telah merupakan kebenaran itu. Apa yang diajarkan oleh nilai-nilai moral ini harus diartikan sebagai dasar bagi tindakan-tindakan anak di dalam tingkah lakunya.
Artinya anak harus mewujudkan di dalam kenyataan hidup, sesuai dengan nilai-nilai moral itu. Bahkan anak harus mampu mengerti hubungan antara peristiwa-peristiwa di dalam kenyataan dengan nilai-nilai moral itu dan menilai adakah kesesuaian atau tidak sehingga kebenaran berwujud sebagai nilai standard atau asas normatif bagi tingkah laku. Apa yang ada di dalam subyek (ide, kesan) termasuk tingkah laku harus dicocokkan dengan apa yang ada di luar subyek (realita, obyek, nilai-nilai) bila sesuai maka itu benar.

2.Teori Consistency

Teori ini merupakan suatu usaha pengujian (test) atas arti kebenaran. Hasil test dan eksperimen dianggap reliable jika kesan-kesan yang berturut-turut dari satu penyelidik bersifat konsisten dengan hasil test eksperimen yang dilakukan penyelidik lain dalam waktu dan tempat yang lain. Menurut teori consistency untuk menetapkan suatu kebenaran bukanlah didasarkan atas hubungan subyek dengan realitas obyek. Apabila didasarkan atas hubungan subyek (ide, kesannya dan comprehensionnya) dengan obyek, pastilah ada subyektivitasnya. Oleh karena itu pemahaman subyek yang satu tentang sesuatu realitas akan mungkin sekali berbeda dengan apa yang ada di dalam pemahaman subyek lain. Teori ini dipandang sebagai teori ilmiah yaitu sebagai usaha yang sering dilakukan di dalam penelitian pendidikan khususnya di dalam bidang pengukuran pendidikan.

Teori konsisten ini tidaklah bertentangan dengan teori korespondensi. Kedua teori ini lebih bersifat melengkapi. Teori konsistensi adalah pendalaman dan kelanjutan yang teliti dari teori korespondensi. Teori korespondensi merupakan pernyataan dari arti kebenaran. Sedangkan teori konsistensi merupakan usaha pengujian (test) atas arti kebenaran.
3.Teori Koherensi (the coherence theory of truth)

Teori koherensi menganggap suatu pernyataan benar bila di dalamnya tidak ada pertentangan, bersifat koheren dan konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang telah dianggap benar. Dengan demikian suatu pernyataan dianggap benar, jika pernyataan itu dilaksanakan atas pertimbangan yang konsisten dan pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya. Rumusan kebenaran adalah truth is a sistematis coherence dan truth is consistency. Jika A = B dan B = C maka A = C.

Logika matematik yang deduktif memakai teori kebenaran koherensi ini. Logika ini menjelaskan bahwa kesimpulan akan benar, jika premis-premis yang digunakan juga benar. Teori ini digunakan oleh aliran metafisikus rasional dan idealis. Teori ini sudah ada sejak Pra Socrates, kemudian dikembangan oleh Benedictus Spinoza dan George Hegel. Suatu teori dianggap benar apabila telah dibuktikan (klasifikasi) benar dan tahan uji. Kalau teori ini bertentangan dengan data terbaru yang benar atau dengan teori lama yang benar, maka teori itu akan gugur atau batal dengan sendirinya..

“SETIAP ORANG YANG JELEK, UCAPANNYA JUGA JELEK” TIDAK BERLAKU BAGI BILAL

“SETIAP ORANG YANG JELEK, UCAPANNYA JUGA JELEK”
TIDAK BERLAKU BAGI BILAL

         Betapa banyaknya orang  Israel yang tapan tapi ucapannya jelek, berselingkuh dan membunuh rakyat Palestina yang tidak berdosa, Nah ternyata Bilal orangnya hitam dan jelek, tapi ucapanya tingkah lakuknya indah semua dan sangat mulia,bahkan mungkin beliau sudah dapat dikatakan sebagai doktor dalam bidang azan. Hebatnya lagi, setelah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam mengembuskan napas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan.

         Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi” (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah), tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.
Sejak kepergian Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, Bilal tak sanggup mengumandangkan azan. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi” (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah), ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.
Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.
Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”
Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”
Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam wafat.”
Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus.
Lama Bilal tak mengunjungi Madinah, sampai pada suatu malam, Nabi hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya, “Ya Bilal, wa maa hadzal jafa’? Hai Bilal, kenapa engkau tak mengunjungiku? Kenapa sampai begini?”
Bilal pun bangun terperanjat, airmata rindunya seketika tak terbendung lagi. Segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah, untuk ziarah pada Nabi. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Nabi.
Setiba di Madinah, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Nabi, pada sang kekasih. Penduduk Madinah yang mengetahui kedatangannya, segera keluar dari rumah untuk menyambutnya. Ketika masuk waktunya sholat, beberapa Sahabat meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan. Akan tetapi Bilal terus menolak permintaan itu.


Monday, February 15, 2016

PENYAKIT MANUSIA MODEREN LEMAHNYA CITA RASA TAUHID



PENYAKIT MANUSIA MODEREN
LEMAHNYA CITA RASA TAUHID DAN MORALITAS AGAMA

ANALISIS RINGAN DARI Dr.Haji M.Rakib Jamari,S.H.,M.Ag

         Musdah,Ulil, Muqsit  mendukung LGBT dan banyak lagi dosen lainnya yang jenius dan cerdas, tidak kurang hebatnyadalam dialog dan memberi kuliah. Sisi lemahnya mereka ialah lemahnya penghayatan terhadap aqidah tauhid serta akhlakul karimah.Tegasnya otak bagus tapi fitrah imannya kosong. Dalam nyanyian Nasidaria, menyatakan awas penyakit tiga kosong.

           Ilmu penuh, iman kosong,
           Setan dan Iblis, terus mendorong.
           Mengaku paling benar, agak sombong,
          Aqidahnya lemah, tak tertolong.

          Majalah Cahaya Nabawiy Tahun 2012 tentang penyakit moral ini tidak disadari ketika ia menjadi semakin kronis. Setidaknya pada tulisan ini akan penulis sebutkan lima macam "penyakit" modern yang umum kita temui di sekitar kita:
 
Pertama adalah penyakit yang timbul sebagai dampak munculnya seluler. Teknologi informasi seluler telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup . sehari-hari kita. Ironisnya hal itu amat menyita waktu kita. Orang kerap lupa waktu jika sudah memegang HP pintar dengan bermacam aplikasinya seperti jejaring sosial. Orang kadang lupa dan apatis terhadap orang-orang di sekitarnya. Mereka berdekatan jarak namun terasa jauh, karena masing-masing sibuk dengan HPnya. Kadang lupa waktu shalat dan zikir. Bisa dikatakan bahwa alat semacam HP telah menyita waktu kita untuk hal-hal ; yang kebanyakan tidak bermanfaat. (Majalah Cahaya Nabawiy Tahun 2012)
 


Kita tidak bermaksud menafikan manfaat HP dalam kehidupan sosial. Tetapi ketika HP sudah sedemikian canggih, maka manfaat utama untuk komunikasi i positif dan informatif beralih pada sarana hiburan. Manusia memang butuh , hiburan. Namun sayang, banyak orang sudah melupakan waktu yang berpotensi mengabaikan hal yang lebih bermanfaat seperti membaca Al-Quran atau berdzikir. Tampaknya tangan yang seharusnya dekat dengan biji tasbih, kini jauh lebih akrab j dengan HP. Telinga yang dulu banyak mendengar hal-hal bermanfaat kini lebih banyak dihabiskan untuk mendengarkan obrolan tak penting yang kadang tak kenal waktu.
 
Kedua adalah keranjingan hiburan. Sudah sering kita saksikan bagaimana pemuda-pemudi kita atau para orang tua begitu keranjingan hiburan. Mulai dari game di internet sampai pada menghadiri konser musik. Dunia intertainmen seolah sudah menjadi identitas yang lekat dengan  mereka. Kegiatan keagaamaan yang serius tak pernah mendapat respon semeriah dunia hiburan. Refreshing memang juga dibutuhkan, namun Ironis sekali ketika hiburan itu menjadi begitu "wajib"nya dalam pandangan para peeandunya.
 
Seorang guru mungkin berteriak- teriak ketika memberikan peringatan kepada murid yang kadang tak digubris. Seorang khatib mungkin akan berapi-api dalam memberikan orasinya, yang kadang hanya sekedar jadi tontonan dan rutinitas tanpa peresapan makna. Bandingkan dengan artis yang begitu digandrungi dan ditaati ketika meminta para penontonnya untuk mengangkat tangan atau mengajak bergoyang bersama. Anak-anak kita hafal di luar kepala lagu-lagu kelompok band. Tetapi berapa dari mereka yang mengerti apalagi hafal Asma'ul Husna beserta artinya, atau sifat-sifat Allah dan para rasulNya, atau nama-nama malaikat dan tugas-tugasnya?
 
Ketiga adalah pamer kecantikan dan keseksian. Sudah sering kita saksikan di sekitar kita betapa kini banyak orang telah terjebak dalam tren pamer lekuk tubuh dan kecantikan tanpa atau dengan menyadari bahwa hal itu bertentangan dengan norma- norma agama dan berpotensi memancing fitnah dan syahwat. Ironisnya hal itu malah didukung oleh pihak media. Bahkan pihak medialah yang telah mengajari masyarakat jadi hobi pamer dan menonton aurat. Hal itu juga bisa kita lihat dari sekian banyaknya produk yang diiklankan di televisi yang rata-rata berupa iklan komoditas pendukung pamer kemolekan tersebut.
Pada akhirnya tren berbusana juga mengarah pada nuansa pamer kemolekan dan kecantikan yang sebenarnya merupakan budaya Jahiliyah dahulu. Islam datang mengajarkan kesantunan, termasuk dalam berbusana yang lebih memberikan kesejukan suasana. Tetapi Barat merusaknya dengan menularkan budaya mereka melalui jaringan multimedia. Dengan bahasa "globalisasi" dan semacamnya, ukuran moralitas telah mereka belokkan ke arah penurutan libido dan ego. Maka istilah yang tidak Islami pun semacam "gaul" kian sering kita dapati di tengah masyarakat. Pengertian Istilah "modern"pun dibelokkan pada pergaulan bebas dan tren Barat.
 
Keempat, belakangan ini muncul joke-joke dalam komunikasi jejaring sosial yang berbau istilah-itilah agama tapi sebenarnya jauh dari mendidik. Contohnya adalah kidding-kidding dalam BBM, FB dan semacamnya yang "melibatkan" nama Tuhan, nabi, malaikat, pahala, siksa, surga dan neraka. Hal itu kita khawatirkan dapat mengganggu keimanan. Perihal akhirat yang serius dan harus dicemaskan seperti neraka, malah menjadi semacam hal-hal lucu yang ditertawakan. Bagaimana jika yang membaca adalah anak-anak kita atau orang-orang yang belum mendalam pengertian agamanya? Kita jangan sampai tergolong orang-orang yang masuk kategori mempermainkan agama.
 
Kita memang menolak keras ketika ada pencitraan buruk Islam di dunia Barat. Tetapi sayangnya, tanpa disadari, kita telah melakukan hal-hal yang sekilas terlihat remeh, tapi sebenarnya termasuk tindakan pendangkalan agama di tengah kehidupan sosial. Wal-'iyadzu billah.
 
Penyakit modern kelima yang tak kalah parah dan lebih memprihatinkan adalah maraknya perselingkuhan sebagai efek samping teknologi seluler.

Komentar Facebook