Monday, August 11, 2014

TAFSIR SURAT KE 56 AL-WAQI’AH KOMPETENSI INTI SATU KURIKULUM BARU


keterkejutan


KETERKEJUTAN DALAM

TAFSIR SURAT KE 56  AL-WAQI’AH
KOMPETENSI INTI SATU KURIKULUM BARU

Dr.Drs.H.M.Rakib, S.H.,M.Ag

     KATA PENGANTAR
          Bismillah, robbisrohli sodri wayassirli amri wahlul uqdatammilisani yafqohu qouli. Nah coba kita ambil quran yang terjemahan terus buka salah satu surah dalam al-qur'an yaitu surah al-waqiah (56) ayat 68-70. Di sana ada keterangan yang sungguh sangat membuat kita harusnya berpikir lebih dalam mengenai ke Maha Kuasaan Allah SWT pada kehidupan kita. Pada ayat tersebut Allah menjelaskan "
1.      Perenungan tentang air minum
"Maka terangkanlah kepada-Ku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?" (Qs. Al-Waqi’ah : 68-70).
Tidak hanya itu, Allah pun menjelaskannya pada surah lain :
"... dan Kami beri minum kamu dengan air yang tawar?” (QS. Al-Mursalat, 77: 27)
"Dialah Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan yang padanya kamu menggembalakan ternakmu. ”(QS. An-Nahl, 16: 10).
        Dari sana sepertinya Allah menggambarkan serta menyuruh kita merenungkannya, bagaimana proses air yang kita minum setiap hari itu terjadi, yang pada dasarnya berasal dari air laut yang asin, tapi kenapa kok rasanya tawar bukan asin? bisa dibayangkan kalo air yang kita minum rasanya asin, mungkin rasa haus kita ga bakal bisa ilang. Sekali lagi Allah menekankan kita untuk terus bersyukur atas salah satu dari tak terhitungnya nikmat Allah tersebut.
2.      Terangkan secara ilmiah kenapa air hujan tidak asin?
Karena air hujan berasal dari penguapan air dan 97% nya merupakan penguapan air laut yang asin. Titik didih air lebih kecil dari pada garam, kalau air hanya 100oC, sedangkan garam 1465oC, nah proses itulah sehingga yang naik ke atas hanya kandungan air saja, sedangkan kandungan garamnya tertinggal di laut. Seperti yang Allah terangkan dalam Al-Quran berikut :
Air hujan akan jatuh ke tanah dalam keadaan murni dan bersih, sesuai dengan ketentuan Allah. Kami turunkan dari langit air yang amat bersih. ” (QS. Al
Furqan, 25: 48)
Bersyukur, bersyukur dan bersyukur, itulah yang semestinya kita lakukan atas karunia besar Allah itu untuk hamba-Nya... Terus ada yang nanya, gimana caranya kita bersyukur atas nikmat Allah? nah kalo itu beda pembahasan lagi, kalau mau tau jawabannya, silahkan nanti coba kita tanyakan di Ustadz aja pas ta'lim, hehe. Insya Allah, tulisan ini bukan bermaksud menggurui pembaca semua, tapi semata-mata ingin berbagi dari apa yang udah ane baca. Pemahaman ini juga buat yang nulis untuk belajar terus memperbaiki diri ini yang rasanya masih belum terlalu dekat sama Allah SWT.

Saling mendoakan ya sahabatku, biar kita bisa istiqomah di jalan-Nya. aamiin.
Sumber : Al-Quran, jinggaempatsatu.wordpress.com
 Kompetensi satu dalam kurikulum baru ialah pengenalan terhadap Tuhan Yang Mahaesa, melalui Saintifik ilmu pengetahuan yang saat ini penulis kutip dari isyarat yang terdapat di dalam Surat Al-Waqi’ah, surat ke-56, salah satu yang dikenal sebagai surat penuh berkah. Keberkahannya mampu melenyapkan kemiskinan dan mendatangkan rejeki bagi siapa saja yang membacanya dengan rutin.
Dalam beberapa riwayat, diungkapkan bahwa Rosulullah bersabda:
  1. Barangsiapa membaca surat Al-Waqi’ah setiap malam, maka kemiskinan tidak akan menimpa dirinya untuk selamanya
  2. Surat Al-Waqi’ah adalah surat kekayaan, maka bacalah surat itu dan ajarkan kepada anak-anak kalian
  3. Ajarkanlah istri kalian surat Al-Waqi’ah, karena sesungguhnya surat itu adalah surat kekayaan.
Dengan melihat kedudukan surat Al-Waqiah yang sedemikian besar khasiatnya untuk mendatangkan rejeki bagi kita, marilah mulai sekarang membacanya secara rutin setiap hari atau setiap malam. Karena memang surat itu penuh berkah dan mengundang kekayaan serta mengusir kemiskinan bagi siapa saja yang mau secara rutin membacanya.

4.     Telitilah sperma yang pernah terpancar.

Apakah kamu perhatikan apa (air mani) yang kamu tunpahkan. Apakah kamu yang menciptakan air mani atau kami(ALLAH)yang menciptakannya. .....jawabnya ENGKAU LAH YA ALLAH YANG MENCIPTAKAN AIR MANI YANG KAMI TUMPAHKAN ITU............Nabi MUHAMMAD SAW bersabda : sesungguhnya seorang dari kamu dikumpulkan bahan ciptaannya didalam perut ibumu selama 40 hari sebagai air mani kemudian 40 hari sebagai darah, kemudian 40 hari sebagai segumpal daging ,kemudian ditiupkan padanya RUH kemudian diperintah untuk menulis 4 kalimat yaitu ditulis rizkinya, dan ajalnya dan amalnya dan kesengsaraan atau kebahagiaan,...............ALHAMDULILLAH.....sekarang kami sedikit memahami ya ROSULULLAH asal muasal kami diciptakan oleh ALLAH SWT.......maka ALLAH BERFIRMAN : hendaklah manusia memperhatikan dari apa mereka diciptakan .

Mereka diciptakan dari air mani yang terpancar...............maha benar ALLAH SWT.............YA ALLAH sungguh ENGKAU MAHA PENCIPTA ......ENGKAU CIPTAKAN KAMI DARI AIR MANI YANG TERPANCAR....sungguh kami akui ni'mat diciptakan sehingga dari air mani menjadi segumpal darah menjadi segumpal daging dengan tulang2 yang terbentuk sesuai ke butuhan dengan urat besar dan urat saraf yang begitu halus tersusun rapi menurut fungsinya masing2 .....ALLAH AKBAR ...TIADA TUHAN SELAIN ALLAH........ YA ALLAH TIADA YANG MENCIPTAKAN SELAIN ENGKAU........SEHINGGA TA'JUB DOKTER yang engkau beri ilmu setelah mereka memperhatikan mata dengan bentuk yang indah dan rumit sehingga dapat menangkap ber-milyar2 gambar setiap hari belum lagi pungsi telinga yang dapat mendengarkan berbagai jenis bunyi2an begitu juga lidah sehingga dapat berkomunikasi satu dengan lainnya dan seterusnya2........wahai saudara2ku perhatikanlah sungguh2 dan renungkanlah secarah mendalam .....tulisan ini hanya sekedar pengantar buat bahan renungan ke besaran ALLAH dan keagunganNYA serta kemaha perkasaan ALLAH SWT........... setelah renungan ALLAH punya perintah ter hadap ciptaannya, ALLAH BERFIRMAN : wahai sekalian manusia sembah lah ALLAH tuhan kamu yang telah menciptakan kamu dan telah menciptakan orang2 sebelum kamu agar kamu bertaqwa ( melaksanakan perintah ALLAH dan meninggalkan laranganNYA)............ wahai saudaraku bacalah ditempat sepi dan renungkanlah....mudah2an dengan izin ALLAH kita dapaat memahami diri kita masing2......semoga berhasil , ya ALLah Limpahkan kepada kami pemahaman yang dapat memberi manfaat bagi kami amin.....amin ....amin ...ya robbal 'alamin,

 

56:1

56:2
56:3
56:4
56:5
56:6
56:7
56:8
56:9
56:10

Surah Al-Waqiah : Tulisan Latin Indonesia beserta Arti

      

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg7X-h39oW3qV8qnQVcc5U8r5IkAxFnLGYdbyHu70iDU8Vm-fDsXc_HDFAxXUgVnri5SPV2hQS9fEIkSMZ3YxfLKA_aKRLl-HWFPzs3R597oIpCIN8ChSChLQazKvoS_hnYQ87hI0yrcs4/s200/alwaqi25e225802599a.png

         Surah Al-Waqi'ah (Arab: الواقعه, "Hari Kiamat") adalah surah ke-56 dalam Al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 96 ayat dan termasuk golongan golongan surah Makkiyah. Surah yang diturunkan sesudah surah Ta Ha ini dinamai dengan Al Waaqi'ah (Hari Kiamat), diambil dari perkataan Al Waaqi'ah yang terdapat pada ayat pertama.



IDZAA WAQA’ATI LWAAQI’AT
[56:1] Apabila terjadi hari kiamat,
[56:1] When the great event comes to pass,
Al Waqi'ah
LAYSA LIWAQ’ATIHAA KAADZIBA
[56:2] tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya.
[56:2] There is no belying its coming to pass –
Surat Al Waqiyah
KHAAFIDHATUN RAAFI’A
[56:3] (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain),
[56:3] Abasing (one party), exalting (the other),
IDZAA RUJJATI L-ARDHU RAJJAA
[56:4] apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya,
[56:4] When the earth shall be shaken with a (severe) shaking,
WABUSSATI LJIBAALU BASSAA
[56:5] dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya,
[56:5] And the mountains shall be made to crumble with (an awful) crumbling,
FAKAANAT HABAA-AN MUNBATSTSAA
[56:6] maka jadilah ia debu yang beterbangan,
[56:6] So that they shall be as scattered dust.
WAKUNTUM AZWAAJAN TSALAATSA
[56:7] dan kamu menjadi tiga golongan.
[56:7] And you shall be three sorts.
FA-ASH-HAABU LMAYMANATI MAA ASH-HAABU LMAYMANAT
[56:8] Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu.
[56:8] Then (as to) the companions of the right hand; how happy are the companions of the right hand!
wa-ash-haabu lmasy-amati maa ash-haabu lmasy-amat
[56:9] Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu.
[56:9] And (as to) the companions of the left hand; how wretched are the companions of the left hand!
wassaabiquuna ssaabiquun
[56:10] Dan orang-orang yang beriman paling dahulu,
[56:10] And the foremost are the foremost,

ULAA-IKA LMUQARRABUUN
[56:11] Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah.
[56:11] These are they who are drawn nigh (to Allah),
FII JANNAATI NNA’IIM
[56:12] Berada dalam jannah kenikmatan.
[56:12] In the gardens of bliss.
tsullatun mina l-awwaliin
[56:13] Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu,
[56:13] A numerous company from among the first,
waqaliilun mina l-aakhiriinaa
[56:14] dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian
[56:14] And a few from among the latter.
ALAA SURURIN MAWDHUUNA
[56:15] Mereka berada di atas dipan yang bertahta emas dan permata,
[56:15] On thrones decorated,
MUTTAKI-IINA ‘ALAYHAA MUTAQAABILIIN
[56:16] seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan.
[56:16] Reclining on them, facing one another.


YATHUUFU ‘ALAYHIM WILDAANUN MUKHALLADUUN
[56:17] Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda,
[56:17] Round about them shall go youths never altering in age,
bi-akwaabin wa-abaariiqa waka/sin min ma’iin
[56:18] dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir,
[56:18] With goblets and ewers and a cup of pure drink;
laa yushadda’uuna ‘anhaa walaa yunzifuun
[56:19] mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk,
[56:19] They shall not be affected with headache thereby, nor shall they get exhausted,
wafaakihatin mimmaa yatakhayyaruun
[56:20] dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih,
[56:20] And fruits such as they choose,
walahmi thayrin mimmaa yasytahuun
[56:21] dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.
[56:21] And the flesh of fowl such as they desire.
wahuurun ‘iin
[56:22] Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli,
[56:22] And pure, beautiful ones,
ka-amtsaalillu/lui lmaknuun
[56:23] laksana mutiara yang tersimpan baik.
[56:23] The like of the hidden pearls:
jazaa-an bimaa kaanuu ya’maluun
[56:24] Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.
[56:24] A reward for what they used to do.
laa yasma’uuna fiihaa laghwan walaa ta/tsiimaa
[56:25] Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa,
[56:25] They shall not hear therein vain or sinful discourse,
illaa qiilan salaaman salaamaa
[56:26] akan tetapi mereka mendengar ucapan salam.
[56:26] Except the word peace, peace.
wa-ash-haabu lyamiini maa ash-haabu lyamiin
[56:27] Dan golongan kanan, alangkah bagianya golongan kanan itu.
[56:27] And the companions of the right hand; how happy are the companions of the right hand!
fii sidrin makhdhuud
[56:28] Berada di antara pohon bidara yang tak berduri,
[56:28] Amid thornless lote-trees,
wathalhin mandhuud
[56:29] dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya),
[56:29] And banana-trees (with fruits), one above another.
wazhillin mamduud
[56:30] dan naungan yang terbentang luas,
[56:30] And extended shade,
wamaa-in maskuub
[56:31] dan air yang tercurah,
[56:31] And water flowing constantly,
wafaakihatin katsiira
[56:32] dan buah-buahan yang banyak,
[56:32] And abundant fruit,
laa maqthuu’atin walaa mamnuu’a
[56:33] yang tidak berhenti (berbuah) dan tidak terlarang mengambilnya.
[56:33] Neither intercepted nor forbidden,
wafurusyin marfuu’a
[56:34] dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk.
[56:34] And exalted thrones.
innaa ansya/naahunna insyaa
[56:35] Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung
[56:35] Surely We have made them to grow into a (new) growth,
faja’alnaahunna abkaaraa
[56:36] dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.
[56:36] Then We have made them virgins,
‘uruban atraabaa
[56:37] penuh cinta lagi sebaya umurnya.
[56:37] Loving, equals in age,
li-ash-haabi lyamiin
[56:38] (Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan,
[56:38] For the sake of the companions of the right hand.
tsullatun mina l-awwaliin
[56:39] (yaitu) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu.
[56:39] A numerous company from among the first,
watsullatun mina l-aakhiriin
[56:40] dan segolongan besar pula dari orang-orang yang kemudian.
[56:40] And a numerous company from among the last.
wa-ash-haabu sysyimaali maa ash-haabu sysyimaal
[56:41] Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu?
[56:41] And those of the left hand, how wretched are those of the left hand!
fii samuumin wahamiim
[56:42] Dalam (siksaan) angin yang amat panas, dan air panas yang mendidih,
[56:42] In hot wind and boiling water,
wazhillin min yahmuum
[56:43] dan dalam naungan asap yang hitam.
[56:43] And the shade of black smoke,
laa baaridin walaa kariim
[56:44] Tidak sejuk dan tidak menyenangkan.
[56:44] Neither cool nor honorable.
innahum kaanuu qabla dzaalika mutrafiin
[56:45] Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewahan.
[56:45] Surely they were before that made to live in ease and plenty.
wakaanuu yushirruuna ‘alaa lhintsi l’azhiim
[56:46] Dan mereka terus-menerus mengerjakan dosa besar.
[56:46] And they persisted in the great violation.
wakaanuu yaquuluuna a-idzaa mitnaa wakunnaa turaaban wa’izhaaman a-innaa lamab’uutsuun
[56:47] Dan mereka selalu mengatakan: “Apakah bila kami mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami akan benar-benar dibangkitkan kembali?,
[56:47] And they used to say: What! when we die and have become dust and bones, shall we then indeed be raised?
awa aabaaunaa l-awwaluun
[56:48] apakah bapak-bapak kami yang terdahulu (juga)?”
[56:48] Or our fathers of yore?
qul inna l-awwaliina wal-aakhiriin
[56:49] Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian,
[56:49] Say: The first and the last,
lamajmuu’uuna ilaa miiqaati yawmin ma’luum
[56:50] banar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dikenal.
[56:50] Shall most surely be gathered together for the appointed hour of a known day.

tsumma innakum ayyuhaa dhdhaalluuna lmukadzdzibuun
[56:51] Kemudian sesungguhnya kamu hai orang-orang yang sesat lagi mendustakan,
[56:51] Then shall you, O you who err and call it a lie!
laaakiluuna min syajarin min zaqquum
[56:52] benar-benar akan memakan pohon zaqqum,
[56:52] Most surely eat of a tree of Zaqqoom,
famaali-uuna minhaa lbuthuun
[56:53] dan akan memenuhi perutmu denganya.
[56:53] And fill (your) bellies with it;
fasyaaribuuna ‘alayhi mina lhamiim
[56:54] Sesudah itu kamu akan meminum air yang sangat panas.
[56:54] Then drink over it of boiling water;
fasyaaribuuna syurba lhiim
[56:55] Maka kamu minum seperti unta yang sangat haus minum.
[56:55] And drink as drinks the thirsty camel.
haadzaa nuzuluhum yawma ddiin
[56:56] Itulah hidangan untuk mereka pada hari Pembalasan”.
[56:56] This is their entertainment on the day of requital.
nahnu khalaqnaakum falawlaa tushaddiquun
[56:57] Kami telah menciptakan kamu, maka mengapa kamu tidak membenarkan?
[56:57] We have created you, why do you not then assent?
afara-aytum maa tumnuun
[56:58] Maka terangkanlah kepadaku tentang
nutfah yang kamu pancarkan.
[56:58] Have you considered the seed?
"Ilmu Pengetahuan Sains" Islam: Apakah Al-Quran Islam
Mengandung Keajaiban-keajaiban Ilmiah?
Dulunya, orientalis Barat, sangat benci dengan ayat-ayat berbau sains dalam Al-Quran. Orientalis yang jahat, menyatakan begini: Lewat sepuluh tahun terakhir semakin banyak kaum Muslim menyatakan Qur'an sebagai buku yang penuh berisi keajaiban-keajaiban ilmu pengetahuan. Banyak web site, buku-buku dan video diproduksi yang menyatakan bahwa Islam adalah benar-benar suatu agama yang bersumberkan keilahian, menyebutkan pernyataan-pernyataan yang kononnya "secara ilmiah akurat" dalam Qur'an dan Hadis. Banyak dari karya-karya ini memperkenalkan pernyataan-pernyataannya dengan kalimat seperti:
"Satu dari hal yang paling luar biasa dalam Quran adalah bagaimana ia menguraikan ilmu pengetahuan. Quran yang dinyatakan kepada Muhammad (saw) pada abad ke 7 berisikan fakta-fakta ilmiah menakjubkan yang sedang ditelusuri di abad ini. Para ahli ilmu pengetahuan terkejut dan kerap terbungkam saat mereka diperlihatkan betapa terperinci dan akuratnya beberapa ayat dalam Quran tentang ilmu pengetahuan moderen.."
Artikel ini akan menghadapi pertanyaan ini, sebagaimana juga menghadapi berbagai ayat-ayat dari Qur'an yang disebut kaum Muslim sebagai keajaiban ilmu pengetahuan. Artikel ini juga akan melihat berbagai kejanggalan ilmu pengetahuan yang ditemukan dalam Qur'an dan Hadis yang tidak disebut oleh banyak kaum Muslim.
Dari sekitar 1 milyar kaum Muslim di bumi, 90% adalah Suni. Oleh karena itu, artikel ini akan menghadapi ajaran-ajaran Islam Suni. Literatur hadis adalah, hampir semuanya, khas Islam Suni, dimana sekte lainnya (Syiah, Submitter, Sufi) tidak menganggap tulisan-tulisan tersebut semulia sebagaimana yang kaum Suni lakukan. Sebagai contoh, sekte Islam Syiah tidak mempercayai dan tidak mengimani langsung koleksi hadis sekte Suni, walau pun mereka berjumlah kurang daripada sekte Suni itu. Karena itu, menyebutkan berbagai Hadis dalam kajian ini hanya relevan di dalam suatu diskusi mengenai Islam sekte Suni.
1 ] Penciptaan Bumi

Para kaum cendekia moderen telah mengkritik Alkitab tentang pernyataannya bahwa Bumi diciptakan dalam enam hari. Hal ini sudah dianggap hanyalah sebagai suatu mitos yang dibuat oleh orang jaman dahulu kala untuk menjelaskan bagaimana dunia diciptakan. Qur'an telah membuat kesalahan yang sama mengenai kwantitas waktu yang dibutuhkan dalam penciptaan bumi, sebagaimana terlihat dalam ayat berikut ini:
Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi, dan apa yang ada antara keduanya, dalam enam masa, dan Kami sedikit pun tidak ditimpa keletihan.
(Qur'an 50:38)
Adalah suatu fakta yang sudah diketahui bahwa Muhammad berhubungan dengan kaum Yahudi dan Kristen, dan banyak bagian dari Qur'an yang mengikuti Alkitab. Sementara Qur'an tidak memiliki pernyataan Alkitab dimana "pada hari yang ke tujuh Allah beristirahat" (Kejadian 2:2) Qur'an masih tetap menyatakan bahwa bumi tercipta dalam enam hari.
Ini lagi-lagi Kritik Orientalis Barat.
Konon katanya, kaum Muslim yang berusaha untuk mensejajarkan Qur'an dengan ilmu pengetahuan moderen, menunjukkan bahwa Qur'an juga mengatakan bahwa sehari bagi Allah dan para malaikat adalah sama dengan 50,000 tahun (Qur'an 70:4). Dalam mengutip ayat ini, kaum Muslim berusaha menyampaikan bahwa dunia diselesaikan dalam 300,000 ( 6 x 50,000) tahun. Walaupun merupakan usaha yang bagus, pada kenyataannya tetap tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan moderen, yang menyebutkan bahwa butuh waktu beberapa milyar tahun bagi Bumi untuk mencapai tahap ini. Miliaran tahun berlalu sebelum adanya tanaman, hutan, maupun binatang-binatang.
KETIKA AL-QUR’AN, MEREKA KRITIK,
HATI MEREKA, SEBENARNYA TERGELITIK
KEBENARAN QUR’AN, TIDAK BISA DITAMPIK
MEREKA TAMPILKAN, SIFAT MUNAFIK.
Selanjutnya, kritik mereka bahwa,  pernyataan tersebut membukakan Qur'an kepada lebih banyak kritik. Ayat yang menyatakan tanpa bukti sehari sama dengan 50,000 tahun (Qur'an 70:4) menyebutkan:
"Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun."Ayat ini sebenarnya seperti mendiskusikan tentang kecepatan waktu tempuh bagi para malaikat. Kemungkinan mengatakan bahwa para malaikat dapat menempuh perjalanan dalam sehari, suatu kwantitas jarak yang bagi mahluk lainnya butuh 50,000 tahun untuk menyelesaikannya. Tujuan saya bukan untuk menawarkan tafsiran-tafsiran alternatif bagi kisah ini. Bagaimanapun, saya mendebat pernyataan bahwa ayat ini menyebutkan sehari setara dengan 50,000 tahun karena hal itu menyangkal bagian-bagian Qur'an lainnya!
Sehari tidak mungkin sebanding dengan 50,000 tahun karena menurut Qur'an, sehari sebanding dengan 1,000 tahun manusia (Qur'an 22:47 & 32:5). Selanjutnya, dengan menyatakan Allah butuh 300,000 tahun untuk menciptakan Bumi adalah mempermalukan Tuhannya Islam, karena saat ia menciptakan, ia berkata "Jadilah!" Lalu jadilah ia (Qur'an 2:117).
2 ] Qur'an tentang Embriologi
Konon katanya, di tahun 1982 Keith Moore, seorang profesor di Universitas Toronto, menghasilkan sebuah buku berjudul "The Developing Human, edisi ke 3". Dalam buku ini Moore menyatakan
keterkejutannya mengenai bagaimana perkembangan embrio dikisahkan dalam Qur'an. Moore akan melanjutkan membuat edisi bukunya yang keempat dan kelima, juga buku lainnya yang berjudul "Human Development as described in the Quran and Sunnah" (Perkembangan Manusia seperti yang dilukiskan dalam Quran dan Sunnah), yang mana semuanya itu disebut oleh banyak kaum Muslim dengan rasa bangga. Moore dan para kaum Muslim pendukungnya merujuk kepada ayat berikut ini:
"Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani dalam tempat yang kokoh; Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah; lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging; dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging; kemudian Kami jadikan dia makhluk yang lain." (Surah 23:13-14)
Tentu saja, sepintas, ini terlihat seperti suatu pernyataan yang luar biasa yang dihasilkan seorang "Arab dari padang pasir abad ke 7". Namun, dengan penelitian yang lebih dekat, seseorang akan menyadari adanya penjelasan maupun kesalahan bagi ayat ini. Pertama kita harus bertanya apakah ini merupakan suatu teori yang asli, dan kedua kita harus bertanya apakah itu benar.
Banyak orang yang terkagum-kagum dengan disinggungnya sperma di dalam ayat ini. Tetapi ini tidaklah istimewa. Sejak permulaan jaman manusia telah sadar akan "benih" yang dikeluarkan oleh zakar saat persetubuhan. Alkitab, yang merupakan teks yang jauh lebih tua daripada Qur'an menyampaikan kisah tentang seorang lelaki yang dibunuh oleh Tuhan karena "membiarkan benihnya tumpah ke tanah." (Kejadian 38:9-10).
Keseluruhan kajian mengenai kehidupan manusia sebagaimana yang disinggung dalam Qur'an sama sekali tidak asli. Sementara kaum Muslim berusaha menegaskan bahwa Muhammad membuat pernyataan-pernyataan ini sebelum para ilmuwan menemukannya, mereka keliru. Teori-teori mengenai pembentukan seorang anak di dalam rahim telah dikemukakan oleh Aristotles sekitar 1,000 tahun sebelum Qur'an ditulis. Kenyataannya Aristotles dengan tepat melukiskan fungsi dari tali pusar, sesuatu yang tidak disebutkan dalam Qur'an, menunjukkan bahwa para filsuf yang telah ada sebelumnya sadar akan hal-hal serupa yang disebutkan Muhammad dan lainnya. Setiap bahasan mengenai perkembangan manusia dalam Qur'an serupa dengan teori-teori Romawi dan Yunani. Perhatikan ayat berikut yang membahas tentang sperma/air mani :

"Dia diciptakan setetes (sperma) yang terpancar -- Yang keluar dari antara tulang punggung dan tulang rusuk." (Qur’an Surah 86:6-7)
Jelas ayat ini salah, dan jelas memiliki sumber pada teori-teori sebelumnya. Pertama-tama, bagi sperma/air mani untuk berasal dari antara punggung dan tulang rusuk sama saja berarti berasal dari ginjal! Kita tahu bahwa sperma diproduksi dalam buah pelir, namun orang-orang di jaman Muhammad tidak mengetahui hal ini. Sebelas abad sebelum Muhammad, Hipokrates dokter berkebangsaan Yunani merumuskan bahwa sperma mengalir melewati ginjal kedalam zakar. Selama berabad-abad ini adalah keyakinan yang diterima (dan keliru) mengenai asal muasal sperma.
Ada beberapa yang menyatakan Muhammad tidak memiliki hubungan dengan orang-orang Yunani maupun Romawi. Arab di jaman sebelum Islam jelas memiliki hubungan dengan Byzantium, Siria (Syam), Mesir, Persia, dan Babilonia. Ada banyak orang Yahudi dan Kristen yang tinggal di daerah itu, dan mereka akrab dengan filosofi Yunani ataupun Romawi. Orang-orang Kristen berhubungan dengan Roma. Orang-orang Yahudi berhubungan dengan Babilonia dan Persia. Sangat mudah untuk melihat bagaimana teori-teori serupa mengenai perkembangan embrio sampai kepada telinga Muhammad.
Akhirnya, kembali kepada ayat yang berbicara mengenai perkembangan anak sebelum dilahirkan, saya akan berkata mereka juga keliru. Qur'an mengatakan bahwa gumpalan darah kemudian menjadi tulang dan kemudian Tuhan "membungkus tulang dengan daging" (Surah 23:13-14). Adalah suatu fakta ilmiah bahwa jaringan terbentuk lebih dulu, dan tulang tumbuh sesaat kemudian, dan terus bertambah kuat (dengan membangun kalsium) bertahun-tahun setelah kelahiran. Oleh sebab itu, ini sudah jelas adalah satu dari banyak ketidakcermatan ilmiah dalam al-Qur'an.
Ketidakmasukakalan Ilmu Pengetahuan dalam Qur'an dan Hadis
Untuk percaya kepada Qur'an adalah untuk tidak berpikir secara rasionil. Ada banyak kisah dan kesalahan-kesalahan ilmiah dalam teks Qur'an, dan Hadis. Kaum Muslim menerima berbagai kemustahilan ilmu pengetahuan dengan ketaatan yang buta. Dunia telah berkembang secara keseluruhan, dan telah melepaskan banyak ketakutan-ketakutan dan takhyul-takhyul yang dimiliki oleh peradaban primitif dari masa lampau. Sayangnya, karena teks Qur'an dita'zimkan, orang-orang tidak mempertanyakan berbagai konsep-konsep takhyul yang seharusnya dapat diatasi kaum Muslim sejak dahulu.
Untuk memulai, saya akan memberikan contoh tentang suatu dongeng yang berasal dari kebudayaan Hindu. Berdasarkan tradisi Hindu, dewa Siwa meninggalkan isterinya sendirian di rumah untuk waktu yang lama. Suatu hari isterinya mengambil kulit dari tubuhnya sendiri, dan menggunakannya untuk membuat seorang anak. Anak itu digunakan untuk melindungi dia, dan juga rumah. Ketika Siwa pulang, anak itu menolak untuk membiarkannya masuk ke rumah. Tanpa keraguan Siwa menarik pedangnya dan memenggal anak itu. Isteri Siwa sangat marah, dan untuk memperbaiki apa yang telah ia perbuat, Siwa pergi dan memenggal kepala seekor gajah, dan meletakkannya pada tubuh anak itu. Inilah sebabnya mengapa dewa Hindu Ganesha memiliki tubuh manusia, namun berkepala gajah.
Sekarang setelah saya sampaikan kisah ini, akankah seorang Muslim mempercayainya? Tentu saja tidak. Ini adalah kisah yang tak masuk akal. Tak ada gunanya mendebat permasalahan ini, sudah jelas bahwa ini tidak benar. Ini adalah kisah yang diciptakan oleh suatu kebudayaan primitif. Jika mudah untuk mencermati bahwa ini adalah suatu dongeng, mengapa begitu sulit bagi kaum Muslim untuk melihat dongeng-dongeng di dalam teks mereka sendiri? Saya sekarang akan memberikan penjelasan singkat mengenai sebagian dari kesalahan-kesalahan ilmu pengetahuan dalam Qur'an.
3 ] Cerita Pertuturan Sempurna Hazrat Isa Almasih semasa Baginda Seorang Bayi
Qur'an memberitahukan kita bahwa 'Isa Al-Masih sebagai seorang anak dapat berbicara dengan kalimat-kalimat yang utuh di umur yang baru sehari (Surah 19:29-33)! Padahal cerita ini langsung tidak dapat didalam Kitab Suci Injil. Sementara kaum Muslim dan Kristen memperdebatkan pengetahuan ilmiah yang tertulis dalam halaman-halaman Qur'an, seorang pemikir yang berakal sehat dapat melihat dengan jelas bahwa gagasan seorang bayi yang berbicara adalah menggelikan. Sebenarnya, ini adalah suatu kisah (mitos) yang diangkat oleh Muhammad, dan disisipkan kedalam teks Qur'an.
Untuk kemustahilan-kemustahilan ilmu pengetahuan selanjutnya lihat Hadis berikut ini:
4 ] Batu dan Pohon yang Bercakap-cakap
Sahih Muslim, Kitab 40, Nomer 6985:
Dikisahkan oleh Abu Hurayrah:
Rasul Allah (saw) berkata: Saat terakhir tak akan datang kecuali bila kaum Muslim bertempur melawan Yahudi dan kaum Muslim akan membunuh mereka hingga bangsa Yahudi akan menyembunyikan diri mereka di balik sebuah batu atau sebatang pohon dan sebuah batu atau sebatang pohon akan berkata: "Muslim, atau pelayan Allah, ada seorang Yahudi dibalikku; datang dan bunuh dia"; tetapi pohon Gharqad tak akan berkata-kata, karena itu adalah pohonnya bangsa Yahudi.
Jawaban penulis : Orientalis tersebut lupa bahwa, jejak pencuri berbicara kepada anjing pelacak, “hei anjing pelacak, aku ada  di sini”. Hanya hanya orientalis tersebut menyangka, jejak pencuri berbicara itu, disangkanya berbicara dengan lidah seperti manusia. Padahal fosil-fosil milyaran tahun yang lalu, bisa berbicara kepada ahli fisika kimia, umurku sekian milyar tahun. Tapi suaranya tidak bisa didengar dengan telinga, hanya didengar dengan alat tersendiri, dibantu oleh komputer.
Biasalah yang namanya orientalis Barat, katanya lagi begini: Orang yang berakal sehat dapat dengan cepat menyadari kekonyolan dasar dari Hadis ini. Ada kesalahan secara ilmiah di banyak tingkatan. Pertama, gagasan tentang bebatuan dan pepohonan yang berbicara adalah dari dunia cerita dongeng. Bagi batu maupun pohon untuk berbicara, perlu otak, paru-paru, tali suara yang tepat, dan pemahaman mengenai bahasa yang dipergunakan. Yang sama mengganggunya adalah pernyataan bahwa satu dari pepohonan ini, pohon Gharqad, akan berpihak pada orang-orang Yahudi.
5 ] Awan yang Berbicara
Bila pemikiran tentang pepohonan dan bebatuan yang berbicara belum cukup, Qur'an mengatakan tentang awan yang dapat berbicara. Allah berkata kepada awan "datanglah dengan suka hati atau terpaksa" dan mereka menjawab "kami datang dengan suka hati" (Q.Surah 41:11). Kebanyakan pembaca melewati begitu saja ayat ini, namun banyak pertanyaan timbul saat menganalisanya. Pada batasan apa uap air memiliki kesadaran? Adakah air merupakan molekul yang hidup? Dengan dua atom hidrogen, dan satu oksigen, dimanakah otak maupun mulut yang dibutuhkan untuk berbicara?
Kisah-kisah mengenai benda-benda mati (bebatuan, dsb) yang bertindak sebagaimana mahluk-mahluk hidup juga ditemukan dalam Qur'an. Ada kisah-kisah tentang pegunungan yang memiliki rasa takut (Q.Surah 33:72). Ketakutan adalah suatu emosi yang disebabkan oleh reaksi-reaksi kimiawi dalam otak. Apakah pegunungan, yang menghasilkan batu dan debu, yang punya otak dengan reaksi-reaksi kimiawi tersebut nyata?
6 ] Matahari Terbenam ke dalam Air Berlumpur di Bumi.
Satu kesalahan pokok secara ilmiah dalam Qur'an dapat dilihat di ayat-ayat berikut ini:
"Dan ia menelusuri jalan; Hingga, ketika dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di mata air berlumpur, dan mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: Hai Zulkarnain! Kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka." (surah 18:85-86)
Ini adalah satu kesalahan besar ilmu pengetahuan yang utama dalam Qur'an. Seseorang berjalan hingga ia mencapai tempat bersinarnya matahari, dan menyaksikannya bersinar di sebuah mata air berlumpur. Ilmu pengetahuan moderen telah mengajarkan kita bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Ayat di atas yang dikutip dari Qur'an sepertinya menyatakan bahwa mataharilah yang bergerak, sekaligus terletak di bumi! Bila matahari menyentuh permukaan bumi, semua akan terbakar, dan semua kehidupan akan mati.
7 ] Jin Sebagai Pengantara Berita dari Syurga
Keanehan lainnya adalah mahluk khayalan yang dalam Islam disebut sebagai Jin. Ada orang-orang Muslim yang percaya bahwa Jin saling berdiri di atas bahu sesama mereka hingga menuju surga, dan menyimak apa yang sedang dipercakapkan. Ada Hadis yang dikisahkan oleh Aisha (Sahih Bukhari Jilid 9, Kitab 93, Nomor 650) yang mengatakan para tukang ramal dan cenayang menerima sebagian informasi mereka dari Jin yang secara sembunyi-sembunyi mendapatkan info ini dengan menyimak percakapan di surga. Qur'an mengatakan bahwa bintang-bintang diciptakan untuk membela surga dari para pencuri dengar (Qur'an 37:6-8), sekaligus juga mengatakan bahwa bintang-bintang tersebut dipergunakan sebagai senjata (proyektil) untuk mengusir mereka (Qur'an 67:5).
Pertama-tama, jika Jin dapat mencapai surga dengan saling berdiri di bahu sesama mereka, berarti surga ada dalam jarak tertentu dari bumi. Jika ini benar, maka pada akhirnya kita akan dapat terbang ke surga dengan pesawat angkasa, atau melihatnya dengan teleskop. Yang lebih buruk dalam teori ini adalah gagasan bahwa bintang-bintang digunakan untuk melempari Jin. Bintang-bintang pada dasarnya adalah benda yang tak bergerak, tapi orang dapat memaklumi bagaimana orang-orang Arab pada abad ke 7 mungkin terpesona oleh pemandangan langit. Kisah ini seakan menyalahartikan meteor (bintang jatuh) dengan bintang. Pengarang Qur'an dan Hadis mungkin mengira bintang dan "bintang jatuh" adalah sama, pada kenyataannya mereka berbeda.
8 ] Manusia Dapat Memahami Bahasa-bahasa Serangga dan Hewan
Menurut Qur'an ada manusia yang dapat memahami percakapan para binatang (Qur'an 27:18-19). Sementara para ahli ilmu hewan telah menyusun cara-cara berkomunikasi dengan monyet dan simpanse, belum ada manusia yang dapat memahami "bahasa" dari spesies yang berbeda dengan kita. Kemampuan untuk berbicara seperti manusia terbentuk oleh otak yang telah berkembang dengan pola-pola pikir yang kompleks, sesuatu yang tidak dimiliki oleh kebanyakan binatang. Sebab itu, menganggap bahwa manusia dapat memahami bahasa binatang adalah menggelikan.
Apa yang lebih buruk adalah ayat-ayat yang menyebutkan bahwa orang ini mendengar percakapan para semut! Adalah fakta ilmu pengetahuan bahwa semut tidak memiliki pola kemampuan berbicara. Mereka berkomunikasi lewat secara kimiawi, dan semacam aroma. Dengan kata lain mereka berkomunikasi lewat penciuman, bukan suara! Kesalahan besar ini dapat dipahami, karena orang awam Arab dalam abad ke tujuh tidak akan mengetahui ini. Bagaimanapun kurangnya pengetahuan tentang dunia hewan membuktikan kemanusiaan sebagai sumber teks Kitab itu, dan memustahilkan teori-teori tentang Quran yang berasal dari Tuhan.
9 ] Bulan dan Bintang - Lampu-lampu ?
Qur'an menyebutkan bahwa Allah menciptakan langit berlapis-lapis. Dia menciptakan tujuh langit, dan menghiasi langit yang terendah dengan lampu-lampu (Surah 67:3-5) dan memperindahnya dengan kecantikan bintang-bintang (Surah 37:6). Qur'an juga mengatakan bahwa bulan ada di dalam ketujuh langit ini (Surah 71:15-16). Jika bintang-bintang (lampu-lampu) berada di langit yang terendah, mereka dapat lebih dekat ke bumi dari pada bulan, atau sekurang-kurangnya memiliki jarak yang sama terhadap bumi sebagaimana bulan. Kedua-duanya secara ilmiah tidak benar. Adalah suatu kenyataan yang sudah diketahui bahwa bintang-bintang berada lebih jauh lagi daripada bulan.
10 ] Hewan Seperti Monyet  Harus direjam Seperti Manusia
Hadis berikut ini berbicara tentang para monyet yang dihukum seperti Muslim:
Sahih Bukhari Jilid 5, Kitab 58, Nomor 188:
Disampaikan oleh 'Amr bin Maimun:
"Saat jaman jahiliyah sebelum Islam saya menyaksikan seekor monyet betina dikelilingi oleh sejumlah monyet. Mereka semua melemparinya dengan batu, karena monyet betina itu telah melakukan perzinahan. Saya pun, ikut melempari batu bersama mereka."
Ini adalah peraturan dalam Islam bahwa wanita yang melakukan perzinahan akan dilempari batu. Menurut Hadis Sahih Bukhari di atas para monyet juga dikenai hukum ini. Hukum-hukum syariah apa lagi yang diikuti oleh para monyet? Apakah mereka juga diwajibkan untuk melakukan ziarah ke Mekah? Apakah mereka diwajibkan membaca Qur'an? Apa yang merupakan perzinahan dalam dunia monyet? Ini hanyalah dongeng semata. Mirip dengan cerita yang terdapat dalam Ramayana, suatu syair kepahlawanan Hindu kuno, yang berkisah tentang monyet Hanuman, dan bangsanya, bertarung untuk menguasai kerajaan monyet.
11 ] Kuasa Kaum Wanita dan Anjing Untuk Membatalkan Solat
Ada suatu Hadis (Sahih Bukhari Jilid 1, Kitab 9, Nomor 490) yang mengatakan bahwa jika seorang wanita dan seekor anjing lewat di depanmu saat engkau sembahyang, doa itu tak akan sampai ke surga. Sementara terdapat pengertian yang tidak sehat, sempit dan chauvinis disini, saya tertarik untuk perhatikan pada aspek ilmiahnya, yang cukup lucu.

Ada apa dengan wanita dan anjing yang membatalkan doa? Adakah orang yang bersholat terpengaruh oleh sejenis gelombang sonik yang dihasilkan oleh wanita dan anjing? Jelas tidak ada penjelasan ilmiah terhadap hadis yang tak masuk akal lagi karut ini. Tak seorangpun perlu terkejut akan hal ini, sebagaimana banyak Hadis yang mengatakan bahwa para anjing adalah jahat, dan harus dibunuh. Sahih
Bukhari Jilid 4, Kitab 54, Nomor 540 menyebutkan secara jelas: "Nabi Allah memerintahkan bahwa anjing-anjing harus dibunuh." (Anjing yang bagaimana Lis Orientalis?)
12 ] Perintah-perintah yang Tidak Seimbang Bagi Hewan-hewan
Tentu saja ketika sampai kepada pembunuhan binatang, berlaku hukum-hukum berbeda bagi jenis-jenis yang berbeda. Anjing dibunuh seketika, tetapi ular mendapatkan pertama kali peringatan secara lisan jika datang ke rumahmu. Jika ular datang untuk kedua kalinya, bunuh ia (Sunan Abu Dawud Kitab 41, Nomor 5240). Hal yang menarik berkenaan dengan Hadis itu adalah kenyataan bahwa ular tidak dapat mendengar. Adalah cukup buruk menganggap bahwa binatang apapun akan memahami peringatan lisan kamu, tetapi menganggap dan mengajar bahwa seekor binatang yang tuli akan mengerti kamu adalah sangat menggelikan. Sama saja dengan menulis pesan kepada seekor kelelawar, dan meninggalkannya di pintumu sehingga si kelelawar mungkin membacanya kemudian!
13 ] Air adalah Murni dan Tidak Dapat Dicemari
Hadis berikut ini menunjukkan amalan-amalan kebersihan dan kesehatan yang buruk dari Muhammad dan para pengikutnya:
Sunan Abu Dawud Kitab 1, Nomor 0067:
Dikisahkan Abu Sa'id al-Khudri:
Kata orientalis "Saya mendengar bahwa orang menanyai Nabi Allah (saw): Air diambilkan untukmu dari sumur Buda'ah. Itu adalah suatu sumur di mana mayat anjing, pembalut wanita dan kotoran manusia dibuang. Nabi Allah (saw) menjawab: Sesungguhnya air adalah murni dan tidak tercemar oleh apapun."
Persoalan di sini bukan kesehatan, namun lebih kepada kurangnya pemahaman ilmiah tentang bakteri, virus, dan kuman yang dapat hidup dalam air. Kotoran tubuh adalah penyebab umum air menjadi tercemar Escherichia coli (E. coli), bakteri yang biasanya terdapat dalam usus besar yang mematikan bagi manusia bila termakan. Air yang tercemar mayat anjing ataupun cairan haid dapat menjadi sama bahayanya.
Kesimpulan
Kritik orientalist, bahwa kaum Muslim menyebutkan mujizat-mujizat ilmiah yang dinyatakan tanpa bukti di dalam Qur'an dan Hadis untuk mencoba dan membuktikan dasar keilahian keyakinan mereka. Dalam kajian singkat mengenai ilmu pengetahuan Islam ini, pernyataan-pernyataan ini telah ditolak. Jelas tak ada kekuatan gaib yang memberikan Muhammad 'informasi ilmiah sains' ini. Sebanyak tigabelas kekeliruan dan kesilapan-kesilapan serta perselisihan sudah terurai di atas. Sementara kaum Muslim mendebat bahwa pengetahuan ilmiah yang sudah maju dalam Qur'an itu adalah merupakan tanda dari keilahian asal mereka, tokoh-tokoh dan pemikir yang rasional menunjukkan bahwa kekeliruan-kekeliruan ilmiah yang banyak dan nyata serta perselisihan dalam Qu'ran itu menunjukkan kepada asalnya yang sesungguhnya dari tangan dan kata-kata manusiawi.( Disarankan kepada orientalis yang picik ini membaca buku Bibel Qur’an Dan Sains Moderen, Karya Maurice Buchaile dan Buku Janji-janji Islam, karya Roger Graudi, Bulan Bintang Jakarta).


[Sebagian Rencana ini diterjemahkan dari karya seorang bekas Muslim, Denis Giron, dengan kebenarannya.]





a-antum takhluquunahu am nahnu lkhaaliquun
[56:59] Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?
[56:59] Is it you that create it or are We the creators?
nahnu qaddarnaa baynakumu lmawta wamaa nahnu bimasbuuqiin
[56:60] Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan,
[56:60] We have ordained death among you and We are not to be overcome,

‘alaa an nubaddila amtsaalakum wanunsyi-akum fii maa laa ta’lamuun
[56:61] untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (dalam dunia) dan menciptakan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui.
[56:61] In order that We may bring in your place the likes of you and make you grow into what you know not.
walaqad ‘alimtumu nnasy-ata l-uulaa falawlaa tadzakkaruun
[56:62] Dan Sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama, maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran (untuk penciptaan yang kedua)?
[56:62] And certainly you know the first growth, why do you not then mind?
afara-aytum maa tahrutsuun
[56:63] Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam.
[56:63] Have you considered what you sow?
a-antum tazra’uunahu am nahnu zzaari’uun
[56:64] Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya?
[56:64] Is it you that cause it to grow, or are We the causers of growth?
law nasyaau laja’alnaahu huthaaman fazhaltum tafakkahuun
[56:65] Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia hancur dan kering, maka jadilah kamu heran dan tercengang.
[56:65] If We pleased, We should have certainly made it broken down into pieces, then would you begin to lament:
innaa lamughramuun
[56:66] (Sambil berkata): “Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian”,
[56:66] Surely we are burdened with debt:
bal nahnu mahruumuun
[56:67] bahkan kami menjadi orang-orang yang tidak mendapat hasil apa-apa.
[56:67] Nay! we are deprived.
afara-aytumu lmaa-alladzii tasyrabuun
[56:68] Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum.
[56:68] Have you considered the water which you drink?
a-antum anzaltumuuhu mina lmuzni am nahnu lmunziluun
[56:69] Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?
[56:69] Is it you that send it down from the clouds, or are We the senders?
law nasyaau ja’alnaahu ujaajan falawlaa tasykuruun
[56:70] Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?
[56:70] If We pleased, We would have made it salty; why do you not then give thanks?
afara-aytumu nnaarallatii tuuruun


[56:71] Maka terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dengan menggosok-gosokkan kayu).
[56:71] Have you considered the fire which you strike?
a-antum ansya/tum syajaratahaa am nahnu lmunsyi-uun
[56:72] Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kamikah yang menjadikannya?
[56:72] Is it you that produce the trees for it, or are We the producers?
nahnu ja’alnaahaa tadzkiratan wamataa’an lilmuqwiin
[56:73] Kami jadikan api itu untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir.
[56:73] We have made it a reminder and an advantage for the wayfarers of the desert.
fasabbih bismi rabbika l’azhiim
[56:74] Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang Maha Besar.
[56:74] Therefore glorify the name of your Lord, the Great.
falaa uqsimu bimawaaqi’i nnujuum
[56:75] Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran.
[56:75] But nay! I swear by the falling of stars;
wa-innahu laqasamun law ta’lamuuna ‘azhiim
[56:76] Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui.
[56:76] And most surely it is a very great oath if you only knew;
innahu laqur-aanun kariim
[56:77] Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia,
[56:77] Most surely it is an honored Quran,
fii kitaabin maknuun
[56:78] pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh),
[56:78] In a book that is protected
laa yamassuhu illaa lmuthahharuun
[56:79] tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.
[56:79] None shall touch it save the purified ones.
tanziilun min rabbi l’aalamiin
[56:80] Diturunkan dari Rabbil ‘alamiin.
[56:80] A revelation by the Lord of the worlds.

afabihaadzaa lhadiitsi antum mudhinuun
[56:81] Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al-Quran ini?
[56:81] Do you then hold this announcement in contempt?
wataj’aluuna rizqakum annakum tukadzdzibuun
[56:82] kamu mengganti rezeki (yang Allah berikan) dengan mendustakan Allah.
[56:82] And to give (it) the lie you make your means of subsistence.
falawlaa idzaa balaghati lhulquum
[56:83] Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan,
[56:83] Why is it not then that when it (soul) comes up to the throat,
wa-antum hiina-idzin tanzhuruunaa
[56:84] padahal kamu ketika itu melihat,
[56:84] And you at that time look on –
wanahnu aqrabu ilayhi minkum walaakin laa tubshiruun
[56:85] dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat,
[56:85] And We are nearer to it than you, but you do not see –
falawlaa in kuntum ghayra madiiniin
[56:86] maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah) ?
[56:86] Then why is it not — if you are not held under authority –
tarji’uunahaa in kuntum shaadiqiin
[56:87] Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?
[56:87] That you send it (not) back — if you are truthful?
fa-ammaa in kaana mina lmuqarrabiin
[56:88] adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),
[56:88] Then if he is one of those drawn nigh (to Allah),
farawhun warayhaanun wajannatu na’iim
[56:89] maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta jannah kenikmatan.
[56:89] Then happiness and bounty and a garden of bliss.
wa-ammaa in kaana min ash-haabi lyamiin
[56:90] Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan,
[56:90] And if he is one of those on the right hand,

fasalaamun laka min ash-haabi lyamiin
[56:91] maka keselamatanlah bagimu karena kamu dari golongan kanan.
[56:91] Then peace to you from those on the right hand.
wa-ammaa in kaana mina lmukadzdzibiina dhdhaalliin
[56:92] Dan adapun jika dia termasuk golongan yang mendustakan lagi sesat,
[56:92] And if he is one of the rejecters, the erring ones,
fanuzulun min hamiim
[56:93] maka dia mendapat hidangan air yang mendidih,
[56:93] He shall have an entertainment of boiling water,
watashliyatu jahiim
[56:94] dan dibakar di dalam jahanam.
[56:94] And burning in hell.
inna haadzaa lahuwa haqqu lyaqiin
[56:95] Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar.
[56:95] Most surely this is a certain truth.
fasabbih bismi rabbika l’azhiim
[56:96] Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha Besar.
[56:96] Therefore glorify the name of your Lord, the Great.


 
Keutamaan surat Al Waqi’ah memang disebutkan di dalam banyak hadis, akan tetapi semua hadis tersebut tidak dapat dijadikan hujjah karena sebagiannya lemah, bahkan ada yang palsu. Berikut ini di antara contoh hadis tersebut:
من قرأ سورة الواقعة في كل ليلة لم تصبه
فاقة أبدا
“Barangsiapa membaca surat Al Waqi’ah setiap malam, maka dia tidak akan jatuh miskin selamanya.”
Hadis di atas dikeluarkan oleh al Harits bin Abu Usamah dalam kitab Musnad-nya, no. 178, dikeluarkan pula oleh Ibnu Sunniy dalam kitab Amalul Yaum wal Lailah, no. 674, dikeluarkan pula oleh Ibnu Bisyron dalam Al ‘Amali, I:38:20, dikeluarkan juga oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan selainnya. Semuanya berasal dari jalan Abu Syuja’ dari Abu Thoyyibah dari Abdullah bin Mas’ud radliallahu’anhu
Keterangan
Hadis ini lemah karena dalam silsilah perawinya ada seorang yang lemah.
Al Imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata,” Abu Syuja’ adalah seorang yang tidak jelas, tidak dikenal. Demikian juga ia meriwayatkan dari Abu Thayyibah, siapa Abu Thayyibah itu?” (maksudnya dia adalah perawi yang tidak dikenal juga)
Al Munawi rahimahullah dalam Fathul Qadir berkata,” Imam Az Zaila’i mengatakan bahwa ada perawi yang riwayatnya banyak cacat dari berbagai sisi. Pertama, riwayatnya terputus sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ad Daruquthni dan lainnya. Kedua, isi hadisnya munkar sebagaimana dijelaskan Imam Ahmad. Ketiga, perawi adalah orang-orang yang lemah sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Jazari. Keempat, sungguh hadis ini berguncang dan telah sepakat atas kelemahan hadis ini di antaranya adalah Imam Ahmad, Imam Abu Hatim Ar Razi, putranya, Imam Ad Daruquthni, Al Baihaqi dan selainnya…”(diringkas dari buku Silsilah Adh Dha’ifah, no. 289)
Kemudian hadis lainnya adalah
من قرأ سورة الواقعة كل ليلة لم تصبه فاقة أبدا، ومن قرأ كل ليلة {لا أقسم بيوم القيامة} لقي الله يوم القيامة ووجهه في صورة القمر ليلة البدر
“Barangsiapa yang membaca surat Al Waqi’ah setiap malam maka dia tidak akan jatuh miskin selamanya. Dan barangsiapa setiap malam membaca Surat Al Qiyamah maka dia akan berjumpa dengan Allah di hari kiamat sedangkan wajahnya bersinar layaknya rembulan di malam purnama.”
Keterangan
Hadis di atas adalah PALSU / MAUDHU’ yang dikeluarkan oleh Ad Dailami dari jalan Ahmad bin Umar Al Yamami dengan sanadnya sampai Ibnu ‘Abbas radliallahu ’anhuma dan disebutkan oleh Al Imam As Suyuthi dalam Dzailul Ahadis al Maudhu’ah no. 177. Imam Ahmad berkata,” Ahmad al Yamami adalah rawi yang kadzdzab (yang suka berdusta).”
(dikutip dari buku Silsilah Adh Dha’ifah, no. 290)


Pendayagunaan Ilmu Pengetahuan Modern Dalam Tafsir Al-Qur'an
a. Memanfaatkan ilmu pengetahuan manusia dengan tujuan untuk menguatkan kandungan ayat-ayat Al-Qur'an adalah salah satu contoh dari usaha pengejawantahan metode tafsir saintis[1]
Dalam beberapa contoh yang tidak sedikit dapat kita jumpai seorang mufassir atau penulis memanfaatkan penemuan-penemuan ilmiah baru untuk memperkuat ayat-ayat Al-Qur'an yang membahas masalah tersebut tanpa ia ingin menuntaskan sebuah permasalahan dengan menyebutkan penemuan-penemuan ilmiah itu.
Kita dapat menemukan contoh-contoh untuk hal ini dalam beberapa permasalahan berikut ini:
• Peranan air dalam kehidupan; "Dan Kami menjadikan dari air segala sesuatu yang hidup." (QS. al-Anbiya' [21]:30)
• Realita berpasangan-pasangan di alam makhluk hidup; "Dan dari setiap sesuatu Kami jadikan berpasangan supaya kamu ingat." (QS. adz-Dzariyat [51]:49)
• Tahapan perkembangan janin manusia; "Dan Kami telah menciptakan manusia dari tanah liat. Kemudian Kami menjadikannya sebagai air sperma di dalam tempat perlindungan yang kokoh [rahim]. Lalu Kami menjadikan air sperma itu sebagai gumpalan darah, kemudian Kami jadikan gumpalan darah itu sebagai sepotong daging, lalu Kami jadikan sepotong daging itu berbentuk tulang-belulang, dan lalu Kami membungkus tulang-belulang itu dengan daging, serta setelah itu, Kami menciptakannya sebagai sebuah makhluk baru ...." (QS. al-Mukminun [23]:12-14)
• Peran angin dalam mewujudkan awan dan hujan; "Dan Allah adalah Dzat yang telah mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan, dan kemudian Kami menggiring awan tersebut ke arah negeri yang mati." (QS. Fathir [35]:9) Kita juga dapat melihat hal ini di dalam surah an-Nur, ayat 43, surah ar-Rum, ayat 48, dan surah al-A'raf, ayat 57.
• Hidayah intern setiak makhluk; "Ia berkata, 'Tuhan kami adalah Dzat yang telah menciptakan segala sesuatu yang sesuai dengan tuntutan ciptaannya, dan kemudian Dia memberinya petunjuk." (QS. Thaha [20]:50)
• Peran gunung dalam menjaga kestabilan bumi; "Dan Kami telah menciptakan di atas bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu tidak menggoncangkan mereka." (QS. al-Anbiya' [21]:31)
Dan okyak-obyek pembahasan lainnya yang pada masa kini banyak ditemukan lantaran penemuan-penemuan ilmiah tersebut.[2]
b. Menyingkap rahasia-rahasia pemaparan Al-Qur'an di dalam buku-buku tafsir masa lalu membuktikan bahwa para penulis tafsir itu hanya mencari kemukjizatan Al-Qur'an di dalam kefasihan kata ayat-ayat Al-Qur'an. Sementara itu, pada abad-abad terakhir ini, di bawah pengaruh penemuan-penemuan ilmiah telah terbuktikan bahwa penjelasan Al-Qur'an memiliki presisi, elegansi, dan poin-poin yang sangat jeli.
Sebagai contoh atas hal ini, kita dapat memperhatikan dan merenungkan realita-realita berikut ini:
• Dalam menyifati bulan, Al-Qur'an menggunakan kosa kata "nur" (cahaya) dan sementara itu, ketika menyifati matahari, ia menggunakan kosa kata "sirâj" (pelita). "Dan Dia telah menjadikan bulan di dalamnya sebagi cahaya dan matahari sebagai pelita." (QS. an-Nur [24]:16) Atau ia menegaskan bahwa menemukan arah di malam hari dapat dicapai dengan melihat cahaya bintang-gumintang. "Dan dengan bintang-gumintang mereka mendapatkan petunjuk." (QS. an-Nahl [16]:16) Padahal seluruh planet juga memiliki cahaya. Ungkapan-ungkapan yang berbeda ini lantaran Al-Qur'an ingin menunjukkan bahwa cahaya matahari dan bintang berbeda dengan cahaya bulan. Cahaya bintang—seperti yang telah dibuktikan oleh sains modern—memancar dari diri bintang itu sendiri. Sementara itu, cahaya bulan hanyalah pantulan dari cahaya matahari. Pengungkapan-pengungkapan yang berbeda tersebut timbul dari sebuah realita yang nyata.[3]
• Tentang gerakan angin, Al-Qur'an menggunakan ungkapan "tashrîf" yang berarti memutar dan membolak-balikkan. "... dan di dalam tiupan angin." (QS. al-Jatsiyah [45]:5) Ini adalah sebuah ungkapan yang sangat jeli tentang gerakan dan tiupan angin, sebagaimana hal itu telah dibuktikan oleh ilmu ramalan cuaca.[4]
• Menyamakan berimanannya orang-orang kafir dengan mendaki ke langit. Allah berfirman, "Dan barang siapa yang dikehendaki oleh Allah kesesatannya, niscaya Dia menjadikan dadanya sesak lagi sempit seolah-olah ia sedang mendaki ke langit." (QS. al-An'am [6]:125) Pada masa sebelumnya, ayat ini ditafsirkan berdasarkan satu perasaan psikologis dalam membayangkan bagaimana beratnya mendaki ke langit. Akan tetapi, pada masa kini, berdasarkan penemuan-penemuan ilmiah modern, terbukti bahwa karena cuaca di luar bumi sangat tipis dan berdiam diri di tempat tersebut akan membuat jalan pernapasan tersumbat, maka Al-Qur'an menggunakan persamaan demikian.[5]
• Pembaharuan kulit demi kebersinambungan siksa bagi orang-orang kafir. Allah berfirman, "Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain supaya mereka merasakan azab." (QS. an-Nisa' [4]:46) Realita ini dikarenakan saraf perasa rasa sakit terdapat di bagian kulit dan bagian-bagian di bawah otot memiliki saraf perasa sakit yang sangat lemah. Oleh karena itu, pergantian kulit baru dapat melanggengkan azab Ilahi.[6]
• Garis-garis tipis yang terdapat di ujung jari-jemari. Allah berfirman, "Bukan demikian, sebenarnya kami kuasa menyusun [kembali] jari-jemarinya dengan sempurna." (QS. al-Qiyamah [75]:4) Hal dimaksudkan untuk unjuk kekuataan dan kekuasaan yang filsafatnya—sebagamimana sudah terbuktikan di dalam dunia ilmu pengetahuan modern—adalah kejelian dan ketelitian yang tersembunyi di angota tubuh ini.[7] Penyebutan anggota tubuh pendengaran, penglihatan, dan kalbu secara berurutan juga untuk menunjukkan urgensi khusus masing-masing.[8]
• Bersumpah demi orbit-prbit bintang-gumintang juga demi menunjukkan urgensinya dalam menjaga kestabilan dunia. Allah berfirman, "Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang." (QS. al-Waqi'ah [56]:74)[9]
Dan masih banyak lagi contoh-contoh lain yang penjelasan Al-Qur'an menyingkap rahasia alam tabiat yang paling jeli.
c. Memanfaatkan penemuan-penemuan ilmiah baru untuk menafsirkan dan menjelaskan ayat-ayat Al-Qur'an
Untuk menjelaskan hal ini, kita dapat menengok contoh-contoh berikut ini. Kami akan menyebutkan contoh-contoh tersebut tanpa kami menganalisa kebenaran atau kesalahannya.
• Allah berfirman, "Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang yang dapat kamu lihat." (QS. ar-Ra'd [13]:2)
Menurut pendapat para mufassir kuno, langit berdiri tanpa penyangga. Kalaupun frase "yang dapat kamu lihat" dianggap sebagai sifat bagi "tiang", mereka berpendapat bahwa tiang-tiang yang tak terlihat itu adalah kekuatan Allah.[10]
Akan tetapi, setelah terungkapnya gravitasi bumi, sebagai mufassirin dan para penulis menafsiran frase "tanpa tiang yang dapat kamu lihat" dengan kekuatan gravitasi yang ada antara bumi dan matahari. Mereka meyakini bahwa maksud Allah dari frase tersebut adalah kekuatan gravitasi tidak terlihat yang terdapat di dunia ini.[11]
• Allah berfirman, "Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan [Kami] dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya." (QS. adz-Dzariyat [51]:47)
Pada masa lalu, kata mûsi'ûn (meluaskan) diartikan dengan keluasan rezeki atau kekuatan. Ath-Thabarsi menulis, "Yaitu, Kami mampu untuk menciptakan sesuatu yang lebih agung darinya. Tafsir ini dinukil dari Ibn Abbas. Dan juga ada pendapat yang mengatakan bahwa artinya adalah Kami meluaskan rezeki atas para makhluk dengan menurunkan hujan ...."[12]
Akan tetapi, setelah munculnya teori meluasnya ruang angkasa dan percobaan-percobaan yang membuktikan bahwa realita ini dapat terjadi dengan perubahan yang muncul di dalam spektrum cahaya, teori di atas dapat didukung. Pada masa kini, sebagian mufassirin, kata mûsi'ûn ditafsirkan dengan perluasan ruang angkasa.[13]
• Allah berfirman, "Maka apakah mereka tidak melihat bahwasanya Kami mendatangi negeri [orang kafir], lalu Kami kurangi luasnya dari segala penjurunya." (QS. al-Anbiya' [21]:44; ar-Ra'd [13]:41)
Penafsiran mayoritas para mufassir dari ayat ini selama ini adalah, bahwa maksud dari ayat tersebut adalah pembumihangusan negeri-nageri dan kemusnahan umat. Menurut sebagian penafsiran, ayat ini ditafsirkan dengan kematian para ulama dan ilmuwan.[14]
Akan tetapi, sebagian penulis menafsirkan ayat tersebut fenomena terpisahnya bulan dari bumi. Sepertinya, maksud dari kata 'athrâf' adalah bumi dan dari kata 'naqasha' adalah memisahkan.
Berkenaan dengan hal ini, al-Kawakibi menulis, "Para pemikir telah mengadakan penelitian bahwa bulan terpisah dari bumi, dan dalam hal ini, Al-Qur'an berfirman, 'Kami mendatangi negeri [orang kafir], lalu Kami kurangi luasnya dari segala penjurunya.'"[15]
Ayat-ayat yang telah ditafsirkan dan dijelaskan atas dasar penemuan-penemuan imiah baru seperti sangatlah banyak. Kami akan menyebutkan sebagiannya di bawah ini secara ringkas:
• Allah berfirman,"Kami mengirimkan angin-angin untuk pembuahan." (QS. al-Hijr [15]:22). Ayat ini ditafsirkan dengan pertemuan aliran listrik positif dan negatif di awan.[16]
• Allah berfirman, "Dan setelah itu, Ia memperluas bumi." (QS. an-Niazi'at [79]:30) Ayat ini ditafsirkan dengan kebermunculan benua-benua di dunia ini.[17]
• Allah berfirman, "Kamu tidak akan dapat menyusup [ke batas-batas langit] kecuali dengan kekuatan [yang luar biasa]." (QS. ar-Rahman [55]:33) Ayat ini ditafsirkan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.[18]
• Allah berfirman, "Dan bumi mengeluarkan segala bebannya." (QS. az-Zilzal [99]:2) Ayat ditafsirkan dengan keluarnya gas dan bensin.[19]
Golongan Intemperatif (Mufrith) dan Golongan Moderatif (Mu'tadil)
Dalam tendensi penafsiran saintis, kita dapat membagi tendensi ini ke dalam dua kategori umum: (1) golongan intemperatif dan (2) golongan moderatif.
Golongan intemperatif—biasanya—memiliki dua kriteria umum:
a. Mengklaim seluruh penemuan dan teori saintis sebagai sebuah asumsi yang pasti dan menyakinkan.
b. Menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an berdasarkan penemuan-penemuan saintis tersebut secara pasti dan seratus persen.
Adapun dalam pandangan golongan moderatif:
a. Penemuan-penemuan ilmiah bukanlah sebuah fenomena yang pasti dan tidak dapat berubah. Dalam pandangan moderatif ini, diusahakan agar hakikat ilmiah dibedakan dari teori dan pandangan ilmiah.
b. Dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an secara ilmiah, golongan ini selalu mengikat dirinya dengan sebuah kemungkinan dan tindakan hati-hati.
Di antara contoh penafsiran ilmiah secara moderatif, kita dapat memperhatikan tafsir ayat Al-Qur'an yang berbunyi, "Sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya." (QS. adz-Dzariyat [51]:47)
Dalam rangka menafsirkan ayat tersebut, Allamah Thabathabai menulis, "Dan ada kemungkinan bahwa kata 'mûsi'ûn' diambil dari ungkapan 'awsa'a an-nafaqah', yaitu memperbanyak nafkah. Atas dasar ini, maksud dari ayat tersebut adalah perluasan dan penambahan ciptaan langit, sebagaimana hal itu dicenderungi oleh pembahasan-pembahasan saintis pada masa kini."[20] Penafsiran semacam ini juga diyakini oleh penulis Tafsir Nemûneh, seperti telah kami jelaskan di atas.
Contoh lain dapat kita lihat dalam penafsiran ayat, "Engkau melihat bahwa gunung-gunung itu diam [tak bergerak], sedangkan ia berjalan sebagaimana awan berjalan." (QS. an-Naml [27]:88)
Sebagian ahli tafsir menafsirkan ayat tersebut dengan bergeraknya gunung-gunung pada hari kiamat.[21] Akan tetapi, sebagian yang lain mengklaim bahwa ayat ini adalah salah satu mukjizat ilmiah Al-Qur'an. Mereka meyakini bahwa ayat ini membukikan bahwa bumi bergerak.[22]
Contoh lain, dapat dijumpai dalam ayat, "Dan matahari bergerak [menuju] ke tempat berdiamnya." (QS. Yasin [36]:38) Pada masa-masa sebelumnya, para mufassir menafsirkan ayat ini dengan gerakan lahiriah matahari yang berjalan sehari-hari atau per musim.[23] Akan tetapi, pada masa kini, berdasarkan penemuan-penemuan ilmiah dan sains baru, para ahli tafsir menafsirkan ayat tersebut dengan gerakan matahari menuju suatu titik tertentu yang di situ terdapat planet Vega.[24]
Semua penafsiran itu masih disertai dengan kehati-hatian dan bersifat moderatif. Akan tetapi, di beberapa kalangan mufassirin kita melihat keteledoran dan keberlebihan dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan rangka mendukung metode panafsiran ilmiah.
Beberapa contoh berikut ini adalah bukti nyata atas hal ini.
a. Kata 'thair' dalam surah al-Fil ditafsirkan dengan nyamuk atau lalat yang membawa virus-virus penyakit.[25]
b. Kata 'dâbbah' dalam ayat, "Ketika perintah azab untuk mereka telah sampai, Kami mengeluarkan untuk mereka seekor binatang ternak dari bumi." (QS. an-Naml [27]:82) ditafsirkan dengan bulan-bulan buatan.[26]
c. Kata 'ghitsâ'an ahwâ' dalam surah al-A'la [87], ayat 5 ditafsirkan dengan arang batu.[27]
d. Kata 'rawâsî' dalam surah ar-Ra'd [13], ayat 3 ditafsirkan dengan bumi-bumi yang gersang.[28]
e. Kata 'nafs wâhidah' dalam surah al-A'raf [7], ayat 189 ditafsirkan dengan proton.[29]
Contoh yang sangat jelas untuk penfasiran saintis intemperatif ini dapat kita temukan di dalam buku tafsir Ahmad Khan yang berjudul Tafsir Al-Qur'an wa al-Hudâ wa al-Furqân. Segala usaha yang telah dilakukannya untuk menjustifikasi mukjizat para nabi atau eksistensi in-material lainnya, seperti malakiat dan jin, secara material tidak lain adalah sebuah kekalahan yang telah dialaminya dalam menghadapi teori-teori saintis.[30]
Meluasnya Tendensi Tafsir Saintis pada Abad Keempat Belas
Kebersamaan penulisan tafsir pada abad keempat belas dengan kemajuan-kemajuan ilmiah umat manusia dalam bidang ilmu alam dan humanistik menyebabkan—secara alamiah—jejak-jejak langkah ilmu-ilmu pengetahuan tersebut berpengaruh dalam buku-buku tafsir tersebut.
Di antara ilmu-ilmu pengetahuan tersebut, ilmu astronomi, fisika, kimia, medis, giologi, tumbuh-tumbuhan, dan lain sebagainya lebih mendapatkan perhatian dan sering digunakan dijadikan bukti. Setelah itu, ilmu-ilmu humaniora, seperti sosiologi, psikologi, dan lain sebagainya menyusup ke dalam buku-buku tafsir tersebut.


[1]Yusuf Marwah, al-'Ulûm ath-Thabî'yah fî Al-Qur'an, hal. 76.
[2]Abdullah Syahhatah, Tafsir al-Ayat al-Kawniyah, hal. 16; Karim, Sayid Ghunaim, al-Isyârât al-'Ilmiyah fî Al-Qur'am al-Karîm baina ad-Dirâsah wa at-Tathbîq, hal. 14; Hakimi, Syaikh Muhammad Ridha, AL-Qur'an wa al-'Ulûm al-Kawniyah, hal. 10; Muhammad Mahmud Ismail, al-Isyârât fî al-Ayat al-Kawniyah fî Al-Qur'an al-Karîm, hal. 7.
[3]Al-Hanafi, Ahmad, at-Tafsîr al-'Ilmî li al-Ayat al-Kawniyah fî Al-Qur'an, 38-41; Tafsir Nemûneh, jilid 2, hal. 226.
[4]Bazargan, Mahdi, Bâd va Bârân dar Quran.
[5]Ahmad Umar Abu Hajar, at-Tafsîr al-'Ilmî li li Al-Qur'an fî al-Mîzân, hal. 468; Tafsir Nemûneh, jilid 55, hal. 435.
[6]Abdul Aziz Ismail, al-Islam wa ath-Thibb al-Hadîts, hal. 66.
[7]Ahmad Umar Abu Hajar, at-Tafsîr al-'Ilmî li li Al-Qur'an fî al-Mîzân, hal. 470.
[8]Ibid. hal. 472.
[9]Al-Hakimi, Syaikh Ridha, Al-Qur'an wa al-'Ulûn al-Kawniyah, hal. 71.
[10]Ath-Thabarsi, Majma' al-Bayân, jilid 5 dan 6, hal. 421; az-Zamakhsyari, al-Kasysyâf, jilid 2, hal. 512; Abul Futuh ar-Razi, Tafsir Abul Futuh, jilid 3, hal. 172.
[11]Tafsir Nemûneh, jilid 10, hal. 111; al-Maraghi, ad-Durûs ad-Dîniyah, hal. 61-62; Wahiduddin Khan, al-Islam Yatahaddâ, hal. 212.
[12]Majma' al-Bayân, jilid 9, hal. 242; al-Kasysyâf, jilid 4, hal. 404; Tafsir Abul Futuh, jilid 5, hal. 155.
[13]Tafsir Nemûneh, jilid 22, hal. 373; al-Mîzân, jilid 18, hal. 382; Rûh al-Ma'ânî, jilid 28, hal. 17-27.
[14]Majma' al-Bayân, jilid 7, hal. 79; al-Kasysyâf, jilid 3, hal. 119; Tafsir Abul Futûh, jilid 13, hal. 229; al-Mîzân, jilid 14, hal. 219; Tafsir Nemûneh, jilid 13, hal. 416.
[15]Al-Kawakibi, Thabâ'i' al-Istibdâd wa Mashâri' al-Istib'âd, hal. 43-46, menukil dari buku at-Tafsir al-'Ilmî li Al-Qur'an fî al-Mîzân, hal. 190.
[16]Al-Hakimi, Syaikh Muhammad Ridha, Al-Qur'an wa al-'Ulûn al-Kawniyah, hal. 31.
[17]Wahiduddin Khan, al-Islam Yatahaddâ, hal. 224-225.
[18]Khathib, Abdul Ghani, Adhwâ' min Al-Qur'an 'alâ al-Insân, hal. 250.
[19]Muthâbaqah al-Ikhtirâ'ât al-'Ashriyah, hal. 27, menukil dari at-Tafsir al-'Ilmî li Al-Qur'an fî al-Mîzân, hal. 446.
[20]Al-Mîzân, jilid 18, hal. 382.
[21]Ibid. jilid 15, hal. 401-403.
[22]Makarim Syirazi, Nashir, Tafsir Nemûneh, jilid 15, hal. 568.
[23]Al-Kasysyâf, jilid 4, hal. 16; Majma' al-Bayân, jilid 7, hal. 663.
[24]Al-Mîzân, jilid 17, hal. 89; Tafsir Nemûneh, 18, hal. 382.
[25]Muhammad Abduh, Tafsir Jua 'Amma, hal. 158.
[26]Abdurrazaq Naufal, Al-Qur'an wa al-'Ilm al-Hadîts, hal. 212.
[27]Oman, hal. 84-86.
[28]Ust. Hanafi Ahmad, at-Tafsir al-'Ilmî li al-Ayat al-Kawniyah fî Al-Qur'an, hal. 398.
[29]Abdurrazaq Naufal, Al-Qur'an wa al-'Ilm al-Hadîts, hal. 155.
[30]Sebagai contoh, Anda dapat merujuk tafsir surah al-Baqarah, ayat 51, 61, dan 74.


 

No comments:

Post a Comment

Komentar Facebook