Thursday, January 9, 2014

Siapa menyangka, tuah dirimu sbentar lagi kan menjelma.



 
 
SIAPA MENYANGKA

Jangan takut kepada siapapun,
Siapa menyangka, tuah dirimu sbentar lagi kan menjelma.
Jangan cepas menghadapi apaun masalah.
Siapa sangka, dirimu keluar jadi pemenang.
Tuah ayam, dapat dilihat.
Tuah mausia, tiada yang tahu.
Siapa sangka, kayu yang berdiri angkuh  itu,  kan terbelah
Ditetak kapak misteri,  berbilah-bilah
Tanpa kelihatan, siapa  memanggul kapak
Ayunkan  saja  tanganmu menyentak sentak
Hei...teman, lihat!
Kepala  raja,  yang  melentuk penat, kelelahan?

Berapakah banyak keringat, peluhnya tumpah
Harus tak lelah
Ini musim menutup celah
Di ujung usia nanti
Tak perlu lagi mengucah rezeki
Duduk segak di beranda waktu

Kini aku hanya si budak-budak
Gemar pula mengintai
Adakah hasrat kian menyidai
Di tiup angin serakah, pun mengelepai
Serupa pucuk-pucuk
Dihantam badai membantai
Tapi batang tubuhmu tidakkah lunglai
Suatu waktu nanti yakinlah kan usai

Kayu siapa kan terbelah
Ditetak berbilah-bilah
Kau jantan memanggul kapak
Ayunmu  menyentak sentak
Hei...jeling!
Doa siapa yang dah menggelinding?

Lalu parut di lengan
Tergores kisah berderai
Tentang dosa berkarat
Tentang khianat menumpat pepat
Dan tentang air mata sebak menyumpah laknat
Hati-hati kau kalau nak selamat
INGAT KETIKA BERKUASA

Ingat ketika, dirimu berkuasa’
Siapa  sangka esoknya engkau kan menjadi budak.
Ketika masuk penjara, terasalah negeri ini terlampau sunyi
Tangan-tangan kuasa tiada lagi berarti.
Enggan melambai pesan
Betapa banyak panggung tercacak menung
Laman tertimbun kenang menggunung
Dan wajah-wajah tercangkung menghitung
Memasang tampang terduduk murung

Pernahkah  berombongan kita
Merapah semak membuat tapak
Tidakkah patut menghitung jejak?
Hutan mana yang tak dirapah
Lalang mana yang tak ditebas
Lubuk mana yang tak dipancing
Lecah mana yang tak dipijak
Kayu mana yang tak ditebang
Sungai  mana yang tak direnang
Manakah tempat yang tak sama-sama bertandang

Seingat-ingat, adakah keluh kesah
Di bibir ini masih membasah
Tidak juga jikalau saling membagi kisah
Tidak membukitkan hasrat
Memarkir istana di setempat
Menunam ambisi sendiri
Diantara barisan tangis disini
Sungguh!
Ada yang kabur di benderang makna
Nafsu menyungkur di selaksa tanda
Mengemas adab terbungkus azab
Mengenal insan lupakan tuhan
Menetaskan kata-kata sekaligus menisbikannya

Kayu siapa kan terbelah
Ditetak berbilah-bilah
Kau jantan memanggul kapak
Ayunmu  menyentak sentak
Hei...pandang!
Langkah siapa yang dah lari hengkang?

Dikepala masih tersimpan cerita
Mengebat kayu di kolong rumah
Setelah penat mengapaknya
Pun membiarkan mengering
Melepakkan bilah-bilah di laman
Tak adakah yang kau jadikan pesan?

Setual dua tual ada juga yang liat
Berbuku-buku menyimpan umpat
Tapi di siang pepat
Tetak jua sebelum dikebat
Kokah dengan tenaga bertungkah
Kalau pun masih bergetah
Ayun kapak kan tetap melaju pangkah

Disini lukisan cinta bagai mengampung
Menggayutkan kenang di pelupuk waktu
Tapi aku yang sudah lama tak ke hutan
Menangkap bayangmu di pandangan
Kapak mencabut nyawa di bandar-bandar
Melecitkan iba di kampung-kampung
Bersimbah nestapa penuhi jagat
Apa ternampak semua disikat
Bagai mengaruk dunia akhirat
Lalu kau kah itu si jantan
Mengayun kapak melengak ke depan


TIADA MANUSIA TANPA TUAH

 Setiap mausia, ada tuahnya.
Ada kelebihan, ada potensi kekuatan.
Ada bakat yang terpendam.
Pemimpinlah yang mengolah bakat itu.
Sehingga yang terbuang menjadi berguna.
Ohoi...! siapa menyangka terulit sengketa kelak
Kalau tak pandai mengelak
Bercucur sesal tak lagi berdaya
Sebab khayalmu tamat riwayat
Di sini kan menampi sunyi...!

Perjamuan bukan tempat berhelah di sini, kau tahu!
Antara kata menyidai di ujung lidahmu itu
Kami menunam harap
Serupa recup anak ikan di parit rumahmu, kau tahu!
Jangan pula kau sauk
Belum waktunya buat lauk
Kami tau kau suka mengangguk-angguk...

Selebih baik memancing kau
Duduk memenung di tepian
Menyulam mimpi sambil mengungkai asa
Tak usah pula menumpah sumpah
Tak zaman lagi menyerapah
Lihat! Kail...kail...kailmu!
Adakah ikan melakat
Atau sampah dah berkarat!

Ohoi...!
Tersergam hikayat dalam untai kalimat
Kan jelma nyata di hadapan
Bila tak cepat kau pajangkan
Bumi ini bukanlah mimpi
Kita berpimpin menunggu mati
Tak kah kau ingat lagi
Atau sengaja mencuri takdir
Dan nasib siapa itu yang kau banting...!
Jangan coba menghunus
Kerismu itu tak berlekuk daulat
Di tapak kami letaknya kualat
Dulu memang pusaka bertahta di singgasana
Sampai saat ini, harus dipercaya
Tapi kalau menyengat kau
Kami datang serupa igau
Tak tidur lena
Sebab berjelaga tangis menghimpitmu, kau tahu!

TAK ELOK BERPUTUS ASA

Jangan sedih, tak elok berputus asa.
Ucapkan yang baik-baik, dan penuh harap.
Tuahan senang, kalau dirimu, pandai mengungkai ucap
Harap mencuat serupa api
Tak padam disimbah ludah
Kecuali hujan dari janji-janji
Membasahi tanah sebelum teruji

Kami menjunjung sepatah kata, kau tahu!
Jika terbelit sengketa di dalamnya
Usah harap nak pandang-pandangan
Tujah kami laksana petir
Sekali bunyi surut duduk sampai ke hilir
Hujam kami menohak langit
Sesentak saja terbujur meneran sakit.

Ohoi...!
Diantara kelam sekelam malam
Lebih kan mengakap hati kami
Membunuh harap dari bibirmu menyimpul kelu
Sekelu-kelunya waktu
Adalah kisah khianat
Kepada siapa hendak melaknat
Kalau dah mulutmu menyimpan kesumat.
Ini penggal, sepenggal ingat
Supaya laman tetap selamat
Jangan tadahkan bala semerata negeri
Sedulang janji tertumpah di muka sendiri...!

Kami tak lupa memanjat doa
Pada ketinggian kayu iba itulah ikhlas bersangga
Kau sudi tak sudi!
Siapa peduli!
Kami tetap melepas duli
Kau tahu!


No comments:

Post a Comment

Komentar Facebook