Karakter
bangsa, perlu perbaikan,
Sering
saja, salah penafsiran
Buruk sangka, selalu dikedepankan
Memutarbalikkan, keadaan.
Buruk sangka, selalu dikedepankan
Memutarbalikkan, keadaan.
Pertama,
miskin dan bodoh,
Bangunan yang dibuat, cepat roboh
Mengambil keputusan, sangat ceroboh,
Tersinggung sedikit, cepat heboh.
Bangunan yang dibuat, cepat roboh
Mengambil keputusan, sangat ceroboh,
Tersinggung sedikit, cepat heboh.
Kedua,
licik dan korup
Aib yang besar, paandai menutup
Milik rakyat, habis diraup
Bekerja keras, tidaklah sanggup.
Aib yang besar, paandai menutup
Milik rakyat, habis diraup
Bekerja keras, tidaklah sanggup.
SDM-nya,
terendah di Asean
Kurang gizi, rendah kesehatan
Nasi aking, selalu dimakan
Santapannya, sambel belacan.
Kurang gizi, rendah kesehatan
Nasi aking, selalu dimakan
Santapannya, sambel belacan.
1.Bangsa Indonesia Bangsa yang
Miskin dan Bodoh
Aida Ismeth, anggota DPD RI asal Provinsi Kepulauan Riau menyatakan, kekerasan yang mengancam keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indo nesia (NKRI) dipengaruhi faktor kemiskinan dan kebodohan.
2.Bangsa Indonesia Bangsa yang Bodoh
dan Korup
Rektor UNS Prof Dr Much Syamsulhadi SpKJ(K). Di depan sidang senat universitas, dia mengatakan bangsa Indonesia termasuk bangsa yang bodoh. Namun sekaligus korup. “Bayangkan, betapa ironisnya bangsa ini yang rakyatnya masuk kategori bodoh secara umum, namun untuk masalah korupsi, termasuk paling hebat di dunia,” kata dia.
Ukurannya, untuk angka human development index, dari 136 negara, Indonesia hanya nomor urut ke-111. Tetapi persepsi korupsi, ternyata Indonesia termasuk rangking ke-6 di dunia dari 117 negara.
3.Kualitas SDM Indonesia Terendah di ASEAN
Namun pada tingkat ASEAN, rangking SDM Indonesia berada di bawah Malaysia (61), Singapura (26) dan Brunei Darussalam (33
Rektor UNS Prof Dr Much Syamsulhadi SpKJ(K). Di depan sidang senat universitas, dia mengatakan bangsa Indonesia termasuk bangsa yang bodoh. Namun sekaligus korup. “Bayangkan, betapa ironisnya bangsa ini yang rakyatnya masuk kategori bodoh secara umum, namun untuk masalah korupsi, termasuk paling hebat di dunia,” kata dia.
Ukurannya, untuk angka human development index, dari 136 negara, Indonesia hanya nomor urut ke-111. Tetapi persepsi korupsi, ternyata Indonesia termasuk rangking ke-6 di dunia dari 117 negara.
3.Kualitas SDM Indonesia Terendah di ASEAN
Namun pada tingkat ASEAN, rangking SDM Indonesia berada di bawah Malaysia (61), Singapura (26) dan Brunei Darussalam (33
4.Rendahnya Kualitas Pendidikan
Indonesia
Berdasarkan survey Political and Economic Risk (PERC) kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Menyedihkan lagi ternyata posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Memprihatinkan lagi, hasil survey tahun 2007 World Competitiveness Year Book memaparkan daya saing pendidikan kita dari 55 negara yang disurvey Indonesia berada pada urutan 53.
Berdasarkan survey Political and Economic Risk (PERC) kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Menyedihkan lagi ternyata posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Memprihatinkan lagi, hasil survey tahun 2007 World Competitiveness Year Book memaparkan daya saing pendidikan kita dari 55 negara yang disurvey Indonesia berada pada urutan 53.
5.Kualitas DPR Indonesia Sekarang
Terendah Sepanjang Sejarah
“Ini memang memprihatinkan, kualitas DPR kita sangat jauh merosot pada titik terendah di sejarah Indonesia,” ujar pengamat politik Yudi Latief kepada detikcom.
“Ini memang memprihatinkan, kualitas DPR kita sangat jauh merosot pada titik terendah di sejarah Indonesia,” ujar pengamat politik Yudi Latief kepada detikcom.
6.Facebook & Twitter Bikin
Bangsa Indonesia Malas Berpikir’
7.Sekitar 77 Persen Bangsa Indonesia Malas Sikat Gigi
ya. Drg Zaura Rini Matram MDS praktisi kedokteran gigi dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI) menyebut 80 persen orang Indonesia mengidap penyakit gigi berlubang. Ini bukan sesuatu yang mengejutkan karena menurut Rini 77 persen orang Indonesia ternyata malas gosok gigi alias tak pernah gosok gigi.
7.Sekitar 77 Persen Bangsa Indonesia Malas Sikat Gigi
ya. Drg Zaura Rini Matram MDS praktisi kedokteran gigi dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI) menyebut 80 persen orang Indonesia mengidap penyakit gigi berlubang. Ini bukan sesuatu yang mengejutkan karena menurut Rini 77 persen orang Indonesia ternyata malas gosok gigi alias tak pernah gosok gigi.
8. Bangsa Indonesia Jalan Pintas,
Tidak Disiplin Dan Kurang Asertif
Stereotype orang Indonesia diantaranya jam karet, jalan pintas, tidak disiplin, tidak mengindahkan mutu, dan kurang asertif. Sifat tersebut harus di tinggalkan terutama oleh para tenaga akademik di lingkungan FISE untuk mewujudkan FISE yang lebih baik kedepannya. Demikian disampaikan oleh Dr.Tulus Winarsunu, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada peserta Lokakarya Peningkatan Kinerja Tenaga Akademik FISE UNY , Jumat-Minggu (21-29/5).
10.Perilaku Psikopat Bangsa Indonesia
Praktik korupsi dan kejahatan yang kerap terjadi di negeri ini merupakan tindakan para pengidap psikopat. Seharusnya mereka di penjara atau rumah sakit jiwa, tidak bebas berkeliaran.Pengidapnya juga disebut sebagai sosiopat karena perilakunya yang antisosial serta merugikan orang banyak dan orang-orang terdekatnya.
Stereotype orang Indonesia diantaranya jam karet, jalan pintas, tidak disiplin, tidak mengindahkan mutu, dan kurang asertif. Sifat tersebut harus di tinggalkan terutama oleh para tenaga akademik di lingkungan FISE untuk mewujudkan FISE yang lebih baik kedepannya. Demikian disampaikan oleh Dr.Tulus Winarsunu, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada peserta Lokakarya Peningkatan Kinerja Tenaga Akademik FISE UNY , Jumat-Minggu (21-29/5).
10.Perilaku Psikopat Bangsa Indonesia
Praktik korupsi dan kejahatan yang kerap terjadi di negeri ini merupakan tindakan para pengidap psikopat. Seharusnya mereka di penjara atau rumah sakit jiwa, tidak bebas berkeliaran.Pengidapnya juga disebut sebagai sosiopat karena perilakunya yang antisosial serta merugikan orang banyak dan orang-orang terdekatnya.
11.IQ Bangsa Indonesia lebih rendah
dari orang Amerika
Harus diakui sebaran rata-rata IQ orang Indonesia memang lebih rendah dari IQ orang Amerika.Data pada tahun 2002 menunjukkan bahwa IQ rata2 orang Indonesia hanya 89, dan IQ rata2 orang Amerika 98.(saat itu IQ rata2 orang Hongkong paling tinggi, yakni 107).Kemudian pada tahun 2006 IQ rata-rata orang Indonesia turun menjadi 87, dan IQ rata2 orang Hongkong naik menjadi 108 (Amerika tetap 98).
Harus diakui sebaran rata-rata IQ orang Indonesia memang lebih rendah dari IQ orang Amerika.Data pada tahun 2002 menunjukkan bahwa IQ rata2 orang Indonesia hanya 89, dan IQ rata2 orang Amerika 98.(saat itu IQ rata2 orang Hongkong paling tinggi, yakni 107).Kemudian pada tahun 2006 IQ rata-rata orang Indonesia turun menjadi 87, dan IQ rata2 orang Hongkong naik menjadi 108 (Amerika tetap 98).
12.Bangsa Indonesia Bangsa Munafik
Kemunafikan orang Indonesia pernah dikemukakan oleh wartawan senior, Mochtar Lubis dalam pidatonya pada 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kala itu, Lubis mengemukakan tujuh ciri sifat buruk manusia Indonesia, yakni munafik, tidak mau bertanggung jawab, berperilaku feodal, percaya pada takhyul, bersifat artistik, dan ciri lainnya yang bersifat hedon dan instan..
Dan masih banyak fakta negatif lainnya.
Kesimpulan
Perilaku buruk tersebut memang masih merupakan fakta hingga hari ini dan fakta itu harus kita akui secara jujur.
Saran
Perbaikan perilaku buruk hanya bisa dilakukan dan dimulai dari diri sendiri
Dikutip dari Hariyanto Imadha
Peengamat Perilaku
Sejak 1973..
Kemunafikan orang Indonesia pernah dikemukakan oleh wartawan senior, Mochtar Lubis dalam pidatonya pada 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kala itu, Lubis mengemukakan tujuh ciri sifat buruk manusia Indonesia, yakni munafik, tidak mau bertanggung jawab, berperilaku feodal, percaya pada takhyul, bersifat artistik, dan ciri lainnya yang bersifat hedon dan instan..
Dan masih banyak fakta negatif lainnya.
Kesimpulan
Perilaku buruk tersebut memang masih merupakan fakta hingga hari ini dan fakta itu harus kita akui secara jujur.
Saran
Perbaikan perilaku buruk hanya bisa dilakukan dan dimulai dari diri sendiri
Dikutip dari Hariyanto Imadha
Peengamat Perilaku
Sejak 1973..
Posted in Uncategorized
Posted on February 22, 2014 | Leave a comment
BANGSA PALING MALAS DI DUNIA
By M.Rakib Ciptakarya Pekanabaru Riau Indonesia.2014
Akui secara jujur tanpa harus membela diri dan sibuk mencari kambing hitam.
Pertama, miskin dan bodoh,
Bangunan yang dibuat, cepat roboh
Mengambil keputusan, sangat ceroboh,
Tersinggung sedikit, cepat heboh.
By M.Rakib Ciptakarya Pekanabaru Riau Indonesia.2014
Akui secara jujur tanpa harus membela diri dan sibuk mencari kambing hitam.
Pertama, miskin dan bodoh,
Bangunan yang dibuat, cepat roboh
Mengambil keputusan, sangat ceroboh,
Tersinggung sedikit, cepat heboh.
Kedua, licik dan korup
Aib yang besar, paandai menutup
Milik rakyat, habis diraup
Bekerja keras, tidaklah sanggup.
Aib yang besar, paandai menutup
Milik rakyat, habis diraup
Bekerja keras, tidaklah sanggup.
SDM-nya, terendah di Asean
Kurang gizi, rendah kesehatan
Nasi aking, selalu dimakan
Santapannya, sambel belacan.
1.Bangsa Indonesia Bangsa yang Miskin dan Bodoh
Aida Ismeth, anggota DPD RI asal Provinsi Kepulauan Riau menyatakan, kekerasan yang mengancam keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indo nesia (NKRI) dipengaruhi faktor kemiskinan dan kebodohan.
Kurang gizi, rendah kesehatan
Nasi aking, selalu dimakan
Santapannya, sambel belacan.
1.Bangsa Indonesia Bangsa yang Miskin dan Bodoh
Aida Ismeth, anggota DPD RI asal Provinsi Kepulauan Riau menyatakan, kekerasan yang mengancam keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indo nesia (NKRI) dipengaruhi faktor kemiskinan dan kebodohan.
2.Bangsa Indonesia Bangsa yang Bodoh
dan Korup
Rektor UNS Prof Dr Much Syamsulhadi SpKJ(K). Di depan sidang senat universitas, dia mengatakan bangsa Indonesia termasuk bangsa yang bodoh. Namun sekaligus korup. “Bayangkan, betapa ironisnya bangsa ini yang rakyatnya masuk kategori bodoh secara umum, namun untuk masalah korupsi, termasuk paling hebat di dunia,” kata dia.
Ukurannya, untuk angka human development index, dari 136 negara, Indonesia hanya nomor urut ke-111. Tetapi persepsi korupsi, ternyata Indonesia termasuk rangking ke-6 di dunia dari 117 negara.
3.Kualitas SDM Indonesia Terendah di ASEAN
Namun pada tingkat ASEAN, rangking SDM Indonesia berada di bawah Malaysia (61), Singapura (26) dan Brunei Darussalam (33
Rektor UNS Prof Dr Much Syamsulhadi SpKJ(K). Di depan sidang senat universitas, dia mengatakan bangsa Indonesia termasuk bangsa yang bodoh. Namun sekaligus korup. “Bayangkan, betapa ironisnya bangsa ini yang rakyatnya masuk kategori bodoh secara umum, namun untuk masalah korupsi, termasuk paling hebat di dunia,” kata dia.
Ukurannya, untuk angka human development index, dari 136 negara, Indonesia hanya nomor urut ke-111. Tetapi persepsi korupsi, ternyata Indonesia termasuk rangking ke-6 di dunia dari 117 negara.
3.Kualitas SDM Indonesia Terendah di ASEAN
Namun pada tingkat ASEAN, rangking SDM Indonesia berada di bawah Malaysia (61), Singapura (26) dan Brunei Darussalam (33
4.Rendahnya Kualitas Pendidikan
Indonesia
Berdasarkan survey Political and Economic Risk (PERC) kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Menyedihkan lagi ternyata posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Memprihatinkan lagi, hasil survey tahun 2007 World Competitiveness Year Book memaparkan daya saing pendidikan kita dari 55 negara yang disurvey Indonesia berada pada urutan 53.
Berdasarkan survey Political and Economic Risk (PERC) kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Menyedihkan lagi ternyata posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Memprihatinkan lagi, hasil survey tahun 2007 World Competitiveness Year Book memaparkan daya saing pendidikan kita dari 55 negara yang disurvey Indonesia berada pada urutan 53.
5.Kualitas DPR Indonesia Sekarang
Terendah Sepanjang Sejarah
“Ini memang memprihatinkan, kualitas DPR kita sangat jauh merosot pada titik terendah di sejarah Indonesia,” ujar pengamat politik Yudi Latief kepada detikcom.
“Ini memang memprihatinkan, kualitas DPR kita sangat jauh merosot pada titik terendah di sejarah Indonesia,” ujar pengamat politik Yudi Latief kepada detikcom.
6.Facebook & Twitter Bikin
Bangsa Indonesia Malas Berpikir’
7.Sekitar 77 Persen Bangsa Indonesia Malas Sikat Gigi
ya. Drg Zaura Rini Matram MDS praktisi kedokteran gigi dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI) menyebut 80 persen orang Indonesia mengidap penyakit gigi berlubang. Ini bukan sesuatu yang mengejutkan karena menurut Rini 77 persen orang Indonesia ternyata malas gosok gigi alias tak pernah gosok gigi.
7.Sekitar 77 Persen Bangsa Indonesia Malas Sikat Gigi
ya. Drg Zaura Rini Matram MDS praktisi kedokteran gigi dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI) menyebut 80 persen orang Indonesia mengidap penyakit gigi berlubang. Ini bukan sesuatu yang mengejutkan karena menurut Rini 77 persen orang Indonesia ternyata malas gosok gigi alias tak pernah gosok gigi.
8. Bangsa Indonesia Jalan Pintas,
Tidak Disiplin Dan Kurang Asertif
Stereotype orang Indonesia diantaranya jam karet, jalan pintas, tidak disiplin, tidak mengindahkan mutu, dan kurang asertif. Sifat tersebut harus di tinggalkan terutama oleh para tenaga akademik di lingkungan FISE untuk mewujudkan FISE yang lebih baik kedepannya. Demikian disampaikan oleh Dr.Tulus Winarsunu, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada peserta Lokakarya Peningkatan Kinerja Tenaga Akademik FISE UNY , Jumat-Minggu (21-29/5).
10.Perilaku Psikopat Bangsa Indonesia
Praktik korupsi dan kejahatan yang kerap terjadi di negeri ini merupakan tindakan para pengidap psikopat. Seharusnya mereka di penjara atau rumah sakit jiwa, tidak bebas berkeliaran.Pengidapnya juga disebut sebagai sosiopat karena perilakunya yang antisosial serta merugikan orang banyak dan orang-orang terdekatnya.
Stereotype orang Indonesia diantaranya jam karet, jalan pintas, tidak disiplin, tidak mengindahkan mutu, dan kurang asertif. Sifat tersebut harus di tinggalkan terutama oleh para tenaga akademik di lingkungan FISE untuk mewujudkan FISE yang lebih baik kedepannya. Demikian disampaikan oleh Dr.Tulus Winarsunu, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada peserta Lokakarya Peningkatan Kinerja Tenaga Akademik FISE UNY , Jumat-Minggu (21-29/5).
10.Perilaku Psikopat Bangsa Indonesia
Praktik korupsi dan kejahatan yang kerap terjadi di negeri ini merupakan tindakan para pengidap psikopat. Seharusnya mereka di penjara atau rumah sakit jiwa, tidak bebas berkeliaran.Pengidapnya juga disebut sebagai sosiopat karena perilakunya yang antisosial serta merugikan orang banyak dan orang-orang terdekatnya.
11.IQ Bangsa Indonesia lebih rendah
dari orang Amerika
Harus diakui sebaran rata-rata IQ orang Indonesia memang lebih rendah dari IQ orang Amerika.Data pada tahun 2002 menunjukkan bahwa IQ rata2 orang Indonesia hanya 89, dan IQ rata2 orang Amerika 98.(saat itu IQ rata2 orang Hongkong paling tinggi, yakni 107).Kemudian pada tahun 2006 IQ rata-rata orang Indonesia turun menjadi 87, dan IQ rata2 orang Hongkong naik menjadi 108 (Amerika tetap 98).
Harus diakui sebaran rata-rata IQ orang Indonesia memang lebih rendah dari IQ orang Amerika.Data pada tahun 2002 menunjukkan bahwa IQ rata2 orang Indonesia hanya 89, dan IQ rata2 orang Amerika 98.(saat itu IQ rata2 orang Hongkong paling tinggi, yakni 107).Kemudian pada tahun 2006 IQ rata-rata orang Indonesia turun menjadi 87, dan IQ rata2 orang Hongkong naik menjadi 108 (Amerika tetap 98).
12.Bangsa Indonesia Bangsa Munafik
Kemunafikan orang Indonesia pernah dikemukakan oleh wartawan senior, Mochtar Lubis dalam pidatonya pada 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kala itu, Lubis mengemukakan tujuh ciri sifat buruk manusia Indonesia, yakni munafik, tidak mau bertanggung jawab, berperilaku feodal, percaya pada takhyul, bersifat artistik, dan ciri lainnya yang bersifat hedon dan instan..
Dan masih banyak fakta negatif lainnya.
Kesimpulan
Perilaku buruk tersebut memang masih merupakan fakta hingga hari ini dan fakta itu harus kita akui secara jujur.
Saran
Perbaikan perilaku buruk hanya bisa dilakukan dan dimulai dari diri sendiri
Hariyanto Imadha
Peengamat Perilaku
Sejak 1973..
Kemunafikan orang Indonesia pernah dikemukakan oleh wartawan senior, Mochtar Lubis dalam pidatonya pada 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kala itu, Lubis mengemukakan tujuh ciri sifat buruk manusia Indonesia, yakni munafik, tidak mau bertanggung jawab, berperilaku feodal, percaya pada takhyul, bersifat artistik, dan ciri lainnya yang bersifat hedon dan instan..
Dan masih banyak fakta negatif lainnya.
Kesimpulan
Perilaku buruk tersebut memang masih merupakan fakta hingga hari ini dan fakta itu harus kita akui secara jujur.
Saran
Perbaikan perilaku buruk hanya bisa dilakukan dan dimulai dari diri sendiri
Hariyanto Imadha
Peengamat Perilaku
Sejak 1973..
Posted in Uncategorized
Posted on February 21, 2014 | Leave a comment
YANG IRI DENGKI YANG SUKSES
SIAPA SANGKA YANG IRI DENGKI YANG SUKSES
SIAPA SANGKA YANG IRI DENGKI YANG SUKSES
(Drs.M.Rakib Ciptaakarya Pekanbaru
Riau Indonesia. 2014)
BUAH NANGKA, BUAH KUINI,
DAPAT SEBIJI, DI ATAS PASIR.
SIAPA MENYANGKA, DALAM KEHIDUPAN INI
PENJILAT PENDENGKI, HIDUPNYA LEBIH BERHASIL
DAPAT SEBIJI, DI ATAS PASIR.
SIAPA MENYANGKA, DALAM KEHIDUPAN INI
PENJILAT PENDENGKI, HIDUPNYA LEBIH BERHASIL
Inilah mata pelajaran yang tidak ada
di dunia pendidikan, bahwa yang iri dengki dan penipu, justru dia yang sukses.
Dunia pendidikan menjadi tercengang, kenapa yang pengdengki dan penjilat yang sukses dan menjadi kaya raya. Yang jujur kelihatan tidak bergairah dan selalu pada pososi yang kalah.. Selama ini pelajaran di sekolah menyatakan “Janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling membelakangi.”
Dunia pendidikan menjadi tercengang, kenapa yang pengdengki dan penjilat yang sukses dan menjadi kaya raya. Yang jujur kelihatan tidak bergairah dan selalu pada pososi yang kalah.. Selama ini pelajaran di sekolah menyatakan “Janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling membelakangi.”
“Janganlah kalian saling membenci,
janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling membelakangi (saling
berpaling), dan janganlah kalian saling memutuskan. Jadilah kalian hamba-hamba
Allah yang bersaudara.” (H.R. Muttafaq ‘alaih)
Hadis ini diriwayatkan Imam al-Bukhari dalam “Al Adab” dan Muslim dalam “Al Birr”. Lebih khusus tentang larangan dengki disebutkan oleh Rasulullah saw. dalam hadis lain:
“Hindarilah dengki karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan sebagaimana api memakan (menghancurkan) kayu bakar.” (H.R Abu Dawud).
Dengki didefiniskan oleh para ulama sebagai:
“Mengangankan hilangnya kenikamatan dari pemiliknya, baik kenikmatan (yang berhubungan dengan) agama maupun dunia.”
Hadis ini diriwayatkan Imam al-Bukhari dalam “Al Adab” dan Muslim dalam “Al Birr”. Lebih khusus tentang larangan dengki disebutkan oleh Rasulullah saw. dalam hadis lain:
“Hindarilah dengki karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan sebagaimana api memakan (menghancurkan) kayu bakar.” (H.R Abu Dawud).
Dengki didefiniskan oleh para ulama sebagai:
“Mengangankan hilangnya kenikamatan dari pemiliknya, baik kenikmatan (yang berhubungan dengan) agama maupun dunia.”
Dari definisi di atas kita dapat
memahami bahwa iri dengki tidak hanya menyangkut capaian-capaian yang bersifat
duniawi, seperti rumah dan kendaraan, melainkan juga menyangkut capaian-capaian
di lingkup keagamaan, misalnya dakwah. Ini juga berarti bahwa penyakit dengki
bukan hanya menjangkiti kalangan awam. Iri dengki itu ternyata dapat menjalar
dan menjangkiti kalangan yang dikategorikan berilmu, pejuang, dan da’i. Seorang
da’i atau mubalig, misalnya, tidak suka melihat banyaknya pengikut da’i atau
mubalig lain. Seorang yang berafiliasi kepada kelompok atau jama’ah tertentu
sangat benci kepada kelompok atau jama’ah lain yang mendapatkan kemenangan-kemenang
an. Dan masih banyak lagi bentuk lainnya dari sikap iri dengki di kalangan para
“pejuang”. Tapi bagaimana ini bisa terjadi?
Imam al-Ghazali r.a. menjelaskan,
“Tidak akan terjadi saling dengki di kalangan para ulama. Sebab yang mereka tuju
adalah ma’rifatullah (mengenal Allah). Tujuan seperti itu bagaikan samudera
luas yang tidak bertepi. Dan yang mereka cari adalah kedudukan di sisi Allah.
Itu juga merupakan tujuan yang tidak terbatas. Karena kenikmatan paling tinggi
yang ada pada sisi Allah adalah perjumpaan dengan-Nya. Dan dalam hal itu tidak
akan ada saling dorong dan berdesak-desakan. Orang-orang yang melihat Allah
tidak akan merasa sempit dengan adanya orang lain yang juga melihat-Nya.
Bahkan, semakin banyak yang melihat semakin nikmatlah mereka.”
Al-Ghazali melanjutkan, “Akan tetapi, bila para ulama, dengan ilmunya itu menginginkan harta dan wibawa mereka pasti saling dengki. Sebab harta merupakan materi. Jika ia ada pada tangan seseorang pasti hilang dari tangan orang lain. Dan wibawa adalah penguasaan hati. Jika hati seseorang mengagungkan seorang ulama pasti orang itu tidak mengagungkan ulama lainnya. Hal itu dapat menjadi sebab saling dengki.” (Ihya-u ‘Ulumid-Din, Imam Al-Ghazali, juz III hal. 191.)
Al-Ghazali melanjutkan, “Akan tetapi, bila para ulama, dengan ilmunya itu menginginkan harta dan wibawa mereka pasti saling dengki. Sebab harta merupakan materi. Jika ia ada pada tangan seseorang pasti hilang dari tangan orang lain. Dan wibawa adalah penguasaan hati. Jika hati seseorang mengagungkan seorang ulama pasti orang itu tidak mengagungkan ulama lainnya. Hal itu dapat menjadi sebab saling dengki.” (Ihya-u ‘Ulumid-Din, Imam Al-Ghazali, juz III hal. 191.)
Jadi, dalam konteks perjuangan,
dengki dapat merayapi hati orang yang merasa kalah wibawa, kalah popularitas,
kalah pengaruh, kalah pengikut. Yang didengki tentulah pihak yang dianggapnya
lebih dalam hal wibawa, polularitas, pengaruh, dan jumlah pengikut itu. Tidak
mungkin seseorang merasa iri kepada orang yang dianggapnya lebih “kecil” atau
lebih lemah. Sebuah pepatah Arab mengatakan, “Kullu dzi ni’matin mahsuudun.”
(Setiap yang mendapat kenikmatan pasti didengki).
Penyakit dengki sangat berbahaya. Tapi bahayanya lebih besar mengancam si pendengki ketimbang orang yang didengki. Bahkan realitas membuktikan, sering kali pihak yang didengki justru diuntungkan dan mendapatkan banyak kebaikan. Sebaliknya, si pendengki menjadi pecundang. Di antara kekalahan-kekalahan pendengki adalah sebagai berikut.
Penyakit dengki sangat berbahaya. Tapi bahayanya lebih besar mengancam si pendengki ketimbang orang yang didengki. Bahkan realitas membuktikan, sering kali pihak yang didengki justru diuntungkan dan mendapatkan banyak kebaikan. Sebaliknya, si pendengki menjadi pecundang. Di antara kekalahan-kekalahan pendengki adalah sebagai berikut.
Pertama, kegagalan dalam perjuangan.
Perilaku pendengki sering tidak
terkendali. Dia bisa terjebak dalam tindakan merusak nama baik,
mendeskreditkan, dan menghinakan orang yang didengkinya. Dengan cara itu ia
membayangkan akan merusak citra, kredibelitas, dan daya tarik orang yang
didengkinya dan sebaliknya mengangkat citra, nama baik, dan kredibelitas
pihaknya. Namun kehendak Allah tidaklah demikian. Rasulullah saw. bersabda:
Dari Jabir dan Abu Ayyub al-Anshari,
mereka mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada seorang pun yang
menghinakan seorang Muslim di satu tempat yang padanya ia dinodai harga dirinya
dan dirusak kehormatannya melainkan Allah akan menghinakan orang (yang
menghina) itu di tempat yang ia inginkan pertolongan- Nya. Dan tidak seorang
pun yang membela seorang Muslim di tempat yang padanya ia dinodai harga dirinya
dan dirusak kehormatannya melainkan Allah akan membela orang (yang membela) itu
di tempat yang ia menginginkan pembelaan-Nya.” (H.R. Ahmad, Abu Dawud, dan
Ath-Thabrani)
Kedua, melumat habis kebaikan.
Rasulullah saw. bersabda,
“Hindarilah dengki karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan
sebagaimana api memakan (menghancurkan) kayu bakar.” (H.R. Abu Dawud).
Makna memakan kebaikan dijelaskan dalam kitab ‘Aunul Ma’bud, “Memusnahkan dan menghilangkan (nilai) ketaatan pendengki sebagaimana api membakar kayu bakar. Sebab kedengkian akan mengantarkan pengidapnya menggunjing orang yang didengki dan perbuatan buruk lainnya. Maka berpindahlah kebaikan si pendengki itu pada kehormatan orang yang didengki. Maka bertambahlah pada orang yang didengki kenikmatan demi kenikmatan sedangkan si pendengki bertambah kerugian demi kerugian. Sebagaimana yang Allah firmankan, ‘Ia merugi dunia dan akhirat’.” (‘Aunul-Ma’bud juz 13:168)
Makna memakan kebaikan dijelaskan dalam kitab ‘Aunul Ma’bud, “Memusnahkan dan menghilangkan (nilai) ketaatan pendengki sebagaimana api membakar kayu bakar. Sebab kedengkian akan mengantarkan pengidapnya menggunjing orang yang didengki dan perbuatan buruk lainnya. Maka berpindahlah kebaikan si pendengki itu pada kehormatan orang yang didengki. Maka bertambahlah pada orang yang didengki kenikmatan demi kenikmatan sedangkan si pendengki bertambah kerugian demi kerugian. Sebagaimana yang Allah firmankan, ‘Ia merugi dunia dan akhirat’.” (‘Aunul-Ma’bud juz 13:168)
Ketiga, tidak produktif dengan
kebajikan.
Rasulullah saw. bersabda, “Menjalar
kepada kalian penyakit umat-umat (terdahulu): kedengkian dan kebencian. Itulah
penyakit yang akan mencukur gundul. Aku tidak mengatakan bahwa penyakit itu
mencukur rambut melainkan mencukur agama.” (H.R. At-Tirmidzi)
Islam yang rahmatan lil-’alamin yang dibawa oleh orang yang di dadanya memendam kedengkian tidak akan dapat dirasakan nikmatnya oleh orang lain. Bahkan pendengki itu tidak mampu untuk sekadar menyungging senyum, mengucapkan kata ‘selamat’, atau melambaikan tangan bagi saudaranya yang mendapat sukses, baik dalam urusan dunia maupun terkait dengan sukses dalam perjuangan. Apatah lagi untuk membantu dan mendukung saudaranya yang mendapat sukses itu. Dengan demikian Islam yang dibawanya tidak produktif dengan kebaikan alias gundul.
Keempat, menghancurkan harga diri.
Ketika seseorang melampiaskan kebencian dan kedengkian dengan melakukan propaganda busuk, hasutan, dan demarketing kepada pihak lain, jangan berangan bahwa semua orang akan terpengaruh olehnya. Yang terpengaruh hanyalah orang-orang yang tidak membuka mata terhadap realitas, tidak dapat berpikir objektif, atau memang sudah “satu frekuensi” dengan si pendengki. Akan tetapi banyak pula yang mencoba melakukan tabayyun, mencari informasi pembanding, dan berusaha berpikir objektif. Nah, semakin hebat gempuran kedengkian dan kebencian itu, bagi orang yang berpikir objektif justru akan semakin tahu kebusukan hati si pendengki. Orang yang memiliki hati nurani ternyata tidak senang dengan fitnah, isu murahan, atau intrik-intrik pecundang. Di mata mereka orang-orang yang bermental kerdil itu tidaklah simpatik dan tidak mengundang keberpihakan.
Islam yang rahmatan lil-’alamin yang dibawa oleh orang yang di dadanya memendam kedengkian tidak akan dapat dirasakan nikmatnya oleh orang lain. Bahkan pendengki itu tidak mampu untuk sekadar menyungging senyum, mengucapkan kata ‘selamat’, atau melambaikan tangan bagi saudaranya yang mendapat sukses, baik dalam urusan dunia maupun terkait dengan sukses dalam perjuangan. Apatah lagi untuk membantu dan mendukung saudaranya yang mendapat sukses itu. Dengan demikian Islam yang dibawanya tidak produktif dengan kebaikan alias gundul.
Keempat, menghancurkan harga diri.
Ketika seseorang melampiaskan kebencian dan kedengkian dengan melakukan propaganda busuk, hasutan, dan demarketing kepada pihak lain, jangan berangan bahwa semua orang akan terpengaruh olehnya. Yang terpengaruh hanyalah orang-orang yang tidak membuka mata terhadap realitas, tidak dapat berpikir objektif, atau memang sudah “satu frekuensi” dengan si pendengki. Akan tetapi banyak pula yang mencoba melakukan tabayyun, mencari informasi pembanding, dan berusaha berpikir objektif. Nah, semakin hebat gempuran kedengkian dan kebencian itu, bagi orang yang berpikir objektif justru akan semakin tahu kebusukan hati si pendengki. Orang yang memiliki hati nurani ternyata tidak senang dengan fitnah, isu murahan, atau intrik-intrik pecundang. Di mata mereka orang-orang yang bermental kerdil itu tidaklah simpatik dan tidak mengundang keberpihakan.
Orang yang banyak melakukan
provokasi dan hanya bisa menjelek-jelekkan pihak lain juga akan terlihat di
mata orang banyak sebagai orang yang tidak punya program dalam hidupnya. Dia
tampil sebagai orang yang tidak dapat menampilkan sesuatu yang positif untuk
“dijual”. Maka jalan pintasnya adalah mengorek-ngorek apa yang ia anggap sebagai
kesalahan. Bahkan sesuatu yang baik di mata pendengki bisa disulap menjadi
keburukan. Nah, mana ada orang yang sehat akalnya suka cara-cara seperti itu?
Kelima, menyerupai orang munafik.
Di antara perilaku orang munafik
adalah selalu mencerca dan mencaci apa yang dilakukan oran lain terutama yang
didengkinya. Jangankan yang tampak buruk, yang nyata-nyata baik pun akan
dikecam dan dianggap buruk. Allah swt. menggambarkan prilaku itu sebagai
prilaku orang munafik. Abi Mas’ud al-Anshari r.a. mengatakan, saat turun ayat
tentang infaq para sahabat mulai memberikan infaq. Ketika ada orang Muslim yang
memberi infaq dalam jumlah besar, orang-orang munafik mengatakan bahwa dia
riya. Dan ketika ada orang Muslim yang berinfak dalam jumlah kecil, mereka
mengatakan bahwa Allah tidak butuh dengan infak yang kecil itu. Maka turunlah
ayat 79 At-Taubah. (Al-Bukhari dan Muslim)
Keenam, gelap mata dan tidak termotivasi untuk memperbaiki diri.
Pendengki biasanya sulit melihat kelemahan dan kekurangan diri sendiri dan tidak dapat melihat kelebihan pada pihak lain. Akibatnya pula jalan kebenaran yang terang benderang menjadi kelam tertutup mega kedengkian. Apa pun yang dikatakan, apa pun yang dilakukan dan apa pun yang datang dari orang yang dibenci dan didengkinya adalah salah dan tidak baik. Akhirnya dia tidak dapat melaksanakan perintah Allah swt. sebagaimana yang disebutkan dalam ayat, “Orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (Q.S. Az-Zumar 39: 18)
Keenam, gelap mata dan tidak termotivasi untuk memperbaiki diri.
Pendengki biasanya sulit melihat kelemahan dan kekurangan diri sendiri dan tidak dapat melihat kelebihan pada pihak lain. Akibatnya pula jalan kebenaran yang terang benderang menjadi kelam tertutup mega kedengkian. Apa pun yang dikatakan, apa pun yang dilakukan dan apa pun yang datang dari orang yang dibenci dan didengkinya adalah salah dan tidak baik. Akhirnya dia tidak dapat melaksanakan perintah Allah swt. sebagaimana yang disebutkan dalam ayat, “Orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (Q.S. Az-Zumar 39: 18)
Di sisi lain, pendengki –manakala
mengalami kekalahan dan kegagalan dalam perjuangan— cenderung mencari kambing
hitam. Ia menuduh pihak luar sebagai biang kegagalan dan bukannya melakukan
muhasabah (introspeksi) . Semakin larut dalam mencari-cari kesalahan pihak lain
akan semakin habis waktunya dan semakin terkuras potensinya hingga tak mampu
memperbaiki diri. Dan tentu saja sikap ini hanya akan menambah keterpurukan dan
sama sekali tidak dapat memberikan manfaat sedikit pun untuk mewujudkan
kemenangan yang didambakannya.
Ketujuh, membebani diri sendiri.
Iri dengki adalah beban berat.
Bayangkan, setiap melihat orang yang didengkinya dengan segala kesuksesannya,
mukanya akan menjadi tertekuk, lidahnya mengeluarkan sumpah serapah, bibirnya
berat untuk tersenyum, dan yang lebih bahaya hatinya semakin penuh dengan
marah, benci, curiga, kesal, kecewa, resah, dan perasaan-perasaan negatif
lainnya. Nikmatkah kehidupan yang penuh dengan perasaan itu? Seperti layaknya
penyakit, ketika dipelihara akan mendatangkan penyakit lainnya. Demikian pula
penyakit hati yang bernama iri dengki. “Di dalam hati mereka ada penyakit maka
Allah tambahkan kepada mereka penyakit (lainnya).” (Q.S. Al Baqarah 2: 10)
Jika demikian, mengertilah kita
makna pernyataan seorang ulama salaf, seperti disebutkan dalam kitab
Kasyful-Khafa 1:430
“Pendengki tidak akan pernah sukses.” Wallahu A’lam….
“Pendengki tidak akan pernah sukses.” Wallahu A’lam….
Posted in Uncategorized
Posted on February 19, 2014 | Leave
a comment
KUMPULAN MANTRA CINTA
YANG BERHANTU
YANG BERHANTU
Mr.Rakib Ciptakarya Pekanbaru Riau
Indonesia
Mantra Nenek Sihir di kampung itu;
Mantra cinta untuk penakluk pujaan nhati.
Mantra Nenek Sihir di kampung itu;
Mantra cinta untuk penakluk pujaan nhati.
Hari demi hari waktu demi waktu,
berjalan bagaikan roda yang berputar,
beriring dengan yg kurasakan “perjalanan cinta di hatiku”
walaupun tertatih namun pasti,
pahit harus aku nikmati sakit harus aku terima.
Kata Jeki, kesombongan harus aku singkirkan
Kata Rosid, kesabaran harus aku tanamkan kejujuran
tetap aku ajukan kesetiaan aku pertahankan atas semua itu aku rasakan cinta yg dalam yang penuh dengan perjalanan yang aku nikmati di hidupku.
Takkan pernah tercetus perasaan menyerah memperjuangkan cinta yang aku tanam di hatiku, apapun yang aku terima akan slalu aku nikmati selama cintaku tertanam di hatinya, keyakinan dihati atas cinta bagaikan angan-angan kehidupan diatas keindahan.
Atas keyakinan hati aku rasakan hanya dialah yg dapat menemaniku sampai akhir hayatku, Tuhan persatukanlah cinta kami dalam naungan kebahagiaan yang kau curahkan, kuatkanlah akar-akar cinta ini agar tak mudah goyah di terpa badai yang menghancurkan, restuilah cinta kami, jangan pernah pisahkan kami dalam kebencian.
Kau yang dihatiku teruslah menjadi peri kebahagiaanku dan yakinlah bahwa aku sangat mencintai dirimu,
Cahyani Kampari, hanya menyajikan air mata
Tiada kata yang terucap.
Rosid tak mampu menerjemahakan arti air mata itu.
Jeki yang cemburu berngkat ke Malaysia
Tapi pulang bukan membawa kekayaan,
Justru membawa petaka “Suntik bingung”.
Sedangkan Rosid, sudah hampir meraih gelar doktor.
berjalan bagaikan roda yang berputar,
beriring dengan yg kurasakan “perjalanan cinta di hatiku”
walaupun tertatih namun pasti,
pahit harus aku nikmati sakit harus aku terima.
Kata Jeki, kesombongan harus aku singkirkan
Kata Rosid, kesabaran harus aku tanamkan kejujuran
tetap aku ajukan kesetiaan aku pertahankan atas semua itu aku rasakan cinta yg dalam yang penuh dengan perjalanan yang aku nikmati di hidupku.
Takkan pernah tercetus perasaan menyerah memperjuangkan cinta yang aku tanam di hatiku, apapun yang aku terima akan slalu aku nikmati selama cintaku tertanam di hatinya, keyakinan dihati atas cinta bagaikan angan-angan kehidupan diatas keindahan.
Atas keyakinan hati aku rasakan hanya dialah yg dapat menemaniku sampai akhir hayatku, Tuhan persatukanlah cinta kami dalam naungan kebahagiaan yang kau curahkan, kuatkanlah akar-akar cinta ini agar tak mudah goyah di terpa badai yang menghancurkan, restuilah cinta kami, jangan pernah pisahkan kami dalam kebencian.
Kau yang dihatiku teruslah menjadi peri kebahagiaanku dan yakinlah bahwa aku sangat mencintai dirimu,
Cahyani Kampari, hanya menyajikan air mata
Tiada kata yang terucap.
Rosid tak mampu menerjemahakan arti air mata itu.
Jeki yang cemburu berngkat ke Malaysia
Tapi pulang bukan membawa kekayaan,
Justru membawa petaka “Suntik bingung”.
Sedangkan Rosid, sudah hampir meraih gelar doktor.
Menarik Pelajaran Dari Mitologi
Yunani/Perang Troya
Perang perang terbesar yang pernah
terjadi dalam sejarah Yunani kuno. Pada perang itu, Bangsa Akhaia (Yunani)
menyerang kota Troya. Reruntuhan kota Troya sendiri kini telah ditemukan di
Asia Minor (Turki). Perang besar yang menghabiskan banyak korban manusia itu
dipicu oleh perbuatan para dewa.
Semua dewa-dewi dan orang penting diundang ke pernikahan Peleus dan Thetis (orang tua Akhilles). Hanya dewi Eris (dewi perselisihan) yang tidak diundang. Dewa Eris marah dan melempar sebuah apel ke tengah-tengah pesta, apel tersebut beruliskan kallistei (“untuk yang tercantik”). Afrodit, Hera, dan Athena mengklaim sebagai pemilik apel tersebut dan sebagai dewi tercantik.
Ketiga dewi tersebut mendatangi Zeus untuk menentukan siapa yang berhak memiliki apel emas itu. Zeus tidak ingin memihak siapapun dan menyuruh mereka untuk meminta keputusan pada Paris. Hera berusaha menyuap Paris dengan kekayaan, Athena berjanji akan menjadikan Paris jenderal yang berjaya dan terkenal,
MISTERI KUDA TEROYA
Peminat Legenda dan Sejarah
Mr.Rakib Ciptakarya Pekanbaru Riau Indonesia.2014
Perang Troya adalah salah satu perang terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah Yunani kuno. Pada perang itu, Bangsa Akhaia (Yunani) menyerang kota Troya. Reruntuhan kota Troya sendiri kini telah ditemukan di Asia Minor (Turki). Perang besar yang menghabiskan banyak korban manusia itu dipicu oleh perbuatan para dewa.
Semua dewa-dewi dan orang penting diundang ke pernikahan Peleus dan Thetis (orang tua Akhilles). Hanya dewi Eris (dewi perselisihan) yang tidak diundang. Dewa Eris marah dan melempar sebuah apel ke tengah-tengah pesta, apel tersebut beruliskan kallistei (“untuk yang tercantik”). Afrodit, Hera, dan Athena mengklaim sebagai pemilik apel tersebut dan sebagai dewi tercantik…sementara Afrodit menawarkan wanita tercantik di dunia (Helene).
Paris akhirnya memilih Helene dan dengan demikian memilih Afrodit sebagai dewi tercantik. Helene sendiri sebenarnya telah menjadi istri Menelaos, raja Sparta tetapi Eros, dewa cinta anak Afrodit, memanah Helene dengan panah cinta sampai akhirnya Helene jatuh cinta pada Paris. dan bersedia untuk dibawa kabur ke Troya. Suami Helene, Menelaos, marah besar. Dengan didukung oleh saudaranya, Agamemnon raja Mikenai dan raja-raja Yunani lainnya, Menelaos menyerang kota Troya.
Perang Troya berlangsung selama sepuluh tahun. Banyak pahlawan yang terlibat dalam perang ini, di antaranya adalah Akhilles, Odisseus, Aias, dan Diomedes dari pihak Yunani, dan Hektor serta Paris dari pihak Troya. Setelah berjuang bertahun-tahun dan belum bisa juga menjebol benteng Troya, pasukan Yunani mulai frustasi. Tetapi kemudian Odisseus mencetuskan ide cemerlang. Pasukan Yunani membangun sebuah kuda kayu raksasa yang diisi oleh beberapa prajurit.
Semua dewa-dewi dan orang penting diundang ke pernikahan Peleus dan Thetis (orang tua Akhilles). Hanya dewi Eris (dewi perselisihan) yang tidak diundang. Dewa Eris marah dan melempar sebuah apel ke tengah-tengah pesta, apel tersebut beruliskan kallistei (“untuk yang tercantik”). Afrodit, Hera, dan Athena mengklaim sebagai pemilik apel tersebut dan sebagai dewi tercantik.
Ketiga dewi tersebut mendatangi Zeus untuk menentukan siapa yang berhak memiliki apel emas itu. Zeus tidak ingin memihak siapapun dan menyuruh mereka untuk meminta keputusan pada Paris. Hera berusaha menyuap Paris dengan kekayaan, Athena berjanji akan menjadikan Paris jenderal yang berjaya dan terkenal,
MISTERI KUDA TEROYA
Peminat Legenda dan Sejarah
Mr.Rakib Ciptakarya Pekanbaru Riau Indonesia.2014
Perang Troya adalah salah satu perang terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah Yunani kuno. Pada perang itu, Bangsa Akhaia (Yunani) menyerang kota Troya. Reruntuhan kota Troya sendiri kini telah ditemukan di Asia Minor (Turki). Perang besar yang menghabiskan banyak korban manusia itu dipicu oleh perbuatan para dewa.
Semua dewa-dewi dan orang penting diundang ke pernikahan Peleus dan Thetis (orang tua Akhilles). Hanya dewi Eris (dewi perselisihan) yang tidak diundang. Dewa Eris marah dan melempar sebuah apel ke tengah-tengah pesta, apel tersebut beruliskan kallistei (“untuk yang tercantik”). Afrodit, Hera, dan Athena mengklaim sebagai pemilik apel tersebut dan sebagai dewi tercantik…sementara Afrodit menawarkan wanita tercantik di dunia (Helene).
Paris akhirnya memilih Helene dan dengan demikian memilih Afrodit sebagai dewi tercantik. Helene sendiri sebenarnya telah menjadi istri Menelaos, raja Sparta tetapi Eros, dewa cinta anak Afrodit, memanah Helene dengan panah cinta sampai akhirnya Helene jatuh cinta pada Paris. dan bersedia untuk dibawa kabur ke Troya. Suami Helene, Menelaos, marah besar. Dengan didukung oleh saudaranya, Agamemnon raja Mikenai dan raja-raja Yunani lainnya, Menelaos menyerang kota Troya.
Perang Troya berlangsung selama sepuluh tahun. Banyak pahlawan yang terlibat dalam perang ini, di antaranya adalah Akhilles, Odisseus, Aias, dan Diomedes dari pihak Yunani, dan Hektor serta Paris dari pihak Troya. Setelah berjuang bertahun-tahun dan belum bisa juga menjebol benteng Troya, pasukan Yunani mulai frustasi. Tetapi kemudian Odisseus mencetuskan ide cemerlang. Pasukan Yunani membangun sebuah kuda kayu raksasa yang diisi oleh beberapa prajurit.
Pasukan Yunani kemudian meninggalkan
kuda itu lalu pura-pura pergi meninggalkan Troya. Pasukan Troya melihat pasukan
Yunani mundur dan mengira mereka telah menyerah. Kuda raksasa itu dikira
sebaagi pernyataan kekalahan dari yunani. Orang-orang Troya membawa kuda itu ke
dalam kota mereka dan merayakan kemenangan mereka. Pada malam harinya, para
prajurit yang bersembunyi di dalam kuda keluar dan membuka gerbang kota Troya
sehingga pasukan Yunani bisa masuk. Pasukan Yunani pun meluluhlantakan kota
Troya. Seusai perang, Menelaos berhasil mendapatkan kembali istrinya sementara
beberapa orang Troya, dengan dipimpin oleh Aineias, berhasil menyelamatkan
diri.
Posted in Uncategorized
Posted on February 19, 2014 | Leave a
comment
Menarik Pelajaran Dari Mitologi
Yunani/Perang Troya
Perang perang terbesar yang pernah
terjadi dalam sejarah Yunani kuno. Pada perang itu, Bangsa Akhaia (Yunani)
menyerang kota Troya. Reruntuhan kota Troya sendiri kini telah ditemukan di
Asia Minor (Turki). Perang besar yang menghabiskan banyak korban manusia itu
dipicu oleh perbuatan para dewa.
Semua dewa-dewi dan orang penting diundang ke pernikahan Peleus dan Thetis (orang tua Akhilles). Hanya dewi Eris (dewi perselisihan) yang tidak diundang. Dewa Eris marah dan melempar sebuah apel ke tengah-tengah pesta, apel tersebut beruliskan kallistei (“untuk yang tercantik”). Afrodit, Hera, dan Athena mengklaim sebagai pemilik apel tersebut dan sebagai dewi tercantik.
Semua dewa-dewi dan orang penting diundang ke pernikahan Peleus dan Thetis (orang tua Akhilles). Hanya dewi Eris (dewi perselisihan) yang tidak diundang. Dewa Eris marah dan melempar sebuah apel ke tengah-tengah pesta, apel tersebut beruliskan kallistei (“untuk yang tercantik”). Afrodit, Hera, dan Athena mengklaim sebagai pemilik apel tersebut dan sebagai dewi tercantik.
Ketiga dewi tersebut mendatangi Zeus
untuk menentukan siapa yang berhak memiliki apel emas itu. Zeus tidak ingin
memihak siapapun dan menyuruh mereka untuk meminta keputusan pada Paris. Hera
berusaha menyuap Paris dengan kekayaan, Athena berjanji akan menjadikan Paris
jenderal yang berjaya dan terkenal,
MISTERI KUDA TEROYA
Peminat Legenda dan Sejarah
Mr.Rakib Ciptakarya Pekanbaru Riau Indonesia.2014
MISTERI KUDA TEROYA
Peminat Legenda dan Sejarah
Mr.Rakib Ciptakarya Pekanbaru Riau Indonesia.2014
Perang Troya adalah salah satu
perang terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah Yunani kuno. Pada perang itu,
Bangsa Akhaia (Yunani) menyerang kota Troya. Reruntuhan kota Troya sendiri kini
telah ditemukan di Asia Minor (Turki). Perang besar yang menghabiskan banyak
korban manusia itu dipicu oleh perbuatan para dewa.
Semua dewa-dewi dan orang penting diundang ke pernikahan Peleus dan Thetis (orang tua Akhilles). Hanya dewi Eris (dewi perselisihan) yang tidak diundang. Dewa Eris marah dan melempar sebuah apel ke tengah-tengah pesta, apel tersebut bertuliskan kallistei (“untuk yang tercantik”). Afrodit, Hera, dan Athena mengklaim sebagai pemilik apel tersebut dan sebagai dewi tercantik…sementara Afrodit menawarkan wanita tercantik di dunia (Helene).
Semua dewa-dewi dan orang penting diundang ke pernikahan Peleus dan Thetis (orang tua Akhilles). Hanya dewi Eris (dewi perselisihan) yang tidak diundang. Dewa Eris marah dan melempar sebuah apel ke tengah-tengah pesta, apel tersebut bertuliskan kallistei (“untuk yang tercantik”). Afrodit, Hera, dan Athena mengklaim sebagai pemilik apel tersebut dan sebagai dewi tercantik…sementara Afrodit menawarkan wanita tercantik di dunia (Helene).
Paris akhirnya memilih Helene dan
dengan demikian memilih Afrodit sebagai dewi tercantik. Helene sendiri sebenarnya
telah menjadi istri Menelaos, raja Sparta tetapi Eros, dewa cinta anak Afrodit,
memanah Helene dengan panah cinta sampai akhirnya Helene jatuh cinta pada
Paris. dan bersedia untuk dibawa kabur ke Troya. Suami Helene, Menelaos, marah
besar. Dengan didukung oleh saudaranya, Agamemnon raja Mikenai dan raja-raja
Yunani lainnya, Menelaos menyerang kota Troya.
Perang Troya berlangsung selama sepuluh tahun. Banyak pahlawan yang terlibat dalam perang ini, di antaranya adalah Akhilles, Odisseus, Aias, dan Diomedes dari pihak Yunani, dan Hektor serta Paris dari pihak Troya. Setelah berjuang bertahun-tahun dan belum bisa juga menjebol benteng Troya, pasukan Yunani mulai frustasi. Tetapi kemudian Odisseus mencetuskan ide cemerlang. Pasukan Yunani membangun sebuah kuda kayu raksasa yang diisi oleh beberapa prajurit.
Perang Troya berlangsung selama sepuluh tahun. Banyak pahlawan yang terlibat dalam perang ini, di antaranya adalah Akhilles, Odisseus, Aias, dan Diomedes dari pihak Yunani, dan Hektor serta Paris dari pihak Troya. Setelah berjuang bertahun-tahun dan belum bisa juga menjebol benteng Troya, pasukan Yunani mulai frustasi. Tetapi kemudian Odisseus mencetuskan ide cemerlang. Pasukan Yunani membangun sebuah kuda kayu raksasa yang diisi oleh beberapa prajurit.
Pasukan Yunani kemudian meninggalkan
kuda itu lalu pura-pura pergi meninggalkan Troya. Pasukan Troya melihat pasukan
Yunani mundur dan mengira mereka telah menyerah. Kuda raksasa itu dikira
sebaagi pernyataan kekalahan dari yunani. Orang-orang Troya membawa kuda itu ke
dalam kota mereka dan merayakan kemenangan mereka. Pada malam harinya, para
prajurit yang bersembunyi di dalam kuda keluar dan membuka gerbang kota Troya
sehingga pasukan Yunani bisa masuk. Pasukan Yunani pun meluluhlantakan kota
Troya. Seusai perang, Menelaos berhasil mendapatkan kembali istrinya sementara
beberapa orang Troya, dengan dipimpin oleh Aineias, berhasil menyelamatkan
diri.
Posted in Uncategorized
Posted on February 19, 2014 | Leave a comment
KEAJAIBAN OTAK WAHABI SALAFI DAN JIL
Jika Wahabi Salafi dan JIL, mau
membuat pesawat terbang mencapai matahari, bisa saja, tapi arahnya bukan ke
teknologi, tapi ke Theologi.
Kalau hanya sekedar mengalahkan Alfamart, tidak merupakan hal yang sulit.
Kalau hanya sekedar mengalahkan Alfamart, tidak merupakan hal yang sulit.
KEAJAIBAN OTAK MANUSIA SALAFI YANG
TERABAIKAN
( Bedah Buku Super Great Memory, by Mr.SGM )
( Bedah Buku Super Great Memory, by Mr.SGM )
Kebanyakan dari kita merasa
mempunyai daya ingat yang sangat lemah atau merasa memiliki daya ingat yang
menurun dengan alasan bertambahnya usia atau karena memasuki usia senja.
Padahal apabila kita mengetahui rahasia otak kita, maka walaupun seluruh
informasi yang ada di dunia ini dimasukkan ke dalam otak manusia, otak kita
tidak akan penuh bahkan belum cukup separuhnya terisi, sungguh suatu keajaiban
yang luar biasa diberikan oleh Allah SWT kepada manusia. Namun sayang manusia
tidak mampu membaca rahasia keajaiban otaknya. Akan tetapi hal ini tidak
menjadi rahasia lagi setelah diungkap oleh penulis buku “ Super Great Memory “
yang ditulis oleh Mr.SGM ( Irwan Widiatmoko ) Pemegang Rekor Pertama Daya Ingat
MURI.
Sebelum kita menjelajahi keajaiban otak manusia, mari kita sejenak memerhatikan bagaimana kemampu-
an otak yang dimiliki oleh seekor lebah :
Sebelum kita menjelajahi keajaiban otak manusia, mari kita sejenak memerhatikan bagaimana kemampu-
an otak yang dimiliki oleh seekor lebah :
Lebah dapat membuat tempat
penyimpanan madu yang efektif, mereka membuat sarangnya dalam bentuk heksagonal
sehingga mampu memuat madu yang banyak dan aman, dalam memenuhi sumber
makanannya mereka membagi tugas sesama koloninya, lebah yang mendapat tugas
mencari sumber makanan dapat memberi informasi kepada koloni mereka dengan kode
tersendiri melalui gerakan tarian khusus dengan meliuk-liukkan badannya sesuai
arah yang ditemukan sehingga koloninya dapat dengan mudah menemukan sumber
makanannya sebagai bahan untuk diolah menjadi madu.
Lebah menghasilkan madu jauh melebihi dari kebutuhannya demi untuk pemanfaatan bagi kesehatan manusia, suatu tindakan yang sangat mulia dan patut mendapat pelajaran darinya. Bagaimana dengan manusia yang diberi kesempurnaan oleh Allah yang dilengkapi akal pikiran, bentuk rupa yang menawan serta diciptakan bumi dan isinya bahkan seluruh alam semesta ini semua diciptakan oleh Allah Yang Maha Penyayang hanya diperuntukkan bagi kemaslahatan manusia. (menjadi renungan bagi kita semua).
Lebah menghasilkan madu jauh melebihi dari kebutuhannya demi untuk pemanfaatan bagi kesehatan manusia, suatu tindakan yang sangat mulia dan patut mendapat pelajaran darinya. Bagaimana dengan manusia yang diberi kesempurnaan oleh Allah yang dilengkapi akal pikiran, bentuk rupa yang menawan serta diciptakan bumi dan isinya bahkan seluruh alam semesta ini semua diciptakan oleh Allah Yang Maha Penyayang hanya diperuntukkan bagi kemaslahatan manusia. (menjadi renungan bagi kita semua).
Kelebihan lain yang dimiliki oleh
lebah adalah bagaimana membuat madu jadi awet dengan menjaga kelembaban
sarangnya. Juga dapat menjaga pertukaran udara manakala suhu udara sedang
memanas dengan cara mengipas sarangnya dengan sayapnya untuk mengindari
pencemaran udara.
Lebah dapat mengeluarkan getah untuk melem sarangnya jika terjadi kebocoran juga melindungi madu dari serangga yang berhasil masuk ke dalam sarangnya dengan cara pembalsaman. Sungguh suatu kemampuan optimal yang dipertontonkan oleh seekor lebah dengan kapasitas otak hanya 7000 sel . Coba kita bandingkan dengan sel otak manusia yang memiliki 1 Triliun sel, yang artinya bahwa sel otak manusia 142.857.143 kali lipat dari sel otak lebah. Kalau Lebah bisa melakukan sesuatu yang luar biasa dan bermakna bagi manusia, bagaimana dengan kita ? apa yang bisa dilakukan oleh kita dengan memiliki 1 Triliun sel otak ? apakah sudah mengoptimalkan keseluruhan sel otak kita ? sungguh suatu tantangan bagi kita semua untuk berbuat sesuatu bagi sesama.
Jika sel otak kita mati sejuta setiap hari, maka jumlah sel otak yang berkurang jika kita mencapai umur 100 tahun hanya berkurang sekitar 3,6 %, sungguh merupakan angka yang sangat kecil.
Namun menurut penelitian para ilmuan mengatakan bahwa jumlah sel otak manusia bisa bertambah, bagian-bagian otak manusia dapat menghasilkan ribuan sel otak baru setiap hari…
Lebah dapat mengeluarkan getah untuk melem sarangnya jika terjadi kebocoran juga melindungi madu dari serangga yang berhasil masuk ke dalam sarangnya dengan cara pembalsaman. Sungguh suatu kemampuan optimal yang dipertontonkan oleh seekor lebah dengan kapasitas otak hanya 7000 sel . Coba kita bandingkan dengan sel otak manusia yang memiliki 1 Triliun sel, yang artinya bahwa sel otak manusia 142.857.143 kali lipat dari sel otak lebah. Kalau Lebah bisa melakukan sesuatu yang luar biasa dan bermakna bagi manusia, bagaimana dengan kita ? apa yang bisa dilakukan oleh kita dengan memiliki 1 Triliun sel otak ? apakah sudah mengoptimalkan keseluruhan sel otak kita ? sungguh suatu tantangan bagi kita semua untuk berbuat sesuatu bagi sesama.
Jika sel otak kita mati sejuta setiap hari, maka jumlah sel otak yang berkurang jika kita mencapai umur 100 tahun hanya berkurang sekitar 3,6 %, sungguh merupakan angka yang sangat kecil.
Namun menurut penelitian para ilmuan mengatakan bahwa jumlah sel otak manusia bisa bertambah, bagian-bagian otak manusia dapat menghasilkan ribuan sel otak baru setiap hari…
Otak adalah alam semesta seberat
satu kilogram ( Marian C.Diamond ).
Jika seluruh informasi buku perpustakaan di dunia atau seluruh informasi jaringan telekomunikasi di dunia dimasukkan ke dalam otak, otak manusia tidak akan penuh.
Jika setiap detik dimasukkan 10 informasi sampai kita meninggal, ke dalam otak kita, misalnya sampai umur kita 100 tahun, maka otak manusia belum terisi separuhnya, sungguh fantastis..
Kapasitas otak manusia adalah angka satu diikuti angka nol yang panjangnya 10 pangkat 5 juta kilometer. Deretan nol sepanjang 10 pangkat 5 juta kilometer adalah sebanding dengan perjalanan bumi ke bulan sebanyak 14 kali pulang pergi.
Potensi otak manusia yang digunakan rata-rata hanya sekitar 0,0001% dari potensi otak manusia yang sesungguhnya. Para ahli jiwa pada tahun 1950 meneliti bahwa potensi otak manusia yang digunakan rata-rata hanya sekitar 50%, pada tahun 1970 sebesar 10%, tahun 1980 sekitar 1%, dan tahun 1990 yaitu 0,01%. Saat ini rata-rata potensi otak manusia yg digunakan kurang lebih 0,0001%.
Penurunan potensi otak manusia di atas bukanlah gambaran penurunan otak manusia yg digunakan, tetapi gambaran semakin akuratnya alat yg digunakan utk mengukur potensi rata-rata otak manusia. Yang artinya bahwa manusia baru sedikit menggunakan kemampuan otaknya. Inilah temuan baru yang dilakukan oleh penulis buku ini dengan menyingkap rahasia keajaiban otak manusia….
Jika seluruh informasi buku perpustakaan di dunia atau seluruh informasi jaringan telekomunikasi di dunia dimasukkan ke dalam otak, otak manusia tidak akan penuh.
Jika setiap detik dimasukkan 10 informasi sampai kita meninggal, ke dalam otak kita, misalnya sampai umur kita 100 tahun, maka otak manusia belum terisi separuhnya, sungguh fantastis..
Kapasitas otak manusia adalah angka satu diikuti angka nol yang panjangnya 10 pangkat 5 juta kilometer. Deretan nol sepanjang 10 pangkat 5 juta kilometer adalah sebanding dengan perjalanan bumi ke bulan sebanyak 14 kali pulang pergi.
Potensi otak manusia yang digunakan rata-rata hanya sekitar 0,0001% dari potensi otak manusia yang sesungguhnya. Para ahli jiwa pada tahun 1950 meneliti bahwa potensi otak manusia yang digunakan rata-rata hanya sekitar 50%, pada tahun 1970 sebesar 10%, tahun 1980 sekitar 1%, dan tahun 1990 yaitu 0,01%. Saat ini rata-rata potensi otak manusia yg digunakan kurang lebih 0,0001%.
Penurunan potensi otak manusia di atas bukanlah gambaran penurunan otak manusia yg digunakan, tetapi gambaran semakin akuratnya alat yg digunakan utk mengukur potensi rata-rata otak manusia. Yang artinya bahwa manusia baru sedikit menggunakan kemampuan otaknya. Inilah temuan baru yang dilakukan oleh penulis buku ini dengan menyingkap rahasia keajaiban otak manusia….
AKU TERJEPIT
Aku terjepit dan menjerit
Tapi Jeritan itu sangat pelan
Yang tak pernah terdengarkan
Menapak dalam pahatan
Menggores dinding kebahagiaan
Aku terjepit dan menjerit
Tapi Jeritan itu sangat pelan
Yang tak pernah terdengarkan
Menapak dalam pahatan
Menggores dinding kebahagiaan
Kebahagiaan yang tertunda
Kesuksesan yang teragukan
Kemakmuran dibalik perjara
Keadilan terpaksa tergadaikan
Kesuksesan yang teragukan
Kemakmuran dibalik perjara
Keadilan terpaksa tergadaikan
Mimpi ini bagai kenyataan
Kenyataan ini bagai mimpi
Sebuah kenyataan jadi impian
Sebuah impian jadi kenyataan
Kenyataan ini bagai mimpi
Sebuah kenyataan jadi impian
Sebuah impian jadi kenyataan
Sampai detik tak terkirakan
Bumi terkelupas berantakan
Kehidupan menjemput ajal
Mayat berdiri menyongsong kematian
Bumi terkelupas berantakan
Kehidupan menjemput ajal
Mayat berdiri menyongsong kematian
Taa mati yang sebenarnya.
Yogyakarta, 11 Agustus 1993
OTAK BERKARAT
El Roqy El Lamonch
El Roqy El Lamonch
+ Kecut…..
_ Pantas, llihat sakunya
+ Saku siapa
_ Orang tersenyum itu ..!
+ Kenapa.. ia kan wajar sebagai ……..
_ Sebagai apapun…..ia kecut…kecut karena dalam saku
+ Wajar tooh…sakunya tebal, karena…..
_ Tidak ada karena lain, hanya satu karena…..
+ Karena ia nggak sempat mandi, karena ia sibuk, karena ia berjuang karena ia bekerja, karena ia ……….
_ Tidur…sambil membawa bungkusan tape dan asam…..
+ Eeeeeh jangan menghina yaaa……….
_ Tidak menghina, cuman…….
+ Cuman apa…
_ Mengkritik, karena tanpa dihina ia sudah terhina
+ Maksudmu…?
_ Nah kau mulai kaya’ kerbau dungu
+ Apa….??!!
_ Jangan marah bung, kemarahanmu tidak mendatangkan uang
+ Apa ada marah mendatangkan uang, jangan main-main…!!
_ Ada, kemarahan yang pura-pura, alias ia pura-pura marah. Kemarahan seorang pimpinan untuk mencari keuntungan dan kewibawaan.
+ Keuntungan…? Kewibawaan…? Gombal…..
_ Orang macam kau inilah yang menjadi santapan kemarahan.
+ Lalu ia untung…?
_ Yaa ia dapat tambahan, tambahan semu dan memang disemukan, orang ini senang putar lidah, ia tidak pandai tidak juga cerdas. Ia anggap dirinya seorang jawara. Yaa jawara bila di kandang kerbau.
+ Bauk…..begitu maksudnya.
_ Yaa bahkan lebih panjang dari itu.
+ Maksudnya panjang anunya..?
_ Anu bathukmu…, panjang jangkauannya. Busuk kerbau sebatas kandang, busuk mulut sepanjang abab eh abjad.
+ Aku tak mengerti…!
_ Dasar dunia ini sudah penuh otak berkarat.
_ Pantas, llihat sakunya
+ Saku siapa
_ Orang tersenyum itu ..!
+ Kenapa.. ia kan wajar sebagai ……..
_ Sebagai apapun…..ia kecut…kecut karena dalam saku
+ Wajar tooh…sakunya tebal, karena…..
_ Tidak ada karena lain, hanya satu karena…..
+ Karena ia nggak sempat mandi, karena ia sibuk, karena ia berjuang karena ia bekerja, karena ia ……….
_ Tidur…sambil membawa bungkusan tape dan asam…..
+ Eeeeeh jangan menghina yaaa……….
_ Tidak menghina, cuman…….
+ Cuman apa…
_ Mengkritik, karena tanpa dihina ia sudah terhina
+ Maksudmu…?
_ Nah kau mulai kaya’ kerbau dungu
+ Apa….??!!
_ Jangan marah bung, kemarahanmu tidak mendatangkan uang
+ Apa ada marah mendatangkan uang, jangan main-main…!!
_ Ada, kemarahan yang pura-pura, alias ia pura-pura marah. Kemarahan seorang pimpinan untuk mencari keuntungan dan kewibawaan.
+ Keuntungan…? Kewibawaan…? Gombal…..
_ Orang macam kau inilah yang menjadi santapan kemarahan.
+ Lalu ia untung…?
_ Yaa ia dapat tambahan, tambahan semu dan memang disemukan, orang ini senang putar lidah, ia tidak pandai tidak juga cerdas. Ia anggap dirinya seorang jawara. Yaa jawara bila di kandang kerbau.
+ Bauk…..begitu maksudnya.
_ Yaa bahkan lebih panjang dari itu.
+ Maksudnya panjang anunya..?
_ Anu bathukmu…, panjang jangkauannya. Busuk kerbau sebatas kandang, busuk mulut sepanjang abab eh abjad.
+ Aku tak mengerti…!
_ Dasar dunia ini sudah penuh otak berkarat.
Yogyakarta, 11 Agustus 1993
NURANIKU
Kuberjalan dengan kedua kakiku
Seperti terkoyak-koyak
Tak berdaya
Tak punya ambisi
Rasa hati ini tak kuasa lagi
berjalan…..
tertatih tatih
seperti inikah ?
Gersangnya nuraniku
Tak kuasa memeluk Mu
Yaa Rabbi…..
Begitu kecil ….. hamba Mu ini
Seakan tak ada lagi kesombongan diri
Bergaya
Bersolek
Berkaca
Atau lagi mabuk tak peduli
Sempatkah nuraniku bersih kembali
Dengan kesucian hati
Dan bertengger dijalan Mu
Yaa Rabbi………………..
Seperti terkoyak-koyak
Tak berdaya
Tak punya ambisi
Rasa hati ini tak kuasa lagi
berjalan…..
tertatih tatih
seperti inikah ?
Gersangnya nuraniku
Tak kuasa memeluk Mu
Yaa Rabbi…..
Begitu kecil ….. hamba Mu ini
Seakan tak ada lagi kesombongan diri
Bergaya
Bersolek
Berkaca
Atau lagi mabuk tak peduli
Sempatkah nuraniku bersih kembali
Dengan kesucian hati
Dan bertengger dijalan Mu
Yaa Rabbi………………..
KERINDUAN
Aku terjepit
Diantara puing-puing
Aku terjepit
Diantara reruntuhan kasih sayang
Yang pernah datang
Dalam lembaran hidupku
Kini hanya tinggal kenangan
Yang menggores tajam
Di lubuk hatiku dan
Serpihan kasih sayang
Yang kian sirna ditelan waktu
Diantara puing-puing
Aku terjepit
Diantara reruntuhan kasih sayang
Yang pernah datang
Dalam lembaran hidupku
Kini hanya tinggal kenangan
Yang menggores tajam
Di lubuk hatiku dan
Serpihan kasih sayang
Yang kian sirna ditelan waktu
KEMERDEKAAN
Jalan hidup berjalan apa adanya
Jauh dari berbagai rekayasa
Rekayasa meniadakan hakekatnya
Tersenyum dalam keterpasungkannya
Kemerdekaan negara harus berawal dari
Kemerdekaan individunya
Kemerdekaan individu
Membawa kemerdekaan negara
Apa arti kemerdekaan negara
Bila individu terjajah selamanya
Hakekat kemedekaan
Adalah adanya kebebasan
Yang semestinya bebas
Penjajahan adalah pengekang kebebasan
Bebas untuk berfikir
Berkreasi , beraktifitas
Dan juga berbicara
Kesalahan bukan berarti penjara
Akan tetapi pelajaran masa datang
Bila salah identik dengan hukuman
Kemerdekaan hanya fatamorgana
Kemerdekaan digincu omong kosong
Jauh dari berbagai rekayasa
Rekayasa meniadakan hakekatnya
Tersenyum dalam keterpasungkannya
Kemerdekaan negara harus berawal dari
Kemerdekaan individunya
Kemerdekaan individu
Membawa kemerdekaan negara
Apa arti kemerdekaan negara
Bila individu terjajah selamanya
Hakekat kemedekaan
Adalah adanya kebebasan
Yang semestinya bebas
Penjajahan adalah pengekang kebebasan
Bebas untuk berfikir
Berkreasi , beraktifitas
Dan juga berbicara
Kesalahan bukan berarti penjara
Akan tetapi pelajaran masa datang
Bila salah identik dengan hukuman
Kemerdekaan hanya fatamorgana
Kemerdekaan digincu omong kosong
Yogyakarta, 9 Agustus 1995
Muhammad Roqib
Muhammad Roqib
DOA UNTUK IBU
Ketika malam mencekam diri
Aku termenung sendiri
Aku ingat masa lalu
Aku ingat betapa besar
Pengorbananmu , ibu
Dengan susah payah kau melahirkan ku
Tak kau pikirkan hidup entah mati
Hanya diriku yang engkau nanti
Ibu … tiada emas dan permata
Yang bisa membeli kasihmu
Aku hanya bisa berbakti
Dan berdoa untukmu … , ibu
Aku termenung sendiri
Aku ingat masa lalu
Aku ingat betapa besar
Pengorbananmu , ibu
Dengan susah payah kau melahirkan ku
Tak kau pikirkan hidup entah mati
Hanya diriku yang engkau nanti
Ibu … tiada emas dan permata
Yang bisa membeli kasihmu
Aku hanya bisa berbakti
Dan berdoa untukmu … , ibu
AL QURAN KITABKU
Di dalammu …..
Memuat arti yang dalam
Adalah petunjuk seluruh manusia
Di bumi
Di dalammu ……
Terjaga kesucian
Dari dulu hingga akhir zaman
Dialah al – Quran ! … tersirat
Kemenangan
Kita sebagai muslim
Harus mengamalkan
Supaya termasuk golongan orang
Beriman
Aamiin
Memuat arti yang dalam
Adalah petunjuk seluruh manusia
Di bumi
Di dalammu ……
Terjaga kesucian
Dari dulu hingga akhir zaman
Dialah al – Quran ! … tersirat
Kemenangan
Kita sebagai muslim
Harus mengamalkan
Supaya termasuk golongan orang
Beriman
Aamiin
CERMIN
Di depan cermin itu
Aku berdiri tegak
Kulihat bayangan wajahku
Tak ada kedengkian disana
Di depan cermin itu
Kupejamkan mataku
Kulihat isi hatiku
Tak ada di sana sampah Imanku
Di depan cermin itu
Kupasrahkan segalanya
Kepada Tuhanku
Dekatkan diri kepada Nya
Kita kan jauh dari syaitan
Aku berdiri tegak
Kulihat bayangan wajahku
Tak ada kedengkian disana
Di depan cermin itu
Kupejamkan mataku
Kulihat isi hatiku
Tak ada di sana sampah Imanku
Di depan cermin itu
Kupasrahkan segalanya
Kepada Tuhanku
Dekatkan diri kepada Nya
Kita kan jauh dari syaitan
MENGGAPAI CITA-CITA
Segudang cita-cita
Kuangankan
Sedalam samudera terhampar
Setinggi gunung Himalaya
Seluas padang Sahara
Tuk menggapai masa depan
Nan cerah ceria
Tuk mengabdi
Kepada tanah tunpah darahku
Yaa Tuhan ….. !
Ridloilah aku
DIKALA BUKIT MENJERIT
Kuangankan
Sedalam samudera terhampar
Setinggi gunung Himalaya
Seluas padang Sahara
Tuk menggapai masa depan
Nan cerah ceria
Tuk mengabdi
Kepada tanah tunpah darahku
Yaa Tuhan ….. !
Ridloilah aku
DIKALA BUKIT MENJERIT
Kabut menyapa lirih
Berkata dalam angan
Berlalu tiada perduli
Menghias panorama
Kaki menginjak – injak
Tanganpun menjamah
Bukit kehilangan wibawa
Dikala bukit menjerit
Duniapun merana
Berkata dalam angan
Berlalu tiada perduli
Menghias panorama
Kaki menginjak – injak
Tanganpun menjamah
Bukit kehilangan wibawa
Dikala bukit menjerit
Duniapun merana
Media Sept. ‘93
MAHA RESI
Setumpuk buku kusam
Menyembul kecoak hitam
Sederet jenggot panjang
Bergerak perlahan – lahan
Baju kumal tak teratur
Itulah baju leluhur
Penjauh riak takabbur
Tak sempat karena tafakkur
Menyembul kecoak hitam
Sederet jenggot panjang
Bergerak perlahan – lahan
Baju kumal tak teratur
Itulah baju leluhur
Penjauh riak takabbur
Tak sempat karena tafakkur
Maha resi pinjamkan mata
Membuka mata yang sana
Membelah jarum dunia
Memotong yang tak akan luka
Membuka mata yang sana
Membelah jarum dunia
Memotong yang tak akan luka
Maha resi yang langka
Kalau ada dianggap hina
Tak berfikir logis dan nyata
Padahal, Dialah pemiliknya..
Kalau ada dianggap hina
Tak berfikir logis dan nyata
Padahal, Dialah pemiliknya..
Posted in Uncategorized
Posted on February 18, 2014 | Leave a comment
HUKUM RIMBA ADA DI KOTA
KELICIKAN KANCIL, MERAJALELA
KEKUASAAN NHARIAMAU, KIAN TERASA
PERSIS SEPERTI HUTAN BELANTARA
KELICIKAN KANCIL, MERAJALELA
KEKUASAAN NHARIAMAU, KIAN TERASA
PERSIS SEPERTI HUTAN BELANTARA
OLEH Drs.M.Rakib Ciptakarya
Pekanbaru Riau Indonesia
INDONESIA Kaya Raya dan Makmur,
Tapi RAKYATNYA Banyak yang mundur
LAPAR dan MISKIN, tiada tempat tidur,
Para koruptor, semakin subur.
Jakarta – KabarNet: Indonesia ialah negara hukum, katanya. Dalam konteks hukum, siapa pun yang belum diputus bersalah atas suatu kejahatan, dia seharusnya dianggap tidak bersalah dan negara berkewajiban melindunginya.
Peristiwa penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta, dan eksekusi terhadap empat tahanan di dalamnya oleh kelompok yang memiliki senjata Sabtu (23/3), membuat kita bertanya-tanya. Bertanya apakah kita masih pantas menyebut diri sebagai negara hukum bila orang-orang yang belum diputus bersalah oleh pengadilan harus dieksekusi mati?
Apakah kita akan terus menyebut diri sebagai negara hukum jika mereka yang memiliki senjata bisa semaunya menggunakan senjata itu untuk mengeksekusi orang tidak bersalah? Apakah negara ini sedang menuju negara hukum rimba ketika yang berkuasa atas senjata bisa berbuat semaunya?
Apakah kita tidak malu membangga-banggakan diri sebagai negara hukum bila negara gagal melindungi warga negara? Bagaimana pertanggungjawaban hukum negara kepada keluarga para korban?
Permintaan maaf saja jelas tidak cukup. Tidak ada jalan lain bagi pemerintah kecuali mengungkap kasus ini bila Indonesia masih ingin disebut negara hukum.
Sesungguhnya tidaklah sulit mengungkap perkara tersebut. Aparat bisa menelusuri dari profil para korban. Para korban ialah tersangka pembunuh anggota TNI mantan anggota Kopassus. Artinya, bukan tidak mungkin motif penyerangan LP dan eksekusi keempat tahanan bermotif balas dendam.
Aparat kemudian bisa menelusuri proses penyerangan dan eksekusi tahanan yang begitu cepat, rapi, terencana, terukur, dan detail. Hanya pasukan terlatih yang sanggup melakukannya.
Hal lain yang bisa ditelusuri ialah mengapa polisi menitipkan keempat tahanan berstatus tersangka itu ke LP? Apakah polisi mencium gelagat rekan-rekan anggota TNI korban pembunuhan bakal balas dendam dan menyerang markas polisi sehingga peristiwa penyerangan markas polisi di Baturaja, Sumsel, bisa terulang?
Petunjuk yang bisa ditelusuri untuk mengungkap kasus ini sudah lebih dari cukup. Tidak ada gunanya pejabat keamanan bersikap defensif atau bahkan mencoba menutup-nutupinya demi membela korps.
Kita marah dengan gerombolan bersenjata yang menyerang LP Sleman dan mengeksekusi empat tahanan di dalamnya. Namun, kita juga marah, sangat marah, kepada pejabat keamanan yang mencoba menutup-nutupinya dengan berlindung di balik penyelidikan yang katanya masih berlangsung.
Kita marah karena pejabat keamanan menganggap rakyat bisa dibodoh-bodohi di tengah fakta atau petunjuk yang begitu telanjang. Kita marah karena sang pejabat seperti lebih melindungi korps daripada rakyat.
Di tengah sikap defensif pejabat keamanan, Presiden perlu mengambil langkah konkret untuk memastikan kasus penyerangan LP Cebongan dan pembunuhan empat tahanan di dalamnya sungguh-sungguh terungkap.
Presiden tidak cukup hanya prihatin dan menginstruksikan pejabat keamanan mengungkap kasus tersebut. Rakyat menuntut Presiden sebagai pemimpin tertinggi untuk menjaga Indonesia tetap sebagai negara hukum, bukan negara hukum rimba. [KbrNet/Slm]
Editorial MI
Jakarta, Kompas.com — Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar mengatakan, semua unsur terkait di Polri dapat dilibatkan untuk mengusut kasus penyerangan lembaga pemasyarakatan di Cebongan, Sleman, Yogyakarta. Hal ini termasuk Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri yang biasa bergerak untuk mengungkap kasus terorisme.
“Pada prinsipnya, semua sumber daya di Polri dimafaatkan sebaik-baiknya untuk melakukan pengungkapan. Jadi, sumber daya Polri, termausk unsur-unsur yang diperbantukan Mabes Polri, harus dimanfaatkan untuk mendukung,” terang Boy di sela-sela Rakernis Humas Polri di Hotel Maharadja, Selasa (26/3/2013).
Selain itu, kepolisian juga berharap adanya informasi dari masyarakat yang dapat membantu penyelidikan. Masyarakat dapat menjadi saksi pada saat peristiwa maupun memberi keterangan tambahan mengenai identitas anggota Kopassus yang tewas dan empat pelaku penganiayaan yang akhirnya juga tewas ditembak kelompok bersenjata.
“Bantuan informasi dari masyarakat yang menyimpan info, jangan sampai ada info tidak digunakan. Jadi, kalau ada info bagus, penting, sangat baik dijadikan bahan,” kata Boy.
Kendala yang dihadapi penyidik ialah pelaku menggunakan penutup wajah saat melakukan aksinya. Mereka juga membawa serta seluruh CCTV lapas. Saat ini, kepolisian juga menunggu hasil uji balistik dari selongsong maupun proyektil yang ditemukan di lokasi. Boy menegaskan, saat ini bukan masalah berani atau tidak dalam mengungkap kasus itu. Namun, kepolisian harus mengumpulkan alat bukti untuk menemukan pelaku.
“Persoalan bukan takut, tidak takut, tapi harus ukur keberhasilan memperoleh petunjuk, informasi, alat bukti, yang kita perlukan mengungkap tindak pidana,” terangnya.
Seperti diberitakan, gerombolan bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat datang menyerang lapas, Sabtu (23/3/2013) dini hari. Dalam peristiwa itu, empat tersangka kasus pembunuhan anggota Kopassus, Sersan Satu Santosa, ditembak mati.
Keempatnya adalah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait. Serangan pelaku dinilai sangat terencana. Mereka melakukan aksinya dalam waktu 15 menit dan membawa CCTV lapas. Pelaku diduga berasal dari kelompok bersenjata yang terlatih.
INDONESIA Kaya Raya dan Makmur,
Tapi RAKYATNYA Banyak yang mundur
LAPAR dan MISKIN, tiada tempat tidur,
Para koruptor, semakin subur.
Jakarta – KabarNet: Indonesia ialah negara hukum, katanya. Dalam konteks hukum, siapa pun yang belum diputus bersalah atas suatu kejahatan, dia seharusnya dianggap tidak bersalah dan negara berkewajiban melindunginya.
Peristiwa penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta, dan eksekusi terhadap empat tahanan di dalamnya oleh kelompok yang memiliki senjata Sabtu (23/3), membuat kita bertanya-tanya. Bertanya apakah kita masih pantas menyebut diri sebagai negara hukum bila orang-orang yang belum diputus bersalah oleh pengadilan harus dieksekusi mati?
Apakah kita akan terus menyebut diri sebagai negara hukum jika mereka yang memiliki senjata bisa semaunya menggunakan senjata itu untuk mengeksekusi orang tidak bersalah? Apakah negara ini sedang menuju negara hukum rimba ketika yang berkuasa atas senjata bisa berbuat semaunya?
Apakah kita tidak malu membangga-banggakan diri sebagai negara hukum bila negara gagal melindungi warga negara? Bagaimana pertanggungjawaban hukum negara kepada keluarga para korban?
Permintaan maaf saja jelas tidak cukup. Tidak ada jalan lain bagi pemerintah kecuali mengungkap kasus ini bila Indonesia masih ingin disebut negara hukum.
Sesungguhnya tidaklah sulit mengungkap perkara tersebut. Aparat bisa menelusuri dari profil para korban. Para korban ialah tersangka pembunuh anggota TNI mantan anggota Kopassus. Artinya, bukan tidak mungkin motif penyerangan LP dan eksekusi keempat tahanan bermotif balas dendam.
Aparat kemudian bisa menelusuri proses penyerangan dan eksekusi tahanan yang begitu cepat, rapi, terencana, terukur, dan detail. Hanya pasukan terlatih yang sanggup melakukannya.
Hal lain yang bisa ditelusuri ialah mengapa polisi menitipkan keempat tahanan berstatus tersangka itu ke LP? Apakah polisi mencium gelagat rekan-rekan anggota TNI korban pembunuhan bakal balas dendam dan menyerang markas polisi sehingga peristiwa penyerangan markas polisi di Baturaja, Sumsel, bisa terulang?
Petunjuk yang bisa ditelusuri untuk mengungkap kasus ini sudah lebih dari cukup. Tidak ada gunanya pejabat keamanan bersikap defensif atau bahkan mencoba menutup-nutupinya demi membela korps.
Kita marah dengan gerombolan bersenjata yang menyerang LP Sleman dan mengeksekusi empat tahanan di dalamnya. Namun, kita juga marah, sangat marah, kepada pejabat keamanan yang mencoba menutup-nutupinya dengan berlindung di balik penyelidikan yang katanya masih berlangsung.
Kita marah karena pejabat keamanan menganggap rakyat bisa dibodoh-bodohi di tengah fakta atau petunjuk yang begitu telanjang. Kita marah karena sang pejabat seperti lebih melindungi korps daripada rakyat.
Di tengah sikap defensif pejabat keamanan, Presiden perlu mengambil langkah konkret untuk memastikan kasus penyerangan LP Cebongan dan pembunuhan empat tahanan di dalamnya sungguh-sungguh terungkap.
Presiden tidak cukup hanya prihatin dan menginstruksikan pejabat keamanan mengungkap kasus tersebut. Rakyat menuntut Presiden sebagai pemimpin tertinggi untuk menjaga Indonesia tetap sebagai negara hukum, bukan negara hukum rimba. [KbrNet/Slm]
Editorial MI
Jakarta, Kompas.com — Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar mengatakan, semua unsur terkait di Polri dapat dilibatkan untuk mengusut kasus penyerangan lembaga pemasyarakatan di Cebongan, Sleman, Yogyakarta. Hal ini termasuk Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri yang biasa bergerak untuk mengungkap kasus terorisme.
“Pada prinsipnya, semua sumber daya di Polri dimafaatkan sebaik-baiknya untuk melakukan pengungkapan. Jadi, sumber daya Polri, termausk unsur-unsur yang diperbantukan Mabes Polri, harus dimanfaatkan untuk mendukung,” terang Boy di sela-sela Rakernis Humas Polri di Hotel Maharadja, Selasa (26/3/2013).
Selain itu, kepolisian juga berharap adanya informasi dari masyarakat yang dapat membantu penyelidikan. Masyarakat dapat menjadi saksi pada saat peristiwa maupun memberi keterangan tambahan mengenai identitas anggota Kopassus yang tewas dan empat pelaku penganiayaan yang akhirnya juga tewas ditembak kelompok bersenjata.
“Bantuan informasi dari masyarakat yang menyimpan info, jangan sampai ada info tidak digunakan. Jadi, kalau ada info bagus, penting, sangat baik dijadikan bahan,” kata Boy.
Kendala yang dihadapi penyidik ialah pelaku menggunakan penutup wajah saat melakukan aksinya. Mereka juga membawa serta seluruh CCTV lapas. Saat ini, kepolisian juga menunggu hasil uji balistik dari selongsong maupun proyektil yang ditemukan di lokasi. Boy menegaskan, saat ini bukan masalah berani atau tidak dalam mengungkap kasus itu. Namun, kepolisian harus mengumpulkan alat bukti untuk menemukan pelaku.
“Persoalan bukan takut, tidak takut, tapi harus ukur keberhasilan memperoleh petunjuk, informasi, alat bukti, yang kita perlukan mengungkap tindak pidana,” terangnya.
Seperti diberitakan, gerombolan bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat datang menyerang lapas, Sabtu (23/3/2013) dini hari. Dalam peristiwa itu, empat tersangka kasus pembunuhan anggota Kopassus, Sersan Satu Santosa, ditembak mati.
Keempatnya adalah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait. Serangan pelaku dinilai sangat terencana. Mereka melakukan aksinya dalam waktu 15 menit dan membawa CCTV lapas. Pelaku diduga berasal dari kelompok bersenjata yang terlatih.
APAKAH GENERASI MENDATANG AKAN TETAP
PEMALAS?
LIHAT KURIKULUM PENDIDIKAN DASARNYA…
Drs.M.Rakib Ciptakarya Pekanbaru Riau. 2014
LIHAT KURIKULUM PENDIDIKAN DASARNYA…
Drs.M.Rakib Ciptakarya Pekanbaru Riau. 2014
Kurikulum dasar, tanpa keterampilan
Cinta kerja, tidak terwariskan.
Muncul berbagai bentuk, kemalasan
Generasi manja, penghancur masa depan.
Cinta kerja, tidak terwariskan.
Muncul berbagai bentuk, kemalasan
Generasi manja, penghancur masa depan.
Penulis adalah widyaiswara
pendidikan di LPMP Riau Indonesia. Setelah menjadi penatar guru-guru belasan
tahun, ada bayangan tentang sikap malas yang terditeksi. Dulu orang Belanda
menyatakan” Malas: orang Indonesia merupakan masyarakat yang relatif malas.
Orang Indonesia tidak suka mengeluarkan seluruh kemampuannya dalam bekerja.
Hal ini dapat terlihat dari daya saing dan produktivitas bangsa Indonesia yang semakin rendah baik di pemerintahan, industri, ekonomi, maupun sosial budaya.Tidak disiplin: apapun yang sudah dijadwalkan tidak sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan, tidak disiplin atau belum punya kesadaran diri menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta terlambat adalah hal yang biasa dan “peraturan ada untuk dilanggar”.
Korup: korupsi telah mengakar dan sudah sangat sulit untuk dihilangkan mulai dari institusi yang rendah sampai yang paling tinggi. Hal ini tercermin dari image Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat korupsi yang tinggi di dunia.
Emosional: cenderung cepat sekali tersulut emosinya, sering salah paham dan kurang mengerti suatu permasalahan tapi mudah marah dan main hakim sendiri. Hal inilah yang memicu munculnya konflik-konflik di daerah disebabkan adanya karakter tempramental.
Individualis: dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya yang hidup di perkotaan bersifat individualis. Hal ini dapat dilihat dari kesenjangan antara yang kaya dan miskin. Individualis juga dapat tercermin dari sikap masa bodoh, kurang peduli terhadap sesama, dan lingkungan hidup.
Suka meniru: Indonesia terkenal sebagai pembajak dan selalu meniru persis, atau serupa dengan aslinya, tidak kreatif untuk membuat sesuatu yang baru, lebih senang untuk meniru dari negara-negara lain dari pada berkreasi untuk menemukan hal-hal baru.
Rendah diri: orang Indonesia sebenarnya mempunyai potensi yang besar terhadap ilmu pengetahuan, tetapi terkadang tidak percaya diri untuk mengungkapkan. Terkadang atau malah seringkali takut untuk mengungkapkan pendapatnya..
Hal ini dapat terlihat dari daya saing dan produktivitas bangsa Indonesia yang semakin rendah baik di pemerintahan, industri, ekonomi, maupun sosial budaya.Tidak disiplin: apapun yang sudah dijadwalkan tidak sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan, tidak disiplin atau belum punya kesadaran diri menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta terlambat adalah hal yang biasa dan “peraturan ada untuk dilanggar”.
Korup: korupsi telah mengakar dan sudah sangat sulit untuk dihilangkan mulai dari institusi yang rendah sampai yang paling tinggi. Hal ini tercermin dari image Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat korupsi yang tinggi di dunia.
Emosional: cenderung cepat sekali tersulut emosinya, sering salah paham dan kurang mengerti suatu permasalahan tapi mudah marah dan main hakim sendiri. Hal inilah yang memicu munculnya konflik-konflik di daerah disebabkan adanya karakter tempramental.
Individualis: dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya yang hidup di perkotaan bersifat individualis. Hal ini dapat dilihat dari kesenjangan antara yang kaya dan miskin. Individualis juga dapat tercermin dari sikap masa bodoh, kurang peduli terhadap sesama, dan lingkungan hidup.
Suka meniru: Indonesia terkenal sebagai pembajak dan selalu meniru persis, atau serupa dengan aslinya, tidak kreatif untuk membuat sesuatu yang baru, lebih senang untuk meniru dari negara-negara lain dari pada berkreasi untuk menemukan hal-hal baru.
Rendah diri: orang Indonesia sebenarnya mempunyai potensi yang besar terhadap ilmu pengetahuan, tetapi terkadang tidak percaya diri untuk mengungkapkan. Terkadang atau malah seringkali takut untuk mengungkapkan pendapatnya..
Mitos Melayu Pemalas Antara Melayu
Sumatra dan Melayu Malaysia
Kata orang Melayu Malysia “Sekurang-kurangnya sekali dalam hidup, seseorang anak Melayu akan mendengar frasa itu. Tetapi biasanya dia mendengar lebih daripada sekali. Selalunya berpuluh atau beratus kali!”
Frasa yang menyakitkan itu memang cukup tersohor. Ia telah sampai ke segenap penjuru alam. Tidak sedikit orang asing yang mengenali Melayu melalui tulisan atau cakap orang mempercayai bahawa pemalas itu adalah sifat semulajadi manusia Melayu. Jangan hairan kalau ada di kalangan mereka yang mendefinasikan Melayu sebagai ‘sebangsa manusia pemalas yang mendiami suatu kawasan di tenggara Asia.’
Yang menariknya, mitos Melayu malas ini lebih tertumpu pada orang-orang Melayu di Malaysia saja. Bangsa Melayu di tempat lain bagaikan terkecuali. Malah orang Melayu Deli dan Kampar, misalnya sentiasa dilihat lebih rajin daripada kita di sini. Bagi sesetengah orang Melayu rumpun Jawa pula, kita orang Melayu Malaysia, bukanlah jenis sahabat yang sesuai dijadikan teman dan bukanlah kawan yang baik untuk diajak mencari makan. Kita, bagi mereka, tidak cukup rajin.
Kata orang Melayu Malysia “Sekurang-kurangnya sekali dalam hidup, seseorang anak Melayu akan mendengar frasa itu. Tetapi biasanya dia mendengar lebih daripada sekali. Selalunya berpuluh atau beratus kali!”
Frasa yang menyakitkan itu memang cukup tersohor. Ia telah sampai ke segenap penjuru alam. Tidak sedikit orang asing yang mengenali Melayu melalui tulisan atau cakap orang mempercayai bahawa pemalas itu adalah sifat semulajadi manusia Melayu. Jangan hairan kalau ada di kalangan mereka yang mendefinasikan Melayu sebagai ‘sebangsa manusia pemalas yang mendiami suatu kawasan di tenggara Asia.’
Yang menariknya, mitos Melayu malas ini lebih tertumpu pada orang-orang Melayu di Malaysia saja. Bangsa Melayu di tempat lain bagaikan terkecuali. Malah orang Melayu Deli dan Kampar, misalnya sentiasa dilihat lebih rajin daripada kita di sini. Bagi sesetengah orang Melayu rumpun Jawa pula, kita orang Melayu Malaysia, bukanlah jenis sahabat yang sesuai dijadikan teman dan bukanlah kawan yang baik untuk diajak mencari makan. Kita, bagi mereka, tidak cukup rajin.
Pendeknya, secara langsung atau
tidak, kita telah diterima sebagai bangsa yang pemalas, hatta oleh rakan-rakan
yang serumpun dengan kita sendiri.
Kenapa?
Sering terjadi apabila frasa itu timbul, kita – hampir semua Melayu – akan menghalakan tudingan kepada Munsyi Abdullah, jurutulis dan khadam nombor satu Stamford Raffles. Kebanyakan kita percaya bahawa tulisan-tulisan Munsyi Abdullah telah menjadi racun yang telah merosakkan fikiran dan pandangan semua orang terhadap keperibadian Melayu. Dia, Munsyi Abdullah, oleh sesetengah kita, telah diangkat sebagai musuh besar setiap Melayu.
Selain daripada menuduh Abdullah menulis begitu kerana disuruh oleh Raffles, yang mahu melaksanakan agenda kolonialnya dengan bertujuan meranapkan kehormatan masyarakat pribumi, kita jarang bertanya apakah yang ditulis oleh Munsyi itu seratus peratus salah?
Memang benar, Munsyi Abdullah adalah khadam belaan penjajah. Mungkin benar keinginan yang luar biasa untuk menyekutukan dirinya dengan tuan besar dan atas angin telah menyebabkan dia berasa dirinya terlalu istimewa, dan terpisah terus daripada cara hidup Melayu, yang dilihatnya penuh dengan kelekaan dan kealpaan.
Tetapi bolehkah dia mereka-rekakan kenyataan-kenyataan tentang sikap orang Melayu tanpa asas dan bukti yang kukuh? Setakat sekarang ini, apakah segala yang ditulis oleh Munsyi itu karut belaka?
Jawablah, dengan akal yang waras dan dengan hati yang ikhlas.
Dalam membincangkan isu ini, perkara paling pokok yang harus kita semua fikirkan ialah bagaimanakah kepercayaan bahawa Melayu itu pemalas boleh timbul? Di mana puncanya?
Tulisan Munsyi Abdullah atau lain-lain orientalis barat hanyalah sebahagian daripada sebab. Memanglah budaya penjajahan pada bila-bila masa pun akan disulami dengan cerita buruk tentang anak pribumi. Penjajah, dalam usaha menegakkan kedaulatan mereka, akan bersusah payah mencipta kehebatan sendiri dan memperlekehkan kumpulan yang dijajah. Red Indian dikatakan bangsa yang liar dan jahat oleh tukang-tukang cerita Amerika. Aborigines di Australia dituduh pemalas dan hidup bersandarkan takdir oleh anak cucu lanun yang menjadi penjajah benua Australia; malah orang-orang Scotland dan Ireland, yang serumpun dengan Inggeris itu pun, sampai sekarang masih sering dijadikan bahan jenaka di London.
Tetapi semua tohmah yang bersifat memburuk-burukkan anak pribumi itu biasanya boleh berdiri tegak sehingga menjadi semacam kepercayaan disebabkan oleh ‘sokongan’ yang diberi oleh anak-anak pribumi tersebut sendiri. Dengan perkataan lain, sikap, cara dan tindakan mereka selalunya mendorong orang beranggapan apa yang dicanangkan itu adalah betul dan benar.
Dalam hal ini, orang Melayu di Malaysia tidak terkecuali. Kalau orang lain mempunyai sepuluh sebab untuk mengatakan kita ini malas, kita sendiri menyediakan seribu sebab untuk membenarkan kenyataan mereka. Sebab-sebab itu bukanlah berpunca daripada kemalasan kita, tetapi lebih didorong oleh kealpaan kita. Kealpaanlah yang meletakkan Melayu dalam jaket yang dipakainya. Kealpaanlah yang menjadikan Melayu lemah. Kealpaan jugalah yang menyebabkan daya saing Melayu seringkali dipersoalkan.
Mahathir, sejak sebelum kelahiran ‘Dilema Melayu’nya beranggapan kelemahan Melayu lebih berpunca daripada faktor-faktor keturunan dan alam sekitar. Profesor Diraja Ungku Aziz pula menyanggah pandangan itu dengan berkata, Melayu sebenarnya mewarisi sifat rendah din sejak turun temurun.
Sama seperti orang lain, saya tidak tahu pendapat mana yang patut dipakai. Kedua-duanya kelihatan betul, tetapi kedua-duanya juga kelihatan tidak betul.
Hendak dikatakan Melayu lemah kerana pengaruh keturunan, terbukti mereka yang berketurunan Melayu telah pernah berjaya pada masa-masa dahulu. Mereka telah berupaya membina tamadun, telah mampu menjadi pelayar-pelayar agung dan telah terbukti menjadi kuasa yang disegani.
Sekarang ini pun banyak yang berketurunan Melayu mencipta kejayaan, baik di sini mahupun di tempat lain. Di Afrika Selatan, Melayu adalah kelompok manusia kaya yang berpengaruh besar di bidang ekonomi. Di Filipina, Melayu adalah pejuang-pejuang yang berani dan disegani. Di sana sini, anak-anak Melayu yang membawa diri mampu bersaing dan bangkit menjadi orang yang berjaya. Di England, ada anak Melayu telah naik martabatnya sehingga menjadi Datuk Bandar.
Di Hollywood, seorang lagi anak Melayu bergerak naik di celah nama ribuan manusia lain untuk berdiri sebagai karyawan yang dihormati dalam teknologi animasi komputer. Malah studio di mana berlangsungnya penggambaran bagi siri filem-filem James Bond yang terkenal itu pun dikatakan milik anak Melayu!
Persekitaran, di mana-mana dan pada bila-bila masa pun, memanglah merupakan faktor besar yang mempengaruhi kehidupan. Hukum ini tidak sahaja terbatas kepada manusia, tetapi juga mencakupi segala makhluk lain. Anak benih pokok yang sedang membesar sekalipun akan condong mengikut arah datangnya cahaya.
Dalam ‘Dilema Melayu’, Mahathir mengulas bagaimana persekitaran yang melingkungi kehidupan mereka menyebabkan orang Melayu kurang berminat untuk bersaing. Beliau beranggapan tanah semenanjung yang subur telah menyediakan segala-galanya untuk orang Melayu hidup selesa.
“Pendeknya alam keliling menjamin keperluan makanan yang mencukupi untuk menampung seluruh penduduk sepanjang tahun. Kelaparan dan kebuluran yang sentiasa mengancam negeri-negeri lain, seperti Negeri China, tidak terdapat di Tanah Melayu. Dalam keadaan begini maka semua orang dapat terus hidup. Malahan mereka yang paling lemah dan paling malas juga boleh hidup dengan selesa dan dapat berkahwin dan beranak pinak. Dalam keadaan yang begini tidak dapat hendak dikatakan bahawa cuma mereka yang paling kuat dapat terus hidup. Oleh kerana terdapat banyaknya bahan makanan maka orang yang lemah juga akan dapat terus hidup.” (DILEMA MELAYU, ms.25).
Ada benarnya pendapat itu. Tetapi ianya menjadi kurang benar apabila mengambil kira bagaimana keadaan serba kurang di negara-negara seperti Bangladesh, Nepal dan Bhutan juga gagal melahirkan bangsa yang kuat berdaya saing. Kebanyakan tanah di benua Afrika boleh dikatakan gersang dan tidak subur. Ia menuntut setiap orang yang mahu hidup di atas buminya mempunyai ketahanan yang luar biasa. Penduduk-penduduk pribumi Afrika biasanya mempunyai ketahanan itu. Persekitaran mereka hanya membuka pintu pada yang kuat sahaja untuk hidup selesa.
Tetapi kenapa mereka gagal berkembang sebagai bangsa yang besar, hebat dan kuat ? Kenapa anak cucu mereka yang terlontar ke Amerika, atau ke segala penjuru dunia yang lain, gagal mengangkat ketahanan itu untuk dijadikan aset yang boleh menjanjikan kegemilangan pada bangsa mereka? Kenapa?
Memanglah benar orang-orang Melayu, pada peringkat awal penempatannya di Semenanjung ini, lebih tertumpu ke kawasan-kawasan dataran yang subur. Mereka menghuni kawasan pesisir sungai dan pantai yang menjanjikan mereka kesuburan dan kemakmuran. Mereka tidak begitu berminat untuk meneroka bukit bukau dan hutan belantara bagi menambah sumber kesuburan dan kemakmuran tersebut. Hasil daripada keadaan itu timbul suatu tanggapan bahawa orang Melayu lebih suka pada kehidupan yang mudah. Mereka telah terasuh untuk menjadi begitu. Mereka telah dimanjakan oleh alam sekeliling. Mereka lebih senang menerima apa yang ada daripada berusaha mencari sesuatu yang baru.
Namun siapakah yang berani bertaruh untuk berkata bahawa peneroka bukit bukau itu mempunyai keupayaan bersaing yang lebih hebat daripada pemastautin di kawasan kawasan dataran yang subur? Tertumpu pada kawasan pesisir sungai yang subur untuk membina penempatan bukanlah terbatas pada orang Melayu sahaja. Ia merupakan amalan lazim zaman berzaman. Hampir semua tamadun besar terbina di kawasan seperti itu. Nil, Yang Tze dan Ganges tidak akan menjadi terkenal kalau bukan kerana disokong oleh kebangkitan tamadun-tamadun di pinggirnya.
Mencari kesenangan secara mudah bukanlah setakat sifat semulajadi orang Melayu. Ianya fitrah semua bangsa. Semua manusia. Sebab itu bukan pelik jika manusia pada zaman dahulu berebut untuk tinggal di kawasan pinggir sungai yang tidak sahaja menyediakan tanah yang subur, tetapi juga pelbagai kemudahan lain, termasuk mendapatkan bekalan air dan untuk dijadikan laluan pengangkutan. Orang-orang Cina yang baru datang ke Tanah Melayu pada era awal penghijrahan mereka dahulu pun memilih kawasan pinggir sungai untuk bermastautin.
Jika mendiami kawasan-kawasan yang subur itu menyebabkan orang Melayu terasuh untuk menjadi tidak rajin berusaha, maka soalan yang patut ditanya ialah kenapa orang-orang China di pinggir Yang Tze, dan kemudiannya di pinggir Sungai Kelang dan Sungai Gombak tidak pula menjadi malas? Kenapa bangsa-bangsa lain yang turut berkembang biak di kawasan yang serupa tidak menjadi selemah bangsa Melayu? Dan pada masa yang sama patut pula ditanya, mengapa ‘raja-raja bukit’ seperti orang-orang Karen di Burma tidak menjadi bangsa yang hebat sedangkan mereka adalah jenis orang yang sanggup bekerja keras meneroka rimba jerun yang tidak berani dijengah oleh manusia lain?
Banyak orang yang bersependapat dengan Mahathir, yang lewat ‘Dilema Melayu’nya berkata, iklim panas dan lembap di negara ini juga tidak begitu menggalakkan (orang Melayu) untuk melakukan kerja-kerja yang berat. Ia juga tidak merangsang pemikiran mereka untuk menjadi lebih aktif.
Sewaktu menulis fasa-frasa itu Mahathir barangkali terlupa untuk bertanya, kenapa dalam cuaca yang panas dan lembap,orang lain, yang bukan Melayu boleh melakukan kerja-kerja berat dan boleh berfikir secara aktif? Kenapa kesan buruk cuaca itu hanya mempengaruhi orang Melayu bukannya bangsa-bangsa lain? Bagaimana pula halnya dengan orang-orang Mesir Purba yang hidup dalam keadaan serba kontang dan serba kurang, namun mampu membina tamadun besar? Tidakkah cuaca yang panas juga sepatutnya menyebabkan orang-orang Arab tidak mampu berbuat apa-apa selain daripada duduk berbual di bawah pohon-pohon kurma?
Keturunan mungkin mempunyai pengaruhnya. Namun ada banyak contoh untuk dijadikan bukti bahawa ia bukan penyebab mutlak ke arah menentukan maju mundurnya sesuatu bangsa. Janji Allah bahawa Dia tidak akan mengubah nasib sesuatu bangsa melainkan bangsa itu sendiri mengubahnya adalah suatu isyarat yang amat jelas bahawa setiap manusia ini dijadikan dengan kemampuan yang sama. Biar dari perdu mana pun seseorang itu lahir, dia berupaya naik ke puncak jika usahanya ke arah itu dilakukan secara sungguh-sungguh. Teori genetik tidak selamanya benar terutama dalam soal menentukan masa depan seseorang manusia atau sesuatu rumpun bangsa. Tuhan akan menjadi sangat tidak adil kalau menentukan karma manusia dengan bakanya. Sesungguhnya tidak adil itu bukanlah sifat Tuhan.
Bangsa-bangsa yang besar dan kuat suatu masa dahulu banyak yang lenyap dan ranap walaupun daripada segi teori mereka memiliki baka yang hebat. Ke mana perginya wira-wira Monggol? Ke mana hilangnya anak cucu Socrates atau Aristotle? Jika hendak dikatakan mereka pupus kerana faktor putaran masa, kenapa anak cucu Shih-Huang Ti masih ada? Kenapa anak cucu pelopor Tamadun China masih sehebat dahulu?
Pendapat tentang sifat semulajadi Melayu yang dibelenggu rasa rendah diri juga mempunyai banyak ruang untuk dipertikaikan. Yang paling penting untuk ditanya ialah, kenapa sifat itu harus ada dan adakah ianya cuma hakmilik istimewa bangsa Melayu?
Kalau dikatakan sifat rendah diri itu lahir secara semulajadi, apakah buktinya? Atas alasan apakah Tuhan memilih orang Melayu untuk diabadikan dengan sifat-sifat itu?
Ada orang berpendapat sifat rendah diri ini datang ke sanubari orang Melayu selepas mereka menganut Islam. Nenek moyang orang Melayu dahulu menganggap diri mereka orang yang jahil dalam ilmu-ilmu akhirat. Oleh itu, setiap kali berhadapan dengan pendakwah-pendakwah Islam yang berilmu tinggi, terutama yang datang daripada Asia Barat, mereka akan dibelenggu oleh rasa ‘kecil’ dan rasa untuk ‘merendah’. Lama-kelamaan perasaan itu berkembang biak lalu terbina menjadi suatu tabiat.
Soalnya, kalaupun betul, kenapa perkara begitu hanya terjadi pada orang Melayu? Kenapa orang Putih yang baru memeluk Islam tidak berasa rendah diri? Kenapa orang India, orang China, orang Parsi dan segala macam orang lain tidak mempunyai perasaan yang sama sedangkan hakikatnya tatkala mula memeluk Islam mereka sudah pasti berada dalam situasi yang sama dengan orang Melayu – berasa kecil dan jahil?
Satu lagi andaian popular ialah perasaan rendah diri orang Melayu ini berpunca daripada salah tanggapan terhadap ajaran Islam. Ketaatan kepada Islam menyebabkan Melayu mentafsirkan nilai toleransi yang dituntut oleh Islam dengan perspektif yang sempit. Mereka juga menerima hukum qada dan qadar dengan cara berfikir yang jumud. Konsep keredhaan mereka ada kalanya melebihi tahap yang dituntut sehingga menyebabkan mereka bersikap ‘tidak apa’ dalam segala perkara. Himpunan daripada semua inilah akhirnya menyebabkan orang Melayu berasa mereka tidak perlu bersaing dan bersikap pasrah kepada kehidupan.
Tetapi sekali lagi persoalannya ialah kenapa anggapan begitu cuma timbul di jiwa orang Melayu? Kenapa bangsa lain yang menganut Islam tidak mempunyai tanggapan dan pemikiran yang sama? Mengapa orang China Islam dan orang India Muslim tidak dibelenggu oleh kejumudan tersebut sedangkan mereka juga tidak kurang taatnya berbanding dengan kita?
Saya sengaja timbulkan soalan-soalan ini kerana saya tahu tiada sesiapa yang akan dapat menjawabnya.
Melayu secara umumnya berada dalam satu posisi yang cukup unik, dan cukup kronik, sehingga tiada mana-mana pengkaji dapat memberikan jawapan mutlak terhadap masalah yang membelenggu kehidupan mereka, khususnya dalam aspek yang membabitkan sikap dan tabiat. Apa juga andaian tentang mereka sampai bila-bila pun akan tinggal sebagai hepotitis yang tidak akan bertukar menjadi teori.
Keunikan peribadi Melayu ini berkemungkinan besar dipengaruhi oleh banyak faktor. Kedudukan bumi Melayu yang terdedah pada segala macam elemen budaya, latar belakang bangsa yang berkembang daripada penganut animisme kepada penganut Islam yang taat, semuanya sama-sama memainkan peranan untuk menjadikan Melayu satu bangsa yang agak berkecamuk akal fikirannya. Perhatikanlah mana-mana juga Melayu, di dalam dirinya pasti terpancar seribu wajah. Pada tubuhnya tersembunyi unsur Arab, unsur Mamak, unsur orang Putih dan seribu satu unsur lain yang bercampur aduk.
Keperibadian yang berbagai-bagai inilah menyebabkan Melayu menjadi begitu sukar difahami. Dan ketidakfahaman itu menjadi punca terhadap timbulnya pelbagai salah tanggapan terhadap mereka.
‘Melayu pemalas’ adalah rentetan daripada salah tanggapan itu. Orang-orang asing yang gagal memahami susur galur Melayu dengan mudah akan berasa hairan kenapa Melayu boleh menjadi warga kelas dua di bumi yang subur ini. Mereka lalu beranggapan ianya berlaku kerana Melayu tidak rajin.
Silap orang Melayu ialah mereka tidak pernah berusaha memberi kefahaman tentang asal usul mereka kepada orang lain. Sebaliknya, mereka dengan penuh kealpaan hanya menerima bulat-bulat teori yang orang lain sogokkan kepada mereka. Paling Iebih, sekiranya pendapat itu kurang memihak pada mereka, sebahagian daripada orang Melayu mungkin akan marah-marah.
Semua ini tidak akan berlaku kalau orang Melayu mempunyai hubungkait yang kuat dengan akar umbi bangsanya. Mereka tidak akan berasa susah untuk meyakinkan orang lain bahawa Melayu sebenarnya bangsa yang hebat jika mereka rajin mencungkil, mengenang dan menghargai sejarah kehebatan datuk nenek mereka. Tidak susah untuk membuka mata orang asing bagi mengakui bahawa lebih seribu tahun dahulu tamadun-tamadun Melayu telah berkembang biak, telah menjadi gah dan tersohor di nusantara. Dan bangsa yang pemalas sudah tentu tidak akan mampu membina tamadun-tamadun seumpama itu.
Tamadun Greek sudah lama punah. Ranap sama sekali. Greece sekarang hanya tinggal tersepit sebagai sebuah negara kecil di pinggir Mediterranean dan Laut Ageans. Tetapi cubalah anda berkunjung ke Athens. Anda pasti akan dapat mendengar orang-orangnya bercerita seolah-olah Julius Caesar dan Pompei baru meninggal dunia pagi semalam.
Cubalah berkunjung ke China dan dengar sendiri bagaimana anak-anak negerinya bercerita tentang Tembok Besar, tentang Shih-Huang Ti atau tentang Confusius. Bunyinya seolah-olah mereka pernah hidup di era itu. Mereka jelas berbangga dengan apa yang mereka pernah ada.
Kita?
Sementara majoriti orang Melayu tidak pernah tahu di mana letaknya Lembah Bujang, sebahagian besar yang lain pula berkunjung ke Melaka untuk melihat simbol kekuatan Portugis iaitu A Famosa, bukannya untuk menjengah simbol ketuanan Melayu seperti Perigi Hang Tuah atau Makam Hang Jebat. Untuk melihat tingginya seni pertukangan Melayu di Istana Seri Menanti yang tidak berpaku itu pun kita terasa berat hati.
Tidak banyak di kalangan kita yang boleh bercerita tentang kegemilangan silam anak bangsanya. Apabila bercerita pada anak cucu, kita lebih seronok mengulangi kisah ‘Cinderella’ atau ‘Snow White’. Kita biasakan anak-anak kita dengan nama Robin Hood dan Kapten Cook bukannya dengan nama Hang Nadim atau Tun Teja. Kita seolah-olah tidak pernah berbangga dengan apa yang kita ada.
Orang lain sanggup menghabiskan berjuta ringgit untuk mencari sesuatu yang boleh menghidupkan kembali kegemilangan bangsanya. Dalam kes tertentu, mereka malah sanggup mengubah fakta yang ada dan mencipta fakta-fakta baru yang palsu. Mereka melakukannya kerana sayangkan bangsa.
Kita tidak begitu. Kita boleh menghabiskan cukup banyak wang untuk membiayai rombongan ke luar negara, tetapi kita akan ‘berkira’ untuk membina sesuatu yang boleh menghubungkan generasi sekarang dengan masa silamnya.
Pahit atau tidak, kita perlu mengaku bahawa apa yang dilakukan setakat ini belum cukup untuk menggambarkan terima kasih kita pada generasi terdahulu. Apa yang ada itu belum memadai untuk menghidupkan jiwa Melayu sebagaimana hidupnya jiwa orang Amerika setiap kali melihat ‘Statue of Liberty’.
Usahlah melihat terlalu jauh ke belakang. Lihat sahajalah bagaimana kita menghargai Tuk Gajah, Mat Kilau, Tuk Janggut atau pejuang-pejuang selepas mereka. Malah setakat manakah sumbangan kita kepada pejuang-pejuang kemerdekaan selain daripada Datuk Onn dan Tunku Abdul Rahman? Hendak membukukan sejarah perjuangan mereka pun tidak banyak pihak yang sanggup.
Berdasarkan apa yang ada tergambar jelas yang kita bagaikan tidak menghargai kebolehan orang-orang yang dahulu daripada kita. Kita tak pernah ambil kisah. Kita tak pernah peduli. Kita alpa dalam menghargai sumbangan mereka.
Dan apabila kita alpa menghargai bangsa sendiri, bagaimanakah kita boleh mengharapkan orang lain menghargai kita?
Kenapa?
Sering terjadi apabila frasa itu timbul, kita – hampir semua Melayu – akan menghalakan tudingan kepada Munsyi Abdullah, jurutulis dan khadam nombor satu Stamford Raffles. Kebanyakan kita percaya bahawa tulisan-tulisan Munsyi Abdullah telah menjadi racun yang telah merosakkan fikiran dan pandangan semua orang terhadap keperibadian Melayu. Dia, Munsyi Abdullah, oleh sesetengah kita, telah diangkat sebagai musuh besar setiap Melayu.
Selain daripada menuduh Abdullah menulis begitu kerana disuruh oleh Raffles, yang mahu melaksanakan agenda kolonialnya dengan bertujuan meranapkan kehormatan masyarakat pribumi, kita jarang bertanya apakah yang ditulis oleh Munsyi itu seratus peratus salah?
Memang benar, Munsyi Abdullah adalah khadam belaan penjajah. Mungkin benar keinginan yang luar biasa untuk menyekutukan dirinya dengan tuan besar dan atas angin telah menyebabkan dia berasa dirinya terlalu istimewa, dan terpisah terus daripada cara hidup Melayu, yang dilihatnya penuh dengan kelekaan dan kealpaan.
Tetapi bolehkah dia mereka-rekakan kenyataan-kenyataan tentang sikap orang Melayu tanpa asas dan bukti yang kukuh? Setakat sekarang ini, apakah segala yang ditulis oleh Munsyi itu karut belaka?
Jawablah, dengan akal yang waras dan dengan hati yang ikhlas.
Dalam membincangkan isu ini, perkara paling pokok yang harus kita semua fikirkan ialah bagaimanakah kepercayaan bahawa Melayu itu pemalas boleh timbul? Di mana puncanya?
Tulisan Munsyi Abdullah atau lain-lain orientalis barat hanyalah sebahagian daripada sebab. Memanglah budaya penjajahan pada bila-bila masa pun akan disulami dengan cerita buruk tentang anak pribumi. Penjajah, dalam usaha menegakkan kedaulatan mereka, akan bersusah payah mencipta kehebatan sendiri dan memperlekehkan kumpulan yang dijajah. Red Indian dikatakan bangsa yang liar dan jahat oleh tukang-tukang cerita Amerika. Aborigines di Australia dituduh pemalas dan hidup bersandarkan takdir oleh anak cucu lanun yang menjadi penjajah benua Australia; malah orang-orang Scotland dan Ireland, yang serumpun dengan Inggeris itu pun, sampai sekarang masih sering dijadikan bahan jenaka di London.
Tetapi semua tohmah yang bersifat memburuk-burukkan anak pribumi itu biasanya boleh berdiri tegak sehingga menjadi semacam kepercayaan disebabkan oleh ‘sokongan’ yang diberi oleh anak-anak pribumi tersebut sendiri. Dengan perkataan lain, sikap, cara dan tindakan mereka selalunya mendorong orang beranggapan apa yang dicanangkan itu adalah betul dan benar.
Dalam hal ini, orang Melayu di Malaysia tidak terkecuali. Kalau orang lain mempunyai sepuluh sebab untuk mengatakan kita ini malas, kita sendiri menyediakan seribu sebab untuk membenarkan kenyataan mereka. Sebab-sebab itu bukanlah berpunca daripada kemalasan kita, tetapi lebih didorong oleh kealpaan kita. Kealpaanlah yang meletakkan Melayu dalam jaket yang dipakainya. Kealpaanlah yang menjadikan Melayu lemah. Kealpaan jugalah yang menyebabkan daya saing Melayu seringkali dipersoalkan.
Mahathir, sejak sebelum kelahiran ‘Dilema Melayu’nya beranggapan kelemahan Melayu lebih berpunca daripada faktor-faktor keturunan dan alam sekitar. Profesor Diraja Ungku Aziz pula menyanggah pandangan itu dengan berkata, Melayu sebenarnya mewarisi sifat rendah din sejak turun temurun.
Sama seperti orang lain, saya tidak tahu pendapat mana yang patut dipakai. Kedua-duanya kelihatan betul, tetapi kedua-duanya juga kelihatan tidak betul.
Hendak dikatakan Melayu lemah kerana pengaruh keturunan, terbukti mereka yang berketurunan Melayu telah pernah berjaya pada masa-masa dahulu. Mereka telah berupaya membina tamadun, telah mampu menjadi pelayar-pelayar agung dan telah terbukti menjadi kuasa yang disegani.
Sekarang ini pun banyak yang berketurunan Melayu mencipta kejayaan, baik di sini mahupun di tempat lain. Di Afrika Selatan, Melayu adalah kelompok manusia kaya yang berpengaruh besar di bidang ekonomi. Di Filipina, Melayu adalah pejuang-pejuang yang berani dan disegani. Di sana sini, anak-anak Melayu yang membawa diri mampu bersaing dan bangkit menjadi orang yang berjaya. Di England, ada anak Melayu telah naik martabatnya sehingga menjadi Datuk Bandar.
Di Hollywood, seorang lagi anak Melayu bergerak naik di celah nama ribuan manusia lain untuk berdiri sebagai karyawan yang dihormati dalam teknologi animasi komputer. Malah studio di mana berlangsungnya penggambaran bagi siri filem-filem James Bond yang terkenal itu pun dikatakan milik anak Melayu!
Persekitaran, di mana-mana dan pada bila-bila masa pun, memanglah merupakan faktor besar yang mempengaruhi kehidupan. Hukum ini tidak sahaja terbatas kepada manusia, tetapi juga mencakupi segala makhluk lain. Anak benih pokok yang sedang membesar sekalipun akan condong mengikut arah datangnya cahaya.
Dalam ‘Dilema Melayu’, Mahathir mengulas bagaimana persekitaran yang melingkungi kehidupan mereka menyebabkan orang Melayu kurang berminat untuk bersaing. Beliau beranggapan tanah semenanjung yang subur telah menyediakan segala-galanya untuk orang Melayu hidup selesa.
“Pendeknya alam keliling menjamin keperluan makanan yang mencukupi untuk menampung seluruh penduduk sepanjang tahun. Kelaparan dan kebuluran yang sentiasa mengancam negeri-negeri lain, seperti Negeri China, tidak terdapat di Tanah Melayu. Dalam keadaan begini maka semua orang dapat terus hidup. Malahan mereka yang paling lemah dan paling malas juga boleh hidup dengan selesa dan dapat berkahwin dan beranak pinak. Dalam keadaan yang begini tidak dapat hendak dikatakan bahawa cuma mereka yang paling kuat dapat terus hidup. Oleh kerana terdapat banyaknya bahan makanan maka orang yang lemah juga akan dapat terus hidup.” (DILEMA MELAYU, ms.25).
Ada benarnya pendapat itu. Tetapi ianya menjadi kurang benar apabila mengambil kira bagaimana keadaan serba kurang di negara-negara seperti Bangladesh, Nepal dan Bhutan juga gagal melahirkan bangsa yang kuat berdaya saing. Kebanyakan tanah di benua Afrika boleh dikatakan gersang dan tidak subur. Ia menuntut setiap orang yang mahu hidup di atas buminya mempunyai ketahanan yang luar biasa. Penduduk-penduduk pribumi Afrika biasanya mempunyai ketahanan itu. Persekitaran mereka hanya membuka pintu pada yang kuat sahaja untuk hidup selesa.
Tetapi kenapa mereka gagal berkembang sebagai bangsa yang besar, hebat dan kuat ? Kenapa anak cucu mereka yang terlontar ke Amerika, atau ke segala penjuru dunia yang lain, gagal mengangkat ketahanan itu untuk dijadikan aset yang boleh menjanjikan kegemilangan pada bangsa mereka? Kenapa?
Memanglah benar orang-orang Melayu, pada peringkat awal penempatannya di Semenanjung ini, lebih tertumpu ke kawasan-kawasan dataran yang subur. Mereka menghuni kawasan pesisir sungai dan pantai yang menjanjikan mereka kesuburan dan kemakmuran. Mereka tidak begitu berminat untuk meneroka bukit bukau dan hutan belantara bagi menambah sumber kesuburan dan kemakmuran tersebut. Hasil daripada keadaan itu timbul suatu tanggapan bahawa orang Melayu lebih suka pada kehidupan yang mudah. Mereka telah terasuh untuk menjadi begitu. Mereka telah dimanjakan oleh alam sekeliling. Mereka lebih senang menerima apa yang ada daripada berusaha mencari sesuatu yang baru.
Namun siapakah yang berani bertaruh untuk berkata bahawa peneroka bukit bukau itu mempunyai keupayaan bersaing yang lebih hebat daripada pemastautin di kawasan kawasan dataran yang subur? Tertumpu pada kawasan pesisir sungai yang subur untuk membina penempatan bukanlah terbatas pada orang Melayu sahaja. Ia merupakan amalan lazim zaman berzaman. Hampir semua tamadun besar terbina di kawasan seperti itu. Nil, Yang Tze dan Ganges tidak akan menjadi terkenal kalau bukan kerana disokong oleh kebangkitan tamadun-tamadun di pinggirnya.
Mencari kesenangan secara mudah bukanlah setakat sifat semulajadi orang Melayu. Ianya fitrah semua bangsa. Semua manusia. Sebab itu bukan pelik jika manusia pada zaman dahulu berebut untuk tinggal di kawasan pinggir sungai yang tidak sahaja menyediakan tanah yang subur, tetapi juga pelbagai kemudahan lain, termasuk mendapatkan bekalan air dan untuk dijadikan laluan pengangkutan. Orang-orang Cina yang baru datang ke Tanah Melayu pada era awal penghijrahan mereka dahulu pun memilih kawasan pinggir sungai untuk bermastautin.
Jika mendiami kawasan-kawasan yang subur itu menyebabkan orang Melayu terasuh untuk menjadi tidak rajin berusaha, maka soalan yang patut ditanya ialah kenapa orang-orang China di pinggir Yang Tze, dan kemudiannya di pinggir Sungai Kelang dan Sungai Gombak tidak pula menjadi malas? Kenapa bangsa-bangsa lain yang turut berkembang biak di kawasan yang serupa tidak menjadi selemah bangsa Melayu? Dan pada masa yang sama patut pula ditanya, mengapa ‘raja-raja bukit’ seperti orang-orang Karen di Burma tidak menjadi bangsa yang hebat sedangkan mereka adalah jenis orang yang sanggup bekerja keras meneroka rimba jerun yang tidak berani dijengah oleh manusia lain?
Banyak orang yang bersependapat dengan Mahathir, yang lewat ‘Dilema Melayu’nya berkata, iklim panas dan lembap di negara ini juga tidak begitu menggalakkan (orang Melayu) untuk melakukan kerja-kerja yang berat. Ia juga tidak merangsang pemikiran mereka untuk menjadi lebih aktif.
Sewaktu menulis fasa-frasa itu Mahathir barangkali terlupa untuk bertanya, kenapa dalam cuaca yang panas dan lembap,orang lain, yang bukan Melayu boleh melakukan kerja-kerja berat dan boleh berfikir secara aktif? Kenapa kesan buruk cuaca itu hanya mempengaruhi orang Melayu bukannya bangsa-bangsa lain? Bagaimana pula halnya dengan orang-orang Mesir Purba yang hidup dalam keadaan serba kontang dan serba kurang, namun mampu membina tamadun besar? Tidakkah cuaca yang panas juga sepatutnya menyebabkan orang-orang Arab tidak mampu berbuat apa-apa selain daripada duduk berbual di bawah pohon-pohon kurma?
Keturunan mungkin mempunyai pengaruhnya. Namun ada banyak contoh untuk dijadikan bukti bahawa ia bukan penyebab mutlak ke arah menentukan maju mundurnya sesuatu bangsa. Janji Allah bahawa Dia tidak akan mengubah nasib sesuatu bangsa melainkan bangsa itu sendiri mengubahnya adalah suatu isyarat yang amat jelas bahawa setiap manusia ini dijadikan dengan kemampuan yang sama. Biar dari perdu mana pun seseorang itu lahir, dia berupaya naik ke puncak jika usahanya ke arah itu dilakukan secara sungguh-sungguh. Teori genetik tidak selamanya benar terutama dalam soal menentukan masa depan seseorang manusia atau sesuatu rumpun bangsa. Tuhan akan menjadi sangat tidak adil kalau menentukan karma manusia dengan bakanya. Sesungguhnya tidak adil itu bukanlah sifat Tuhan.
Bangsa-bangsa yang besar dan kuat suatu masa dahulu banyak yang lenyap dan ranap walaupun daripada segi teori mereka memiliki baka yang hebat. Ke mana perginya wira-wira Monggol? Ke mana hilangnya anak cucu Socrates atau Aristotle? Jika hendak dikatakan mereka pupus kerana faktor putaran masa, kenapa anak cucu Shih-Huang Ti masih ada? Kenapa anak cucu pelopor Tamadun China masih sehebat dahulu?
Pendapat tentang sifat semulajadi Melayu yang dibelenggu rasa rendah diri juga mempunyai banyak ruang untuk dipertikaikan. Yang paling penting untuk ditanya ialah, kenapa sifat itu harus ada dan adakah ianya cuma hakmilik istimewa bangsa Melayu?
Kalau dikatakan sifat rendah diri itu lahir secara semulajadi, apakah buktinya? Atas alasan apakah Tuhan memilih orang Melayu untuk diabadikan dengan sifat-sifat itu?
Ada orang berpendapat sifat rendah diri ini datang ke sanubari orang Melayu selepas mereka menganut Islam. Nenek moyang orang Melayu dahulu menganggap diri mereka orang yang jahil dalam ilmu-ilmu akhirat. Oleh itu, setiap kali berhadapan dengan pendakwah-pendakwah Islam yang berilmu tinggi, terutama yang datang daripada Asia Barat, mereka akan dibelenggu oleh rasa ‘kecil’ dan rasa untuk ‘merendah’. Lama-kelamaan perasaan itu berkembang biak lalu terbina menjadi suatu tabiat.
Soalnya, kalaupun betul, kenapa perkara begitu hanya terjadi pada orang Melayu? Kenapa orang Putih yang baru memeluk Islam tidak berasa rendah diri? Kenapa orang India, orang China, orang Parsi dan segala macam orang lain tidak mempunyai perasaan yang sama sedangkan hakikatnya tatkala mula memeluk Islam mereka sudah pasti berada dalam situasi yang sama dengan orang Melayu – berasa kecil dan jahil?
Satu lagi andaian popular ialah perasaan rendah diri orang Melayu ini berpunca daripada salah tanggapan terhadap ajaran Islam. Ketaatan kepada Islam menyebabkan Melayu mentafsirkan nilai toleransi yang dituntut oleh Islam dengan perspektif yang sempit. Mereka juga menerima hukum qada dan qadar dengan cara berfikir yang jumud. Konsep keredhaan mereka ada kalanya melebihi tahap yang dituntut sehingga menyebabkan mereka bersikap ‘tidak apa’ dalam segala perkara. Himpunan daripada semua inilah akhirnya menyebabkan orang Melayu berasa mereka tidak perlu bersaing dan bersikap pasrah kepada kehidupan.
Tetapi sekali lagi persoalannya ialah kenapa anggapan begitu cuma timbul di jiwa orang Melayu? Kenapa bangsa lain yang menganut Islam tidak mempunyai tanggapan dan pemikiran yang sama? Mengapa orang China Islam dan orang India Muslim tidak dibelenggu oleh kejumudan tersebut sedangkan mereka juga tidak kurang taatnya berbanding dengan kita?
Saya sengaja timbulkan soalan-soalan ini kerana saya tahu tiada sesiapa yang akan dapat menjawabnya.
Melayu secara umumnya berada dalam satu posisi yang cukup unik, dan cukup kronik, sehingga tiada mana-mana pengkaji dapat memberikan jawapan mutlak terhadap masalah yang membelenggu kehidupan mereka, khususnya dalam aspek yang membabitkan sikap dan tabiat. Apa juga andaian tentang mereka sampai bila-bila pun akan tinggal sebagai hepotitis yang tidak akan bertukar menjadi teori.
Keunikan peribadi Melayu ini berkemungkinan besar dipengaruhi oleh banyak faktor. Kedudukan bumi Melayu yang terdedah pada segala macam elemen budaya, latar belakang bangsa yang berkembang daripada penganut animisme kepada penganut Islam yang taat, semuanya sama-sama memainkan peranan untuk menjadikan Melayu satu bangsa yang agak berkecamuk akal fikirannya. Perhatikanlah mana-mana juga Melayu, di dalam dirinya pasti terpancar seribu wajah. Pada tubuhnya tersembunyi unsur Arab, unsur Mamak, unsur orang Putih dan seribu satu unsur lain yang bercampur aduk.
Keperibadian yang berbagai-bagai inilah menyebabkan Melayu menjadi begitu sukar difahami. Dan ketidakfahaman itu menjadi punca terhadap timbulnya pelbagai salah tanggapan terhadap mereka.
‘Melayu pemalas’ adalah rentetan daripada salah tanggapan itu. Orang-orang asing yang gagal memahami susur galur Melayu dengan mudah akan berasa hairan kenapa Melayu boleh menjadi warga kelas dua di bumi yang subur ini. Mereka lalu beranggapan ianya berlaku kerana Melayu tidak rajin.
Silap orang Melayu ialah mereka tidak pernah berusaha memberi kefahaman tentang asal usul mereka kepada orang lain. Sebaliknya, mereka dengan penuh kealpaan hanya menerima bulat-bulat teori yang orang lain sogokkan kepada mereka. Paling Iebih, sekiranya pendapat itu kurang memihak pada mereka, sebahagian daripada orang Melayu mungkin akan marah-marah.
Semua ini tidak akan berlaku kalau orang Melayu mempunyai hubungkait yang kuat dengan akar umbi bangsanya. Mereka tidak akan berasa susah untuk meyakinkan orang lain bahawa Melayu sebenarnya bangsa yang hebat jika mereka rajin mencungkil, mengenang dan menghargai sejarah kehebatan datuk nenek mereka. Tidak susah untuk membuka mata orang asing bagi mengakui bahawa lebih seribu tahun dahulu tamadun-tamadun Melayu telah berkembang biak, telah menjadi gah dan tersohor di nusantara. Dan bangsa yang pemalas sudah tentu tidak akan mampu membina tamadun-tamadun seumpama itu.
Tamadun Greek sudah lama punah. Ranap sama sekali. Greece sekarang hanya tinggal tersepit sebagai sebuah negara kecil di pinggir Mediterranean dan Laut Ageans. Tetapi cubalah anda berkunjung ke Athens. Anda pasti akan dapat mendengar orang-orangnya bercerita seolah-olah Julius Caesar dan Pompei baru meninggal dunia pagi semalam.
Cubalah berkunjung ke China dan dengar sendiri bagaimana anak-anak negerinya bercerita tentang Tembok Besar, tentang Shih-Huang Ti atau tentang Confusius. Bunyinya seolah-olah mereka pernah hidup di era itu. Mereka jelas berbangga dengan apa yang mereka pernah ada.
Kita?
Sementara majoriti orang Melayu tidak pernah tahu di mana letaknya Lembah Bujang, sebahagian besar yang lain pula berkunjung ke Melaka untuk melihat simbol kekuatan Portugis iaitu A Famosa, bukannya untuk menjengah simbol ketuanan Melayu seperti Perigi Hang Tuah atau Makam Hang Jebat. Untuk melihat tingginya seni pertukangan Melayu di Istana Seri Menanti yang tidak berpaku itu pun kita terasa berat hati.
Tidak banyak di kalangan kita yang boleh bercerita tentang kegemilangan silam anak bangsanya. Apabila bercerita pada anak cucu, kita lebih seronok mengulangi kisah ‘Cinderella’ atau ‘Snow White’. Kita biasakan anak-anak kita dengan nama Robin Hood dan Kapten Cook bukannya dengan nama Hang Nadim atau Tun Teja. Kita seolah-olah tidak pernah berbangga dengan apa yang kita ada.
Orang lain sanggup menghabiskan berjuta ringgit untuk mencari sesuatu yang boleh menghidupkan kembali kegemilangan bangsanya. Dalam kes tertentu, mereka malah sanggup mengubah fakta yang ada dan mencipta fakta-fakta baru yang palsu. Mereka melakukannya kerana sayangkan bangsa.
Kita tidak begitu. Kita boleh menghabiskan cukup banyak wang untuk membiayai rombongan ke luar negara, tetapi kita akan ‘berkira’ untuk membina sesuatu yang boleh menghubungkan generasi sekarang dengan masa silamnya.
Pahit atau tidak, kita perlu mengaku bahawa apa yang dilakukan setakat ini belum cukup untuk menggambarkan terima kasih kita pada generasi terdahulu. Apa yang ada itu belum memadai untuk menghidupkan jiwa Melayu sebagaimana hidupnya jiwa orang Amerika setiap kali melihat ‘Statue of Liberty’.
Usahlah melihat terlalu jauh ke belakang. Lihat sahajalah bagaimana kita menghargai Tuk Gajah, Mat Kilau, Tuk Janggut atau pejuang-pejuang selepas mereka. Malah setakat manakah sumbangan kita kepada pejuang-pejuang kemerdekaan selain daripada Datuk Onn dan Tunku Abdul Rahman? Hendak membukukan sejarah perjuangan mereka pun tidak banyak pihak yang sanggup.
Berdasarkan apa yang ada tergambar jelas yang kita bagaikan tidak menghargai kebolehan orang-orang yang dahulu daripada kita. Kita tak pernah ambil kisah. Kita tak pernah peduli. Kita alpa dalam menghargai sumbangan mereka.
Dan apabila kita alpa menghargai bangsa sendiri, bagaimanakah kita boleh mengharapkan orang lain menghargai kita?
Posted in Uncategorized
Posted on February 18, 2014 | Leave a comment
APAKAH GENERASI MENDATANG AKAN TETAP
PEMALAS?
LIHAT KURIKULUM PENDIDIKAN DASARNYA…
Drs.M.Rakib Ciptakarya Pekanbaru Riau. 2014
LIHAT KURIKULUM PENDIDIKAN DASARNYA…
Drs.M.Rakib Ciptakarya Pekanbaru Riau. 2014
Kurikulum dasar, tanpa keterampilan
Cinta kerja, tidak terwariskan.
Muncul berbagai bentuk, kemalasan
Generasi manja, penghancur masa depan.
Cinta kerja, tidak terwariskan.
Muncul berbagai bentuk, kemalasan
Generasi manja, penghancur masa depan.
Penulis adalah widyaiswara
pendidikan di LPMP Riau Indonesia. Setelah menjadi penatar guru-guru belasan
tahun, ada bayangan tentang sikap malas yang terditeksi. Dulu orang Belanda
menyatakan” Malas: orang Indonesia merupakan masyarakat yang relatif malas.
Orang Indonesia tidak suka mengeluarkan seluruh kemampuannya dalam bekerja.
Hal ini dapat terlihat dari daya saing dan produktivitas bangsa Indonesia yang semakin rendah baik di pemerintahan, industri, ekonomi, maupun sosial budaya.Tidak disiplin: apapun yang sudah dijadwalkan tidak sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan, tidak disiplin atau belum punya kesadaran diri menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta terlambat adalah hal yang biasa dan “peraturan ada untuk dilanggar”.
Korup: korupsi telah mengakar dan sudah sangat sulit untuk dihilangkan mulai dari institusi yang rendah sampai yang paling tinggi. Hal ini tercermin dari image Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat korupsi yang tinggi di dunia.
Emosional: cenderung cepat sekali tersulut emosinya, sering salah paham dan kurang mengerti suatu permasalahan tapi mudah marah dan main hakim sendiri. Hal inilah yang memicu munculnya konflik-konflik di daerah disebabkan adanya karakter tempramental.
Individualis: dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya yang hidup di perkotaan bersifat individualis. Hal ini dapat dilihat dari kesenjangan antara yang kaya dan miskin. Individualis juga dapat tercermin dari sikap masa bodoh, kurang peduli terhadap sesama, dan lingkungan hidup.
Suka meniru: Indonesia terkenal sebagai pembajak dan selalu meniru persis, atau serupa dengan aslinya, tidak kreatif untuk membuat sesuatu yang baru, lebih senang untuk meniru dari negara-negara lain dari pada berkreasi untuk menemukan hal-hal baru.
Rendah diri: orang Indonesia sebenarnya mempunyai potensi yang besar terhadap ilmu pengetahuan, tetapi terkadang tidak percaya diri untuk mengungkapkan. Terkadang atau malah seringkali takut untuk mengungkapkan pendapatnya..
Hal ini dapat terlihat dari daya saing dan produktivitas bangsa Indonesia yang semakin rendah baik di pemerintahan, industri, ekonomi, maupun sosial budaya.Tidak disiplin: apapun yang sudah dijadwalkan tidak sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan, tidak disiplin atau belum punya kesadaran diri menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta terlambat adalah hal yang biasa dan “peraturan ada untuk dilanggar”.
Korup: korupsi telah mengakar dan sudah sangat sulit untuk dihilangkan mulai dari institusi yang rendah sampai yang paling tinggi. Hal ini tercermin dari image Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat korupsi yang tinggi di dunia.
Emosional: cenderung cepat sekali tersulut emosinya, sering salah paham dan kurang mengerti suatu permasalahan tapi mudah marah dan main hakim sendiri. Hal inilah yang memicu munculnya konflik-konflik di daerah disebabkan adanya karakter tempramental.
Individualis: dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya yang hidup di perkotaan bersifat individualis. Hal ini dapat dilihat dari kesenjangan antara yang kaya dan miskin. Individualis juga dapat tercermin dari sikap masa bodoh, kurang peduli terhadap sesama, dan lingkungan hidup.
Suka meniru: Indonesia terkenal sebagai pembajak dan selalu meniru persis, atau serupa dengan aslinya, tidak kreatif untuk membuat sesuatu yang baru, lebih senang untuk meniru dari negara-negara lain dari pada berkreasi untuk menemukan hal-hal baru.
Rendah diri: orang Indonesia sebenarnya mempunyai potensi yang besar terhadap ilmu pengetahuan, tetapi terkadang tidak percaya diri untuk mengungkapkan. Terkadang atau malah seringkali takut untuk mengungkapkan pendapatnya..
Mitos Melayu Pemalas Antara Melayu
Sumatra dan Melayu Malaysia
Kata orang Melayu Malysia “Sekurang-kurangnya sekali dalam hidup, seseorang anak Melayu akan mendengar frasa itu. Tetapi biasanya dia mendengar lebih daripada sekali. Selalunya berpuluh atau beratus kali!”
Frasa yang menyakitkan itu memang cukup tersohor. Ia telah sampai ke segenap penjuru alam. Tidak sedikit orang asing yang mengenali Melayu melalui tulisan atau cakap orang mempercayai bahawa pemalas itu adalah sifat semulajadi manusia Melayu. Jangan hairan kalau ada di kalangan mereka yang mendefinasikan Melayu sebagai ‘sebangsa manusia pemalas yang mendiami suatu kawasan di tenggara Asia.’
Yang menariknya, mitos Melayu malas ini lebih tertumpu pada orang-orang Melayu di Malaysia saja. Bangsa Melayu di tempat lain bagaikan terkecuali. Malah orang Melayu Deli dan Kampar, misalnya sentiasa dilihat lebih rajin daripada kita di sini. Bagi sesetengah orang Melayu rumpun Jawa pula, kita orang Melayu Malaysia, bukanlah jenis sahabat yang sesuai dijadikan teman dan bukanlah kawan yang baik untuk diajak mencari makan. Kita, bagi mereka, tidak cukup rajin.
Kata orang Melayu Malysia “Sekurang-kurangnya sekali dalam hidup, seseorang anak Melayu akan mendengar frasa itu. Tetapi biasanya dia mendengar lebih daripada sekali. Selalunya berpuluh atau beratus kali!”
Frasa yang menyakitkan itu memang cukup tersohor. Ia telah sampai ke segenap penjuru alam. Tidak sedikit orang asing yang mengenali Melayu melalui tulisan atau cakap orang mempercayai bahawa pemalas itu adalah sifat semulajadi manusia Melayu. Jangan hairan kalau ada di kalangan mereka yang mendefinasikan Melayu sebagai ‘sebangsa manusia pemalas yang mendiami suatu kawasan di tenggara Asia.’
Yang menariknya, mitos Melayu malas ini lebih tertumpu pada orang-orang Melayu di Malaysia saja. Bangsa Melayu di tempat lain bagaikan terkecuali. Malah orang Melayu Deli dan Kampar, misalnya sentiasa dilihat lebih rajin daripada kita di sini. Bagi sesetengah orang Melayu rumpun Jawa pula, kita orang Melayu Malaysia, bukanlah jenis sahabat yang sesuai dijadikan teman dan bukanlah kawan yang baik untuk diajak mencari makan. Kita, bagi mereka, tidak cukup rajin.
Pendeknya, secara langsung atau
tidak, kita telah diterima sebagai bangsa yang pemalas, hatta oleh rakan-rakan
yang serumpun dengan kita sendiri.
Kenapa?
Sering terjadi apabila frasa itu timbul, kita – hampir semua Melayu – akan menghalakan tudingan kepada Munsyi Abdullah, jurutulis dan khadam nombor satu Stamford Raffles. Kebanyakan kita percaya bahawa tulisan-tulisan Munsyi Abdullah telah menjadi racun yang telah merosakkan fikiran dan pandangan semua orang terhadap keperibadian Melayu. Dia, Munsyi Abdullah, oleh sesetengah kita, telah diangkat sebagai musuh besar setiap Melayu.
Selain daripada menuduh Abdullah menulis begitu kerana disuruh oleh Raffles, yang mahu melaksanakan agenda kolonialnya dengan bertujuan meranapkan kehormatan masyarakat pribumi, kita jarang bertanya apakah yang ditulis oleh Munsyi itu seratus peratus salah?
Memang benar, Munsyi Abdullah adalah khadam belaan penjajah. Mungkin benar keinginan yang luar biasa untuk menyekutukan dirinya dengan tuan besar dan atas angin telah menyebabkan dia berasa dirinya terlalu istimewa, dan terpisah terus daripada cara hidup Melayu, yang dilihatnya penuh dengan kelekaan dan kealpaan.
Tetapi bolehkah dia mereka-rekakan kenyataan-kenyataan tentang sikap orang Melayu tanpa asas dan bukti yang kukuh? Setakat sekarang ini, apakah segala yang ditulis oleh Munsyi itu karut belaka?
Jawablah, dengan akal yang waras dan dengan hati yang ikhlas.
Dalam membincangkan isu ini, perkara paling pokok yang harus kita semua fikirkan ialah bagaimanakah kepercayaan bahawa Melayu itu pemalas boleh timbul? Di mana puncanya?
Tulisan Munsyi Abdullah atau lain-lain orientalis barat hanyalah sebahagian daripada sebab. Memanglah budaya penjajahan pada bila-bila masa pun akan disulami dengan cerita buruk tentang anak pribumi. Penjajah, dalam usaha menegakkan kedaulatan mereka, akan bersusah payah mencipta kehebatan sendiri dan memperlekehkan kumpulan yang dijajah. Red Indian dikatakan bangsa yang liar dan jahat oleh tukang-tukang cerita Amerika. Aborigines di Australia dituduh pemalas dan hidup bersandarkan takdir oleh anak cucu lanun yang menjadi penjajah benua Australia; malah orang-orang Scotland dan Ireland, yang serumpun dengan Inggeris itu pun, sampai sekarang masih sering dijadikan bahan jenaka di London.
Tetapi semua tohmah yang bersifat memburuk-burukkan anak pribumi itu biasanya boleh berdiri tegak sehingga menjadi semacam kepercayaan disebabkan oleh ‘sokongan’ yang diberi oleh anak-anak pribumi tersebut sendiri. Dengan perkataan lain, sikap, cara dan tindakan mereka selalunya mendorong orang beranggapan apa yang dicanangkan itu adalah betul dan benar.
Dalam hal ini, orang Melayu di Malaysia tidak terkecuali. Kalau orang lain mempunyai sepuluh sebab untuk mengatakan kita ini malas, kita sendiri menyediakan seribu sebab untuk membenarkan kenyataan mereka. Sebab-sebab itu bukanlah berpunca daripada kemalasan kita, tetapi lebih didorong oleh kealpaan kita. Kealpaanlah yang meletakkan Melayu dalam jaket yang dipakainya. Kealpaanlah yang menjadikan Melayu lemah. Kealpaan jugalah yang menyebabkan daya saing Melayu seringkali dipersoalkan.
Mahathir, sejak sebelum kelahiran ‘Dilema Melayu’nya beranggapan kelemahan Melayu lebih berpunca daripada faktor-faktor keturunan dan alam sekitar. Profesor Diraja Ungku Aziz pula menyanggah pandangan itu dengan berkata, Melayu sebenarnya mewarisi sifat rendah din sejak turun temurun.
Sama seperti orang lain, saya tidak tahu pendapat mana yang patut dipakai. Kedua-duanya kelihatan betul, tetapi kedua-duanya juga kelihatan tidak betul.
Hendak dikatakan Melayu lemah kerana pengaruh keturunan, terbukti mereka yang berketurunan Melayu telah pernah berjaya pada masa-masa dahulu. Mereka telah berupaya membina tamadun, telah mampu menjadi pelayar-pelayar agung dan telah terbukti menjadi kuasa yang disegani.
Sekarang ini pun banyak yang berketurunan Melayu mencipta kejayaan, baik di sini mahupun di tempat lain. Di Afrika Selatan, Melayu adalah kelompok manusia kaya yang berpengaruh besar di bidang ekonomi. Di Filipina, Melayu adalah pejuang-pejuang yang berani dan disegani. Di sana sini, anak-anak Melayu yang membawa diri mampu bersaing dan bangkit menjadi orang yang berjaya. Di England, ada anak Melayu telah naik martabatnya sehingga menjadi Datuk Bandar.
Di Hollywood, seorang lagi anak Melayu bergerak naik di celah nama ribuan manusia lain untuk berdiri sebagai karyawan yang dihormati dalam teknologi animasi komputer. Malah studio di mana berlangsungnya penggambaran bagi siri filem-filem James Bond yang terkenal itu pun dikatakan milik anak Melayu!
Persekitaran, di mana-mana dan pada bila-bila masa pun, memanglah merupakan faktor besar yang mempengaruhi kehidupan. Hukum ini tidak sahaja terbatas kepada manusia, tetapi juga mencakupi segala makhluk lain. Anak benih pokok yang sedang membesar sekalipun akan condong mengikut arah datangnya cahaya.
Dalam ‘Dilema Melayu’, Mahathir mengulas bagaimana persekitaran yang melingkungi kehidupan mereka menyebabkan orang Melayu kurang berminat untuk bersaing. Beliau beranggapan tanah semenanjung yang subur telah menyediakan segala-galanya untuk orang Melayu hidup selesa.
“Pendeknya alam keliling menjamin keperluan makanan yang mencukupi untuk menampung seluruh penduduk sepanjang tahun. Kelaparan dan kebuluran yang sentiasa mengancam negeri-negeri lain, seperti Negeri China, tidak terdapat di Tanah Melayu. Dalam keadaan begini maka semua orang dapat terus hidup. Malahan mereka yang paling lemah dan paling malas juga boleh hidup dengan selesa dan dapat berkahwin dan beranak pinak. Dalam keadaan yang begini tidak dapat hendak dikatakan bahawa cuma mereka yang paling kuat dapat terus hidup. Oleh kerana terdapat banyaknya bahan makanan maka orang yang lemah juga akan dapat terus hidup.” (DILEMA MELAYU, ms.25).
Ada benarnya pendapat itu. Tetapi ianya menjadi kurang benar apabila mengambil kira bagaimana keadaan serba kurang di negara-negara seperti Bangladesh, Nepal dan Bhutan juga gagal melahirkan bangsa yang kuat berdaya saing. Kebanyakan tanah di benua Afrika boleh dikatakan gersang dan tidak subur. Ia menuntut setiap orang yang mahu hidup di atas buminya mempunyai ketahanan yang luar biasa. Penduduk-penduduk pribumi Afrika biasanya mempunyai ketahanan itu. Persekitaran mereka hanya membuka pintu pada yang kuat sahaja untuk hidup selesa.
Tetapi kenapa mereka gagal berkembang sebagai bangsa yang besar, hebat dan kuat ? Kenapa anak cucu mereka yang terlontar ke Amerika, atau ke segala penjuru dunia yang lain, gagal mengangkat ketahanan itu untuk dijadikan aset yang boleh menjanjikan kegemilangan pada bangsa mereka? Kenapa?
Memanglah benar orang-orang Melayu, pada peringkat awal penempatannya di Semenanjung ini, lebih tertumpu ke kawasan-kawasan dataran yang subur. Mereka menghuni kawasan pesisir sungai dan pantai yang menjanjikan mereka kesuburan dan kemakmuran. Mereka tidak begitu berminat untuk meneroka bukit bukau dan hutan belantara bagi menambah sumber kesuburan dan kemakmuran tersebut. Hasil daripada keadaan itu timbul suatu tanggapan bahawa orang Melayu lebih suka pada kehidupan yang mudah. Mereka telah terasuh untuk menjadi begitu. Mereka telah dimanjakan oleh alam sekeliling. Mereka lebih senang menerima apa yang ada daripada berusaha mencari sesuatu yang baru.
Namun siapakah yang berani bertaruh untuk berkata bahawa peneroka bukit bukau itu mempunyai keupayaan bersaing yang lebih hebat daripada pemastautin di kawasan kawasan dataran yang subur? Tertumpu pada kawasan pesisir sungai yang subur untuk membina penempatan bukanlah terbatas pada orang Melayu sahaja. Ia merupakan amalan lazim zaman berzaman. Hampir semua tamadun besar terbina di kawasan seperti itu. Nil, Yang Tze dan Ganges tidak akan menjadi terkenal kalau bukan kerana disokong oleh kebangkitan tamadun-tamadun di pinggirnya.
Mencari kesenangan secara mudah bukanlah setakat sifat semulajadi orang Melayu. Ianya fitrah semua bangsa. Semua manusia. Sebab itu bukan pelik jika manusia pada zaman dahulu berebut untuk tinggal di kawasan pinggir sungai yang tidak sahaja menyediakan tanah yang subur, tetapi juga pelbagai kemudahan lain, termasuk mendapatkan bekalan air dan untuk dijadikan laluan pengangkutan. Orang-orang Cina yang baru datang ke Tanah Melayu pada era awal penghijrahan mereka dahulu pun memilih kawasan pinggir sungai untuk bermastautin.
Jika mendiami kawasan-kawasan yang subur itu menyebabkan orang Melayu terasuh untuk menjadi tidak rajin berusaha, maka soalan yang patut ditanya ialah kenapa orang-orang China di pinggir Yang Tze, dan kemudiannya di pinggir Sungai Kelang dan Sungai Gombak tidak pula menjadi malas? Kenapa bangsa-bangsa lain yang turut berkembang biak di kawasan yang serupa tidak menjadi selemah bangsa Melayu? Dan pada masa yang sama patut pula ditanya, mengapa ‘raja-raja bukit’ seperti orang-orang Karen di Burma tidak menjadi bangsa yang hebat sedangkan mereka adalah jenis orang yang sanggup bekerja keras meneroka rimba jerun yang tidak berani dijengah oleh manusia lain?
Banyak orang yang bersependapat dengan Mahathir, yang lewat ‘Dilema Melayu’nya berkata, iklim panas dan lembap di negara ini juga tidak begitu menggalakkan (orang Melayu) untuk melakukan kerja-kerja yang berat. Ia juga tidak merangsang pemikiran mereka untuk menjadi lebih aktif.
Sewaktu menulis fasa-frasa itu Mahathir barangkali terlupa untuk bertanya, kenapa dalam cuaca yang panas dan lembap,orang lain, yang bukan Melayu boleh melakukan kerja-kerja berat dan boleh berfikir secara aktif? Kenapa kesan buruk cuaca itu hanya mempengaruhi orang Melayu bukannya bangsa-bangsa lain? Bagaimana pula halnya dengan orang-orang Mesir Purba yang hidup dalam keadaan serba kontang dan serba kurang, namun mampu membina tamadun besar? Tidakkah cuaca yang panas juga sepatutnya menyebabkan orang-orang Arab tidak mampu berbuat apa-apa selain daripada duduk berbual di bawah pohon-pohon kurma?
Keturunan mungkin mempunyai pengaruhnya. Namun ada banyak contoh untuk dijadikan bukti bahawa ia bukan penyebab mutlak ke arah menentukan maju mundurnya sesuatu bangsa. Janji Allah bahawa Dia tidak akan mengubah nasib sesuatu bangsa melainkan bangsa itu sendiri mengubahnya adalah suatu isyarat yang amat jelas bahawa setiap manusia ini dijadikan dengan kemampuan yang sama. Biar dari perdu mana pun seseorang itu lahir, dia berupaya naik ke puncak jika usahanya ke arah itu dilakukan secara sungguh-sungguh. Teori genetik tidak selamanya benar terutama dalam soal menentukan masa depan seseorang manusia atau sesuatu rumpun bangsa. Tuhan akan menjadi sangat tidak adil kalau menentukan karma manusia dengan bakanya. Sesungguhnya tidak adil itu bukanlah sifat Tuhan.
Bangsa-bangsa yang besar dan kuat suatu masa dahulu banyak yang lenyap dan ranap walaupun daripada segi teori mereka memiliki baka yang hebat. Ke mana perginya wira-wira Monggol? Ke mana hilangnya anak cucu Socrates atau Aristotle? Jika hendak dikatakan mereka pupus kerana faktor putaran masa, kenapa anak cucu Shih-Huang Ti masih ada? Kenapa anak cucu pelopor Tamadun China masih sehebat dahulu?
Pendapat tentang sifat semulajadi Melayu yang dibelenggu rasa rendah diri juga mempunyai banyak ruang untuk dipertikaikan. Yang paling penting untuk ditanya ialah, kenapa sifat itu harus ada dan adakah ianya cuma hakmilik istimewa bangsa Melayu?
Kalau dikatakan sifat rendah diri itu lahir secara semulajadi, apakah buktinya? Atas alasan apakah Tuhan memilih orang Melayu untuk diabadikan dengan sifat-sifat itu?
Ada orang berpendapat sifat rendah diri ini datang ke sanubari orang Melayu selepas mereka menganut Islam. Nenek moyang orang Melayu dahulu menganggap diri mereka orang yang jahil dalam ilmu-ilmu akhirat. Oleh itu, setiap kali berhadapan dengan pendakwah-pendakwah Islam yang berilmu tinggi, terutama yang datang daripada Asia Barat, mereka akan dibelenggu oleh rasa ‘kecil’ dan rasa untuk ‘merendah’. Lama-kelamaan perasaan itu berkembang biak lalu terbina menjadi suatu tabiat.
Soalnya, kalaupun betul, kenapa perkara begitu hanya terjadi pada orang Melayu? Kenapa orang Putih yang baru memeluk Islam tidak berasa rendah diri? Kenapa orang India, orang China, orang Parsi dan segala macam orang lain tidak mempunyai perasaan yang sama sedangkan hakikatnya tatkala mula memeluk Islam mereka sudah pasti berada dalam situasi yang sama dengan orang Melayu – berasa kecil dan jahil?
Satu lagi andaian popular ialah perasaan rendah diri orang Melayu ini berpunca daripada salah tanggapan terhadap ajaran Islam. Ketaatan kepada Islam menyebabkan Melayu mentafsirkan nilai toleransi yang dituntut oleh Islam dengan perspektif yang sempit. Mereka juga menerima hukum qada dan qadar dengan cara berfikir yang jumud. Konsep keredhaan mereka ada kalanya melebihi tahap yang dituntut sehingga menyebabkan mereka bersikap ‘tidak apa’ dalam segala perkara. Himpunan daripada semua inilah akhirnya menyebabkan orang Melayu berasa mereka tidak perlu bersaing dan bersikap pasrah kepada kehidupan.
Tetapi sekali lagi persoalannya ialah kenapa anggapan begitu cuma timbul di jiwa orang Melayu? Kenapa bangsa lain yang menganut Islam tidak mempunyai tanggapan dan pemikiran yang sama? Mengapa orang China Islam dan orang India Muslim tidak dibelenggu oleh kejumudan tersebut sedangkan mereka juga tidak kurang taatnya berbanding dengan kita?
Saya sengaja timbulkan soalan-soalan ini kerana saya tahu tiada sesiapa yang akan dapat menjawabnya.
Melayu secara umumnya berada dalam satu posisi yang cukup unik, dan cukup kronik, sehingga tiada mana-mana pengkaji dapat memberikan jawapan mutlak terhadap masalah yang membelenggu kehidupan mereka, khususnya dalam aspek yang membabitkan sikap dan tabiat. Apa juga andaian tentang mereka sampai bila-bila pun akan tinggal sebagai hepotitis yang tidak akan bertukar menjadi teori.
Keunikan peribadi Melayu ini berkemungkinan besar dipengaruhi oleh banyak faktor. Kedudukan bumi Melayu yang terdedah pada segala macam elemen budaya, latar belakang bangsa yang berkembang daripada penganut animisme kepada penganut Islam yang taat, semuanya sama-sama memainkan peranan untuk menjadikan Melayu satu bangsa yang agak berkecamuk akal fikirannya. Perhatikanlah mana-mana juga Melayu, di dalam dirinya pasti terpancar seribu wajah. Pada tubuhnya tersembunyi unsur Arab, unsur Mamak, unsur orang Putih dan seribu satu unsur lain yang bercampur aduk.
Keperibadian yang berbagai-bagai inilah menyebabkan Melayu menjadi begitu sukar difahami. Dan ketidakfahaman itu menjadi punca terhadap timbulnya pelbagai salah tanggapan terhadap mereka.
‘Melayu pemalas’ adalah rentetan daripada salah tanggapan itu. Orang-orang asing yang gagal memahami susur galur Melayu dengan mudah akan berasa hairan kenapa Melayu boleh menjadi warga kelas dua di bumi yang subur ini. Mereka lalu beranggapan ianya berlaku kerana Melayu tidak rajin.
Silap orang Melayu ialah mereka tidak pernah berusaha memberi kefahaman tentang asal usul mereka kepada orang lain. Sebaliknya, mereka dengan penuh kealpaan hanya menerima bulat-bulat teori yang orang lain sogokkan kepada mereka. Paling Iebih, sekiranya pendapat itu kurang memihak pada mereka, sebahagian daripada orang Melayu mungkin akan marah-marah.
Semua ini tidak akan berlaku kalau orang Melayu mempunyai hubungkait yang kuat dengan akar umbi bangsanya. Mereka tidak akan berasa susah untuk meyakinkan orang lain bahawa Melayu sebenarnya bangsa yang hebat jika mereka rajin mencungkil, mengenang dan menghargai sejarah kehebatan datuk nenek mereka. Tidak susah untuk membuka mata orang asing bagi mengakui bahawa lebih seribu tahun dahulu tamadun-tamadun Melayu telah berkembang biak, telah menjadi gah dan tersohor di nusantara. Dan bangsa yang pemalas sudah tentu tidak akan mampu membina tamadun-tamadun seumpama itu.
Tamadun Greek sudah lama punah. Ranap sama sekali. Greece sekarang hanya tinggal tersepit sebagai sebuah negara kecil di pinggir Mediterranean dan Laut Ageans. Tetapi cubalah anda berkunjung ke Athens. Anda pasti akan dapat mendengar orang-orangnya bercerita seolah-olah Julius Caesar dan Pompei baru meninggal dunia pagi semalam.
Cubalah berkunjung ke China dan dengar sendiri bagaimana anak-anak negerinya bercerita tentang Tembok Besar, tentang Shih-Huang Ti atau tentang Confusius. Bunyinya seolah-olah mereka pernah hidup di era itu. Mereka jelas berbangga dengan apa yang mereka pernah ada.
Kita?
Sementara majoriti orang Melayu tidak pernah tahu di mana letaknya Lembah Bujang, sebahagian besar yang lain pula berkunjung ke Melaka untuk melihat simbol kekuatan Portugis iaitu A Famosa, bukannya untuk menjengah simbol ketuanan Melayu seperti Perigi Hang Tuah atau Makam Hang Jebat. Untuk melihat tingginya seni pertukangan Melayu di Istana Seri Menanti yang tidak berpaku itu pun kita terasa berat hati.
Tidak banyak di kalangan kita yang boleh bercerita tentang kegemilangan silam anak bangsanya. Apabila bercerita pada anak cucu, kita lebih seronok mengulangi kisah ‘Cinderella’ atau ‘Snow White’. Kita biasakan anak-anak kita dengan nama Robin Hood dan Kapten Cook bukannya dengan nama Hang Nadim atau Tun Teja. Kita seolah-olah tidak pernah berbangga dengan apa yang kita ada.
Orang lain sanggup menghabiskan berjuta ringgit untuk mencari sesuatu yang boleh menghidupkan kembali kegemilangan bangsanya. Dalam kes tertentu, mereka malah sanggup mengubah fakta yang ada dan mencipta fakta-fakta baru yang palsu. Mereka melakukannya kerana sayangkan bangsa.
Kita tidak begitu. Kita boleh menghabiskan cukup banyak wang untuk membiayai rombongan ke luar negara, tetapi kita akan ‘berkira’ untuk membina sesuatu yang boleh menghubungkan generasi sekarang dengan masa silamnya.
Pahit atau tidak, kita perlu mengaku bahawa apa yang dilakukan setakat ini belum cukup untuk menggambarkan terima kasih kita pada generasi terdahulu. Apa yang ada itu belum memadai untuk menghidupkan jiwa Melayu sebagaimana hidupnya jiwa orang Amerika setiap kali melihat ‘Statue of Liberty’.
Usahlah melihat terlalu jauh ke belakang. Lihat sahajalah bagaimana kita menghargai Tuk Gajah, Mat Kilau, Tuk Janggut atau pejuang-pejuang selepas mereka. Malah setakat manakah sumbangan kita kepada pejuang-pejuang kemerdekaan selain daripada Datuk Onn dan Tunku Abdul Rahman? Hendak membukukan sejarah perjuangan mereka pun tidak banyak pihak yang sanggup.
Berdasarkan apa yang ada tergambar jelas yang kita bagaikan tidak menghargai kebolehan orang-orang yang dahulu daripada kita. Kita tak pernah ambil kisah. Kita tak pernah peduli. Kita alpa dalam menghargai sumbangan mereka.
Dan apabila kita alpa menghargai bangsa sendiri, bagaimanakah kita boleh mengharapkan orang lain menghargai kita?
Kenapa?
Sering terjadi apabila frasa itu timbul, kita – hampir semua Melayu – akan menghalakan tudingan kepada Munsyi Abdullah, jurutulis dan khadam nombor satu Stamford Raffles. Kebanyakan kita percaya bahawa tulisan-tulisan Munsyi Abdullah telah menjadi racun yang telah merosakkan fikiran dan pandangan semua orang terhadap keperibadian Melayu. Dia, Munsyi Abdullah, oleh sesetengah kita, telah diangkat sebagai musuh besar setiap Melayu.
Selain daripada menuduh Abdullah menulis begitu kerana disuruh oleh Raffles, yang mahu melaksanakan agenda kolonialnya dengan bertujuan meranapkan kehormatan masyarakat pribumi, kita jarang bertanya apakah yang ditulis oleh Munsyi itu seratus peratus salah?
Memang benar, Munsyi Abdullah adalah khadam belaan penjajah. Mungkin benar keinginan yang luar biasa untuk menyekutukan dirinya dengan tuan besar dan atas angin telah menyebabkan dia berasa dirinya terlalu istimewa, dan terpisah terus daripada cara hidup Melayu, yang dilihatnya penuh dengan kelekaan dan kealpaan.
Tetapi bolehkah dia mereka-rekakan kenyataan-kenyataan tentang sikap orang Melayu tanpa asas dan bukti yang kukuh? Setakat sekarang ini, apakah segala yang ditulis oleh Munsyi itu karut belaka?
Jawablah, dengan akal yang waras dan dengan hati yang ikhlas.
Dalam membincangkan isu ini, perkara paling pokok yang harus kita semua fikirkan ialah bagaimanakah kepercayaan bahawa Melayu itu pemalas boleh timbul? Di mana puncanya?
Tulisan Munsyi Abdullah atau lain-lain orientalis barat hanyalah sebahagian daripada sebab. Memanglah budaya penjajahan pada bila-bila masa pun akan disulami dengan cerita buruk tentang anak pribumi. Penjajah, dalam usaha menegakkan kedaulatan mereka, akan bersusah payah mencipta kehebatan sendiri dan memperlekehkan kumpulan yang dijajah. Red Indian dikatakan bangsa yang liar dan jahat oleh tukang-tukang cerita Amerika. Aborigines di Australia dituduh pemalas dan hidup bersandarkan takdir oleh anak cucu lanun yang menjadi penjajah benua Australia; malah orang-orang Scotland dan Ireland, yang serumpun dengan Inggeris itu pun, sampai sekarang masih sering dijadikan bahan jenaka di London.
Tetapi semua tohmah yang bersifat memburuk-burukkan anak pribumi itu biasanya boleh berdiri tegak sehingga menjadi semacam kepercayaan disebabkan oleh ‘sokongan’ yang diberi oleh anak-anak pribumi tersebut sendiri. Dengan perkataan lain, sikap, cara dan tindakan mereka selalunya mendorong orang beranggapan apa yang dicanangkan itu adalah betul dan benar.
Dalam hal ini, orang Melayu di Malaysia tidak terkecuali. Kalau orang lain mempunyai sepuluh sebab untuk mengatakan kita ini malas, kita sendiri menyediakan seribu sebab untuk membenarkan kenyataan mereka. Sebab-sebab itu bukanlah berpunca daripada kemalasan kita, tetapi lebih didorong oleh kealpaan kita. Kealpaanlah yang meletakkan Melayu dalam jaket yang dipakainya. Kealpaanlah yang menjadikan Melayu lemah. Kealpaan jugalah yang menyebabkan daya saing Melayu seringkali dipersoalkan.
Mahathir, sejak sebelum kelahiran ‘Dilema Melayu’nya beranggapan kelemahan Melayu lebih berpunca daripada faktor-faktor keturunan dan alam sekitar. Profesor Diraja Ungku Aziz pula menyanggah pandangan itu dengan berkata, Melayu sebenarnya mewarisi sifat rendah din sejak turun temurun.
Sama seperti orang lain, saya tidak tahu pendapat mana yang patut dipakai. Kedua-duanya kelihatan betul, tetapi kedua-duanya juga kelihatan tidak betul.
Hendak dikatakan Melayu lemah kerana pengaruh keturunan, terbukti mereka yang berketurunan Melayu telah pernah berjaya pada masa-masa dahulu. Mereka telah berupaya membina tamadun, telah mampu menjadi pelayar-pelayar agung dan telah terbukti menjadi kuasa yang disegani.
Sekarang ini pun banyak yang berketurunan Melayu mencipta kejayaan, baik di sini mahupun di tempat lain. Di Afrika Selatan, Melayu adalah kelompok manusia kaya yang berpengaruh besar di bidang ekonomi. Di Filipina, Melayu adalah pejuang-pejuang yang berani dan disegani. Di sana sini, anak-anak Melayu yang membawa diri mampu bersaing dan bangkit menjadi orang yang berjaya. Di England, ada anak Melayu telah naik martabatnya sehingga menjadi Datuk Bandar.
Di Hollywood, seorang lagi anak Melayu bergerak naik di celah nama ribuan manusia lain untuk berdiri sebagai karyawan yang dihormati dalam teknologi animasi komputer. Malah studio di mana berlangsungnya penggambaran bagi siri filem-filem James Bond yang terkenal itu pun dikatakan milik anak Melayu!
Persekitaran, di mana-mana dan pada bila-bila masa pun, memanglah merupakan faktor besar yang mempengaruhi kehidupan. Hukum ini tidak sahaja terbatas kepada manusia, tetapi juga mencakupi segala makhluk lain. Anak benih pokok yang sedang membesar sekalipun akan condong mengikut arah datangnya cahaya.
Dalam ‘Dilema Melayu’, Mahathir mengulas bagaimana persekitaran yang melingkungi kehidupan mereka menyebabkan orang Melayu kurang berminat untuk bersaing. Beliau beranggapan tanah semenanjung yang subur telah menyediakan segala-galanya untuk orang Melayu hidup selesa.
“Pendeknya alam keliling menjamin keperluan makanan yang mencukupi untuk menampung seluruh penduduk sepanjang tahun. Kelaparan dan kebuluran yang sentiasa mengancam negeri-negeri lain, seperti Negeri China, tidak terdapat di Tanah Melayu. Dalam keadaan begini maka semua orang dapat terus hidup. Malahan mereka yang paling lemah dan paling malas juga boleh hidup dengan selesa dan dapat berkahwin dan beranak pinak. Dalam keadaan yang begini tidak dapat hendak dikatakan bahawa cuma mereka yang paling kuat dapat terus hidup. Oleh kerana terdapat banyaknya bahan makanan maka orang yang lemah juga akan dapat terus hidup.” (DILEMA MELAYU, ms.25).
Ada benarnya pendapat itu. Tetapi ianya menjadi kurang benar apabila mengambil kira bagaimana keadaan serba kurang di negara-negara seperti Bangladesh, Nepal dan Bhutan juga gagal melahirkan bangsa yang kuat berdaya saing. Kebanyakan tanah di benua Afrika boleh dikatakan gersang dan tidak subur. Ia menuntut setiap orang yang mahu hidup di atas buminya mempunyai ketahanan yang luar biasa. Penduduk-penduduk pribumi Afrika biasanya mempunyai ketahanan itu. Persekitaran mereka hanya membuka pintu pada yang kuat sahaja untuk hidup selesa.
Tetapi kenapa mereka gagal berkembang sebagai bangsa yang besar, hebat dan kuat ? Kenapa anak cucu mereka yang terlontar ke Amerika, atau ke segala penjuru dunia yang lain, gagal mengangkat ketahanan itu untuk dijadikan aset yang boleh menjanjikan kegemilangan pada bangsa mereka? Kenapa?
Memanglah benar orang-orang Melayu, pada peringkat awal penempatannya di Semenanjung ini, lebih tertumpu ke kawasan-kawasan dataran yang subur. Mereka menghuni kawasan pesisir sungai dan pantai yang menjanjikan mereka kesuburan dan kemakmuran. Mereka tidak begitu berminat untuk meneroka bukit bukau dan hutan belantara bagi menambah sumber kesuburan dan kemakmuran tersebut. Hasil daripada keadaan itu timbul suatu tanggapan bahawa orang Melayu lebih suka pada kehidupan yang mudah. Mereka telah terasuh untuk menjadi begitu. Mereka telah dimanjakan oleh alam sekeliling. Mereka lebih senang menerima apa yang ada daripada berusaha mencari sesuatu yang baru.
Namun siapakah yang berani bertaruh untuk berkata bahawa peneroka bukit bukau itu mempunyai keupayaan bersaing yang lebih hebat daripada pemastautin di kawasan kawasan dataran yang subur? Tertumpu pada kawasan pesisir sungai yang subur untuk membina penempatan bukanlah terbatas pada orang Melayu sahaja. Ia merupakan amalan lazim zaman berzaman. Hampir semua tamadun besar terbina di kawasan seperti itu. Nil, Yang Tze dan Ganges tidak akan menjadi terkenal kalau bukan kerana disokong oleh kebangkitan tamadun-tamadun di pinggirnya.
Mencari kesenangan secara mudah bukanlah setakat sifat semulajadi orang Melayu. Ianya fitrah semua bangsa. Semua manusia. Sebab itu bukan pelik jika manusia pada zaman dahulu berebut untuk tinggal di kawasan pinggir sungai yang tidak sahaja menyediakan tanah yang subur, tetapi juga pelbagai kemudahan lain, termasuk mendapatkan bekalan air dan untuk dijadikan laluan pengangkutan. Orang-orang Cina yang baru datang ke Tanah Melayu pada era awal penghijrahan mereka dahulu pun memilih kawasan pinggir sungai untuk bermastautin.
Jika mendiami kawasan-kawasan yang subur itu menyebabkan orang Melayu terasuh untuk menjadi tidak rajin berusaha, maka soalan yang patut ditanya ialah kenapa orang-orang China di pinggir Yang Tze, dan kemudiannya di pinggir Sungai Kelang dan Sungai Gombak tidak pula menjadi malas? Kenapa bangsa-bangsa lain yang turut berkembang biak di kawasan yang serupa tidak menjadi selemah bangsa Melayu? Dan pada masa yang sama patut pula ditanya, mengapa ‘raja-raja bukit’ seperti orang-orang Karen di Burma tidak menjadi bangsa yang hebat sedangkan mereka adalah jenis orang yang sanggup bekerja keras meneroka rimba jerun yang tidak berani dijengah oleh manusia lain?
Banyak orang yang bersependapat dengan Mahathir, yang lewat ‘Dilema Melayu’nya berkata, iklim panas dan lembap di negara ini juga tidak begitu menggalakkan (orang Melayu) untuk melakukan kerja-kerja yang berat. Ia juga tidak merangsang pemikiran mereka untuk menjadi lebih aktif.
Sewaktu menulis fasa-frasa itu Mahathir barangkali terlupa untuk bertanya, kenapa dalam cuaca yang panas dan lembap,orang lain, yang bukan Melayu boleh melakukan kerja-kerja berat dan boleh berfikir secara aktif? Kenapa kesan buruk cuaca itu hanya mempengaruhi orang Melayu bukannya bangsa-bangsa lain? Bagaimana pula halnya dengan orang-orang Mesir Purba yang hidup dalam keadaan serba kontang dan serba kurang, namun mampu membina tamadun besar? Tidakkah cuaca yang panas juga sepatutnya menyebabkan orang-orang Arab tidak mampu berbuat apa-apa selain daripada duduk berbual di bawah pohon-pohon kurma?
Keturunan mungkin mempunyai pengaruhnya. Namun ada banyak contoh untuk dijadikan bukti bahawa ia bukan penyebab mutlak ke arah menentukan maju mundurnya sesuatu bangsa. Janji Allah bahawa Dia tidak akan mengubah nasib sesuatu bangsa melainkan bangsa itu sendiri mengubahnya adalah suatu isyarat yang amat jelas bahawa setiap manusia ini dijadikan dengan kemampuan yang sama. Biar dari perdu mana pun seseorang itu lahir, dia berupaya naik ke puncak jika usahanya ke arah itu dilakukan secara sungguh-sungguh. Teori genetik tidak selamanya benar terutama dalam soal menentukan masa depan seseorang manusia atau sesuatu rumpun bangsa. Tuhan akan menjadi sangat tidak adil kalau menentukan karma manusia dengan bakanya. Sesungguhnya tidak adil itu bukanlah sifat Tuhan.
Bangsa-bangsa yang besar dan kuat suatu masa dahulu banyak yang lenyap dan ranap walaupun daripada segi teori mereka memiliki baka yang hebat. Ke mana perginya wira-wira Monggol? Ke mana hilangnya anak cucu Socrates atau Aristotle? Jika hendak dikatakan mereka pupus kerana faktor putaran masa, kenapa anak cucu Shih-Huang Ti masih ada? Kenapa anak cucu pelopor Tamadun China masih sehebat dahulu?
Pendapat tentang sifat semulajadi Melayu yang dibelenggu rasa rendah diri juga mempunyai banyak ruang untuk dipertikaikan. Yang paling penting untuk ditanya ialah, kenapa sifat itu harus ada dan adakah ianya cuma hakmilik istimewa bangsa Melayu?
Kalau dikatakan sifat rendah diri itu lahir secara semulajadi, apakah buktinya? Atas alasan apakah Tuhan memilih orang Melayu untuk diabadikan dengan sifat-sifat itu?
Ada orang berpendapat sifat rendah diri ini datang ke sanubari orang Melayu selepas mereka menganut Islam. Nenek moyang orang Melayu dahulu menganggap diri mereka orang yang jahil dalam ilmu-ilmu akhirat. Oleh itu, setiap kali berhadapan dengan pendakwah-pendakwah Islam yang berilmu tinggi, terutama yang datang daripada Asia Barat, mereka akan dibelenggu oleh rasa ‘kecil’ dan rasa untuk ‘merendah’. Lama-kelamaan perasaan itu berkembang biak lalu terbina menjadi suatu tabiat.
Soalnya, kalaupun betul, kenapa perkara begitu hanya terjadi pada orang Melayu? Kenapa orang Putih yang baru memeluk Islam tidak berasa rendah diri? Kenapa orang India, orang China, orang Parsi dan segala macam orang lain tidak mempunyai perasaan yang sama sedangkan hakikatnya tatkala mula memeluk Islam mereka sudah pasti berada dalam situasi yang sama dengan orang Melayu – berasa kecil dan jahil?
Satu lagi andaian popular ialah perasaan rendah diri orang Melayu ini berpunca daripada salah tanggapan terhadap ajaran Islam. Ketaatan kepada Islam menyebabkan Melayu mentafsirkan nilai toleransi yang dituntut oleh Islam dengan perspektif yang sempit. Mereka juga menerima hukum qada dan qadar dengan cara berfikir yang jumud. Konsep keredhaan mereka ada kalanya melebihi tahap yang dituntut sehingga menyebabkan mereka bersikap ‘tidak apa’ dalam segala perkara. Himpunan daripada semua inilah akhirnya menyebabkan orang Melayu berasa mereka tidak perlu bersaing dan bersikap pasrah kepada kehidupan.
Tetapi sekali lagi persoalannya ialah kenapa anggapan begitu cuma timbul di jiwa orang Melayu? Kenapa bangsa lain yang menganut Islam tidak mempunyai tanggapan dan pemikiran yang sama? Mengapa orang China Islam dan orang India Muslim tidak dibelenggu oleh kejumudan tersebut sedangkan mereka juga tidak kurang taatnya berbanding dengan kita?
Saya sengaja timbulkan soalan-soalan ini kerana saya tahu tiada sesiapa yang akan dapat menjawabnya.
Melayu secara umumnya berada dalam satu posisi yang cukup unik, dan cukup kronik, sehingga tiada mana-mana pengkaji dapat memberikan jawapan mutlak terhadap masalah yang membelenggu kehidupan mereka, khususnya dalam aspek yang membabitkan sikap dan tabiat. Apa juga andaian tentang mereka sampai bila-bila pun akan tinggal sebagai hepotitis yang tidak akan bertukar menjadi teori.
Keunikan peribadi Melayu ini berkemungkinan besar dipengaruhi oleh banyak faktor. Kedudukan bumi Melayu yang terdedah pada segala macam elemen budaya, latar belakang bangsa yang berkembang daripada penganut animisme kepada penganut Islam yang taat, semuanya sama-sama memainkan peranan untuk menjadikan Melayu satu bangsa yang agak berkecamuk akal fikirannya. Perhatikanlah mana-mana juga Melayu, di dalam dirinya pasti terpancar seribu wajah. Pada tubuhnya tersembunyi unsur Arab, unsur Mamak, unsur orang Putih dan seribu satu unsur lain yang bercampur aduk.
Keperibadian yang berbagai-bagai inilah menyebabkan Melayu menjadi begitu sukar difahami. Dan ketidakfahaman itu menjadi punca terhadap timbulnya pelbagai salah tanggapan terhadap mereka.
‘Melayu pemalas’ adalah rentetan daripada salah tanggapan itu. Orang-orang asing yang gagal memahami susur galur Melayu dengan mudah akan berasa hairan kenapa Melayu boleh menjadi warga kelas dua di bumi yang subur ini. Mereka lalu beranggapan ianya berlaku kerana Melayu tidak rajin.
Silap orang Melayu ialah mereka tidak pernah berusaha memberi kefahaman tentang asal usul mereka kepada orang lain. Sebaliknya, mereka dengan penuh kealpaan hanya menerima bulat-bulat teori yang orang lain sogokkan kepada mereka. Paling Iebih, sekiranya pendapat itu kurang memihak pada mereka, sebahagian daripada orang Melayu mungkin akan marah-marah.
Semua ini tidak akan berlaku kalau orang Melayu mempunyai hubungkait yang kuat dengan akar umbi bangsanya. Mereka tidak akan berasa susah untuk meyakinkan orang lain bahawa Melayu sebenarnya bangsa yang hebat jika mereka rajin mencungkil, mengenang dan menghargai sejarah kehebatan datuk nenek mereka. Tidak susah untuk membuka mata orang asing bagi mengakui bahawa lebih seribu tahun dahulu tamadun-tamadun Melayu telah berkembang biak, telah menjadi gah dan tersohor di nusantara. Dan bangsa yang pemalas sudah tentu tidak akan mampu membina tamadun-tamadun seumpama itu.
Tamadun Greek sudah lama punah. Ranap sama sekali. Greece sekarang hanya tinggal tersepit sebagai sebuah negara kecil di pinggir Mediterranean dan Laut Ageans. Tetapi cubalah anda berkunjung ke Athens. Anda pasti akan dapat mendengar orang-orangnya bercerita seolah-olah Julius Caesar dan Pompei baru meninggal dunia pagi semalam.
Cubalah berkunjung ke China dan dengar sendiri bagaimana anak-anak negerinya bercerita tentang Tembok Besar, tentang Shih-Huang Ti atau tentang Confusius. Bunyinya seolah-olah mereka pernah hidup di era itu. Mereka jelas berbangga dengan apa yang mereka pernah ada.
Kita?
Sementara majoriti orang Melayu tidak pernah tahu di mana letaknya Lembah Bujang, sebahagian besar yang lain pula berkunjung ke Melaka untuk melihat simbol kekuatan Portugis iaitu A Famosa, bukannya untuk menjengah simbol ketuanan Melayu seperti Perigi Hang Tuah atau Makam Hang Jebat. Untuk melihat tingginya seni pertukangan Melayu di Istana Seri Menanti yang tidak berpaku itu pun kita terasa berat hati.
Tidak banyak di kalangan kita yang boleh bercerita tentang kegemilangan silam anak bangsanya. Apabila bercerita pada anak cucu, kita lebih seronok mengulangi kisah ‘Cinderella’ atau ‘Snow White’. Kita biasakan anak-anak kita dengan nama Robin Hood dan Kapten Cook bukannya dengan nama Hang Nadim atau Tun Teja. Kita seolah-olah tidak pernah berbangga dengan apa yang kita ada.
Orang lain sanggup menghabiskan berjuta ringgit untuk mencari sesuatu yang boleh menghidupkan kembali kegemilangan bangsanya. Dalam kes tertentu, mereka malah sanggup mengubah fakta yang ada dan mencipta fakta-fakta baru yang palsu. Mereka melakukannya kerana sayangkan bangsa.
Kita tidak begitu. Kita boleh menghabiskan cukup banyak wang untuk membiayai rombongan ke luar negara, tetapi kita akan ‘berkira’ untuk membina sesuatu yang boleh menghubungkan generasi sekarang dengan masa silamnya.
Pahit atau tidak, kita perlu mengaku bahawa apa yang dilakukan setakat ini belum cukup untuk menggambarkan terima kasih kita pada generasi terdahulu. Apa yang ada itu belum memadai untuk menghidupkan jiwa Melayu sebagaimana hidupnya jiwa orang Amerika setiap kali melihat ‘Statue of Liberty’.
Usahlah melihat terlalu jauh ke belakang. Lihat sahajalah bagaimana kita menghargai Tuk Gajah, Mat Kilau, Tuk Janggut atau pejuang-pejuang selepas mereka. Malah setakat manakah sumbangan kita kepada pejuang-pejuang kemerdekaan selain daripada Datuk Onn dan Tunku Abdul Rahman? Hendak membukukan sejarah perjuangan mereka pun tidak banyak pihak yang sanggup.
Berdasarkan apa yang ada tergambar jelas yang kita bagaikan tidak menghargai kebolehan orang-orang yang dahulu daripada kita. Kita tak pernah ambil kisah. Kita tak pernah peduli. Kita alpa dalam menghargai sumbangan mereka.
Dan apabila kita alpa menghargai bangsa sendiri, bagaimanakah kita boleh mengharapkan orang lain menghargai kita?
Posted in Uncategorized
SIKSA DAN DOSA MENINGGALKAN SHALAT
H.M.RAKIB CIPTAKARYA PEKANBARU RIAU INDONESIA
H.M.RAKIB CIPTAKARYA PEKANBARU RIAU INDONESIA
ADUH-ADUH, SITI AISYAH
MANDI DI KALI, RAMBUTNYA BASAH
TIDAK SEMBAHYANG, TIDAK PUASA
DI DALAM KUBUR MENDAPAT SIKSA
Azab/Hukuman Orang Yang Lalai Tidak Shalat/Sholat Wajib Lima Waktu Sholat/Shalat lima waktu adalah ibadah wajib bagi setiap pemeluk agama islam dewasa kecuali yang dilarang untuk melakukannya seperti yang sedang datang bulan, sedang sakit parah, sedang gila, sedang lupa, dan lain-lain. Meskipun hukuman bagi orang yang meninggalkan solat/salat sangat berat namun banyak sekali orang islam yang tidak menjalankannya dengan berbagai alasan mulai dari sibuk sampai yang malas. Berikut ini adalah beberapa azab/hukuman bagi orang-orang yang lalai dalam mengerjakan sholatnya :
MANDI DI KALI, RAMBUTNYA BASAH
TIDAK SEMBAHYANG, TIDAK PUASA
DI DALAM KUBUR MENDAPAT SIKSA
Azab/Hukuman Orang Yang Lalai Tidak Shalat/Sholat Wajib Lima Waktu Sholat/Shalat lima waktu adalah ibadah wajib bagi setiap pemeluk agama islam dewasa kecuali yang dilarang untuk melakukannya seperti yang sedang datang bulan, sedang sakit parah, sedang gila, sedang lupa, dan lain-lain. Meskipun hukuman bagi orang yang meninggalkan solat/salat sangat berat namun banyak sekali orang islam yang tidak menjalankannya dengan berbagai alasan mulai dari sibuk sampai yang malas. Berikut ini adalah beberapa azab/hukuman bagi orang-orang yang lalai dalam mengerjakan sholatnya :
Siksa dan Dosa Meninggalkan Shalat
Fardhu 6 Siksa di Dunia Orang yang Meninggalkan Shalat Fardhu : Allah SWT
mengurangi keberkatan umurnya. Allah SWT akan mempersulit rezekinya. Allah SWT
akan menghilangkan tanda/cahaya shaleh dari raut wajahnya. Orang yang
meninggalkan shalat tidak mempunyai tempat di dalam islam. Amal kebaikan yang
pernah dilakukannya tidak mendapatkan pahala dari Allah SWT. Allah tidak akan
mengabulkan doanya. 3 Siksa Orang yang Meninggalkan Shalat Fardhu Ketika
Menghadapi Sakratul Maut : Orang yang meninggalkan shalat akan menghadapi
sakratul maut dalam keadaan hina. Meninggal dalam keadaan yang sangat lapar.
Meninggal dalam keadaan yang sangat haus. 3 Siksa Orang yang Meninggalkan
Shalat Fardhu di Dalam Kubur :
Allah SWT akan menyempitkan
kuburannya sesempit sempitnya. Orang yang meninggalkan shalat kuburannya akan
sangat gelap. Disiksa sampai hari kiamat tiba. 3 Siksa Orang yang Meninggalkan
Shalat Fardhu Ketika Bertemu Allah : Orang yang meninggalkan shalat di hari
kiamat akan dibelenggu oleh malaikat. Allah SWT tidak akan memandangnya dengan
kasih sayang. Allah SWT tidak akan mengampunkan dosa dosanya dan akan di azab
sangat pedih di neraka. Dosa Meninggalkan Shalat Fardhu : Shalat Subuh : satu
kali meninggalkan akan dimasukkan ke dalam neraka selama 30 tahun yang sama
dengan 60.000 tahun di dunia. Shalat Dhzuhur : satu kalo meninggalkan dosanya
sama dengan membunuh 1.000 orang umat islam. Shalat Ashar :
Pada
suatu kali meninggalkan dosanya sama dengan menutup/meruntuhkan ka’bah. Shalat
Maghrib : satu kali meninggalkan dosanya sama dengan berzina dengan orangtua.
Shalat Isya’ : satu kali meninggalkan tidak akan di ridhoi Allah SWT tinggal di
bumi atau di bawah langit serta makan dan minum dari nikmatnya.
Sumber-Wordpress Untuk itulah kita sebagai umat muslim yang baik harus
menjalankan apa yang diperintahkan Tuhan dan menjauhi apa yang dilarang Tuhan.
Jangan ikut-ikutan orang-orang di sekitar kita. Percuma kalau kita hidup senang
di dunia selama 50 tahun akan tetapi kelak kita mandapatkan siksa neraka yang
pedih selama jutaan tahun lamanya atau bahkan selama-lamanya. Mari kita shalat
karena sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Selain sholat kita juga
wajib beriman dan bertakwa kepada Allah. organisasi.org *****
Ada 5 Kemuliaan bagi orang yang
istiqomah dalam sholat: Kemuliaan di dunia Dihindarkan dari siksa kubur
Mendapatkan doa2 dari orang2 sholeh Dimudahkan dalam menyusuri jembatan shirot.
Dihindarkan dari pemeriksaan amal ibadah didunia. ***** https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjSU-l5G9TY8oXi_DIJgq4t6SeomQ9tkC7IF5UHKkmD9oT0kortGjmKm453nDUhpvRpRJOkFnnU4DEH0II1HDEJD4tPBD01hG_WG7_t8XX8JTHdHjktEzveVrL4peqG47B4RJw0pd4fqUm8/s320/n182469048756_306.jpg
***** Ibnu Abbas, berkata, Maksud Hadist: “Aku dengar Rasulullah SAW bersabda:
“Awalnya orang yang meninggalkan solat itu, bukanlah dia termasuk golongan
Islam. Allah tidak terima tauhid dan imannya dan tidak ada faedah shodakah,
puasa dan syahadatnya”. Alhadist. Gambaran Azab Bagi Yang Meninggalkan Sholat.
Dalam peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW, bukan saja diperlihatkan tentang
balasan orang yang beramal baik, tetapi juga diperlihatkan balasan orang yang
berbuat mungkar, diantaranya siksaan bagi yang meninggalkan Sholat fardhu.
Mengenai balasan orang yang meninggalkan Sholat Fardu: “Rasulullah SAW,
diperlihatkan pada suatu kaum yang membenturkan kepala mereka pada batu, Setiap
kali benturan itu menyebabkan kepala pecah, kemudian ia kembali kepada keadaan
semula dan mereka tidak terus berhenti melakukannya. Lalu Rasulullah bertanya:
“Siapakah ini wahai Jibril”? Jibril menjawab: “Mereka ini orang yang berat
kepalanya untuk menunaikan Sholat fardhu”. (Riwayat Tabrani). Orang yang
meninggalkan Sholat akan dimasukkan ke dalam Neraka Saqor. Maksud Firman Allah
Ta’ala:
“..Setelah melihat orang-orang yang
bersalah itu, mereka berkata: “Apakah yang menyebabkan kamu masuk ke dalam
Neraka Saqor ?”. Orang-orang yang bersalah itu menjawab: “kami termasuk dalam
kumpulan orang-orang yang tidak mengerjakan Sholat” Al-ayat. Saad bin Abi Waqas
bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai orang yang melalaikan Sholat, maka
jawab Baginda SAW, “yaitu mengakhirkan waktu Sholat dari waktu asalnya hingga
sampai waktu Sholat lain. Mereka telah menyia-nyiakan dan melewatkan waktu
Sholat, maka mereka diancam dengan Neraka Wail”. Ibn Abbas dan Said bin
Al-Musaiyib turut menafsirkan hadist di atas “yaitu orang yang
melengah-lengahkan Sholat mereka sehingga sampai kepada waktu Sholat lain, maka
bagi pelakunya jika mereka tidak bertaubat Allah menjanjikan mereka Neraka
Jahannam tempat kembalinya”.
Maksud Hadist: “Siapa meninggalkan
sholat dengan sengaja, maka sesungguhnya dia telah kafir dengan nyata”.
Berdasarkan hadist ini, Sebagaian besar ulama (termasuk Imam Syafi’i) berfatwa:
Tidak wajib memandikan, mengkafankan dan mensholatkan jenazah seseorang yang
meninggal dunia dan mengaku Islam, tetapi tidak pernah mengerjakan sholat.
Bahkan, ada yang mengatakan haram mensholatkanya. Siksa Neraka Sangat
Mengerikan Mereka yang meninggalkan sholat akan menerima siksa di dunia dan di
alam kubur yang terdiri dari tiga siksaan. Tiga jenis siksa di dalam kubur
yaitu: Kuburnya akan berhimpit-himpit serapat mungkin sehingga meremukkan
tulang-tulang dada. Dinyalakan api di dalam kuburnya dan api itu akan membelit
dan membakar tubuhnya siang dan malam tiada henti-henti.
Akan muncul seekor ular yang bernama
“Sujaul Aqra” Ia akan berkata, kepada si mati dengan suaranya bagai halilintar:
“Aku disuruh oleh Allah memukulmu sebab meninggalkan sholat dari Subuh hingga
Dhuhur, kemudian dari Dhuhur ke Asar, dari Asar ke Maghrib dan dari Maghrib ke
Isya’ hingga Subuh”. Ia dipukul dari waktu Subuh hingga naik matahari, kemudian
dipukul dan dibenturkan hingga terjungkal ke perut bumi karena meninggalkan
Sholat Dhuhur. Kemudian dipukul lagi karena meninggalkan Sholat Asar, begitulah
seterusnya dari Asar ke Maghrib, dari Maghrib ke waktu Isya’ hingga ke waktu
Subuh lagi. Demikianlah seterusnya siksaan oleh “Sajaul Aqra” hingga hari
Qiamat.
Di
dalam Neraka Jahanam terdapat wadi (lembah) yang didalamnya terdapat ular-ular
berukuran sebesar tengkuk unta dan panjangnya sebulan perjalanan. Kerjanya
tiada lain kecuali menggigit orang-orang yang tidak mengerjakan Sholat semasa
hidup mereka. Bisa ular itu juga menggelegak di di badan mereka selama 70 tahun
sehingga hancur seluruh daging badan mereka. Kemudian tubuh kembali pulih, lalu
digigit lagi dan begitulah seterusnya. Maksud Hadist: “orang yang meninggalkan
sholat, akan Allah hantarkan kepadanya seekor ular besar bernama “Suja’ul
Akra”, yang matanya memancarkan api, mempunyai tangan dan berkuku besi, dengan
membawa alat pemukul dari besi berat”. Siapakah orang yang sombong? Orang yang
sombong adalah orang yang diberi penghidupan tapi tidak mau sujud pada yang
menjadikan kehidupan itu yaitu, Allah Rabbul Alaamin, Tuhan sekalian alam. Maka
bertasbihlah segala apa yang ada di bumi dan di langit pada TuhanNya kecuali
Iblis dan manusia yang sombong diri.
Siapakah
orang yang telah mati hatinya? Orang yang telah mati hatinya adalah orang yang
diberi petunjuk melalui ayat-ayat Qur’an, Hadits dan cerita-cerita kebaikan
namun merasa tidak ada kesan apa-apa di dalam jiwa untuk bertaubat. Siapakah
orang dungu kepala otaknya? Orang yang dungu kepala otaknya adalah orang yang
tidak mau melakukan ibadah tapi menyangka bahwa Allah tidak akan menyiksanya
dengan kelalaiannya itu dan sering merasa tenang dengan kemaksiatannya.
Siapakah orang yang bodoh? Orang yang bodoh adalah orang yang
bersungguh-sungguh berusaha sekuat tenaga untuk dunianya sedangkan akhiratnya
diabaikan. Malaikat Jibril as, telah menemui Nabi Muhammad SAW, dan berkata:
“Ya Muhammad.. Tidaklah diterima bagi orang yang meninggalkan sholat yaitu:
Puasanya, Shodaqahnya, Zakatnya, Hajinya dan Amal baiknya”. Orang yang
meninggalkan Sholat akan diturunkan kepadanya tiap-tiap hari dan malam seribu
laknat dan seribu murka.
Begitu
juga Para Malaikat di langit ke-7 akan melaknatnya. Ya Muhammad..! Orang yang
meninggalkan Sholat tidak akan mendapat syafa’atmu dan ia tidak tergolong dari
umatmu.. Tidak boleh diziarahi ketika ia sakit, tidak boleh mengiringi
jenazahnya, tidak boleh beri salam pada nya, tidak boleh makan minum dengan
nya, tidak boleh bersahabat dengannya, tidak boleh duduk besertanya, tidak ada
Agama baginya, tidak ada kepercayaan bagi nya, tidak ada baginya Rahmat Allah
dan ia dikumpulkan bersama dengan orang Munafiqiin pada lapisan Neraka yang
paling bawah (diazab dengan amat dahsyat..). Sabda Nabi Muhammad SAW, Maksud
Hadist: “Perjanjian (perbedaan) diantara kita (orang islam) dengan mereka
(orang kafir) ialah Sholat, dan barangsiapa meninggalkan Sholat sesungguhnya ia
telah menjadi seorang kafir”. (Tirmizi). Wahai Saudaraku Ummat Islam, mari kita
merenung sejenak tentang ancaman azab bagi yang meninggalkan sholat Fardhu.
Apa
guna kita hidup di dunia sekalipun berlimpah harta jika kita termasuk golongan
orang-orang yang (kafir) meninggalkan sholat..?, barang siapa meninggalkan
Sholat, maka ia telah menjadi kafir dengan nyata…! Orang yang meninggalkan
sholat, ia wajib menerima azab Allah Ta’ala..! Orang yang meninggalkan sholat,
tidak akan mendapat Syafa’at Nabi Muhammad SAW, karena mereka telah menjadi
kafir dan orang kafir tidak berhak mendapat Syafa’at Nabi Muhammad SAW. Ancaman
Allah Ta’ala terhadap orang-orang yang meninggalkan sholat bukan sekedar
gertakan belaka. Sungguh ancaman Allah Ta’ala akan terbukti kelak di akhirat.
“…sesungguhnya Allah tidak akan mengingkari janji”. Wa Salam. ***** Hukum
Meninggalkan Sholat Para pembaca yang semoga selalu dirahmati oleh Allah
Ta’ala. Kita semua pasti tahu bahwa shalat adalah perkara yang amat penting.
Bahkan
shalat adalah rukun Islam yang utama yang bisa membuat bangunan Islam tegak.
Namun, realita yang ada di tengah umat ini sungguh sangat berbeda. Kalau kita
melirik sekeliling kita, ada saja orang yang dalam KTP-nya mengaku Islam, namun
biasa meninggalkan rukun Islam yang satu ini. Mungkin di antara mereka, ada
yang hanya melaksanakan shalat sekali sehari, itu pun kalau ingat. Mungkin ada
pula yang hanya melaksanakan shalat sekali dalam seminggu yaitu shalat Jum’at.
Yang lebih parah lagi, tidak sedikit yang hanya ingat dan melaksanakan shalat
dalam setahun dua kali yaitu ketika Idul Fithri dan Idul Adha saja. Memang
sungguh prihatin dengan kondisi umat saat ini. Banyak yang mengaku Islam di
KTP, namun kelakuannya semacam ini. Oleh karena itu, pada tulisan yang singkat
ini kami akan mengangkat pembahasan mengenai hukum meninggalkan shalat. Semoga
Allah memudahkannya dan memberi taufik kepada setiap orang yang membaca tulisan
ini.
Para
Ulama Sepakat Bahwa Meninggalkan Shalat Termasuk Dosa Besar yang Lebih Besar
dari Dosa Besar Lainnya Ibnu Qayyim Al Jauziyah –rahimahullah- mengatakan,
”Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja
adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh,
merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang
yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta
mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” (Ash Sholah, hal. 7) Dinukil oleh
Adz Dzahabi dalam Al Kaba’ir, Ibnu Hazm –rahimahullah- berkata, “Tidak ada dosa
setelah kejelekan yang paling besar daripada dosa meninggalkan shalat hingga
keluar waktunya dan membunuh seorang mukmin tanpa alasan yang bisa dibenarkan.”
(Al Kaba’ir, hal. 25) Adz Dzahabi –rahimahullah- juga mengatakan, “Orang yang
mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar. Dan yang
meninggalkan shalat secara keseluruhan -yaitu satu shalat saja- dianggap
seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput
darinya termasuk dosa besar.
Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya
sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertaubat.
Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi, celaka
dan termasuk orang mujrim (yang berbuat dosa).” (Al Kaba’ir, hal. 26-27) Apakah
Orang yang Meninggalkan Shalat Kafir Alias Bukan Muslim? Dalam point sebelumnya
telah dijelaskan, para ulama bersepakat bahwa meninggalkan shalat termasuk dosa
besar bahkan lebih besar dari dosa berzina dan mencuri. Mereka tidak berselisih
pendapat dalam masalah ini. Namun, yang menjadi masalah selanjutnya, apakah
orang yang meninggalkan shalat masih muslim ataukah telah kafir? Asy Syaukani
-rahimahullah- mengatakan bahwa tidak ada beda pendapat di antara kaum muslimin
tentang kafirnya orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari
kewajibannya. Namun apabila meninggalkan shalat karena malas dan tetap meyakini
shalat lima waktu itu wajib -sebagaimana kondisi sebagian besar kaum muslimin
saat ini-, maka dalam hal ini ada perbedaan pendapat (Lihat Nailul Author,
1/369). Mengenai meninggalkan shalat karena malas-malasan dan tetap meyakini
shalat itu wajib, ada tiga pendapat di antara para ulama mengenai hal ini.
Pendapat pertama mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat harus dibunuh
karena dianggap telah murtad (keluar dari Islam). Pendapat ini adalah pendapat
Imam Ahmad, Sa’id bin Jubair, ‘Amir Asy Sya’bi, Ibrohim An Nakho’i, Abu ‘Amr,
Al Auza’i, Ayyub As Sakhtiyani, ‘Abdullah bin Al Mubarrok, Ishaq bin Rohuwyah,
‘Abdul
Malik bin Habib (ulama Malikiyyah), pendapat sebagian ulama Syafi’iyah,
pendapat Imam Syafi’i (sebagaimana dikatakan oleh Ath Thohawiy), pendapat Umar
bin Al Khothob (sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hazm), Mu’adz bin Jabal,
‘Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Hurairah, dan sahabat lainnya. Pendapat kedua
mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat dibunuh dengan hukuman had,
namun tidak dihukumi kafir. Inilah pendapat Malik, Syafi’i, dan salah salah
satu pendapat Imam Ahmad. Pendapat ketiga mengatakan bahwa orang yang
meninggalkan shalat karena malas-malasan adalah fasiq (telah berbuat dosa
besar) dan dia harus dipenjara sampai dia mau menunaikan shalat. Inilah
pendapat Hanafiyyah. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 22/186-187) Jadi,
intinya ada perbedaan pendapat dalam masalah ini di antara para ulama termasuk
pula ulama madzhab. Bagaimana hukum meninggalkan shalat menurut Al Qur’an dan
As Sunnah? Silakan simak pembahasan selanjutnya. Pembicaraan Orang yang
Meninggalkan Shalat dalam Al Qur’an Banyak ayat yang membicarakan hal ini dalam
Al Qur’an, namun yang kami bawakan adalah dua ayat saja.
Allah Ta’ala berfirman,
َخَلَفَ
مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ
يَلْقَوْنَ غَيًّا إِلَّا مَنْ تَابَ وَ
آَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui al ghoyya, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” (QS. Maryam : 59-60) Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa ‘ghoyya’ dalam ayat tersebut adalah sungai di Jahannam yang makanannya sangat menjijikkan, yang tempatnya sangat dalam. (Ash Sholah, hal. 31) Dalam ayat ini, Allah menjadikan tempat ini –yaitu sungai di Jahannam- sebagai tempat bagi orang yang menyiakan shalat dan mengikuti syahwat (hawa nafsu).
آَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui al ghoyya, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” (QS. Maryam : 59-60) Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa ‘ghoyya’ dalam ayat tersebut adalah sungai di Jahannam yang makanannya sangat menjijikkan, yang tempatnya sangat dalam. (Ash Sholah, hal. 31) Dalam ayat ini, Allah menjadikan tempat ini –yaitu sungai di Jahannam- sebagai tempat bagi orang yang menyiakan shalat dan mengikuti syahwat (hawa nafsu).
Seandainya orang yang meninggalkan
shalat adalah orang yang hanya bermaksiat biasa, tentu dia akan berada di
neraka paling atas, sebagaimana tempat orang muslim yang berdosa. Tempat ini
(ghoyya) yang merupakan bagian neraka paling bawah, bukanlah tempat orang
muslim, namun tempat orang-orang kafir. Pada ayat selanjutnya juga, Allah telah
mengatakan, إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ”kecuali orang yang
bertaubat, beriman dan beramal saleh”. Maka seandainya orang yang menyiakan
shalat adalah mu’min, tentu dia tidak dimintai taubat untuk beriman. Dalam ayat
yang lain, Allah Ta’ala berfirman, َإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ
وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ “Jika mereka bertaubat,
mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah
saudara-saudaramu seagama.” (QS. At Taubah [9] : 11). Dalam ayat ini, Allah
Ta’ala mengaitkan persaudaraan seiman dengan mengerjakan shalat. Berarti jika
shalat tidak dikerjakan, bukanlah saudara seiman. Konsekuensinya orang yang
meninggalkan shalat bukanlah mukmin karena orang mukmin itu bersaudara
sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (QS. Al Hujurat [49] : 10)
Pembicaraan Orang yang Meninggalkan Shalat dalam Hadits Terdapat beberapa
hadits yang membicarakan masalah ini.
Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ
وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ “(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan
serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 257). Dari Tsauban
radhiyallahu ‘anhu -bekas budak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, beliau
mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَيْنَ العَبْدِ
وَبَيْنَ الكُفْرِ وَالإِيْمَانِ الصَّلَاةُ فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ
“Pemisah antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat.
Apabila dia meninggalkannya, maka dia melakukan kesyirikan.” (HR. Ath Thobariy
dengan sanad shohih. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih. Lihat
Shohih At Targib wa At Tarhib no. 566). Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ
وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ ”Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya
(penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2825. Dikatakan shohih oleh
Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi). Dalam hadits ini,
dikatakan bahwa shalat dalam agama Islam ini adalah seperti penopang (tiang)
yang menegakkan kemah. Kemah tersebut bisa roboh (ambruk) dengan patahnya
tiangnya. Begitu juga dengan Islam, bisa ambruk dengan hilangnya shalat.
Para Sahabat Berijma’ (Bersepakat),
Meninggalkan Shalat adalah Kafir Umar mengatakan, لاَ إِسْلاَمَ لِمَنْ تَرَكَ
الصَّلاَةَ ”Tidaklah disebut muslim bagi orang yang meninggalkan shalat.” Dari
jalan yang lain, Umar berkata, ولاَحَظَّ فِي الاِسْلاَمِ لِمَنْ تَرَكَ
الصَّلاَةَ “Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.”
(Dikeluarkan oleh Malik. Begitu juga diriwayatkan oleh Sa’ad di Ath Thobaqot,
Ibnu Abi Syaibah dalam Al Iman. Diriwayatkan pula oleh Ad Daruquthniy dalam
sunannya, juga Ibnu ’Asakir. Hadits ini shohih, sebagaimana dikatakan oleh
Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil no. 209). Saat Umar mengatakan perkataan
di atas tatkala menjelang sakratul maut, tidak ada satu orang sahabat pun yang
mengingkarinya. Oleh karena itu, hukum bahwa meninggalkan shalat adalah kafir
termasuk ijma’ (kesepakatan) sahabat sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul
Qoyyim dalam kitab Ash Sholah. Mayoritas sahabat Nabi menganggap bahwa orang
yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir sebagaimana dikatakan oleh
seorang tabi’in, Abdullah bin Syaqiq. Beliau mengatakan, كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ -صلى
الله عليه وسلم- لاَ يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ الأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ
الصَّلاَةِ “Dulu para shahabat Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amal yang
apabila ditinggalkan menyebabkan kafir kecuali shalat.” Perkataan ini
diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Abdullah bin Syaqiq Al ‘Aqliy seorang
tabi’in dan Hakim mengatakan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah
di dalamnya. Dan sanad (periwayat) hadits ini adalah shohih. (Lihat Ats Tsamar
Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, hal. 52) Dari pembahasan terakhir ini
terlihat bahwasanya Al Qur’an, hadits dan perkataan sahabat bahkan ini adalah
ijma’ (kesepakatan) mereka menyatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat
dengan sengaja adalah kafir (keluar dari Islam). Itulah pendapat yang terkuat
dari pendapat para ulama yang ada. Ibnul Qayyim mengatakan, ”Tidakkah seseorang
itu malu dengan mengingkari pendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat
adalah kafir, padahal hal ini telah dipersaksikan oleh Al Kitab (Al Qur’an), As
Sunnah dan kesepakatan sahabat. Wallahul Muwaffiq (Hanya Allah-lah yang dapat
memberi taufik).” (Ash Sholah, hal. 56) Berbagai Kasus Orang yang Meninggalkan
Shalat [Kasus Pertama]
Kasus ini adalah meninggalkan shalat
dengan mengingkari kewajibannya sebagaimana mungkin perkataan sebagian orang,
‘Sholat oleh, ora sholat oleh.’ [Kalau mau shalat boleh-boleh saja, tidak
shalat juga tidak apa-apa]. Jika hal ini dilakukan dalam rangka mengingkari
hukum wajibnya shalat, orang semacam ini dihukumi kafir tanpa ada perselisihan
di antara para ulama. [Kasus Kedua] Kasus kali ini adalah meninggalkan shalat
dengan menganggap gampang dan tidak pernah melaksanakannya. Bahkan ketika
diajak untuk melaksanakannya, malah enggan. Maka orang semacam ini berlaku
hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan kafirnya
orang yang meninggalkan shalat. Inilah pendapat Imam Ahmad, Ishaq, mayoritas ulama
salaf dari shahabat dan tabi’in. [Kasus Ketiga] Kasus ini yang sering dilakukan
kaum muslimin yaitu tidak rutin dalam melaksanakan shalat yaitu kadang shalat
dan kadang tidak. Maka dia masih dihukumi muslim secara zhohir (yang nampak
pada dirinya) dan tidak kafir. Inilah pendapat Ishaq bin Rohuwyah yaitu
hendaklah bersikap lemah lembut terhadap orang semacam ini hingga dia kembali
ke jalan yang benar. Wal ‘ibroh bilkhotimah [Hukuman baginya dilihat dari
keadaan akhir hidupnya]. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Jika
seorang hamba melakukan sebagian perintah dan meninggalkan sebagian, maka
baginya keimanan sesuai dengan perintah yang dilakukannya. Iman itu bertambah
dan berkurang.
Dan bisa jadi pada seorang hamba ada iman dan
nifak sekaligus. … Sesungguhnya sebagian besar manusia bahkan mayoritasnya di
banyak negeri, tidaklah selalu menjaga shalat lima waktu. Dan mereka tidak
meninggalkan secara total. Mereka terkadang shalat dan terkadang
meninggalkannya. Orang-orang semacam ini ada pada diri mereka iman dan nifak
sekaligus. Berlaku bagi mereka hukum Islam secara zhohir seperti pada masalah
warisan dan semacamnya. Hukum ini (warisan) bisa berlaku bagi orang munafik
tulen. Maka lebih pantas lagi berlaku bagi orang yang kadang shalat dan kadang
tidak.” (Majmu’ Al Fatawa, 7/617) [Kasus Keempat] Kasus ini adalah bagi orang
yang meninggalkan shalat dan tidak mengetahui bahwa meninggalkan shalat membuat
orang kafir. Maka hukum bagi orang semacam ini adalah sebagaimana orang jahil
(bodoh). Orang ini tidaklah dikafirkan disebabkan adanya kejahilan pada dirinya
yang dinilai sebagai faktor penghalang untuk mendapatkan hukuman. [Kasus
Kelima] Kasus ini adalah untuk orang yang mengerjakan shalat hingga keluar
waktunya. Dia selalu rutin dalam melaksanakannya, namun sering mengerjakan di
luar waktunya. Maka orang semacam ini tidaklah kafir, namun dia berdosa dan
perbuatan ini sangat tercela sebagaimana Allah berfirman, وَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ
(4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang
yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al Maa’un
[107] : 4-5) (Lihat Al Manhajus Salafi ‘inda Syaikh Nashiruddin Al Albani,
189-190) Penutup Sudah sepatutnya kita menjaga shalat lima waktu. Barangsiapa
yang selalu menjaganya, berarti telah menjaga agamanya. Barangsiapa yang sering
menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi.
Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan,
“Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat.
Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agama. Barangsiapa yang
menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi.
Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.“ Imam Ahmad
–rahimahullah- juga mengatakan perkataan yang serupa, “Setiap orang yang
meremehkan perkara shalat, berarti telah meremehkan agama. Seseorang memiliki
bagian dalam Islam sebanding dengan penjagaannya terhadap shalat lima waktu.
Seseorang yang dikatakan semangat dalam Islam adalah orang yang betul-betul
memperhatikan shalat lima waktu.
Kenalilah dirimu, wahai hamba Allah.
Waspadalah! Janganlah engkau menemui Allah, sedangkan engkau tidak memiliki
bagian dalam Islam. Kadar Islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar shalat dalam
hatimu.“ (Lihat Ash Sholah, hal. 12) Oleh karena itu, seseorang bukanlah hanya
meyakini (membenarkan) bahwa shalat lima waktu itu wajib. Namun haruslah
disertai dengan melaksanakannya (inqiyad). Karena iman bukanlah hanya dengan
tashdiq (membenarkan), namun harus pula disertai dengan inqiyad
(melaksanakannya dengan anggota badan). Ibnul Qoyyim mengatakan, “Iman adalah
dengan membenarkan (tashdiq). Namun bukan hanya sekedar membenarkan (meyakini)
saja, tanpa melaksanakannya (inqiyad). Kalau iman hanyalah membenarkan
(tashdiq) saja, tentu iblis, Fir’aun dan kaumnya, kaum sholeh, dan orang Yahudi
yang membenarkan bahwa Muhammad adalah utusan Allah (mereka meyakini hal ini
sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka), tentu mereka semua akan disebut
orang yang beriman (mu’min-mushoddiq).“ Al Hasan mengatakan, “Iman bukanlah
hanya dengan angan-angan (tanpa ada amalan). Namun iman adalah sesuatu yang
menancap dalam hati dan dibenarkan dengan amal perbuatan.“ (Lihat Ash Sholah,
35-36) Semoga tulisan yang singkat ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Semoga
kita dapat mengingatkan kerabat, saudara dan sahabat kita mengenai bahaya
meninggalkan shalat lima waktu. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush
sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa
sallam. [Muhammad Abduh Tuasikal] Sumber
I really like the fresh perpective mega888 apk download you did on the issue. I will be back soon to check up on new posts! Thank you!
ReplyDeleteThanks for the post. Im a big fan of the blog, i've even put a little bookmark right on the tool Online Casino Game Malaysia bar of my Firefox you'll be happy to find out!
ReplyDeleteThanks for always being the source 918kiss free credit that explains things instead of just putting an unjustified answer out there. I loved this post.
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteI am undeniably thankful to you for providing us with this invaluable
ReplyDeleterelated information . My spouse and I are easily grateful, quite frankly the documents we needed.