KEBEBASAN MIMBAR BAGI GURU DAN DOSEN DAN WIDYAISWARA
Drs.M.Rakib
Ciptakarya Pekanbaru Riau Indonesia
Guru satuan pendidikan di kelas
Dosen di berbagai universitas
Widyaiswara di tempat pelatihan terbatas
Duhai
tuan, para pendidik
Betapa licik dan picik jalan jalan berbatu di hadapanmu
Kau temui orang yang membungkus semua dalam keping-keping mata uang
Bunyi gemerincing yang pilukan hati.
Moral sudah ditinggalakan orang. Jangan pernah lupa itu
Di sini, tuan lahir dan dibesarkan
Di tanah ini tuan meninggalkan jejak petilasan.
Betapa licik dan picik jalan jalan berbatu di hadapanmu
Kau temui orang yang membungkus semua dalam keping-keping mata uang
Bunyi gemerincing yang pilukan hati.
Moral sudah ditinggalakan orang. Jangan pernah lupa itu
Di sini, tuan lahir dan dibesarkan
Di tanah ini tuan meninggalkan jejak petilasan.
Kecerdasan sosiologis, lebih penting dibanding kecerdasa akademis
Ayo tuan, beri generasi muda keterampilan
Mari berwirausaha. Ikutlah denganku
Kita bergegas meninggalkan batas
Ketaksadaran
Ayo tuan, beri generasi muda keterampilan
Mari berwirausaha. Ikutlah denganku
Kita bergegas meninggalkan batas
Ketaksadaran
(M.Rakib Ciptakarya Pekaanbaru Riau Indonesia
Menarik rasanya ketika penulis membaca tulisanYura
Pratama Yudhistira bahwa RUU Pendidikan Tinggi terus menuai kontroversi. Apakah dosen bisa menghasud mahasiswanya melawan pemeruntah yang sudah tidak benar..Salah satu isu
paling kontroversial dalam pembahasan RUU ini terkait otonomi perguruan tinggi.
Pasal 79 UU Guru dan Dosen secara tegas
menyatakan, PT yang melanggar hak dosen, termasuk hak atas kebebasan akademik,
diancam dengan sanksi administrasi.
Katanya ada dua butir otonomi
yang perlu dicermati: akademik dan non-akademik. Sebagian pihak percaya,
otonomi non-akademik akan sangat berpengaruh pada otonomi akademik.
Artinya, jika peran negara dikurangi dalam pengelolaan kampus, otonomi
akademik akan menjadi baik. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari fakta banyaknya
pasal yang menyebutkan pengaturan lebih lanjut diatur oleh peraturan menteri
akan melanggar kebebasan akademik.
Benarkah demikian?
Benarkah kebebasan akademik akan mati dalam universitas yang pengelolaannya
”tidak otonom”?
Sudah diatur
Dalam melihat suatu
kebijakan tentu kita tidak bisa melihat satu produk UU saja. Dengan demikian,
kajian atas kebebasan akademik tidak dapat dilakukan hanya dengan membaca RUU
Pendidikan Tinggi ini. Pengaturan dan perlindungan kebebasan akademik juga
diatur dalam dua UU bidang pendidikan.
Pertama, pengaturan
itu tentunya pada UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Dalam Pasal 24 Ayat (1)
disebutkan: dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan,
pada perguruan tinggi (PT) berlaku kebebasan akademik dan kebebasan mimbar
akademik serta otonomi keilmuan.
Pasal ini hanya
menyebutkan kebebasan akademik berlaku di setiap PT yang ada di Indonesia, baik PT swasta, PT berbadan hukum (PT dengan
otonomi non-akademik), maupun PTN (yang katanya tidak otonom dalam
pengelolaannya). Bisa disimpulkan, kebebasan akademik berlaku di mana pun dan
apa pun bentuk PT-nya.
Kedua, kita juga harus
melihat pengaturan kebebasan akademik dalam UU No 14/2005 tentang Guru dan
Dosen. UU ini penting karena sebagian dosen dan profesor khawatir bila
universitas tak otonom, kebebasan akademik akan mati.
Dalam Pasal 51 Ayat
(1) dinyatakan bahwa dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, dosen berhak:
(a) memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan
kesejahteraan sosial; (b) mendapatkan
promosi dan penghargaan sesuai tugas dan prestasi kerja; (c) memperoleh
perlindungan dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual; (d)
memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi, akses sumber belajar,
informasi, sarana dan prasarana pembelajaran, serta penelitian dan pengabdian
kepada masyarakat; (e) memiliki kebebasan akademik, mimbar akademik, dan
otonomi keilmuan; (f) memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan
menentukan kelulusan peserta didik; dan (g) memiliki kebebasan untuk berserikat
dalam organisasi profesi/organisasi profesi keilmuan.
Dari pasal ini,
terutama huruf e, bisa dikatakan bahwa dosen dan profesor tetap berhak memiliki
kebebasan akademik. Pasal 1 angka 2 tidak membedakan pengertian dosen di
universitas yang memiliki otonomi pengelolaan ataupun dosen dari universitas
yang ”tidak otonom dalam pengelolaannya” sehingga kebebasan akademik dapat
dirasakan oleh semua dosen
Kemudian, dalam Pasal
75 UU Guru dan Dosen, kebebasan akademik ini dipertegas. Ayat 2 dan 4
menyatakan, seorang dosen berhak atas perlindungan yang mencakup perlindungan
terhadap pelaksanaan tugas dosen sebagai tenaga profesional yang meliputi pembatasan kebebasan akademik,
mimbar akademik, dan otonomi keilmuan, serta pembatasan/pelarangan lain yang
dapat menghambat dosen dalam pelaksanaan tugas.
Bahkan dalam Ayat (6)
ditegaskan: dalam rangka kegiatan akademik, dosen mendapat perlindungan untuk
menggunakan data dan sumber yang dikategorikan terlarang oleh peraturan
perundang-undangan. Lebih jauh lagi, Pasal 79 UU Guru dan Dosen secara tegas
menyatakan, PT yang melanggar hak dosen, termasuk hak atas kebebasan akademik,
diancam dengan sanksi administrasi.
Kesimpulan
Pengaturan kebebasan
akademik di kebijakan pendidikan Indonesia tidak sebatas pada apa yang diatur
oleh RUU Pendidikan Tinggi. Kebebasan akademik juga tidak bergantung pada
bentuk kampus itu seperti apa. Semua PT wajib menjunjung tinggi kebebasan
akademik, sebagaimana sudah diatur dalam ketentuan-ketentuan di atas.
Kunci kebebasan
akademik ada pada setiap insan akademis di dalam universitas, bukan bentuk
universitasnya. Kebebasan akademik bagi insan akademis di PT telah cukup
dilindungi dalam UU Sisdiknas serta UU Guru dan Dosen.
Lantas, bila tidak
memengaruhi kebebasan akademik di Indonesia, mengapa para pembuat kebijakan
tetap memaksa untuk mengesahkan RUU Pendidikan Tinggi ini?
No comments:
Post a Comment