Saturday, February 21, 2015

Bagian Ke-9 Novel Empat Profesor Satu Cinta By Mr.M.Rakib



Bagian Ke-9  Novel Empat Profesor Satu Cinta By Mr.M.Rakib Pekanbaru Riau Indonesia. 2015. Hak Cipta pada Mhd Rakib, Drs.,S.H.,M.Ag

THE ART
 OF TEACHING
(Seni Mengajar)
Sang Penyair           : Menurut saya yang patut menjadi perhatian para pendidik, saat ini ialah the art of teaching(Seni Mengajar)
Profesor  Ummin    : Ah  nggak usah (Nadanya merendahkan), tidak ada bukunya tentang itu. Anda jangan ngarang-ngaranglah.(Sang penyair tersinggung berat dengan gaya bahasanya dan bodi languard-nya.
Sang  penyair           : Ah  itulah yang dikatakan “Bongak” (bodoh) namanya. Kalau tidak ada bukunya yah, kita bikinlah.(Nada suaranya agak tinggi dan sangat  menantang, seperti akan meninju orang).
Profesor Ummin       : Anda cepat tersinggung “pandoghe”.(Hari itu itu Profesor Ummin naik ke lantai dua, menemui atasannya, dan memohon untuk menasehati Sang penyair)
Profesor Maman      : (Dalam suatu acara rapat umum). Siapa yang merasa dirinya paling hebat, sebenarnya dialah yang paling bodoh. (Profesor Ummin langsung berbisik dengan teman di sebelahnya, karena merasa unek-uneknya sudah tersampaikan kepada sang Penyair.

Akhirnya sang penyair benar-benar mewujudkan keinginannya membuat buku THE ART OF TEACHING WICH MALAY CULTURE ( Seni mengajar dengan budaya Melayu) yang intinya ialah cara-cara merangsang anak didik untuk menguasai suatu ilmu pengetahuan.
 Sang penyair memulainya dengan mengambil topik, ilmu hukum, yaitu sejarah hukum di tanah Melayu. Peserta didik dirangsang dengan pepaatah hukum adat dengan gaya sastra, misalnya:

Mencampak, sambil ke hulu,
Kenaklah pantau, di kuala.
Diletakkan di dalam cupak
Dijerang desan, sipedas
Luhak yang berpnghulu
Rantau yang beraja.
Tegak yang tidak tersundak
Melenggang yang tidak terpempas.
(Undang-Undang Luhak, di rantau dilukiskan dalam pepatah.R.O. Winstedt Singapura, Pustaka Nasional, 1982.dan Djamaluddin Sutan Marajolelo, Tambo Adat. Dikutip dari Disetasi Dr.Amir Luthfi. Halaman 141.Sudah dibukukan dengan judul: PERUBAHAN STRUKTUR KEKUASAAN(Pelaksanaan Hukum Islam Dalam Kesultanan Melayu Siak, 1901-1942.

Melintang patah,
Membujur lalu.
Salah pada raja, mati
Salah pada penghulu, berhutang.
PANTUN HUKUM
Bagai mendengar petir di siang bolong, aku mencoba tenang, setelah mendengar berita, hakim konstitusi melanggar hukum.
KALAU MUSIM,  BUAH LAKUM
ASAMNYA SAMBAL, AKAN KENTARA
KALAU HAKIM, MELANGGAR HUKUM
NEGARA RUSAK, ATURAN HUKUM BINASA

KEMUMU DI DALAM SEMAK
BUAH LAKUM, DI SAMPINGNYA
MESKI ILMU SETINGGI TEGAK
MELANGGAR HUKUM,  APA GUNANYA

ASAM KANDIS ASAM GELUGUR
KETIGA ASAM RIANG-RIANG
MENANGIS DI PINTU KUBUR
MELANGGAR HUKUM, BUKAN KEPALANG
M.RAKIB MUBALLIGH IKMI  RIAU INDONESIA
Pantun hukum ini disebut pula pantun undang-undang, karena isinya mengandung ajaran dan pedoman bagi masyarakat. Kelebihan sebuah pantun, disamping memang sudah sangat mengakar dalam masyarakat Melayu, juga sangat fleksibel untuk digunakan. Jika ceramah atau khutbah hanya dapat dilakukan pada saat dan momen tertentu, maka pantun dapat digunakan kapan saja dalam kehidupan sehari-hari. Pantun dapat diselipkan dalam percakapan atau perbualan dalam nyanyian ataupun dalam senda gurau. Karena itu, pantun sering disebut juga sebagai pemanis cakap, pelemak kata, penyedap bual, rencah perbualan dan buah bicara.


        Di kalangan para orang tua Melayu, ada ungkapan: kalau bercakap sesama tua, banyaklah pantun pelemak kata; adat orang duduk berbual, banyaklah pantun penyedap bual; kalau yang tua duduk bercakap, banyalah pantun pemanis cakap. Dengan fleksibelnya penggunaan pantun ini, maka ajaran agama yang diselipkan di dalamnya juga bisa disampaikan kapan saja, tanpa menunggu momen tertentu. Dengan itu, penyampaian ajaran moral agama tetap berlangsung kapan dan di mana saja, tanpa terikat oleh waktu tertentu.

Pantun hukum disebut juga pantun dakwah karena:
Pantun hukum ini, berisikan aturan yang indah
Berisikan aturan syarak, beserta sunnah
Berisikan petuah dengan amanah
Berisikan jalan mengenal Allah
Berisikan ilmu memahami aqidah
Di situ disingkap benar dan salahnya
Di situ dicurai halal dan haramnya
Di situ dibentang manfaat mudaratnya
Di situ didedahkan baik buruknya
Di situ ilmu sama disimbah
Di situ tempat mencari tuah
Di situ tempat menegakkan marwah
Menyebarkan Islam dengan akidahnya
Supaya hidup ada kiblatnya
Apabila mati ada ibadatnya.

         Demikianlah kandungan dan fungsi pantun gama dalam kehidupa sehari. Berikut ini beberapa contoh dari pantun agama tersebut:
KEMUMU DI DALAM SEMAK
BUAH LAKUM, DI SAMPINGNYA
MESKI ILMU SETINGGI TEGAK
MELANGGAR HUKUM,  APA GUNANYA

ASAM KANDIS ASAM GELUGUR
KETIGA ASAM RIANG-RIANG
MENANGIS DI PINTU KUBUR
MELANGGAR HUKUM, BUKAN KEPALANG

Kemumu di tengah pekan
Dihembus angin jatuh ke bawah
Hukum yang,  tidak dilaksanakan
Bagai pohon tidak berbuah

Ambil galah kupaskan jantung
Orang Arab bergoreng kicap
Kepada Allah tempat bergantung
Kepada Nabi tempat mengucap

Asam rumbia dibelah-belah
Buah separuh di dalam raga
Dunia ikut firman Allah
Akhirat dapat masuk surga

Belah buluh bersegi-segi
Buat mari serampang ikan
Rezeki yang dapat, dibagi-bagi
Baik di laut, maupun juga daratan

Buah ini buah berangan
Masak dibungkus sapu tangan
Dunia ini pinjam-pinjaman
Akhirat kelak kampung halaman

Delima batu dipenggal-penggal
Bawa galah ke tanah merah
Lima waktu kalau ditinggal
Ibu marah, Tuhanpun murka

Banyaklah hari antara hari
Tidak semulia hari Jumat.
Banyaklah nabi antara nabi
Tidak semulia Nabi Muhammad


Orang Bangkinang, berpacu goni,
Mandi berlimau, di hari jum’at
Meninggalkan sembahyang, kalau berani

Seperti dunia,  tak akan kiamat.



No comments:

Post a Comment

Komentar Facebook