Thursday, January 28, 2016

DI ATAS BENANG YANG PUTUS(2) PUISI M.RAKIB JAMARI PEKANBARU 2016 Riau


BERLARI DI ATAS
BENANG YANG PUTUS(2)

PUISI  M.RAKIB JAMARI PEKANBARU 2016 Riau Indonesia.
HP 0823 9038 1888


Berlari di atas benang yang putus, siapa bilang, tidak mustahil.
Berlari di tengah hujan lebat, petir sabung menyabung
Pukul tiga sore, benang itu putus
Duh penderitaannya luar biasa, mengarah kepada putus asa.
Emosi dan akal sehatku tidak seimbang lagi, karena lenyapnya harapan.

Benang waktu, telah sampai di batasnya.
Berlari dari kantorku di Yenayan Raya, ke UIN Panam,
Lebih kurang, tiga puluh kilometer.
Berlari lagi, dari UIN di Paanam ke Pascasajana di Sujadi,
Dengan jarak, lima belas kilometer, memakai Honda bebek tuaku itu.
Bank BNI Syari’ah ditutup, sesuai dengan disiplin waktu.
Sedangkan sekarang sudah pukul empat
Disaat  itulah  aku merintih dan menangis, tapi bukan berarti aku lemah. Tapi aku hanya tak dapat mencari jalan lagi dan tak tahu kemana kaki ini dapat melangkah
 Tidak ada manusia yang menginginkan ketidakadilan di dunia ini, begitupula aku. Tapi tetap tak dapat aku pungkiri, hidup di dunia ini selalu tak adil
 cobaan apalagi ini ya Rabb? bisakah sesekali aku mengecap kebahagiaan dan mengenyam kemakmuran seperti orang lain? T__T
 Ada pertemuan maka ada perpisahan. Tapi mengapa saat kita begitu mencintai orang yang datang tersebut, tiba-tiba mereka meninggalkan kita?
 Mungkin bagi orang lain, kegagalan adalah sesuatu yang wajar-wajar saja. Tapi tidak bagiku, kegagalan berarti adalah akhir dari segalanya T__T
 Tak banyak yang dapat aku lakukan selain melihat apa yang selama ini kuperjuangkan terbuang dan menjadi sia-sia.
 Teman, kesempatan tak akan datang dua kali dalam hidup ini. Aku tahu itu, tapi entah kenapa aku selalu saja melewatkannya, bahkan ketika kesempatan itu datang dua kali
 Tak peduli sehebat apapun aku untuk melatih diriku, akan ada celah yang dapat membuatku terpeleset dan terjatuh
 Jika aku ingin menyerah, pastilah aku sudah lakukan sejak dulu. Tapi kenapa yang slalu kutemui hanyalah jalan buntu?
 Tak pernah sekalipun aku melewatkan rencana yang aku buat, tapi masih saja selalu kutemui kegagalan. Apa ini yang dinamakan takdir? Apa ini yang dinamakan nasib?
 Manusia selalu diberi kesempatan untuk mencoba beberapa kalipun yang dia mau, tapi tidak bagiku. Waktu yang aku punya sangat sempit dan hampir tidak ada lagi
 Akan sangat menyenangkan ketika kita mampu mendapatkan apa yang kita inginkan. Tapi untuk mendapatkan semua itu, kita harus terlebih dahulu menyeberang sungai dan mendaki gunung tertinggi. rasanya segenap daya upaya telah kukerahkan untuk melewati itu semua. saat ini aku sangat lelah.
Namun aku tetap berlari di atas batas waktu yang putus itu
Akan kuusap pintu Bank yang tertutup itu
Sekedar penglepas kepedihan hati.
Batas waktu diberikan pantia wisuda, hanya pukul tiga.
Wisuda S3 ku, tuk menyandang gelar doktor
Tahun depan memang masih bisa mendftar lagi,
Rp.6.juta uang kulaih harus dibayar lagi.
Habislah sudah ekonomiku, habis jerih payahku.
Motor Hondaku mogok di tengah hujan lebat.
Tidak mungkin panitia menunggu di batas waktu yang lebih dua jam.
Tapi keajaiban terjadi, validasi wisudaku diterima
Dinyatakan sah untuk ikut wisuda semserter ini. Alhamdulillah.


No comments:

Post a Comment

Komentar Facebook