Wednesday, May 8, 2013

BUKU BISA MENJADIKAN PEMBACANYA "GILA"



BUKU BISA MENJADIKAN "GILA"
Sebuah buku berjudul "Semua Hari Adalah Senin", pernah membuat si Nashib menjadi gila, karena pengarangnya tidak diketahui dan isinya sangat provokatif. Dia menjadi gila tanpa sadar.
Buku, makin dilarang, makin laris.
       Penulis dan anda tak sadar dan menikamati kebersamaan dengan anak anda hingga tak sadar anak anda telah beranjak dewasa...dan telah menikah ,,yah anda melewati waktu kebersamaan yang ada,berkumpul bersama keluarga,disebabkan sibuknya anda,,


"INGAT JIKA KITA KEHILANGAN UANG ,MAKA KITA BISA MENCARI LAGI TAPI JIKA KITA KEHILANGAN ,,WAKTU MUSTAHIL MEMBELINYA KEMBALI,,,"

Yah perbedaan orang Pintar dan orang Bodoh
1) Orang Pintar hanya menjadi Pengamat sejarah sedangkan orang bodoh adalah pelaku sejarah,,
= saking pintarnya diaa ,,hanya sibuk menganalisis gimana ini dengan perkembangan sejarah sedangkan ia tidak berani melangkah ,tapi orang bodoh karena tidak tahu dengan ilmu analisis apalah ..langsung aja melangkah ..tanpa peduli rezikonya ..sehingga ia tercatat namanya sebagai pelaku sejarah.



KATA PENGANTAR
              Pada tahun 1980 pertama sekali penulis menginjakkan kaki di kampus kuning Perguruan Tinggi , IAIN Suska Riau di Pekanabru, di perpustakaan penulis membaca buku Aliran Kebatinan oleh HM.Rasjidi, yang isinya ternyata ada ungkapan pelesetan terhadap istilah “Makah”. Madinah, zikir, shalat, dan banya lagi yang lainnya. Sebagai orang kampung yang baru ke kota, penulis terkejut, karena tidak pernah membaca analisis yang mirip pornografi. Kalau sekarang karena sudah puluhan juta pornografi di internet, tentu tidak begitu terkejut lagi, Namun karena menyangkut keyakinan dan keimanan, maka perlu menjadi perhatian.
        Apa yang menjadi tujuan Barat dalam melontarkan penghinaan terhadap Nabi Muhammad Saw?Apa yang menjadi tujuan Barat dalam melontarkan penghinaan terhadap Nabi Muhammad Saw? Negara mana saja yang mendapatkan keuntungan dari penghinaan ini? Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda memilih jawaban detil. Untuk menjelaskan jawaban atas pertanyaan ini kiranya kita perlu menyebutkan beberapa poin penting sebagai berikut:
1.     Pengalaman sejarah terhadap pelbagai jenis penghinaan:
Penghinaan terhadap para nabi As dan Nabi Islam Muhammad Saw bukan merupakan yang baru, melainkan memiliki rentetan pengalaman sejarah yang panjang sebagaimana yang diungkapkan al-Qur’an dengan pelbagai penjelasan:

A.    Penghinaan yang termasuk jenis pelecehan dan olok-olok: “Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tidak datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.” (Qs. Yasin [36]:30)
B.    Penghinaan yang termasuk jenis tudingan dan tuduhan: “Demikianlah, tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, “Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila. Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.” (Qs. Al-Dzariyat [51]:52-53)
C.    Memandang perbuatan nabi sebagai sihir, dusta, tidak berakal.
Akan tetapi protes dan penghinaan terhadap para nabi As dan Nabi Muhammad Saw tidak terkhusus terkait dengan hal-hal yang telah disebutkan di atas dan dalam bentuk yang lain juga telah dijelaskan. Misalnya mengapa Tuhan tidak berkata-kata dengan kami? Mengapa mukjizat tidak terjadi di tangan kita? Mengapa Tuhan tidak mengutus malaikat kepada kami? Mengapa nabi sebagaimana manusia tetap mencari mata pencarian hidup pasar? Dan sebagainya.

2.     Faktor-faktor Pemikiran dan Kejiwaan yang melatari Pelbagai Penghinaan ini:
Al-Qur’an menyandarkan penghinaan para nabi As dan Nabi Muhammad Saw ini pada orang-orang kafir, orang-orang ingkar, para penjahat dan orang-orang bodoh.. Dan demikianlah yang disaksikan dewasa ini. Yaitu apabila kita menyaksikan penghinaan terhadap Nabi Muhammad Saw pada masyarakat Barat dewasa ini, perbuatan ini dilontarkan oleh media-media yang dikelolah oleh kaum arogan dunia dan Zionis. Dalil-dalil adanya jenis penghinaan ini, dengan melongok sejenak pada kehidupan para nabi As dan Nabi Muhammad Saw serta kehidupan orang-orang kafir, para tiran dan tuan-tuannya akan menjadi jelas dengan memperhatikan beberapa poin berikut ini:
A.    Para nabi As menyeru orang-orang untuk menyembah Allah Swt, mengenal kebenaran, mencari kebenaran dan menyembah kebenaran, sementara para pemimpin kafir, orang-orang yang menyombongkan diri dan para tiran mengajak masyarakat kepadanya hingga pada batasan memandang diri mereka sebagai tuhan.
B.    Para nabi As senantiasa berada pada tataran menyebarkan keadilan, namun para pemimpin kafir dan para tiran memberikan izin kepada diri mereka sendiri untuk menguasai dan memanfaatkan hak-hak dan harta kepunyaan masyarakat.
C.    Para nabi As merupakan teladan nilai-nilai agama dan kemanusiaan. Mereka berada pada tataran untuk menghidupkan nilai-nilai tersebut, namun para pemimpin kafir dan para tiran berada pada tataran menyebarkan kezaliman dan kejahatan di tengah masyarakat.
D.    Para nabi As senantiasa merasa risau, menginginkan kebaikan dan bersimpati terhadap masyarakat serta berusaha untuk melayani masyarakat  namun para pemimpin kafir dan para tiran berada pada tataran supaya masyarakat tetap terbelakang dan melayani kepentingan pemimpin kafir dan para tiran.


PENDAHULUAN
            Sebab terlarangnya buku Darmogandul dan Gartoloco, menurut HM.Rasjidi, yang penulis analisis, karena di dalamnya ada kata –kata yang dipelelesetkan, sehingga menjadi penhinaan, misalnya “Mekah” diartikan “ngekah, hubungan suami istri yang membuka auratnya. Ada pelesetan kata “Zikir”, zakar dan kata suci lainnya dipelesetkan menjadi  pornografi. Dalam pandangan Rasjidi bahwa kebatinan di Indonesia khususnya di Jawa yang dikutip dari M.M. Djajadiguna, bahwa kebatinan dapat digolongkan menjadi 4 macam:
1. Golongan yang hendak menggunakan kekuatan ghaib untuk melayani keperluan manusia, yang mementingkan ilmu ghaib atau juga disebut Occultisme.
2. Golongan yang berusaha untuk mempersatukan jiwa manusia dengan Tuhan, selama manusia itu masih hidup, agar dengan demikkian manusia dapat merasakan dan mengetahui hidup yang baka sebelum mengalami mati, kepercayaan ini disebut juga dengan paham Mistik.
3. Golongan yang berniat mengenal Tuhan dan menembus dalam rahasia ”sangkan paraning dumadi”, yaitu dari mana hidup manusia ini dan rahasia hidup itu akhirnya pergi.

4. Golongan yang berhasrat untuk menempuh budi luhur di dunia ini serta berusaha menciptakan masyarakat yang berdasarkan saling harga menghargai dan cinta mencintai dengan senantiasa mengindahkan perintah Tuhan.
Rasjidi dalam pembahasan kebatinan, awal mula adalah mempelajari naskah pujangga kuno dari keraton Solo yaitu Wirid Hidayat Jati karya Ronggowarsito dan Serat Centini. Sedangkan Darmogandul dan Gatholoco yang dibahasnya adalah dua naskah yang tidak jelas yang merupakan cetusan subyektivitas dari segolongan pengikut aliran kebatinan yang merasa ilmunya lebih tinggi dan lebih halus dari syariat dalam arti aturan-aturan ajaran Islam.
Masuknya Islam ke Tanah Jawa ternyata menyimpan cerita yang sungguh luar biasa. Salah satunya terekam dalam Serat Darmo Gandhul yang kontroversial itu. Dalam serat yang aslinya berbahasa Jawa Kuno itu dipaparkan perjalanan beberapa wali, juga hambatan dan benturan dengan budaya dan kepercayaan lokal.
        Penulis serat ini tak menunjukkan jati diri aslinya. Ada yang menafsirkan, pengarangnya adalah Ronggo Warsito. Ia pakai nama samaran Ki Kalam Wadi, yang berarti rahasia atau kabar yang dirahasiakan. Ditulis dalam bentuk prosa dengan pengkisahan yang menarik. Isi Darmo Gandhul tentu saja mengagetkan kita yang selama ini mengira bahwa masuknya agama Islam di Indonesia dilakukan dengan cara damai tanpa muncratan darah, terpenggalnya kepala dan tetesan air mata. Kaburnya para pemeluk Hindu dan Budha ke berbagai wilayah, misalnya ke Pulau Bali, ke kawasan pegunungan dan hutan rimba, adalah salah satu pertanda bahwa mereka menghindari tindakan pembantaian massal oleh sekelompok orang yang ingin mengIslamkan Pulau Jawa.[1]

       Setelah mengulas sekilas tentang Serat Darma Gandul, kemudian akan di paparkan sekilas tentang Kitab Ghontoloco yang menceritakan sekilas tentang perjalanan Ghontoloco dan diskusinya dengan tiga orang santri dan orang-orang yang ditemuinya diperjalanan.
Ghontoloco adalah seorang pemahat yang tidak pernah mandi. Badannya amat kotor dan berbau. Ia selalu dalam perjalanan, berrtemu dengan ahli agama dan mistik serta bertukar pikiran dengan mereka.[2]

I. SERAT DARMO GANDUL
A. Ajaran-Ajaran Serat Darmo Gandul
Prof. Rasjidi yang telah menerjemahkan naskah Darmogandul itu dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. Simaklah beberapa petikannya di bawah ini :[3]
a. “Akan tetapi bangsa Islam, jika diperlakukan dengan baik, mereka membalas jahat. Ini adalah sesuai dengan dzikir mereka. Mereka menyebut nama Allah, memang Ala (jahat) hati orang Islam. Mereka halus dalam lahirnya saja, pada hakekatnya mereka itu terasa pahit dan asin.”
b. “Adapun orang yang menyebut nama Muhammad, Rasulullah, Nabi terakhir, ia sesungguhnya melakukan dzikir salah, Muhammad artinya makam atau kubur. Ra-su-lu-lah, artinya rasa yang salah. Oleh karena itu ia itu orang gila, pagi sore berteriak-teriak, dadanya ditekan dengan tangannya, berbisik-bisik, kepala ditaruh di tanah berkali-kali.”
c. “Semua makanan dicela, umpamanya : masakan cacing, dendeng kucing, pindang kera, opor monyet, masakan ular sawah, sate rase (seperti luwak), masakan anak anjing, panggang babi atau rusa, kodok dan tikus goreng.”
d. “Makanan lintah yang belum dimasak, makanan usus anjing kebiri, kare kucing besar, bistik gembluk (babi hutan), semua itu dikatakan haram. Lebih-lebih jika mereka melihat anjing, mereka pura-pura dirinya terlalu bersih.”
e. “Saya mengira, hal yang menyebabkan santri sangat benci kepada anjing, tidak sudi memegang badannya atau memakan dagingnya, adalah karena ia suka bersetubuh dengan anjing di waktu malam. Baginya ini adalah halal walaupun dengan tidak pakai nikah. Inilah sebabnya mereka tidak mau makan dagingnya.”
f. “Kalau bersetubuh dengan manusia tetapi tidak dengan pengesahan hakim, tindakannya dinamakan makruh. Tetapi kalau partnernya seekor anjing, tentu perkataan najis itu tidak ada lagi. Sebab kemanakah untuk mengesahkan perkawinan dengan anjing?”
Prof. Rasjidi juga telah membuat ringkasan ajaran aliran Darmogandul dalam beberapa poin, di antaranya :[4]
1. Menurut Darmogandul, yang penting dalam Islam bukan sembahyang, tetapi syahadat “sarengat”. “Sarengat” artinya hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan. Hubungan seksual itu penting sekali, sehingga empat kiblat juga berarti hubungan seksual.
2. Darmogandul menafsirkan kata-kata pada ayat kedua dalam surah Al-Baqarah sebagai berikut : “Dzaalikal” artinya “jika tidur, kemaluan bangkit”, “kitaabu laa” artinya “kemaluan-kemaluan laki-laki masuk secara tergesa-gesa ke dalam kemaluan perempuan”, “raiba fiihi hudan” artinya “perempuan telanjang”, “lil muttaqiin” artinya “kemaluan laki-laki berasa dalam kemaluan perempuan”.
Mengenai poin terakhir di atas, saya harus meminta maaf. Saya tidak bermaksud untuk mengotori jurnal saya dengan hal senista ini, namun bagaimana pun kisah ini penting untuk diungkapkan. Demi kebenaran.

II. SULUK GHONTOLOCO
A. Dialog Dengan Santri
Dikisahkan dalam bagian pertama dalam suluk ini, sang tokoh utama yakni Gatoloco betemu dengan para ahli agama yaitu guru Abdul Manaf dan Ahmad ‘Arif yang disertai enam santrinya terjadilah dialog sebagai beikut:
“Santri berkata “apakah anda makan babi? Asal mau anda telan,tidak takut akan dosa”; Gatoloco menjawab,”memang benar tidak salah seperti yang anda katakan bahkan sekalipun daging anjing, apabila kita lihat baik dan bukan curian (saya mau juga)”.[5]
Dari percakapan diatas dapat dapat diambil kesimpulan yaitu topik permasalahan diatas ialah mengenai halal haram suatu makanan, dalam hal ini ialah makan hewan babi.Santri menanyakan kepada Gatoloco apakah ia (Gatoloco) makan babi ,Gatoloco menjawab dengan jawaban seenaknya sendiri bahwa jawab Gatoloco babi itu baik dimakan asal bukan dari hasil curian.
Dalam aturan Agama Islam sudah dijelaskan bahwa hukum makan babi ialah haram.Keharaman babi sudah dijelaskan dalam kitab Al-Quran.
            “Anjing itu misalnya, aku pelihara sejak kecil, siapakah yang mengadukan aku? Daging anjing rasanya lebih halal ketimbang anjing kecil (anak kambing), walau daging kambing, kalau toh itu hasil curian, bukankah itu lebih haram ketimbang daging anjing? Babi ataupun celeng sekalipun berasal dari membeli pasti lebih suci, lebih halal dimakan?”[6]
Mendengar jawaban Gatoloco yang asal ngomong itu, para santri menjadi jengkel, para santri itu menjawab omongan Gatoloco dengan nada emosi, yakni ”SINOM” sebagai berikut:
“’Ketiga orang santri ketika mendengar (jawabannya) lalu berbareng mencaci ”silit babi” ; Ki Gatoloco berkata pula : “apakah silit babi dibawa sang empunya? Lagi pula tak menyentuh tubuhku”! Santri tiga pun menjawab lagi,”biyangmu silit babi”. Gatoloco menyahut pula, ”itu aneh benar”.
Dalam suluk Gatoloco diperlihatkan tentang ketidaksanggupan para santri berdebat dengan Gatoloco. Para santri ini marah karena jawaban Gatoloco yang asal ngomong , para santri itu kemudian menyerahkan permasalahan mereka (tentang Gatoloco) kepada guru mereka.
            Dalam dialok selanjutnya dengan para santri “Gatoloco pelan menyahut, mengapa saya ini kurus? Semata-mata menurut kehendak baginda Rasul dan Nabi yang saya ikuti, dimana saya harus pergi ke tempat madat (Jawa,ngepakan) untuk membeli candu dan klelet (bekas- bekas candu yang melekat dialat minum madat ), serta menghisapnya disana candu itu dibakar dengan api, sebab Allah lah mengajarkan seperti itu.
Dialog diatas sebenarnya menggambarkan sifat-sifat setan yang menggoda kaum beriman. Sesungguhnya Allah telah memperingatkan manusia akan permusuhan setan dan membberitahukan kepada kita bahwa setan adalah musuh manusia. Allah memperingatkan kepada manusia akan perangkap-perangkap dan tipu muslihat setan.
Selanjutnya Gatoloco berkata: “Jika aku tak menuruti perintahnya, niscaya hukumannya sangat berat, begitu hebat sakitnya, sehingga aku tak bisa tidur, seluruh tubuhku seperti terasa dicabut-cabut nyawaku”.
Santri tiga pun berkata : “Engkau ini tidak sopan! Masa dikatakan Rasul di Ngepakan? Padahal Rasul itu dihormati seluruh manusia dibumi, dan berada dikota Mekah”.
Dari percakapan diatas jelas bahwa jawaban Gatoloco memancing para santri marah itulah salah satu sifat setan yaitu memancing manusia marah. Dalam aturan Agama Islam dikatakan bahwa manusia itu memiliki sifat marah tetapi sifat ini harus dikendalikan, karena apabila tidak akan sangat berbahaya. Didalam sebuah Hadist dikatakan bahwa Rosulullah bersabda: “Orang kuat ialah bukan orang yang pandai bergulat, tapi orang kuat ialah orang yang mampu mengendalikan marahnya jika ia marah”.
Berikut ini adalah gambaran seorang santri yang kebingungan menerima pertanyaan Gatoloco yang asal ngamong:
“Kamu semua adalah santri bingungan”, kata Gatoloco, Anda keliru, Rasul yang ada di Mekah kau sembah, bukankah ia sudah wafat? Ia tempatnya di tanah Arab; ia tak ada lagi, sedang anda selalu menyembahnya tiap hari jungkir balik, apakah bisa sampai padanya?”
Omongan gatoloco diatas menggambarkan tentang kaum muslimin sekarang dalam ibadah shalatnya hanya jungkir balik saja,kata Gatoloco Sholat itu harus tawajuh atau harus sampai ke hati, tidak hanya jungkir balik saja.
“Sembahyang demikian tak ada artinya, itu berarti sia-sia terhadap badanmu sendiri; anda mesti menyembah Rasulmu sendiri dengan badanmu; Menyembah Rasul dengan cara demikian tak berguna, tiwas berteriak-teriak tidak bisa diterima Allah, karena membuat Tuhan tak bisa tidur karena mendengar suaramu itu”.
Omongan Gatoloco diatas sebenarnya mengkritik kepada kaum muslimin yang shalatnya tidak khusyu (konsentrasi), menurut Gatoloco shalat mereka hanya jungkir- balik saja dan tidak ada artinya bagi Allah. Oleh karena itu sebaiknya janganlah kita memfonis bahwa karya sastra ini buruk dan tidak boleh dibaca karena sesungguhnya kaerya sastra ini baik karena terdapat banyak pelajaran yang dapat kita ambil hikmahnya.

B. Hidup Dan Wayang
 Guru para santri itu antara lain bernma Ngabdul Jalal dan Kasan Besari. Dalam Tembang Asmaradahana dinyatakan bahwa Ngabdul Jalal bertanya kepada Gatoloco dengan pelan-pelan Dia bertanya mengenai kitab apa pegangan Gatoloco?, Gatoloco menjawab pertanyaan tersebut dengan menggunakan jawaban yang secara harfiah akan sulit untuk dipahami, karena jawaban Gatoloco ialah dengan menggunakan bahasa yang harus dipahami dengan atau dari segi hakekat.
Kemudian guru para santri yang satunya lagi, yaitu Kasan Basri bertanya kepada Gatoloco dengan pertanyaan: Apakah Gatoloco sembahyang (shalat)?, mendengar pertanyaan seperti itu Gatoloco menjawabnya dengan jawaban yang lagi-lagi dengan bahasa “jarwodosok” atau bahasa kias sehingga harus dipahami dari segi hakekat. Gatoloco menjawabnya dengan jawaban bahwa ia (Gatoloco) sembahyangnya itu terus menerus dan tak berubah atau tetap. Jawaban Gatoloco tersebut sebenarya mengandung sindiran berdasarkan Al-Qur’an bahwa sembahyang itu sebenarnya tidak boleh gothang (sebentar-sholat sebentar enggan). Ini dilarang dalam Al-qur’an, ancamannya neraka Wel. Jawaban diplomatis tersebut sebenarnya sindiran terhadap kaum ahli syare’at, sembahyangnya tidak sampai di hati seolah imannya hanya di tenggorokannya.
Kemudian selanjutnya Gatoloco berkata lagi yaitu dengan kata-kata yang penuh dengan bahasa jarwodosok sehingga perlu dipahami dari segi hakekat. Adapun mengenai astilah hakekat itu sendiri dikenal dalam golongan sufi atau ahli tasyawuf. Golongan sufi ini membagi manusia dalam empat golongan yakni syare’at, hakekat, tarekat, dan makrifat.

C. Nur Muhammad
Nur Muhammad menjadi bagian tanya jawab Gatoloco dengan Kasan Besari berikutnya, mereka saling berdebat. Pendapat Gatoloco mengenai Nur Muhammad yatiu sebagai berikut: bahwa Allah merupakan pencipta alam semesta beserta isinya yang kemudian menciptakan makhluk-makhlukNya seperti malaikat, jin, manusia, tumbuhan dan lain-lain. Dan menurut Gatoloco summber penciptaan Allah itu semua adalah Nur Muhammad.
Namun pendapat Gatoloco ini ditentang Kasan Besari, ia menyatakan bahwa pendapat Gatoloco tidak masuk akal, Kasan Besari brekata: “Sebelum Rasulullah dan sahabat lahir di dunia, kan sudah ada bintang, bulan, dan matahari; jadi kalaubegitu bulan, matahari dan lain-lain itu mendahului Nabi Muhammad. Jadi mengapa dikatakan Nur Muhammad mendahului semua itu.
Tetapi secar global dapat disimpulkan bahwa yang disebut Nur Muhammad itu sebenarnnya Nur atau cahaya yang dimiliki Muhammad SAW yang kini telah dijadikan manusia rasul Allah.
Serat Darma Gandul dan suluk Gatolotjo adalah dua ditab kuno jawa yang memceritakan tentang keberagamaan masyarakan di zaman itu, karena masih adanya pemikiran yang berfariasi mengenai masuknya Islam ke pulau jawa atau bagaimana cara Islam menanamkan ajarannya pada masyarakat.
Dalam kedua kitab tersebut menggambarkan tentang masih adanya pengaruh keberagamaan dengan agama yang sudah mengental pada nasyarakat, sehingga sulit untuk dilepaskan dan beradaptasi dengan agama yang baru. Bahkan di dalam serat darma dandul kebanyakan isinya menjelek-jelekan dan menghina Islam yang pada waktu itu sebagai agama baru menurut mereka.
Adapun dalam suluk Gatolotjo yakni menceritakan tentang seorang tokoh pengembara yang cerdas dan dengan kecerdasannya itu mampu mengolah pikirannya untuk berkata sesuka hatinya namun dappat dipertanggung jawabkan olehnya bahkan para santri dan para kiai kerepotan untuk berdialog dengan dirinya.
 
DAFTAR KEPUSTAKAAN
http://www .wattpad.com/191580-serat-darmogandul.htm
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=749] Situs utk belajar SEJARAH Islam
Rasjidi. M, Islam dan Kebatinan, Jakarta: Bulan Bintang, 1992, Cetakan ke 7.
Sukahar. Joko Su’ud, Tafsir Gatolodjo, Surabaya: Wuwung.
Susetya. Wewen, Kontroversi Ajaran Kebatinan dari Serat Darmaghandul, Suluk Gatolotjo, Serat Sentini, Sampai Satra Jendra Hayuningrat, Yugyakarta: PT. Agromedia Pustaka, 2007.
S. Warsito, dkk, Seputar kebatinan, Jakarta: Bulan Bintang.

     [1] http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=749]Situs utk belajar SEJARAH Islam
     [2] Prof. Dr. H. M. Rasjidi, Islam dan Kebatinan (Jakarta: Bulan Bintang, 1992). Hal. 28.
     [3] Prof. Dr. H. M. Rasjidi, Islam....7.
     [4] http://www .wattpad.com/191580-serat-darmogandul.htm
     [5] Wewen Susetya, Kontroversi Ajaran Kebatinan dari Serat Darmaghandul, Suluk Gatolotjo, Serat Sentini, Sampai Satra Jendra Hayuningrat, (Yugyakarta: PT. Agromedia Pustaka, 2007). Hal. 81.
     [6] Wewen Susetya, Kontroversi....Hal. 81.




BAB     III
BUKU-BUKU YANG SUDAH DILARANG
A.Larangan lima buah buku
Kejaksaan Agung (Kejagung) melarang peredaran 5 buah buku. Buku-buku tersebut dianggap mengganggu ketertiban umum, bertentangan dengan UU 1945 dan Pancasila.
“Jamintel melakukan penelitian terhadap buku-buku yang telah dilakukan clearing house tertanggal 3 Desember 2009 sejumlah 5 buku,” kata mantan Jamintel Iskamto.
Hal itu disampaikan dia dalam jumpa  pers Laporan Kinerja Kejagung Tahun 2009 di Kejagung, Jl Sultan Hasanuddin, Jakarta Selatan, Rabu (23/12/2009).
Kelima buku itu adalah: Dalih Pembunuhan Massa Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto karangan John Rosa, Suara Gereja bagi Umat Tertindas Penderitaan Tetesan Darah dan Cucuran Air Mata Umat Tuhan di Papua Barat Harus Diakhiri karangan Cocratez Sofyan Yoman, Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965 karya duet Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan, Enam Jalan Menuju Tuhan karangan  Darmawan dan Mengungkap Misteri Keberagaman Agama karangan Syahrudin Ahmad.
Kapuspenkum Kejagung Didiek Darmanto mengatakan, clearing house adalah memeriksa substansi buku. Kejagung tidak turut memeriksa pengarang buku-buku tersebut.
“Hanya memeriksa substansi bukunya, tidak pada orangnya,” ujar Didiek pada kesempatan yang sama. (sumber)
Dalih Pembunuhan Massal: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SOEHARTO (Dilarang Beredar)

         Penulisnya menyatakan “Saya harus menekankan bahwa buku ini hanya tentang G-30-S. Ini bukan buku tentang kekerasan massal yang muncul setelah gerakan itu terjadi walaupun di bagian pengantar saya sampaikan beberapa argumen dasar tentang kekerasan tersebut dan kaitannya dengan G-30-S. Saya beranggapan bahwa lebih banyak penelitian harus dilakukan tentang kekerasan massal pasca G-30-S sebelum sebuah analisis ilmiah yang baik bisa ditulis. Menimbang skalanya, kekerasan pasca G-30-S merupakan topik yang lebih penting daripada G-30-S itu sendiri. Buku ini diharapkan bermanfaat bagi penelitian lebih lanjut tentang kekerasan massal pasca G-30-S dengan menyajikan konteks baru untuk memahami tragedi tersebut. Jika G-30-S lebih jelas mungkin akan lebih mudah untuk memusatkan perhatian pada topik-topik lain yang berkaitan. Lebih banyak pula studi-studi yang perlu digarap tentang kudeta Suharto, misalnya, bagaimana ia mengambilalih media massa, keuangan negara, dan birokrasi sipil.” (John Roosa, cuplikan dari kata pengantar edisi bahasa indonesia)
Buku ini terpilih sebagai salah satu dari tiga buku terbaik di bidang ilmu-ilmu sosial dalam International Convention of Asian Scholars, Kuala Lumpur, 2007.

           Tulisan  JOHN ROOSA adalah Assistant Professor di Departemen Sejarah, University of Columbia, Vancouver, Kanada. Ia salah satu penyunting buku kumpulan esai sejarah lisan Tahun Yang Tak Pernah Berakhir
Pendapat Para Pakar

         Ditulis dengan sangat baik dan mengasyikkan, inilah upaya ilmiah pertama dalam kurun waktu lebih dari dua dasawarsa untuk mengkaji secara serius bukti-bukti yang berkenaan dengan teka-teki paling penting dalam sejarah Indonesia, kudeta 30 September 1965. (Robert Cribb, Australian National University)
Tiga pencapaian mengagumkan yang diraih John Roosa adalah menyoroti bukti baru empat puluh tahun setelah peristiwa, memutar balikkan kesimpulan-kesimpulan yang sudah diterima umum, dan melakukan ini semua dalam gaya mencekam ala kisah detektif (Gerry van Klinken, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde )
Buku John Roosa yang menggugah dan berdasar pada penelitian menyeluruh menyajikan bukti padu untuk mendukung interpretasi-interpretasi yang sebelumnya didasarkan hanya pada spekulasi. Buku ini merupakan sumbangan yang penting bagi kepustakaan tentang kudeta di Indonesia. (Harold Crouch, Review of Politics)

         Ini merupakan bahan bacaan penting bagi pelajar sejarah modern Indonesia, dan bagi siapapun yang tertarik pada kekerasan politik, peran militer dalam politik, dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.(Geoffrey Robinson, University of California at Los Angeles )
Buku ini merupakan catatan paling detil dan dengan penelitian terbaik tentang kejadian-kejadian 1965 yang pernah ditulis. Siapa pun yang berniat memahami kejadian-kejadian yang masih menebar mendung di atas bumi Indonesia dan sedikit dipahami olehsebagian besar masyarakat Indonesia akan memperoleh manfaat sangat besar dengan membaca buku kelas satu ini.(Carmel Budiardjo, Tapol Bulletin )
Sumbangan yang luar biasa berharga ini merupakan masukan akademik pertama yang signifikan tentang masalah yang dibicarakan dalam jangka waktu tertentu, dan cukup memukau dibaca.(Vedi Hadiz, Pacific Affairs )
         Catatan John Roosa tentang Gerakan 30 September merupakan karya detektif yang mengesankan ia sudah barang tentu menyumbangkan penelitian yang terbaik sampai saat ini tentang siapa yang mengorganisasikan gerakan ini, mengapa gerakan tersebut gagal, dan bagaimana gerakan ini beranjak ke pembunuhan massal, yang diikuti dengan berpuluh-puluh tahun represi. Buku ini layak dibaca kalangan seluas-luasnya. (Olle Törnquist, International Review of Social History)
Kenapa Dilarang Beredar ???
Roosa mengulas secara menarik apa yang sebenarnya terjadi pada subuh 1 Oktober, 44 tahun lampau. Sebuah gerakan yang dikenal dengan nama “G30S”. Apa yang bercokol di kepalaku selama bertahun-tahun tentang peristiwa itu seolah mendapat “amin” dari bukti dan analisa yang disodorkan Roosa.
Partai Komunis Indonesia (PKI) memang “terlibat” dalam Gerakan 30 September. Tapi terlalu sederhana jika menyimpulkannya sebagai “dalang”. Jalinan belikat peristiwa itu akan membuatnya tampak terlalu sederhana jika diserahkan hanya pada satu dalang.
Buku putih milik Angkatan Darat, tegas menyebut PKI sebagai dalang G30S. Benedict Anderson dan Ruth McVey dari Cornell University lewat analisanya yang dikeluarkan Januari 1966 -popular dengan nama Cornell Paper- menyebut bahwa G30S adalah konflik internal Angkatan Darat, sebuah kudeta yang dilakukan perwira-perwira bawahan karena tak puas dengan gaya borjuis perwira atasan.
Sementara Indonesianis dan pengamat militer asal Australia, Harold Crouch, menilai bahwa G30S adalah gabungan gerakan yang dilakukan perwira bawahan yang tak puas dan juga PKI. Sedangkan Indonesianis dan sosiolog asal Belanda, W.F. Wertheim menyodorkan analisa bahwa Suharto dan para jenderal Angkatan Darat nonkomunis lah yang berada di balik gerakan ini dengan menggunakan Sjam Kamurazzaman sebagai agen ganda, guna menciptakan dalih untuk menyerang PKI dan menggulingkan Sukarno.
Roosa, melalui buku ini, berhasil menelusuri dan menutup “lubang” yang ada dari setiap analisa tersebut dan membentuk argumentasi baru. Tak sepenuhnya baru memang, tapi setidaknya paling mendekati argument yang paling masuk akal dari peristiwa itu.
Ia mengandalkan dokumen Supardjo, seorang Brigadir Jenderal Angkatan Darat yang ada dalam lingkaran gerakan tersebut yang diseret ke Mahmilub pada tahun 1967. Selain juga mengandalkan pengakuan dari seorang kader tinggi PKI yang masih hidup hingga sekarang, dan sejumlah dokumen yang dikeluarkan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat terkait peristiwa tersebut.
PKI, dalam analisa Roosa, terlibat sejauh pemikiran bahwa G30S memang diperlukan untuk menyelamatkan Sukarno. Mereka tahu bahwa sejumlah perwira Angkatan Darat telah menjalin hubungan mesra dengan AS. Mereka memprediksi dan mempercayai bahwa Angakatan Darat punya ambisi untuk menyingkirkan PKI, sebuah partai ke-4 terbesar dalam Pemilu 1955 yang memiliki kader dan massa di setiap pabrik dan perkebunan.
Sayangnya, PKI sebagai sebuah partai politik dengan disiplin dan organisasi baik, salah membaca situasi. Politibiro sebagai pengambil putusan penting dalam partai tak tahu soal rincian gerakan yang bakal digelar. Mereka pasrah sepenuhnya pada sang ketua sentral komite: Aidit yang sialnya lagi memiliki orang kepercayaan sejenis Sjam Kamaruzamman.
Lewat Biro Khusus, yang diyakini keberadaannya oleh Roosa, Aidit dan Sjam menjalin koneksi dengan para perwira progresif di Angkatan Darat. Para perwira Sukarnois yang mulai gerah dengan perwira-perwira “kapitalis-birokrat” di tubuh Angkatan Darat.
PKI, sebagai sebuah partai, hanya bisa menunggu dampak dari G30S. Mereka berharap para perwira “kanan” ini segera sadar kalau mereka telah dibuat keblinger oleh AS dan kembali pada loyalitasnya terhadap Sukarno.
Sayang, rencana tak berjalan mulus. Sikap “sok tahu” Sjam dalam membaca situasi lapangan membuat gerakan amburadul. Tim penculik yang amatir gagal membuat para jenderal “kanan” tetap dalam kondisi hidup saat hendak diserahkan ke Sukarno.
Dan situasi berubah cepat. Suharto mengambil alih kepemimpinan dan dalih pun tercipta untuk membumihanguskan PKI.
Sebuah dalih yang sama sekali tak sepadan dengan jutaan nyawa yang dijagal dan jutaan lainnya yang kehilangan kebebasannya selama belasan tahun di kamp-kamp tahanan tanpa pernah diadili.
Bab 6 dan 7 dari buku ini menjadi “inti” dari uraian Roosa. Bahwa Suharto dan perwira AD antikomunis sebenarnya sama sekali tak bereaksi spontan setelah kegagalan G30S. Mereka telah menunggu dalih itu sejak lama. Sebuah dalih agar mereka punya alasan untuk menghantam PKI, sebuah partai yang membuat aliran modal asing selalu terhambat masuk ke tanah air. Dan pada 1 Oktober 1965, dalih itu muncul di depan mata saat “Biro Khusus” yang tak professional itu bikin sebuah gerakan yang amburadul. Sebuah gerakan yang tak pernah melibatkan partai sebuah organisasi solid dengan massa yang luas. Sebuah petualangan yang ceroboh dan setengah hati.
Dan inilah yang dikatakan Marshal Green, Dubes AS di Indonesia pada masa itu, tentang peristiwa tersebut: “Kami tidak menciptakan ombak-ombak itu. Kami hanya menunggangi ombak-ombak itu ke pantai.” Dan ia benar sebenar-benarnya…, itulah wajah Indonesia saat ini, sebuah negeri yang selalu berada di bawah dikte sang penunggang ombak. (sumber)
G-30-S dan Pembunuhan Massal 1965-66
Berikut ini kajian atau tinjauan buku yang ditulis oleh sejarawan Hilmar Farid sejarawan dari Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) dan aktivis gerakan sosial (sumber)
MENULIS sejarah bukan perkara mudah. Impian agar sejarawan bisa menghadirkan masa lalu sebagaimana sesungguhnya terjadi semakin jelas tidak mungkin terwujud. Seandainya ada mesin waktu yang bisa melontarkan kita ke masa lalu pun, kita tetap akan melihatnya dari sudut pandang dan kerangka pemikiran tertentu. Setelah menyerap apa yang kita dengar, lihat dan rasakan, kita masih berurusan dengan bahasa sebagai alat kita menyampaikan gagasan yang terbatas dan tidak cukup untuk menghadirkan semua dimensi masa lalu secara penuh. Sejarah dengan kata lain adalah representasi dari masa lalu dan bukan masa lalu itu sendiri. Sejarah selalu diceritakan dan disusun kembali melalui bahasa berdasarkan informasi yang bisa diperoleh mengenai masa lalu, dan karena itu akan selalu kurang, tidak lengkap dan memerlukan perbaikan. Karena alasan itulah sejarawan umumnya mengatakan bahwa sejarah itu terbuka bagi interpretasi yang berbeda, dan selalu bisa ditulis ulang.
Tapi ini tidak berarti bahwa kita bebas menafsirkan dan menulis sejarah. Ada prinsip dasar yang membatasi kebebasan tafsir sejarah: pijakan pada fakta atau kenyataan yang diketahui berdasarkan sumber informasi yang tersedia dan dapat diuji. Tidak semua keterangan mengenai masa lalu dapat dipercaya, dan sejarawan dibekali dengan metode dan prosedur ilmiah untuk memeriksa tingkat keterandalan bahan-bahan yang dihadapinya.
Kekacauan dalam debat mengenai Gerakan 30 September atau G-30-S bersumber dari pencampuradukan fakta, fiksi dan fantasi antara apa yang sesungguhnya terjadi dengan apa yang diceritakan atau dibayangkan/ diharapkan orang telah terjadi. Di pusat kekacauan ini adalah penguasa Orde Baru yang menjadikan tafsirnya yang penuh dengan fiksi dan fantasi sebagai sejarah resmi yang tidak boleh dibantah. Orde Baru bersikeras mempertahankan tafsirnya mengenai peristiwa G-30-S karena semua tindakannya untuk menghabisi PKI – mulai dari menangkapi dan menghukum sebagian pemimpin dan membunuh ratusan ribu orang – bersandar pada sejarah resmi itu. Penulisan sejarah di sini terkait dengan legitimasi politik dan tanggung jawab hukum. Selanjutnya Orde Baru menggunakan tangan besi untuk menjadikan tafsirnya terhadap peristiwa G-30-S sebagai kebenaran umum. “Sejarah” yang dibuat oleh Orde Baru pun menjadi lebih penting dari masa lalu itu sendiri.
Sejarah resmi ini, seperti nasib sejarah resmi di mana pun, mendapat kritik dari banyak pihak yang kemudian menyusun versi alternatif. Walau memikat, ada masalah besar dengan versi alternatif ini. Para penulis versi alternatif ini biasanya lebih tertarik pada persoalan politik sejarah dan ingin mengimbangi atau menentang sejarah resmi, dan bukan pada masa lalu itu sendiri. Secara sadar maupun tidak mereka menerima medan pertempuran yang dibuka oleh sejarah resmi. Di jantung medan pertempuran ini adalah pertanyaan yang selalu kita dengar: siapa dalang G-30-S? Keterpakuan dan keterpukauan pada dalang inilah yang membuat seluruh pembicaraan G-30-S seperti berjalan di tempat.
Di sinilah John Roosa membuat sumbangan penting melalui Dalih Pembunuhan Massal karena keluar dari perangkap teori dalang ini. Ia tidak sibuk membantah atau membela versi tertentu, atau mencari-cari dalang, tapi melakukan hal yang sangat elementer dan fundamental sekaligus: membuat rekonstruksi G-30-S sebagai sebuah gerakan melalui keterangan mereka yang terlibat di dalamnya.
Dalang Tanpa Lakon
Terlepas dari kesimpulan akhir yang berbeda-beda, semua teori tentang dalang G-30-S berasumsi bahwa gerakan itu adalah persekongkolan politik yang direncanakan dengan baik, memiliki rencana yang jelas, dan berada di bawah garis komando. Sebagian mengatakan bahwa dalang itu adalah Soeharto dan komplotan Angkatan Darat yang dipimpinnya, sementara Orde Baru bersikukuh bahwa PKI adalah dalangnya dengan restu dari Presiden Soekarno. Sebagian lain mengatakan pemerintah Amerika Serikat, melalui dinas rahasianya CIA, adalah dalang yang dengan lihai memainkan anak wayangnya di Indonesia. Tidak semua teori mengenai G-30-S dilengkapi bukti-bukti dan karena itu pantas untuk diperhatikan secara serius. Sebagian malah lebih banyak memberi informasi tentang kesadaran dan psikologi politik penyusunnya daripada tentang gerakan itu sendiri.
Dalih Pembunuhan Massal berbeda dengan berbagai teori ini dalam hal yang sangat mendasar, yakni perangkat pertanyaannya. Jika yang lain meyakini bahwa G-30-S adalah sebuah persekongkolan jahat yang dirancang dan dimainkan dengan sangat lihai oleh “sang dalang”, maka Dalih Pembunuhan Massal justru menyoroti bahwa G-30-S sebenarnya sama sekali tidak tepat disebut sebagai gerakan. Dengan penelitian yang cermat terhadap rangkaian bahan yang belum pernah digunakan, dan penafsiran ulang terhadap bahan yang sudah pernah digunakan, ia mereka ulang perjalanan “gerakan” yang berusia singkat itu.
Ia menunjukkan bagaimana para pemimpin gerakan sebenarnya tidak pernah punya kesamaan pandangan dan sikap, apalagi rencana lain seandainya “rencana utama” (yang juga tidak jelas) gagal. Ia merekam bagaimana sebagian pemimpin bersikeras menekankan bahwa “kita tidak bisa mundur lagi” dan menutup diskusi dan perdebatan dengan otoritas. Dan setelah mereka yakin bahwa gerakan itu gagal pun tidak ada rencana penyelamatan yang jelas: semua pihak harus menyelamatkan diri masing-masing. Dengan kata lain, G-30-S sama sekali tidak punya script yang bisa dijadikan pegangan. Analisis Brigjen Supardjo yang menjadi salah dokumen andalan dalam buku ini – karena merupakan satu-satunya keterangan tangan pertama yang dapat diandalkan – dengan jelas menggambarkan kekacauan rencana dan pelaksanaan gerakan itu dari perspektif militer dan politik.
Adalah penguasa Orde Baru yang kemudian membuat script setelah panggungnya ditutup. Dalam studinya mengenai historiografi militer, Katharine McGregor (2007), menceritakan dengan rinci proses penulisan script oleh tim yang dibentuk Angkatan Darat di bawah pimpinan Nugroho Notosusanto. Buku pertama diterbitkan dalam 40 hari, yang menunjukkan betapa pentingnya perang tafsir untuk memaknai G-30-S ini bagi penguasa Orde Baru. Isinya jelas: PKI adalah dalang dari gerakan itu yang sebenarnya bertujuan menggulingkan pemerintahan yang sah.1 Buku kedua terbit tidak lama kemudian pada akhir 1965, ketika script pertama sudah digunakan oleh penguasa untuk melancarkan pemusnahan massal terhadap anggota, pendukung dan simpatisan PKI serta keluarga mereka.
Dalih Pembunuhan Massal tidak berpretensi dapat menjawab semua masalah. Malahan ada pertanyaan terpenting yang menjadi kunci untuk memahami G-30-S belum terjawab: siapa yang sebenarnya menyuruh pasukan-pasukan penculik membunuh para jenderal? Jika memang tujuan dari gerakan itu adalah menghadapkan para jenderal pemberontak kepada Soekarno, mengapa mereka dibunuh? Roosa mengakui keterbatasannya dan mengatakan, “siapa tepatnya yang membunuh para perwira itu masih belum diketahui.” (hlm. 60). Lembar-lembar misteri G-30-S dengan begitu belum sepenuhnya terungkap, dan hanya penelitian yang mendalam terhadap bukti-bukti – dan bukan dugaan atau khayalan yang berdasar pada keyakinan tentang adanya dalang – yang dapat membantu menyingkap misteri ini.
Dua Peristiwa Berbeda tapi Terkait
Judul buku ini, Dalih Pembunuhan Massal, memperlihatkan hubungan antara peristiwa G-30-S dengan pembunuhan massal terhadap anggota, simpatisan dan pendukung PKI dan organisasi gerakan kiri. Penguasa ORBA selama ini menjelaskan pembunuhan massal sebagai “ekses” karena masyarakat marah melihat pengkhianatan PKI. Seolah-olah reaksi terhadap PKI adalah sesuatu yang wajar/alamiah karena perilaku PKI sendiri. Dalih Pembunuhan Massal dengan cermat memisahkan antara apa yang kita ketahui telah terjadi berdasarkan bukti-bukti yang ada dengan segala teori, tafsir dan juga fantasi mengenai peristiwa itu. Pembunuhan massal dengan begitu bukan sebuah konsekuensi logis dari apa yang sesungguhnya terjadi, tapi reaksi langsung terhadap script yang disusun oleh penguasa Orde Baru.
Ben Anderson (1987) menulis artikel di jurnal Indonesia yang diterbitkan Universitas Cornell dengan judul “Bagaimana Para Jenderal itu Tewas?” berdasarkan visum et repertum yang dibuat oleh tim dokter yang ditunjuk oleh Soeharto. Visum itu bertolak belakang dengan berita-berita yang dimuat dalam harian Angkatan Bersendjata dan Berita Yudha – yang dikelola oleh Angkatan Darat – bahwa para jenderal yang diculik pada dini hari 1 Oktober 1965 mengalami penyiksaan keji seperti pencungkilan mata dan pemotongan alat kelamin. Visum itu jelas memperlihatkan bahwa tidak ada mata yang dicungkil dan semua kemaluan utuh pada tempatnya. Pertanyaannya, mengapa Angkatan Darat tidak mengumumkan kebenaran itu melalui media yang dikontrolnya, dan justru membiarkan cerita-cerita yang tidak benar memenuhi halaman-halamannya?
Kita juga tahu dari kesaksian dan keterangan mereka yang terlibat dalam pembasmian PKI bahwa “kemarahan” massa yang seolah tidak bisa dikontrol sebenarnya adalah reaksi terhadap berita-berita yang tidak benar dan diketahui tidak benar oleh mereka yang menerbitkannya. Sampai sekarang belum diketahui peran dari tim Angkatan Darat yang menyusun script tentang G-30-S dalam fantasi tentang kekejaman di Lubang Buaya ini. Hal ini juga merupakan misteri yang masih harus diselidiki karena akibatnya yang luar biasa. Di mana-mana pejabat militer berpidato tentang “kekejaman” G-30-S yang tidak pernah terjadi dan menuntut balas dengan membunuh sebanyak mungkin orang komunis.
Tapi penyulut reaksi massal yang paling penting adalah pernyataan bahwa jika PKI menang dan G-30-S berhasil maka banyak orang non-komunis, apalagi anti-komunis, akan diperlakukan sama seperti cerita Angkatan Darat mengenai kekejaman di Lubang Buaya (yang tidak pernah terjadi). Di banyak tempat beredar daftar orang yang akan akan dihabisi oleh PKI seandainya G-30-S berhasil: pemimpin agama, tokoh politik, pemuda dan mahasiswa. Dalam banyak wawancara, termasuk dengan mereka yang terlibat dalam aksi kekerasan terhadap orang kiri, terungkap bahwa daftar itu diumumkan oleh pemimpin militer yang “menemukannya” di kantor PKI atau organisasi massa kiri. Bersamaan dengan itu kadang “ditemukan” juga senjata api, uang dalam jumlah luar biasa, timbunan makanan, dan yang paling menghebohkan alat pencungkil mata, yang di banyak daerah penghasil karet lebih dikenal sebagai alat penyadap getah karet.
Aksi kekerasan dan pembunuhan massal karena ini bukanlah reaksi alamiah terhadap “kekejaman” G-30-S, tetapi terhadap representasi atau script yang ditulis oleh Orde Baru mengenai peristiwa itu. Cerita-cerita bohong tentang kekejaman di Lubang Buaya itulah yang membuat orang kemudian mengambil tindakan. Tapi tentu itu tidak cukup. Di banyak tempat kita tahu bahwa pembunuhan massal disulut langsung oleh pasukan militer, dan di beberapa tempat tidak akan terjadi seandainya tidak dipimpin oleh militer.
Dengan kesimpulan ini saya tidak hendak menggambarkan PKI sebagai domba dan militer, AS dan siapa pun yang terlibat dalam kampanye fitnah dan pembunuhan massal sebagai serigala. Saya juga tidak ingin mengatakan bahwa pembunuhan terhadap para perwira di Lubang Buaya dapat dibenarkan. PKI memang berniat menguasai negara, seperti juga partai politik yang lain. Di daerah-daerah banyak kadernya yang aktif dan menurut cerita yang saya dengar, juga sangar dan kadang mengintimidasi orang yang tidak sepaham. Demonstrasi PKI dan ormas kiri biasanya sangat ramai dan juga menakutkan bagi mereka yang menjadi sasarannya. Aksi-aksi sepihak untuk menegakkan UUPA 1960 yang dilancarkan BTI (dan sebenarnya organisasi petani lain juga) memang kadang disertai bentrokan, mirip dengan apa yang kita saksikan setiap hari di televisi sekarang ini. Tapi semua itu tidak dapat menjelaskan mengapa pembunuhan massal terhadap orang PKI terjadi setelah Oktober 1965.
Jika pembunuhan massal tidak dapat dilihat sebagai reaksi alamiah terhadap G-30-S, tapi sebagai tindakan yang disulut oleh script karangan Angkatan Darat, maka kita juga tidak dapat melihat pembunuhan itu sebagai konflik antara PKI dan kekuatan politik lainnya. Tidak ada pertempuran antara dua pihak seperti layaknya sebuah konflik. Di beberapa tempat orang dengan sukarela pergi ke tempat-tempat penahanan untuk “mengklarifikasi” posisi mereka terhadap G-30-S, tapi tetap ditahan. Pembunuhan massal sepenuhnya merupakan orkestrasi dari penguasa militer yang juga melibatkan elemen sipil di dalamnya. Masalahnya, dalam script karangan penguasa Orde Baru, keterlibatan elemen sipil ini menjadi “bukti” bahwa kemarahan terhadap PKI adalah sesuatu yang genuine tumbuh dari bawah, dan bahwa peran tentara dalam semua urusan ini justru menyelamatkan negara dari kehancuran. Teringat pepatah, “sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.”
Dalih Pembunuhan Massal menegaskan hal yang sangat penting, bahwa G-30-S disalahtafsirkan secara sengaja, dipelintir dan dihadirkan kembali secara salah pula agar menjadi dalih untuk melancarkan operasi pembasmian yang menjadi salah satu kengerian terbesar dalam sejarah modern dunia. Walau masih ada beberapa lubang dan misteri yang belum terungkap, karya John Roosa ini sudah memberikan tilik-dalam yang baik tentang G-30-S sebagai sebuah gerakan. Tentu tidak dapat dikatakan sebagai karya final. Tapi jika masih ada “teori dalang” lain yang muncul berdasarkan dugaan dan desas-desus, maka itu hanya mungkin dilakukan dengan resiko mempermalukan diri sendiri dan menunjukkan ketidaktahuan tentang apa yang sudah diketahui luas. Setiap penulisan sejarah yang serius akan mempertimbangkan dengan serius apa-apa yang sudah diketahui dan ditulis sebelumnya. Tulisan tentang masa lalu yang disusun berdasarkan fantasi atau khayalan dan desas-desus karena itu tidak layak mendapat perhatian serius.
LAKON ORBA TENYATA BERLANJUT ………….
BUKU APA LAGI YANG BAKAL DILARANG ……….?
DONLOT BUKU DALIH PEMBUNUHAN MASSAL






1. pernah diungkapkan oleh bpk.roeslan abdoelgani tentang seputar
peristiwa G 30 S PKI tahun 1965 merupakan sebuah MISTERI.
2. pki dengan underbownya memang selalu membuat malapetaka di ne
geri ini sejak zaman kolonial belanda ( merupakan akumulasi peristi-
wa yang berakhir dengan antiklimaks ).
3. pada suatu kesempatan temu – wicara hm.soeharto mempersilahkan
ajaran komunisme untuk dipelajari ( bukan pki nya yang dipelari ).
4. demi anak – cucu kita agar sehat jasmani rokhani memerlukan seja -
rah bangsanya ( menilik pro kontra kejadian ), sejarah terbenar.
5. menghimbau dan menganjurkan kepada pemerhati sejarah negeri ini
semuanya lewat aa kopral untuk memboikot semua keputusan kejak-
saan agung yang berhubungan dengan butir ke 3. ( ke tiga ).
6. kalau bisa agar supaya segera dilaksanakan dan ditindak – lanjuti.
7. terimakasih kepada aa kopral cepot dengan serba sejarahnya se -
cara obyektif , akurat dengan perspektif kacamata pro dan kontra.
8. wassalamualaikum wr wb ( doktertoeloes malang ).
بسم الله الرحمن الرحيم
Top of Form
Shortlink
Aku bukan masa lalu, tapi masa lalu membawaku ke masa depan ~kopralogic~
Attention ! Serbasejarah dengan admin Kopral Cepot hanya menulis di blog ini, tidak buka lapak di blogspot, multiply atau lainnya... Hatur tangkyu ;)
Top of Form
Masukkan alamat email Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.
Bergabunglah dengan 1.466 pengikut lainnya.
Bottom of Form

No comments:

Post a Comment

Komentar Facebook