Sunday, April 7, 2013

BOM NUKLIR DUNIA MELAYU UNTUK KESEHATAN

KATA PENGANTAR
Musuh tidak dicari,
Bertemu pantang, dielakkan.

(Pepatah Malayu)

        Orang Melayu wataknya tidak keras, sedangkan nuklir adalah teknologi yang keras, mungkin tidak sesuai. Melayu tak kan hilang di bumi, kata Hang Tuah. Tapi masalahnya ialah di bumi Melayu, baik di Sumut, Sumbar, Riau, maupun Kalimantan, di nusantara ini, banyak ditemukan bahan untuk membuat bahan energi nuklir, hanya saja belum diolah, belum digali. Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin yang juga ketua Forum Percepatan Pembangunan dan Revitalisasi Kalimantan di Banjarmasin, Senin mengatakan, beberapa waktu lalu dia bersama dengan perwakilan Gubernur wilayah Kalimantan melakukan pertemuan dengan beberapa kementerian antara lain, Kementerian Ekonomi, ESDM dan terkait lainnya. Salah satu hasil pembahasan dalam pertemuan tersebut adalah rencana pembangunan pusat pengembangan nuklir untuk memenuhi kebutuhan energi listrik dan sumber energi lainnya.


"Kalimantan adalah wilayah cukup kaya, bukan hanya tambang batu bara, emas dan lainnya tetapi juga uranium di Kalbar," katanya. Karena bahan baku utama energi nuklir tersebut banyak di temukan di Kalbar, sehingga diwacanakan untuk mengembangkan energi tersebut untuk pembangunan pemenuhan energi masa depan Kalimantan. Rencana tersebut, kata dia, juga menjadi salah satu upaya pemerintah untuk memenuhi kebutuhan energi nasional yang kini masih kurang, sehingga pelaksanaan MP3EI serta Permen ESDM tentang larangan bahan baku energi keluar dari Indonesia bisa segera diwujudkan.


        "Kami sangat berharap berbagai infrastruktur, jalan, jembatan dan bandara udara, pelabuhan laut dan energi di wilayah Kalimantan bisa diselesaikan pada 2014," katanya. Tanpa dukungan infrastruktur dan energi yang memadai, tambah dia, pelaksanaan MP3EI dan Permen ESDM tersebut akan sulit untuk direalisasikan. Apalagi, kata dia, beberapa negara importir tambang seperti Jepang, China, dan beberapa negara lainnya, kini sudah mulai mengurangi permintaan karena ditemukannya gas yang cukup besar di Amerika dan Australia.

Kondisi tersebut, kata dia, dikhawatirkan akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi di daerah, walaupun kini tambang bukan lagi satu-satunya tumpuan perekonomian Kalsel."Kedepan kita akan mengembangkan sektor perekonomian dalam arti luas, selain juga mendorong tumbuhnya investasi terutama industri skala besar," katanya. Kini, tambah Gubernur, yang sudah siap untuk beroperasi adalah tiga perusahaan bijih besi di Kabupatan Tanah Laut dan Tanah Bumbu, sebagai salah satu wujud dari pelaksanaan MP3EI.

PENDAHULUAN
        Nuklir tidak melulu bom. Energi luar biasa itu juga bisa diaplikasikan untuk dunia kedokteran. Misalnya yang dikembangkan Bagian Kedokteran Nuklir Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Seorang di antara perintisnya adalah Prof. Dr. dr. Johan S. Mansjur, Sp.P.D., K.E.M.D., Sp.K.N. BAGIAN Kedokteran Nuklir RSHS berada di salah satu sudut rumah sakit yang berlokasi di kawasan Pasteur, Bandung, tersebut. Bangunannya terdiri dua lantai. Rabu lalu (18/1), suasana di sana cukup ramai. Beberapa orang antre di lobi untuk bisa mendapat pengobatan atau berkonsultasi.
    Para pasien itu tidak hanya berasal dari Bandung dan sekitarnya. Ada juga yang berasal dari luar Jawa. ’’Ya, kalau di daerah setempat tidak bisa ditangani, larinya ke sini,’’ ungkap Johan, konsultan di Bagian Kedokteran Nuklir.
    Dia mengatakan, RSHS merupakan pusat rujukan nasional pelayanan kedokteran nuklir dan satu-satunya pusat pendidikan spesialis kedokteran nuklir di Indonesia. Boleh dibilang fasilitas itu adalah satu-satunya yang masih survive dan konsisten memberikan pelayanan di bidang kedokteran nuklir.
Sesuai namanya, bagian itu memanfaatkan nuklir untuk menyembuhkan penyakit. Cabang ilmu kedokteran tersebut menggunakan sumber berupa radiasi terbuka yang berasal dari disintegrasi inti radionuklida buatan untuk mempelajari perubahan fisiologi, anatomi, dan biokimia sehingga dapat dimanfaatkan untuk tujuan diagnostik, terapi, dan penelitian kedokteran.
    Kebanyakan kasus yang ditangani dengan menggunakan kedokteran nuklir di Indonesia adalah kanker tiroid (kelenjar gondok) dan hipertiroidi. Begitu pula diagnosis kanker. Di Indonesia, kedokteran nuklir mulai diperkenalkan pada era 1960-an, seiring dengan beroperasinya reaktor nuklir di Bandung. Mereka mulai memberikan pelayanan pada 1970.
    Setelah itu, kedokteran nuklir berkembang sampai daerah-daerah lain di tanah air. Antara lain di RSUD dr Soetomo, Surabaya; RS dr. Karyadi, Semarang; RS dr. Sardjito, Jogjakarta; dan RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.
    Seiring perkembangan zaman, hanya kedokteran nuklir di Bandung dan Jakarta yang masih bertahan sampai sekarang. Memang fasilitas kedokteran nuklir di tempat lain tidak mati sepenuhnya. Tetapi, perkembangannya stagnan. Menurut Johan, hal tersebut terjadi karena banyak masalah yang melingkupi kedokteran nuklir.
    Salah satu masalah yang menghambat kemajuan kedokteran nuklir di Indonesia adalah besarnya fobia masyarakat terhadap nuklir. Itu terjadi karena berbagai musibah yang mereka lihat terkait nuklir. ’’Jangan anggap nuklir itu seperti bom nuklir. Kadar yang digunakan untuk pengobatan kalau dibandingkan dengan bom hanya sebutir pasir,’’ ungkap Johan.  
’’Selama 26 tahun saya berkeliling Indonesia untuk mengampanyekan keamanan kedokteran nuklir, tetapi sampai sekarang tak ada hasil signifikan. Sampai saya capek sendiri,’’ sambung dia, lantas tersenyum.
Johan memberikan ilustrasi. Kalau ada pasien yang diminta periksa ke bagian radiologi, yang bersangkutan tidak banyak bertanya dan langsung melakukannya. Lain lagi dengan pasien yang diminta memeriksakan diri ke bagian kedokteran nuklir. Ada saja alasannya. Yang paling ditakutkan adalah persoalan keamanan dan radiasi. Padahal, radiasi nuklir relatif lebih rendah daripada yang berasal dari radiologi.
    Johan memaparkan, di bagian nuklir, para dokter memeriksa tanpa perlu menggunakan pakaian aneh-aneh. Sedangkan di bagian radiologi, dokter yang memeriksa harus menggunakan apron yang dilapisi timah hitam sebagai pelindung diri dari sinar radiasi.
    Masalah lain yang dihadapi adalah keterbatasan alat. Sebab, kedokteran nuklir sangat bergantung pada alat. Di antara 15 pusat kedokteran nuklir di Indonesia, hanya beberapa yang memiliki kelengkapan alat. Sebut saja alat PET-CT (positron emission tomography-computed tomography) yang merupakan indikator kemajuan kedokteran nuklir. Di Indonesia cuma dua rumah sakit yang memiliki alat tersebut, itu pun hanya di Jakarta.
    Di RSHS sendiri tersedia sejumlah alat, seperti kamera gama dan kamera positron yang rata-rata lansiran 2005. Harganya mahal. Johan mencontohkan, kamera gama yang standar dibanderol Rp5 miliar sampai Rp7 miliar. Alat-alat itu tidak bisa digunakan selamanya. Maksimal sepuluh tahun.
    Johan bersyukur karena selama ini mendapat dukungan dari manajemen rumah sakit. Tahun ini RSHS berencana mengoperasikan instalasi kedokteran nuklir yang lebih canggih, yang disebut PET Center. Proyek itu menelan dana sekitar Rp130 miliar.
    Sayang, tidak semua rumah sakit berani menempuh langkah serupa. Salah satu yang dijadikan contoh Johan adalah RSUD dr Soetomo, Surabaya. ’’Dulu, Bandung dan Surabaya relatif sama dalam peralatan. Sayang, SDM (sumber daya manusia) di sana seperti enggan menggenjot kedokteran nuklir agar lebih maju,’’ ucap dia.
    Peralatan itulah yang menjadi muara mandeknya pengembangan kedokteran nuklir di Indonesia. Karena mahalnya peralatan, pemerintah malas memberikan perhatian sehingga rumah sakit lain menjadi tidak maju. Berdasar data kemajuan teknologi kedokteran nuklir, Indonesia kalah oleh Singapura, Malaysia, dan Thailand.
    Sebagai deskripsi, Johan menyebutkan bahwa di Jepang ada 3 ribu kamera gama. Indonesia? Hanya sepuluh! Peralatan itu pula yang menjadikan rendah minat kalangan kedokteran untuk mengambil kedokteran nuklir. Di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, misalnya, hanya 19 dokter yang berminat mengambil spesialisasi nuklir.
    ’’Jujur saja, hasilnya memang masih kalah oleh dokter spesialis lain. Sebab, kami tidak bisa buka praktik sembarangan. Di rumah sakit saja, tidak semua rumah sakit bisa, apalagi buka praktik di rumah,’’ beber Johan.
    ’’Jadi, kami yang bergerak di bidang itu harus punya kesadaran sosial. Sebab, mayoritas di antara kami menggantungkan diri pada gaji dan insentif dari pemerintah,’’ tambah dia.
    Karena itu, Johan mengharapkan pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap kedokteran nuklir agar mampu maju dengan pesat. Sebab, Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan bahan tersebut. Sayang kalau bahan itu tidak dimanfaatkan. Dia juga mendorong pemerintah meninggalkan fobia tersebut dan memanfaatkan nuklir untuk tujuan damai. Contohnya, membuka pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). (c1/niz)
BAB    I
NUKLIR UNTUK PARA PETANI
          Rupanya bibit tanaman padi yang di kembangkan oleh BATAN (kok bisa?). Padi yang dikembangkan adalah padi varietas unggul Bestari dan Mira-1. Varietas Padi Mira-1 dan teknologi budi dayanya. Mira-1 merupakan hasil seleksi pedigree dari Iradiasi padi Cisantana dengan sinaran gamma, bersifat tahan terhadap hama wereng coklat biotipe 1 dan 2 serta tahan terhadap penyakit bakteri hawar daun Strain III, Mira-1 cocok ditanam pada lahan sawah dengan ketinggian 0-700m dpl dengan potensi hasil 9,20 ton/hektar gabah kering giling.
        Dengan cara pengelolaan tanaman terpadu (PTT) hasil padi dapat dikendalikan, hasil dan kualitas beras meningkat, menekan biaya usaha tani, serta kesehatan dan kelestarian lingkungan terjamin, Agar dapat mengoptimalkan hasil tani salah satu faktor yang mempengaruhi adalah cara dan tata tanam yang baik, dapat digunakan tata tanam dengan sistem Legowo, yaitu dengan memberikan jarak tanam 50×25x2,5 cm.
        Selain padi yang dikembangkan oleh BATAN adalah kedelai, sementara itu di bidang perikanan teknik nuklir digunakan untuk membuat hormon testosteron alami dengan menggunakan radioimmunoassay (RIA) yang bertujuan untuk mengalihkan jenis kelamin ikan lele (jantanisasi ikan). Hormon Testosteron dan hormon methyl testosteron dihasilkan dengan memanfaatkan limbah peternakan. Produk hormon testosterone diberikan secara oral dan hormon methyl testosterone untuk perendaman ikan sehingga dapat menjantankan ikan dengan presentase ikan jantan yang maksimal sehingga benih ikan jantan menjadi unggul, waktu panen ikan lebih cepat dan menghemat biaya produksi ikan yang akhirnya akan sangat berguna bagi para petani ikan dan pengguna ikan.

       Setelah dijelaskan sama bapaknya, aku hanya bisa mantuk-mantuk (geleng-geleng) sambil tersenyum, artinya paham (padahal bisa juga gak paham, hehehe). Bapaknya juga menawari untuk memberikan modul untuk tanaman melon yang peluang tanamnya cepet dan bisa menghasilkan keuntungan dalam waktu singkat (katanya ntar mau dibawakan ketika dia mau ke kantor).
Setelah mengobrol cukup lama dan berbasa basi, akhirnya kami pamit pulang dengan hati yang seneng karena dapat ilmu baru tentang nuklir. Ternyata nuklir tidak hanya digunakan untuk pembangkit listrik, tetapi juga digunakan untuk pengembangan pertanian dan perikanan. Selain itu juga dapet es cendol gratis hehehe. Selanjutnya waktu perjalanan pulang aku gantian yang di depan, sedangkan bosku yang bonceng. sayang bosku cowok, andai cewek mah betah berlama-lama (nglantur nih dah malam, padahal gak boleh bukan muhriom hehehe). Perjalanan pulang pun sama, harus melewati pantai, hutan dan jalan yang berkelok-kelok selama kurang lebih 1 jam.
**disaring dari berbagai sumber:


Peningkatan Kemampuan Peneliti dan Perekayasa (PKPP) menekankan aspek pemanfaatan hasil litbangyasa dalam rangka mendukung perwujudan sistem inovasi daerah (SIDa), sistem inovasi nasional (SINas), pelaksanaan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)...
DIFUSI IPTEK NUKLIR PADA KOMODITI PANGAN PASCA PANEN DI JAWA BARAT DAN JAWA TIMUR
B.1
        Pemanfaatan IPTEK nuklir di Indonesia sebagai sumber non energi seperti pengawetan bahan pangan dengan radiasi pengion merupakan salah satu teknologi yang handal untuk memecahkan masalah jangka pendek, menengah dan panjang yang dihadapi bangsa Indonesia. Salah satu cara dapat dilakukan melalui peningkatan nilai tambah produk sehingga dapat memberikan dampak positif terhadap kehidupan sosial dan ekonomi. Upaya ini merupakan terobosan teknologi yang dapat meningkatkan keamanan, mutu dan gizi bahan pangan segar, kering, beku dan olahan siap saji termasuk di daerah dalam upaya meningkatan kualitas produk pangan unggulannya  agar mampu bersaing di pasar global. Sejak disahkan peraturan pangan iradiasi oleh Menteri Kesehatan RI tahun 2009 (PERMENKES No. 701/MENKES/PER/VIII/2009), para pengusaha industri pangan  berskala kecil dan menengah baik ditingkat pusat maupun daerah semakin berminat untuk mengaplikasikan teknologi tersebut demi peningkatan mutu produknya melalui penandatanganan nota kesepakatan bersama.:
        Berdasarkan data dan hasil  inovasi iptek nuklir yang memiliki potensi komersial dari BATAN, maka peneliti BATAN akan bekerjasama dengan mitra industri terkait atau pemerintah daerah khususnya di Jawa Timur akan melakukan survey dan pendataan jenis komoditi pangan unggulan daerah berbasis nabati, ternak, dan ikan di lokasi mitra industri. Selanjutnya akan dilakukan bimbingan, edukasi dan pembinaan dalam rangka penguasaan dan pemanfaatan iptek nuklir yang dilakukan bersama-sama mitra industri. Seluruh aktivitas kegiatan diseminasi akan mengacu kepada  panduan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) Standard Operating Prosedur (SOP) dan Good Irradiation Practices  (GIP) sebagai petunjuk   cara iradiasi bahan pangan yang baik sesuai komoditi yang telah ditetapkan.
        Aktivitas penerapan iptek nuklir tersebut  akan dilanjutkan dengan pengiriman bahan pangan yang siap diiradiasi ke irradiator di Jakarta , kemudian produk yang telah diiradiasi dibagi dua batch dengan perlakuan yang sama. Pengamatan mutu produk pasca iradiasi dilakukan secara paralel  yaitu batch I dikirimkan kembali ke daerah asal mitra industri, dan batch II disimpan d laboratorium kelompok bahan pangan di Jakarta. Kegiatan ini akan diberikan secara intensif terhadap persiapan produk yang akan diiradiasi dari hulu ke hilir dan sekaligus menganalisis aspek tekno ekonomi. Keberhasilan kegiatan ini selanjutnya akan dimantapkan oleh masing-masing industri pangan yang dibantu para peneliti untuk  melakukan observasi dan persiapan perijinan ke  BPOM dan instansi terkait lain. Berdasarkan capaian keberhasilan tersebut, maka industri pangan dapat meningkatkan sosialisasi dan edukasi masyarakat konsumen melalui pengenalan produk yang telah diiradiasi di outlet dengan menyebarluaskan lembar tanya jawab (questionnaire) sehingga pemahaman, kepedulian, dan penerimaan masyarakat secara obyektif terhadap pemanfaatan IPTEK NUKLIR untuk tujuan keamanan, mutu dan gizi pangan dapat terus ditingkatkan.

BAB   II
PERLOMBAAN SENJATA NUKLIR
          ”Nuclear Meltdown - Pesan dari Kegelapan” adalah upaya Greenpeace untuk menyebarkan pesan bahwa tenaga nuklir akan mempertaruhkan hidup dan lingkungan kita gara-gara industriawan yang rakus, pemerintah yang sok tahu, dan masyarakat yang tak peduli.
1. Kenapa Greenpeace melawan nuklir?

Greenpeace  selalu bekerja keras –-dan terus melawan-– untuk memerangi penggunaan tenaga nuklir sebagai solusi energi, karena resikonya terhadap lingkungan dan kehidupan yang tidak bisa ditoleransi. Para pendukung industri nuklir tengah berusaha memanfaatkan masalah perubahan iklim untuk menghidupkan kembali industrinya yang kian meredup. Argumen yang selalu disampaikan mereka, bahwa tenaga nuklir adalah cara yang aman, besih, dan murah untuk mengatasi permasalahan perubahan iklim global dan krisis energi.
          Kenyataannya, tenaga nuklir merongrong solusi sebenarnya untuk mengatasi perubahan iklim dengan mengalihkan investasi yang sangat dibutuhkan bagi sumber energi yang bersih dan terbarukan serta efisien. Tenaga nuklir mahal dan berbahaya, karena bisa mengarah kepada meningkatnya perlombaan perbanyakan senjata nuklir, merupakan ancaman bagi keamanan global. Kalaupun ada keuntungan dari nuklir, akan terlalu sedikit, terlambat, dan terlalu mahal.
2. Bagaimana energi nuklir diciptakan?


Suatu molekul, bagian terkecil suatu unsul kimia, terdiri dari setidaknya dua atom. Satu atom terdiri dari elektron, neutron dan proton. Neutron-neutron dan proton-proton bersama disebutkan inti atom atau ”nucleus”. Kalau ”nucleus” dari atom ini mengandung lebih banyak neutron daripada proton, dia tidak stabil dan akan mengeluarkan partikel-partikel dalam upaya menstabilkan diri. Proses emisi partikel dan gelombang elektromagnetik disebut sebagai radioaktifitas. Zat radioaktif dari atom yang tidak stabil itu adalah radiasi pengion.
        Atom-atom yang besar dan berat di alam adalah jenis atom yang tidak stabil, karena itu sangat radiatif. Salah satu contoh atom yang tidak stabil ini adalah uranium. Kalau suatu nucleus dari atom yang tidak stabil menangkap suatu neutron, atom ini akan membelah. Proses ini disebut fisi. Proses fisi ini menghasilkan suatu reaksi berantai di mana neutron-neutron yang dilepaskan dari proses fisi akan menambah fisi di dalam, setidaknya terhadap satu nucleus yang lain. Pembelahan ini menghasilkan radiasi sinar gamma, suatu bentuk radiasi nuklir yang mematikan dan mengandung tingkat energi yang sangat tinggi.
Dalam sebuah reaktor nuklir, reaksi berantai tersebut perlu dikendali supaya tidak terjadi reaksi berbahaya seperti yang ada dalam ledakan senjata nuklir.
Energi yang dihasilkan dari proses fisi ini digunakan untuk memanaskan air agar menjadi uap air. Pada tahap ini, fungsi pembangkit listrik tenaga nuklir sesungguhnya sama saja dengan pembangkit listrik tradisional yang menggunakan bahan bakar fosil, seperti minyak, atau batu bara. Tenaga yang dihasilkan oleh uap air untuk menggerakkan turbin, yang kemudian menberikan tenaga ke suatu generator guna menghasilkan listrik. Semua reaktor nuklir yang menggunakan uap air sebagai penggerak turbin bekerja dengan prinsip serupa.



3. Apa uranium begitu saja bisa dipakai sebagai bahan bakar nuklir?

Reaktor tenaga nuklir sipil memanfaatkan energi dari uranium yang dihasilkan selama proses fisi, seperti dijelaskan di atas. Sebelum uranium bisa dipakai sebagai bahan bakar nuklir, dia perlu melewati beberapa proses dulu.
Uranium alami harus diekstraksi (ditambang) dari dalam bumi sebagaimana layaknya barang tambang lainnya. Namun, tidak seperti barang tambang lainnya, uranium merupakan elemen radiatif. Akibatnya, seluruh aspek yang berkaitan dengan produksi bahan bakar uranium, mulai dari pertambangan, pemrosesan, dan pengayaan, sampai transportasi, memiliki potensi dampak yang merusak terhadap lingkungan dan kesehatan. Rata-rata setiap bijih uranium mengandung hanya 0,1% uranium. Sebagian besar materi lainnya yang dipisahkan pada saat penambangan bijih uranium adalah bahan beracun, berbahaya, dan radiatif.
Secara alami, uranium yang dijumpai di deposit uranium di alam dapat berbentuk Uranium-235 (U-235) yang bersifat radiatif (tidak stabil) dan U-238 yang stabil. Agar bisa digunakan dalam reaktor, uranium tersebut harus mengalami proses ”pengayaan”, yang artinya sejumlah uranium tersebut mengalami proses penambahan persentase unsur U-235 yang bersifat radiatif dan U-235 perlu dipisahkan dari U-238.
Untuk pembangkit listrik sipil standar, kandungan uranium harus ditambah dari 0,7% agar mencapai 3% sampai 5% U-235. Proses ini disebutkan pengayaan uranium. Uranium yang diperkaya kemudian dihancurkan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan diletakkan di dalam suatu batang (rod) besi panjang. Batang-batang ini kemudian dikumpulkan menjadi satu ikatan (bundle).
Proses fisi atau pembelahan atom bahan bakar uranium akan menghasilkan unsur-unsur tingkat radiasi tinggi seperti cesium dan strontium yang sangat berbahaya.



4. Katanya Indonesia punya cadangan uranium, betul ga sih?

Iya, tapi cadangan uranium yang ada di Indonesia (di Kalimantan tepatnya), berkualitas redah, karena kehadiran unsur U-235 nya tidak memadai untuk diperkaya.Walaupun uranium cukup berlimpah di dunia ini, persentase U-235 harus setidaknya bernilai 0,7% sebelum proses pengayaan atau pengayaannya. Artinya akan terlalu mahal dan tidak efesien. Kalau Indonesia memakai PLTN, uraniumnya perlu diimpor dari Australia untuk selanjutnya diperkaya dulu di Jepang atau Russia sebelum bisa dipakai di sini.

1 comment:

Komentar Facebook