Saturday, August 22, 2015

CERITA CINTA DOSEN KILLER CERITA CINTA DOSEN KILLER KISAH CINTA DOSENKU



                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          KISAH CERITA  CINTA DOSEN KILLER                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       
M.R.J,.  LPMP Dan  IKMI  Pekanbaru Riau Indonesia. 2015

Pura-pura mengadakan penelitian di tempat terlarang
Dosen killer adalah istilah untuk dosen  SUKA menyiksa
Seanang melihat, maahasiswanya menderita
Karena dirinya dahulu, juga menerita
yang hobi memejamkam mata.
Tapi hbi dalam bercinta
Nnilai minimum atau nilai gagal di tangannya.
Super banyak mahasiswa direndahkan, karena alasan2 tertentu. 
Dosen killer umumnya terkenal di kampus dan sering kali jadi bahan sumpah serapah MAN OF THE YEAR di setiap akhir semester.
 Dosen killer juga selalu dikenang dan diperbincangkan di setiap acara REUNIAN. Agar dibinasakan. Itu makanya kadang2 ada terlintas di pikiran,”Asyik juga ya jadi dosen killer” sombong tapi tidak sadar.
 
Dosen Killer,
Pada salah satu fakultas hukum di sumatera, maaf 10 tahun yang lalu, dosen killer itu dihamtam penyakit kanker, karena sudah ribuan mahasiswa mengutuknya. Anehnya anaknya dan isterinya yang tidsak berdisa, ikut-ikutan pula diserang kanker ganas. Tinggallah rumahnya yang super elit, mobilnya yang super mewah.
Kemudian dicabaca di internet, ada juga mahasiswa lain juga merasaakan keganasan dosen killer. Jeritan hatinya tertuang beginini: Setelah berakhirnya semester yg lalu (saat postingan ini ditulis semester berikutnya baru saja mulai) ada beberapa mahasiswa yg  coba2 mengkonfirmasi tentang nilainya yg terpampang di Mading atau yg langsung diterimanya di lembar KHS (Kartu Hasil Studi) atau ada juga yg dari sistem on-line mlalui berbagai fasilitas yg ada. Umumnya yg coba2 konfirmasi itu adalah mereka2 bernada komplain kenapa nilainya itu (D atau E) kenapa gak ini (B atau A kali), dan belum pernah sekali pun yang komplain kenapa nilainya A atau B, kenapa tidak C atau D atau E.
Ah… saya bercanda aja.. Bukankah yang disebut salah itu adalah segala sesuatu yg merugikan diri pribadi, sedangkan yang menguntungkan diri bagaimana pun kejadiannya, bisa2 saja dipoles untuk disebut : benar. Misal dengan berkata, “Bapak memang bijak kalo ngasi nilai”.
Yah, ku tau apa yg kau mau. :lol:
Komenter yang lain menyatakan:
Siapa bilang dosen killer itu berarti dosen teladan ? Setidaknya kalo saya masih mahasiswa, saya pasti paling tidak suka dengan kalimat sebelum dari kalimat ini [rasain diputar2 dikit]. Tapi sebenarnya kita bisa menarik benang merah untuk mengkaitkan antara dosen killer dan “istilah” dosen teladan tadi. Gimana ? 
Begini.
Dosen2 yang “irit nilai”(Kutipan) umumnya berargumen bahwa kalo memang si mahasiswa belum mengerti kenapa mesti diluluskan. Bukankah itu sama saja dengan berbohong saat meluluskan saja mahasiswa yang belum kompeten di [materi] kuliah yg telah diikutinya tersebut. 
Tetapi seorang dosen yg “pemurah” pernah ngomong ngini, “Kalo memang varian nilai itu ada yg selain A dan E, kenapa kita mesti terjebak memilih yang 2 itu saja. Kalo pun si mahasiswa rada2 bego, kenapa gak ngasi nilai C atau D aja”.
Yah.. begitulah. Di setiap simpang kehidupan ini memang selalu saja ada aliran-aliran yang menyiratkan perbedaan jalan.
Lalu salahkah perbedaan ? Ah…, sudahlah.
Tetapi benarkah dosen killer itu dosen teladan ? 
Menurut saya adalah : benar ?
#Bukgh, wadduh… digebukin mahasiswa nih# 
Baiklah karena takut di demo saya ralat…
Menurut saya benar, jika sekiranya tidak ada motif2 pribadi di ke “killer” an nya itu. Lha, pribadi apa ? Bukankah dosen itu pendidik, pengayom, pahlawan, penggugu,… dstnya.
Tahukah anda bahwa : Tidak semua dosen killer itu berhati mulia. 
#Puk puk puk… beberapa mahasiswa tepuk tangan# 
Karena menurut sejauh pengamatan saya ada dosen2 yang killer gara2 alasan menyimpang berikut :
[1] Pengen ditakuti eh disegani sivitas akademika khususnya mahasiswa, yah sekaligus jadi seleb kampus eh terkenal gitu lha…
[2] Dendam dari masa lalu karena waktu dia kuliah memang nilainya juga tidak mudah diperoleh.
[3] [Lagi2] Dendam karena mahasiswa suka ngata2 in kelemahannya di selebaran semacam angket misalnya.
[4] Pengen dibilang dosen hebat. Yah sebenarnya sama saja dengan yg no.1.
[5] Ah… bukan, supaya [lebih] kren mendidik aja. Mahasiswa kalo mengulang kan jadi belajar lagi, bayar lagi, dan tentu kesempatan dia untuk belajar dan menjadi pintar bertambah.
[6] Bisa juga sebagai strategi untuk menyembunyikan kkurangan dalam menguasai materi. Sehingga mahasiswa protesnya bukan masalah pnguasaan materi ajar tapi masalah killer-nya.
[7] Ada masukan lain, katanya bisa juga demi menutupi kelemahan dalam menyampaikan materi ajar, karena kurang OK dalam menyampaikan materi pengajaran dan agar tidak ketauan benar kalo diprotes2, sehingganya…. sama dengan no.6
        
Baiklah… 
setelah saya pikir2, untuk menghormati sesama teman satu partai kolega, saya lebih cendrung memilih alasan no.5. Alasan tersebut adalah alasan yang terwajar dan lebih elegan.
Tapi ktika saya mbuka baju sebentar bahkan sampe ber “telanjang“, seperti melupakan partai, kelompok, aliran, jema’ah profesi saya saat ini, maka alasan selain yang no.5, boleh juga dipertimbangkan dan dilacak-ulang kebenarannya… :mrgreen:
Tapi bagemana pun, urusan menilai, jegal-menjegal dan gagal-gagalan, pertanggungjawabannya adalah, tentu : dengan atasan dengan Tuhan.
Gitu aja ko repot… :-D

Pesan Moral Dan Etika Hukum Dalam bentuk syair, agar mudah diingat. Pesan hukum yang disampaikan oleh penulis adalah pesan hukum dalam bentuk asas-asas hukum yang selama ini berlaku di dunia peradilan.
1. Asas Equal before the law
Di hadapan hukum, semuanya sama
Baik pejabat, maupun rakyat jelata.
Asas equal, harus merata
Kezaliman tidak, merajalela.

2. Asas Imparsialitas
Apa tanda hakim yang cerdas
Tajam ke bawah, taajam ke ayas.
Memegangi asas imparsialitas
Berat sebelah, tidak akan puas.

         Antara etika dengan hukum terjalin hubungan erat, karena lapangan pembahasan keduanya sama-sama berkisar pada masalah perbuatan manusia. Tujuannya pun sama, yakni mengatur perbuatan manusia demi terwujudnya keserasian, keselarasan, kebahagiaan mereka. Bagaimana seharusnya bertindak, terdapat dalam kaidah-kaidah hukum dan kaidah-kaidah etika. Bedanya ialah jika hukum memberikan putusan hukumnya perbuatan, maka etika memberikan penilaian baik atau buruknya.
         Putusan hukum ialah menetapkan boleh tidaknya perbuatan itu dilakukan dengan diiringi sanksi-sanksi apa yang akan diterima pelaku. Penilaian etika apakah perbuatan itu baik dikerjakan yang bakal mengantarkan manusia kepada kebahagiaan, dan menilai apakah itu buruk yang bakal mengantarkan seseorang kepada kehinaan dan penderitaan . Selain daripada itu terdapat perbedaan dalam luasnya dalam bidang yang dicakup. Ada masalah yang diperkatakan etika, tetapi tidak dicakup oleh hukum.
         Etika juga diperlukan dalam kegiatan bisnis Karena bisnis tidak hanya bertujuan untuk profit melainkan perlu mempertimbangkan nilai-nilai manusiawi. Bisnis dilakukan diantara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya, sehingga membutuhkan etika sebagai pedoman dan orientasi bagi pengambilan keputusan, kegiatan, dan tindak tanduk manusia dalam berhubungan (bisnis) satu dengan lainnya. Bisnis saat ini dilakukan dalam persaingan yang sangat ketat, maka dalam persaingan bisnis tersebut, orang yang bersaing dengan tetap memperhatikan norma-norma etis pada iklim yang semakin profesional justru akan menang.

3. Asas Sederhana, Cepat dan Biaya Ringan
Pengadilan, bersandar ke hukum tuhan
Menjadi penegak utama,  keadilan
Asasnya sederhana, cepat dan biaya ringan
Sehingga para pihak dibahagiakan

4. Asas ius curia novit
Biarpun kekalahan,  rasanya pahit
Tetaplah diterima,   sambil menjerit.
Berpegang asas ius curia novit
Menerima  kesalahan, sangatlah sulit,

5. Asas prejudice of innoncent
Kalau hendak jatuhkan putusan
Semua aspek,  dipertimbangkan
Kalaulah keadilan hendak ditegakan
Prejudice of innoncen, harus terapkan

6. Asas audi et alteram partem
Hakim adalah sang pengadil
Bukanlah seorang budak yang degil.
Hakim hendak berbuat ganjil,
Asas audi alteram partem, harus diambil.

7. Hakim bersifat pasif
Bukanlah hakim  mencari kesalahan,
Bbersifat pasif, dalam keprdataan.
Meminta uang , Jangan lakukan,
Hakim yang berbuat demikian. 

                                                                             

No comments:

Post a Comment

Komentar Facebook